![]() |
| pinterest.com |
Ada masa di mana aku bisa betah
menatap layar berjam-jam, menanti setiap episode baru dengan degup yang sama
seperti orang jatuh cinta. Ada masa di mana setiap drama terasa istimewa. Dunia
baru, karakter baru, dan kisah yang bikin aku rela begadang demi satu episode
lagi. Jika dramanya tayang setiap hari jum’at dan sabtu, aku berharap waktu seminggu
itu dilipat saja, agar besoknya jum’at dan sabtu lagi. Tapi entah sejak kapan,
sensasi itu berkurang. Aku masih menonton, tapi jarang merasa terpukau.
Kadang baru tiga episode, udah kutinggalkan begitu saja.
Padahal dulu, waktu awal ngedrakor
atau ngedracin, tiap tayangan terasa seperti jendela menuju dunia lain. Kini,
justru muncul rasa jenuh yang aneh. Nyalain drama baru yang katanya “bagus
banget”, nonton 20 menit pertama, lalu entah kenapa… aku menutupnya begitu saja.
Bukan karena ceritanya jelek. Bukan juga karena pemainnya nggak menarik. Dan bukan
karena aku semakin tua, hehehe… Rasanya cuma… B aja. Seolah semua sudah
pernah kulihat.
Ternyata, fenomena ini punya
nama: aesthetic fatigue, aku kelelahan secara estetika.
Apa Sebenarnya Aesthetic
Fatigue Itu?
Istilah ini dikenal dalam dunia
seni dan budaya populer. Secara sederhana, aesthetic fatigue adalah
kondisi di mana seseorang merasa lelah terhadap keindahan. Kita bukan berhenti
suka, tapi kehilangan kemampuan untuk merasakan indahnya sesuatu seperti
dulu.
Fenomena ini sering terjadi pada orang-orang yang terbiasa mengonsumsi banyak
karya visual, dari film, drama, hingga media sosial. Ibaratnya, kita sudah
“kenyang” secara estetika.
Kritikus budaya Simon Reynolds
pernah menyebut bahwa dunia modern dipenuhi nostalgia visual yang berulang.
Kita terus memproduksi bentuk “baru” yang sejatinya cuma remix dari masa
lalu. Akibatnya, otak kita lelah memproses keindahan tanpa makna. Kita bukan
lagi menikmati, tapi menelan, cepat, banyak, tanpa sempat merasa.
Kita bisa menebak twist, menebak
siapa yang jatuh cinta, bahkan tahu kapan musik latar akan mengiringi adegan
sedih. Pada titik itu, drama yang mungkin sebenarnya bagus pun terasa datar.
Kita tidak terkejut, tidak terpukau, hanya melihat.
Aku mulai menyadari ini saat
menonton beberapa serial terakhir. Aku masih bisa menikmati Love in the
Cloud, drama xianxia yang ceritanya ngalir lembut dan menyentuh, dengan
kostum mewah dan dunia fantasi yang megah. Atau Tempest, drakor dengan
emosi yang dalam dan realistis. Tapi selain itu, banyak drama lain yang
kutonton sekilas lalu kutinggalkan begitu saja. Bukan karena dramanya buruk. Hanya
saja mungkin karena mataku sudah terbiasa dengan keindahan yang nyaris sempurna,
visual sinematik, aktor karismatik. Semuanya baik, tapi entah kenapa… terasa
datar. Seperti menikmati kue favorit yang terlalu sering disajikan, tetap
manis, tapi kehilangan kejutan.
Kenapa Kita Bisa Burnout
Secara Estetika?
Kritikus budaya Simon Reynolds
pernah menulis, “Kelelahan estetika bukan karena dunia kehabisan ide, tapi
karena kita kehabisan ruang untuk merasakan sesuatu secara penuh.”
Kalau dipikir, sama seperti tubuh
yang bisa burnout karena kerja berlebihan, indra estetika kita juga bisa
kelelahan karena paparan berlebih. Di era streaming dan algoritma, kita nyaris
tidak berhenti “mengonsumsi.” Selesai satu drama, langsung disuguhi rekomendasi
lainnya.
Kita jadi jarang benar-benar
berhenti dan mencerna cerita. Padahal, keindahan butuh ruang untuk
mengendap. Tanpa jeda, keindahan berubah jadi kebisingan visual.
Budaya populer sekarang membentuk
ritme konsumsi yang cepat dan instan. Orang ingin segera tahu, segera paham,
segera move on ke tayangan berikutnya. Padahal, rasa takjub tidak lahir dari
kecepatan, ia tumbuh dari keterlibatan.
Neil Postman, dalam bukunya Amusing
Ourselves to Death, bahkan sudah memprediksi hal ini sejak 1985. Ketika hiburan
menjadi pusat kehidupan modern, manusia kehilangan kemampuan untuk diam dan
meresapi. Semua harus cepat, padat, dan instan.
Hasilnya? Otak kita lelah, tapi hati kita kosong.
Dan yang paling ironis, kita
sering menyalahkan diri sendiri. “Mungkin aku lagi bad mood,” atau “mungkin aku
udah susah terharu.” Padahal, bisa jadi kita hanya sedang mengalami kejenuhan
estetika.
Aku pernah mikir, kenapa dulu aku
bisa terobsesi dengan satu drama sampai rela begadang, tapi sekarang lebih
sering skip-skip aja? Ternyata jawabannya sederhana tapi dalam: semakin
banyak yang kita konsumsi, semakin kecil ruang untuk merasa.
Bukan Dramanya yang Salah
Lucunya, rasa letih ini justru
muncul di tengah era yang disebut “golden age of content.”
Kualitas produksi meningkat, teknologi visual makin canggih, aktor makin
berkarakter. Tapi ironinya, semua terasa mirip. Warna sinematografi,
gaya bicara, bahkan tempo musiknya sering kali seperti kloning dari satu
template sukses.
Algoritma platform streaming pun
memperkuat itu. Kalau kamu suka satu genre, kamu akan terus disuguhi yang
mirip. Masalahnya, keindahan tidak lahir dari kemiripan, tapi dari kejutan dan
perbedaan.
Makanya, aesthetic fatigue
sering menyerang orang-orang yang paling banyak menonton, paling terbuka
terhadap estetika. Karena otak mereka sudah menyerap terlalu banyak “indah yang
serupa.”
Bagaimana Menemukan Lagi Rasa
Takjub Itu?
Aku belum menemukan jawabannya
sepenuhnya, tapi aku punya beberapa dugaan kecil yang sedang kucoba
pelan-pelan. Mungkin, kuncinya bukan pada mencari tontonan yang lebih
spektakuler, tapi menonton dengan cara yang berbeda.
Aku ingin mencoba menonton dengan
ritme yang lebih pelan, membiarkan satu cerita benar-benar tinggal lebih lama
dalam kepala.
Mungkin juga mulai menjelajahi
genre yang jarang kusentuh: dokumenter, slice of life, atau film indie yang
nggak banyak dibicarakan di media sosial.
Secara kritis, langkah ini bukan
sekadar soal pilihan tontonan, tapi tentang cara pandang terhadap estetika
itu sendiri. Kalau selama ini keindahan kita ukur dari visual dan produksi,
mungkin sekarang saatnya menilai dari rasa. Dari kejujuran emosi,
kedalaman makna, dan kemampuan cerita menyentuh hal-hal yang manusiawi.
Dan mungkin, di luar layar, kita
juga bisa menemukan lagi rasa takjub itu dari membaca buku, dan berjalan sore
sambil memperhatikan langit.
Akhirnya, Kita Hanya Butuh
Jeda
Aesthetic fatigue bukan
tanda bahwa kita kehilangan minat, tapi bahwa kita pernah terlalu lama berada
di tengah keindahan tanpa sempat bernapas. Otak kita lelah, mata kita jenuh,
hati kita butuh ruang, butuh jeda.
Mungkin nanti, ketika kita
benar-benar berhenti sejenak, akan ada drama sederhana yang tiba-tiba membuat
kita menangis tanpa tahu kenapa. Bukan karena visualnya megah atau dialognya
puitis, tapi karena ia terasa hidup.
Atau mungkin, kalau suatu malam kita
menemukan diri kita tersenyum lagi di depan layar, entah karena adegan
sederhana atau dialog kecil yang hangat, itu mungkin tandanya kita baru saja
menemukan kembali rasa takjub kita yang hilang.
Tabik.
