Idol Adalah Waktu Saya

Pagi ini sambil mencuci pakaian,  saya memutar playlist lagu Lee Seunggi. Because You’re My Woman, lalu Return, kemudian Words That Are Hard to Say, Meet Someone Like Me, Im Going to The Military, Please dan White lie. Lagu-lagu yang dulu terasa begitu dekat dengan kehidupan saya. Dan tiba-tiba saja saya sadar, belasan tahun telah lewat, tapi suara diplaylist  itu masih sama. Yang berubah hanya hidup saya.

Mungkin bagi sebagian kita, seorang idol hanyalah bagian dari industri hiburan yang kebetulan melintas dalam jeda-jeda hidup kita. Tapi bagi saya, idol adalah waktu saya. Seseorang yang menemani perjalanan hidup, baik saat jatuh maupun saat bertumbuh.

Mendengar kembali lagu-lagu mereka dari belasan tahun lalu membuat saya seperti menapaki kembali hidup yang pernah saya jalani. Seolah mereka adalah bagian dari “masa muda” saya. Kadang lagu-lagu itu membuat mata saya berkaca-kaca, kadang juga membuat saya kembali bersemangat karena menyadari sudah sejauh ini saya berjalan.

Seperti Lee Seung gi misalnya. Bagi saya, Seunggi bukan sekadar penyanyi, aktor, atau entertainer. Ia adalah bagian dari jatah waktu yang saya habiskan.

Bukan sekadar wajah di layar atau suara di playlist. Ia seperti penanda musim dalam hidup saya. Ada masa ketika lagu-lagunya menemani malam-malam panjang, ada masa ketika senyumnya muncul di layar dan entah kenapa membuat hari terasa sedikit lebih ringan. Waktu berjalan, hidup berubah, saya pun tumbuh dengan cara yang mungkin tidak pernah saya bayangkan dulu. Tapi setiap kali saya kembali mendengar suaranya, rasanya seperti membuka kembali sebuah kotak kenangan yang masih utuh tersimpan.

Mungkin begitulah cara seorang idol bekerja dalam hidup seseorang. Ia tidak benar-benar hadir dalam keseharian kita, tapi anehnya ia selalu ada di latar. Menjadi semacam soundtrack yang diam-diam merekam versi diri kita di masa lalu. Dan ketika kita kembali mendengarnya, yang sebenarnya kita temui bukan hanya mereka, tetapi juga diri kita sendiri, yang pernah hidup di waktu itu.

Barangkali itulah yang membuat seorang idol tidak pernah benar-benar sekadar “idol”. Ia adalah arsip emosi. Penjaga kecil dari waktu-waktu yang pernah kita lewati. Lagu yang dulu kita dengarkan sambil menatap langit-langit kamar, drama yang kita tonton diam-diam sampai larut malam, atau senyum di layar yang tiba-tiba membuat hari yang berat terasa sedikit lebih ringan.

Dan anehnya, meskipun tahun-tahun berlalu, semuanya masih terasa dekat. Hanya dengan satu lagu, satu potongan adegan, atau satu suara yang familiar, kita bisa kembali ke masa ketika hidup terasa berbeda. Bukan karena kita ingin kembali ke masa itu, tapi karena kita menyadari bahwa masa itu pernah benar-benar ada.

Mungkin karena itu pula, bagi saya, menyukai Lee Seunggi bukan hanya tentang mengagumi seorang artis. Ini tentang mengingat siapa saya dulu, dan menyadari siapa saya sekarang. Tentang perjalanan waktu yang diam-diam berjalan, sementara di beberapa sudut kenangan, lagu-lagunya tetap terdengar sama.

Dan mungkin, tanpa pernah ia sadari, Seunggi telah menjadi semacam penanda kecil dalam hidup saya, bahwa waktu memang terus berjalan, tapi tidak semua kenangan harus ikut hilang bersamanya.

Pada akhirnya, mungkin itulah arti seorang idol dalam hidup seseorang. Bukan sekadar sosok yang kita kagumi dari jauh, tetapi seseorang yang tanpa sadar ikut berjalan di sepanjang waktu kita. Mengisi jeda-jeda yang mungkin bahkan tidak ia ketahui pernah ada.

Dan ketika suatu hari kita kembali mendengar lagu-lagu lama itu, yang kita temukan bukan hanya suara yang familiar. Kita juga menemukan kembali potongan diri kita yang dulu, yang pernah bermimpi, pernah ragu, pernah jatuh, lalu perlahan belajar berdiri lagi.

Jadi bagi saya, Lee Seunggi bukan hanya penyanyi, aktor, atau entertainer. Ia adalah penanda waktu.

Penanda bahwa saya pernah hidup di masa itu, pernah menjadi versi diri yang berbeda, dan kini masih terus berjalan, dengan kenangan yang tetap setia tinggal di belakang.

Ulang tahun Hijriyah Zea ke 10

Aku akan bohong dan kufur nikmat jika bilang tak ada yang luar biasa di Ramadhan tahun ini.

Menjumpai Ramadhan itu sendiri saja sudah suatu hal yang luar biasa. Sehat dan selamat dalam menunaikan ibadah puasa, bergembira membeli takjil dan berbuka, berpeluh ria dalam setiap gerak pada sholat tarawih, dan malam-malam hening saat mengadu padaNya, hingga jadi yang pertama ke dapur menyiapkan sahur.

Namun di sudut hati, si paling reflektif, aku tak bisa menafikan bahwa ibadah yang aku kerjakan masih biasa-biasa saja, bahkan One Day One Juz saja, banyak yang terlewatkan.

Lalu tibalah malam ini. Semua umat Islam tahu, malam ini malam Nuzul Qur'an. Tapi bagi saya dan suami, malam ini menyimpan istimewa yang lain.

Malam saat kami sekeluarga lahir. Ya, sekeluarga. Malam ini, 10 tahun lalu, Zea lahir. Dan kami semua seperti ikut dilahirkan kembali. Saya lahir sebagai Ibu, suami lahir sebagai Abak, ayah Ibu kami, lahir sebagai uwan, kakek dan nenek, dan adik-adik kami, lahir menjadi mamak, acik, dan daddy untuk pertama kalinya.

Ya, Zea lahir sebagai cucu pertama dari kedua keluarga.

Seperti malam turunnya al-Qur'an sebagai Hudan wal Furqan, Zea yang lahir dimalam yang sama kelak akan mencari dan meniti jalan hidupnya sendiri. Semoga iya taat pada petunjuk, dan tegas dalam membedakan kebaikan dan keburukan.

Sekarang, bayi itu sudah berusia 10 tahun lalu. Baginya, pelukan ibunya masih menjadi hal favorit yang ia minta kapan saja. Padahal sebenarnya, akulah yang butuh pelukan itu.

Zea yang 10 tahun, sore tadi membelikanku vitamin C, dan mengingatkanku meminumnya setelah berbuka. Menurutnya, Vitamin C akan menyembuhkan sariawan yang aku derita dua hari ini.

Zea yang 10 tahun, tak pernah susah dibangunin sahur. Meski ketiduran setelah sholat subuh selama setengah jam, dengan kantuknya, ia akan berjalan ke kamar mandi dan bersiap ke sekolah jam 7 pagi.

Meski tak banyak yang “meningkat” di Ramadhan tahun ini, tapi seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Tak terbilang syukur atas semua ini.

Ramadhan yang datang kembali.

Keluarga yang masih lengkap.

Dan seorang anak yang dulu lahir di malam Nuzulul Qur’an, kini tumbuh pelan-pelan di depan mata kami.

Alhamdulillah. 

Selamat Ulang Tahun Hijriyah, Zea. Kami selalu sayang, selamanya. 💖

Hello Ramadhan, Marhaban.

Ramadhan kembali datang, dan kita juga bergembira menyambutnya. Apa ada yang berbeda dengan Ramadhan tahun ini, manteman?

Bagi sebagian kita, Ramadhan mungkin tidak banyak berubah dari tahun sebelumnya. Ritmenya kurang lebih masih sama. Tapi bagi sebagian lain, Ramadhan kali ini sangat berbeda, banyak yang berubah, mungkin ada yang kurang, ada yang bertambah.

Bagi umat Islam, Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, bukan hanya sebuah bulan dalam lembaran kalender. Di bulan ini, “dokumen” panduan hidup seorang muslim diturunkan. Al-Qur’an. Artinya, Ramadhan itu bulan, dimana “kurikulum langit” diturunkan ke bumi. Ada silabusnya, yaitu puasa, qiyam, sedekah, sabar. Ada target kompetensinya, takwa. Bahkan ada evaluasinya, perubahan diri setelah 30 hari.

Puasa sendiri bukan hanya soal menahan lapar. Secara spiritual, ia melatih self-regulation. Secara psikologis, ia membangun jeda antara dorongan dan tindakan. Dalam ilmu perilaku, kemampuan menunda kesenangan adalah indikator kematangan emosi. Masih ada yang ingat eksperimen marshmallow test oleh Walter Mischel di Stanford University? Anak-anak yang bisa menunggu marshmallow kedua cenderung punya kontrol diri lebih baik dalam jangka panjang. Dan menariknya, Islam sudah mengajarkan ini sejak 14 abad lalu. Kita dilatih menunda makan yang halal demi ketaatan. Kalau yang halal saja bisa ditahan, apalagi yang jelas-jelas haram.

Ramadhan juga membongkar ilusi kontrol. Saat kita lapar, kita sadar betapa lemahnya manusia. Tubuh yang biasanya kuat bekerja tiba-tiba melemah hanya karena tidak makan beberapa jam. Di situ kita belajar rendah hati. Bahwa hidup bukan tentang seberapa mampu kita menguasai dunia, tapi seberapa mampu kita tunduk pada-Nya.

Ada satu hal yang sering luput, Ramadhan adalah bulan empati. Ketika perut kosong, kita tidak hanya merasakan lapar fisik, tapi belajar memahami realitas sosial. Rasa itu membentuk kesadaran kolektif. Maka wajar jika sedekah di bulan ini terasa lebih “hidup”. Dalam banyak hadis, Rasulullah ï·º digambarkan paling dermawan di bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim). Seolah-olah Ramadhan adalah ruang akselerasi kebaikan.

Kalau mau jujur, Ramadhan juga seperti cermin besar. Ia memperlihatkan versi asli diri kita. Saat lapar dan lelah, yang keluar adalah karakter paling jujur. Apakah kita mudah marah, atau justru lebih sabar? Apakah kita makin lembut, atau makin sensitif? Puasa itu bukan hanya ibadah vertikal, tapi latihan karakter horizontal.

Yang menarik lagi, Ramadhan melatih kita untuk hidup berbasis waktu. Sahur, imsak, maghrib, tarawih. Semua terjadwal. Ini bulan disiplin. Dalam manajemen diri, rutinitas yang konsisten selama 30 hari bisa membentuk kebiasaan baru. Jadi sebenarnya Ramadhan adalah momentum rekonstruksi diri. Mau jadi lebih baik? Ya bangun pola itu di bulan ini.

Dan tentu saja, ada malam istimewa, Lailatul Qadar. Malam yang disebut dalam QS. Al-Qadr lebih baik dari seribu bulan. Kalau dihitung, itu setara lebih dari 83 tahun. Secara logika dunia, ini “return of investment” spiritual paling tinggi. Satu malam, pahala seumur hidup. Tapi ia dirahasiakan waktunya. Supaya kita tidak minimalis dalam beribadah. Supaya kita konsisten, bukan oportunis.

Aku sering merasa, Ramadhan itu bukan tentang menjadi sempurna dalam 30 hari. Tapi tentang memulai ulang. Seperti tombol reset. Kita tahu kita punya banyak celah, banyak kurang, banyak lalai. Tapi Ramadhan datang tanpa sinis. Ia tidak menghakimi. Ia mengajak.

Dan mungkin yang paling dalam dari semua ini, Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari konsumsi, tapi dari pengendalian. Dari berbagi. Dari sujud yang lebih lama. Dari doa yang lebih khusyuk. Dari tadarus yang pelan tapi meresap.

Di tengah dunia yang bising, Ramadhan adalah ruang sunyi. Di tengah hidup yang serba cepat, ia adalah jeda yang menyembuhkan.

Maka jika Ramadhan kali ini terasa tidak sama, insya Allah ada maknanya. Bisa jadi ia tidak sekadar menggeser jam makan dan tidur kita, tetapi sedang pelan-pelan menggeser cara kita memahami hidup, kehilangan, syukur, dan arah pulang.

Hello Ramadhan, Marhaban.
Semoga kita tidak hanya melewatinya. Tapi benar-benar bertumbuh di dalamnya.

Idol I: Potret Perasaan Kami, Para Fangirl

Idol I resmi menayangkan episode terakhirnya malam ini. Meski hanya berada di posisi 8 Top 10 TV Shows di Indonesia, drama ini diam-diam mengambil ruang di waktuku, membuat drama lain yang tayang bersamaan tak lagi jadi prioritas. Bukan karena ia menawarkan cerita yang gemerlap atau kejutan besar, tapi karena ia meninggalkan sesuatu yang tak segera usai, sesuatu yang menyusup pelan-pelan.

Mungkin bagi sebagian penonton, Idol I terasa biasa saja. Tapi bagi seorang fangirl sepertiku ceritanya terasa dekat. Terlalu dekat, bahkan. Sebagai Army, drama ini seperti memotret banyak hal yang selama ini hanya kami rasakan dalam diam.

Sebagai fangirl, ada banyak scene yang terasa sangat relate. Mulai dari mengoleksi photocard, datang ke fan meeting, war tiket konser, teriakan fanchant, sampai kebiasaan membaca teori-teori dan pesan-pesan tersembunyi dalam album. Semua itu membuatku mudah terseret ke emosi Se na. Apalagi alurnya tak sepenuhnya mudah ditebak, bahkan misteri tentang siapa sebenarnya pelaku pembunuhan Woo seong pun tidak disajikan secara instan.

Di episode 12, percakapan antara manajer, Jae hee dan Young bin, seperti gambaran keadaan Army saat ini. Saat manajer mereka kawatir La ik akan dikritik para reporter soal kisah cintanya dengan Se na, Jae hee dan Young bin bilang :

“Tenang saja. Jika mereka (reporter) melewati batas, para penggemar akan tangani di komentar”.

“Astaga, Goldy sekarang luar biasa”.

“Bahkan ada regu perlindungan privasi, jika bukan jadwal resmi, mereka tidak akan datang, kalau bertemu dia, mereka pura-pura tak kenal”.

Dan sebagai Army yang ”dewasa”, d e w a s a, bukan tua, karena “foreveeeer we are yooooung…”..hehehe, (keukeuh banget nggak mau dibilang tua😆), kebahagiaan kami sebenarnya sederhana. Cukup tahu bahwa mereka baik-baik saja. Bahagia. Hidup sebagai manusia, bukan semata idol. Kami tak merasa perlu memiliki hidup mereka. Siapa yang mereka cintai, bagaimana mereka menjalani hari-harinya, itu bukan hak kami. Selama mereka bahagia, rasanya itu sudah lebih dari cukup. Army yang pernah diselamatkan oleh lagu dan cerita Bangtan, yang diajari bertahan dan mencintai diri sendiri, hari ini tak meminta apa-apa selain melihat Bangtan pun hidup dalam bahagia mereka sendiri.

Drama yang ditulis Kim Da rin dan disutradarai Lee Kwang young ini, dengan Choi Sooyoung sebagai Maeng Se na, memang tak berusaha menampilkan dunia idol sebagai sesuatu yang manis dan glamor. Justru sebaliknya. Ia menghadirkan sisi yang sering luput, idol sebagai manusia yang tumbuh dalam sistem yang sejak awal lebih peduli pada performa ketimbang perawatan jiwa.

Awalnya aku mengira Idol I akan masuk ke genre dark seperti beberapa drakor belakangan ini (jujur, aku masih trauma dengan Dear X, The Manipulated, The Price of Confession, dkk). Tapi ternyata drama ini tidak sepenuhnya gelap, meski juga jelas bukan drama yang “nyaman”. Ia nagih secara emosional. Drama ini kuat mengangkat isu identitas, luka masa lalu, dan tekanan publik. Bukan hanya tentang gemerlap panggung, tapi tentang eksploitasi yang halus, kesepian yang senyap, dan manusia yang perlahan kehilangan dirinya sendiri. Vibes-nya lebih ke psikologis-realistis, bukan drama manis juga sih. Meskipun akhirnya happy ending juga.

Di titik ini, aku juga merasa Idol I paling jujur saat membicarakan satu hal. Kesuksesan sebagai bentuk lain dari kehilangan. Popularitas yang menanjak berarti privasi yang menyusut. Nama yang berubah menjadi brand. Suara yang tak lagi sepenuhnya milik diri sendiri. Tubuh yang diatur, berat badan, ekspresi, gestur, bahkan emosi. Sistem yang membekap itu pelan-pelan membentuk idol menjadi sangat keras pada diri mereka sendiri. Diet ekstrem, kecemasan berlebihan, rasa bersalah, luka mental bahkan depresi yang sering kali dianggap “harga wajar” dari sebuah mimpi besar.

Mungkin karena itulah, saat menonton drama ini, ingatanku dipenuhi kilasan foto dan video BTS yang saling berkejaran di kepala. Semua ingin keluar bersamaan. Cuplikan-cuplikan dalam Idol I terasa relate karena harga itu juga pernah dibayar Bangtan dalam perjalanan mereka menuju puncak.

Idol I tidak membuatku ingin menghakimi dunia idol, juga tidak mengajak menuntut apa pun. Ia hanya mengingatkanku bahwa di balik panggung, ada manusia yang berhak lelah, rapuh, dan bahagia dengan caranya sendiri. Dan mungkin, sebagai penggemar, bentuk cinta paling dewasa adalah berhenti menuntut, lalu mendoakan dari jauh, agar mereka tetap bisa hidup sebagai manusia, bukan sekadar fantasi orang lain.

BERJUMPA CARMY DI SEBUAH TOKO BAKERY

Kemarin siang, saya melangkah ke sebuah bakery. Di depan tertulis Bakery, Brunch & Coffee. Tokonya tidak besar, tapi terlihat chic dan nyaman. Sebuah tempat dengan nuansa warna kayu dan hijau tua. Pas untuk duduk dan ngobrol santai.

Begitu masuk, aroma roti langsung menguar memenuhi udara di dalam toko. Di etalase kaca, berjejer aneka roti dari soft sourdough yang empuk sampai country bread yang crusty.

Yap, toko ini adalah bakery sourdough. Jenis roti yang dikenal lebih sehat, lebih mudah dicerna, dan ramah untuk tubuh.

Namun, ada yang menarik perhatian disebuah sudut dinding pajangan.

Sebuah toples kaca, berdiri sendiri, dibawah cahaya yang hangat. Bertulis Carmy.

Carmy adalah sourdough mother/starter yang telah hidup selama sembilan tahun. Melihatnya, ingatanku langsung melayang ke Madre karya Dee Lestari. Tentang adonan yang bukan sekadar adonan. Tentang sesuatu yang hidup, dirawat, dan dijaga dengan sepenuh hati.

Di bakery ini, Carmy diperlakukan seperti makhluk bernyawa. Ia diberi makan tiga kali sehari, setiap hari, tanpa jeda dan tanpa boleh terlambat. Dari Carmy inilah roti-roti di toko Bakery ini berasal. Proses fermentasi alaminya membuat roti lebih gentle di perut, lebih mudah dicerna, dan memiliki karakter rasa serta tekstur yang khas, keunikan yang tidak bisa ditiru secara instan.

Menu di sini beragam. Ada Cranberry Cheese Sourdough dan Chocolate Cheese Sourdough dengan perpaduan rasa segar dan manis yang seimbang. Ada Egg tart dengan berbagai varian dari original hingga matcha dan Coffee. Salt bread lengkap, dari butter salt bread yang klasik, Milky Creme salt bread yang lembut, banoffee salt bread yang legit, hingga garlic butter salt bread yang legend, favorit Zea.

Suasana tokonya membuat siapa pun ingin berlama-lama di sini. Pengunjung duduk dengan ritme masing-masing. Ada yang datang sendiri, ada yang berbagi meja. Semua seperti sepakat untuk melambat sejenak.

Bakery kecil ini bukan hanya soal roti. Ia bercerita tentang proses, tentang kesabaran, dan tentang waktu yang dibiarkan bekerja. Tentang starter yang dirawat bertahun-tahun, tentang roti yang difermentasi lama, tentang rasa yang tidak instan.

Sedikit banyaknya, toko ini seperti bakery impian saya. Saya selalu punya impian untuk punya rumah dengan halaman belakang yang luas. Ada ruangan di bagian belakang yang bisa difungsikan sebagai toko bakery kecil yang bisa diakses dari samping rumah. Pengunjung bisa duduk santai menikmati teh dan roti sore-sore selepas bekerja sepanjang hari. Meja dan kursi ala Tea Time di sebuah ruangan yang terbuka. Dan roti sourdough seperti inilah yang tersedia di sana. Aih, namanya juga impian ya...semoga semesta mewujudkannya.

Di tengah lalu lalang sebuah persimpangan yang ramai, bakery kecil ini terasa seperti jeda yang disengaja. Dan sayapun pulang dengan mengenang sebuah buku dan mengingat sebuah impian. Lalu Carmy, yang berdiam di balik kaca, seakan menyimpan rahasia tua, bahwa hidup yang dirawat dengan kesetiaan tak pernah kehabisan cara untuk memberi.



Aku dan Tahun yang Baru Saja Datang

Pagi ini aku membuka laptop dan mendapati kalender di pojok kanan bawah sudah berganti tahun. 1/1/2026 muncul begitu saja, seperti angka keramat di pagi yang masih sunyi. Perasaanku campur aduk melihat angka tahun yang sudah berubah. 

Karena merayakan ulang tahun disetiap akhir Desember, maka setiap pergantian tahun bagiku bukan sekadar perubahan angka. Ia adalah pertambahan usia.

Mungkin itulah sebabnya, tahun baru sering datang bersama beban kecil di kepala, ruang perenungan yang tiba-tiba terbuka tentang hidup, tentang waktu, dan tentang sejauh apa aku sudah berjalan.

Angka yang diam itu, berbunyi nyaring di kepalaku. Seolah mengingatkanku pada hal-hal yang sudah lewat, waktu yang tak bisa diulang, keputusan yang pernah ragu, dan doa-doa yang sebagian sudah terjawab, sebagian lagi masih menggantung di langit.

Aku menarik napas sejenak, lalu tersenyum kecil. Mungkin bukan karena aku siap menyambut tahun yang baru, tapi karena aku akhirnya sadar, hidup tidak selalu menuntut jawaban cepat. Ada fase-fase di mana kita hanya perlu jujur pada perasaan sendiri, mengakui lelah, dan memberi diri sendiri izin untuk berjalan lebih pelan.

Aku menyambut tahun ini tanpa resolusi besar. Tidak ada daftar target yang ambisius. Tidak ada janji hidup sempurna. Yang ada hanya satu niat sederhana, menjalani hidup itu sendiri dengan sehidup-hidupnya.

Beberapa tahun terakhir mengajarkanku satu hal penting, bertahan saja sudah termasuk sebuah pencapaian. Kita sering lupa merayakan itu. Kita terlalu sibuk merasa kurang, merasa tertinggal, merasa belum jadi apa-apa. Padahal setiap orang punya jalan ninjanya masing-masing.

Aku belajar bahwa hidup tidak selalu butuh percepatan. Kadang justru butuh jeda. Berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan langkah dengan kesadaran. Tidak harus selalu cepat. Tidak harus selalu terlihat “berhasil”. 

Aku juga belajar berdamai dengan versi diriku yang tidak selalu produktif. Ada hari-hari di mana aku hanya ingin diam, membaca, atau sekadar menyesap kopi tanpa merasa bersalah. Dulu, hari-hari seperti itu terasa sia-sia. Sekarang, justru terasa menyembuhkan.

Di tahun baru ini, aku ingin memberi ruang lebih luas untuk hal-hal kecil. Waktu bersama keluarga tanpa distraksi. Pekerjaan yang dikerjakan dengan tenang. Menulis tanpa target viral. Membaca tanpa harus selesai cepat. Hidup tanpa harus selalu tampak hebat.

Niat yang tidak terlalu keras bukan berarti menyerah. Justru sebaliknya. Ini tentang memilih bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi. Tentang memahami batas diri, tanpa berhenti melangkah.

Aku percaya, keberlimpahan tidak selalu datang dalam bentuk angka atau pencapaian besar. Kadang ia hadir sebagai pikiran yang lebih tenang, tubuh yang lebih didengarkan, dan hati yang tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Tahun ini, aku ingin belajar mengatakan “cukup” tanpa rasa bersalah. Cukup bekerja hari ini. Cukup berusaha sejauh tenaga yang ada. Cukup menjadi diri sendiri, tanpa harus memenuhi standar siapa pun.

Kalau ada doa yang kupanjatkan untuk tahun ini, mungkin sesederhana ini, “semoga aku tetap diberi kesadaran untuk hidup pelan-pelan, tapi tidak kehilangan arah. Semoga aku tetap berani bermimpi, tapi tidak lupa menikmati prosesnya. Semoga aku tetap ingin berkembang, tapi tidak lupa berterima kasih pada diri sendiri yang sudah sejauh ini bertahan”.

Untuk siapa pun yang membaca ini, kalau kamu juga masuk tahun baru dengan perasaan campur aduk, itu tidak apa-apa. Kamu tidak sendirian. Kita tidak harus memulai tahun ini dengan lompatan besar. Melangkah kecil pun sah.

Bismillah untuk tahun yang baru. Dengan niat yang sederhana, hati yang lebih lapang, dan kepala yang tidak terlalu berisik. Semoga kita semua sampai, dengan cara masing-masing.

Gelas dari Zea

Kemarin aku genap berusia 36 tahun. Nggak ada pesta, nggak ada perayaan besar. Tapi ada satu kejutan kecil yang pelan-pelan tinggal di hatiku.

Pagi itu, Zea -putriku yang baru 9 tahun- izin jajan ke minimarket bareng Abaknya. Aku mengiyakan saja. Tapi entah kenapa, mereka lama sekali pulangnya. Di rumah, aku mulai bertanya-tanya. Pas mereka akhirnya datang, aku spontan nanya ke Zea,
“Ea, jajannya ke swalayan Salido ya?”
Dalam pikiranku, dia pasti ke sana buat beli jeruk Mandarin kesukaannya.

"Nggak Bun, tadi kami beli lakban dulu"

Malamnya, saat makan-makan kecil, baru aku tahu ke mana sebenarnya mereka pergi. Zea membeli konfeti. Dan kado. Untukku.

Kado sederhana, satu set beauty blender dan sebuah gelas mug cantik. Hatiku menghangat. Aku nggak pernah menyangka Zea memperhatikan hal sedetail itu, bahwa aku nggak punya gelas sendiri.

Selama ini aku pakai gelas apa saja yang ada di rumah. Sementara Abaknya punya gelas “khusus”, gelas toples berwarna biru untuk ngeteh, dan gelas kaca "Raksasa"nya untuk minum protein. Zea juga punya gelas kelinci miliknya. Dan aku? Ya… gelas umum.

Sekarang tidak lagi.

Zea memberiku gelas labu dengan motif bunga Daisy. Manis. Lembut. Cantik.

Tapi yang membuatku benar-benar bahagia bukan gelasnya. Melainkan perhatian itu. Kesadaran kecil seorang anak bahwa ibunya layak dipikirkan, direncanakan, dan diberi kejutan.

Zea kini sudah bisa memikirkan kado. Sudah bisa menyusun surprise. Bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari, perhatiannya sering membuatku terpesona. Tak terbilang berapa kali ucapan "Ea sayang Bunda" keluar dari mulut mungilnya itu. Setiap aku berbuka puasa, meski sedang asyik main game, begitu azan berkumandang, dia akan berlari ke mejaku dan berkata,
“Selamat berbuka puasa, Buun.” 

Kadang, hidup memang tidak memberi kita perayaan besar. Tapi ia menghadirkan cinta dalam bentuk-bentuk kecil, sebuah gelas, sebuah ucapan, sebuah perhatian yang lahir tanpa diminta.

Dan sejak kemarin, setiap kali aku minum dari gelas bermotif Daisy itu, aku tahu:
ini bukan sekadar gelas.
Ini adalah ingatan.
Tentang dicintai.
Dengan cara yang paling sederhana, dan paling tulus.

Idol Adalah Waktu Saya

Pagi ini sambil mencuci pakaian,   saya memutar playlist lagu Lee Seunggi. Because You’re My Woman , lalu Return , kemudian Words That Are H...