Idol I: Potret Perasaan Kami, Para Fangirl

Idol I resmi menayangkan episode terakhirnya malam ini. Meski hanya berada di posisi 8 Top 10 TV Shows di Indonesia, drama ini diam-diam mengambil ruang di waktuku, membuat drama lain yang tayang bersamaan tak lagi jadi prioritas. Bukan karena ia menawarkan cerita yang gemerlap atau kejutan besar, tapi karena ia meninggalkan sesuatu yang tak segera usai, sesuatu yang menyusup pelan-pelan.

Mungkin bagi sebagian penonton, Idol I terasa biasa saja. Tapi bagi seorang fangirl sepertiku ceritanya terasa dekat. Terlalu dekat, bahkan. Sebagai Army, drama ini seperti memotret banyak hal yang selama ini hanya kami rasakan dalam diam.

Sebagai fangirl, ada banyak scene yang terasa sangat relate. Mulai dari mengoleksi photocard, datang ke fan meeting, war tiket konser, teriakan fanchant, sampai kebiasaan membaca teori-teori dan pesan-pesan tersembunyi dalam album. Semua itu membuatku mudah terseret ke emosi Se na. Apalagi alurnya tak sepenuhnya mudah ditebak, bahkan misteri tentang siapa sebenarnya pelaku pembunuhan Woo seong pun tidak disajikan secara instan.

Di episode 12, percakapan antara manajer, Jae hee dan Young bin, seperti gambaran keadaan Army saat ini. Saat manajer mereka kawatir La ik akan dikritik para reporter soal kisah cintanya dengan Se na, Jae hee dan Young bin bilang :

“Tenang saja. Jika mereka (reporter) melewati batas, para penggemar akan tangani di komentar”.

“Astaga, Goldy sekarang luar biasa”.

“Bahkan ada regu perlindungan privasi, jika bukan jadwal resmi, mereka tidak akan datang, kalau bertemu dia, mereka pura-pura tak kenal”.

Dan sebagai Army yang ”dewasa”, d e w a s a, bukan tua, karena “foreveeeer we are yooooung…”..hehehe, (keukeuh banget nggak mau dibilang tua😆), kebahagiaan kami sebenarnya sederhana. Cukup tahu bahwa mereka baik-baik saja. Bahagia. Hidup sebagai manusia, bukan semata idol. Kami tak merasa perlu memiliki hidup mereka. Siapa yang mereka cintai, bagaimana mereka menjalani hari-harinya, itu bukan hak kami. Selama mereka bahagia, rasanya itu sudah lebih dari cukup. Army yang pernah diselamatkan oleh lagu dan cerita Bangtan, yang diajari bertahan dan mencintai diri sendiri, hari ini tak meminta apa-apa selain melihat Bangtan pun hidup dalam bahagia mereka sendiri.

Drama yang ditulis Kim Da rin dan disutradarai Lee Kwang young ini, dengan Choi Sooyoung sebagai Maeng Se na, memang tak berusaha menampilkan dunia idol sebagai sesuatu yang manis dan glamor. Justru sebaliknya. Ia menghadirkan sisi yang sering luput, idol sebagai manusia yang tumbuh dalam sistem yang sejak awal lebih peduli pada performa ketimbang perawatan jiwa.

Awalnya aku mengira Idol I akan masuk ke genre dark seperti beberapa drakor belakangan ini (jujur, aku masih trauma dengan Dear X, The Manipulated, The Price of Confession, dkk). Tapi ternyata drama ini tidak sepenuhnya gelap, meski juga jelas bukan drama yang “nyaman”. Ia nagih secara emosional. Drama ini kuat mengangkat isu identitas, luka masa lalu, dan tekanan publik. Bukan hanya tentang gemerlap panggung, tapi tentang eksploitasi yang halus, kesepian yang senyap, dan manusia yang perlahan kehilangan dirinya sendiri. Vibes-nya lebih ke psikologis-realistis, bukan drama manis juga sih. Meskipun akhirnya happy ending juga.

Di titik ini, aku juga merasa Idol I paling jujur saat membicarakan satu hal. Kesuksesan sebagai bentuk lain dari kehilangan. Popularitas yang menanjak berarti privasi yang menyusut. Nama yang berubah menjadi brand. Suara yang tak lagi sepenuhnya milik diri sendiri. Tubuh yang diatur, berat badan, ekspresi, gestur, bahkan emosi. Sistem yang membekap itu pelan-pelan membentuk idol menjadi sangat keras pada diri mereka sendiri. Diet ekstrem, kecemasan berlebihan, rasa bersalah, luka mental bahkan depresi yang sering kali dianggap “harga wajar” dari sebuah mimpi besar.

Mungkin karena itulah, saat menonton drama ini, ingatanku dipenuhi kilasan foto dan video BTS yang saling berkejaran di kepala. Semua ingin keluar bersamaan. Cuplikan-cuplikan dalam Idol I terasa relate karena harga itu juga pernah dibayar Bangtan dalam perjalanan mereka menuju puncak.

Idol I tidak membuatku ingin menghakimi dunia idol, juga tidak mengajak menuntut apa pun. Ia hanya mengingatkanku bahwa di balik panggung, ada manusia yang berhak lelah, rapuh, dan bahagia dengan caranya sendiri. Dan mungkin, sebagai penggemar, bentuk cinta paling dewasa adalah berhenti menuntut, lalu mendoakan dari jauh, agar mereka tetap bisa hidup sebagai manusia, bukan sekadar fantasi orang lain.

BERJUMPA CARMY DI SEBUAH TOKO BAKERY

Kemarin siang, saya melangkah ke sebuah bakery. Di depan tertulis Bakery, Brunch & Coffee. Tokonya tidak besar, tapi terlihat chic dan nyaman. Sebuah tempat dengan nuansa warna kayu dan hijau tua. Pas untuk duduk dan ngobrol santai.

Begitu masuk, aroma roti langsung menguar memenuhi udara di dalam toko. Di etalase kaca, berjejer aneka roti dari soft sourdough yang empuk sampai country bread yang crusty.

Yap, toko ini adalah bakery sourdough. Jenis roti yang dikenal lebih sehat, lebih mudah dicerna, dan ramah untuk tubuh.

Namun, ada yang menarik perhatian disebuah sudut dinding pajangan.

Sebuah toples kaca, berdiri sendiri, dibawah cahaya yang hangat. Bertulis Carmy.

Carmy adalah sourdough mother/starter yang telah hidup selama sembilan tahun. Melihatnya, ingatanku langsung melayang ke Madre karya Dee Lestari. Tentang adonan yang bukan sekadar adonan. Tentang sesuatu yang hidup, dirawat, dan dijaga dengan sepenuh hati.

Di bakery ini, Carmy diperlakukan seperti makhluk bernyawa. Ia diberi makan tiga kali sehari, setiap hari, tanpa jeda dan tanpa boleh terlambat. Dari Carmy inilah roti-roti di toko Bakery ini berasal. Proses fermentasi alaminya membuat roti lebih gentle di perut, lebih mudah dicerna, dan memiliki karakter rasa serta tekstur yang khas, keunikan yang tidak bisa ditiru secara instan.

Menu di sini beragam. Ada Cranberry Cheese Sourdough dan Chocolate Cheese Sourdough dengan perpaduan rasa segar dan manis yang seimbang. Ada Egg tart dengan berbagai varian dari original hingga matcha dan Coffee. Salt bread lengkap, dari butter salt bread yang klasik, Milky Creme salt bread yang lembut, banoffee salt bread yang legit, hingga garlic butter salt bread yang legend, favorit Zea.

Suasana tokonya membuat siapa pun ingin berlama-lama di sini. Pengunjung duduk dengan ritme masing-masing. Ada yang datang sendiri, ada yang berbagi meja. Semua seperti sepakat untuk melambat sejenak.

Bakery kecil ini bukan hanya soal roti. Ia bercerita tentang proses, tentang kesabaran, dan tentang waktu yang dibiarkan bekerja. Tentang starter yang dirawat bertahun-tahun, tentang roti yang difermentasi lama, tentang rasa yang tidak instan.

Sedikit banyaknya, toko ini seperti bakery impian saya. Saya selalu punya impian untuk punya rumah dengan halaman belakang yang luas. Ada ruangan di bagian belakang yang bisa difungsikan sebagai toko bakery kecil yang bisa diakses dari samping rumah. Pengunjung bisa duduk santai menikmati teh dan roti sore-sore selepas bekerja sepanjang hari. Meja dan kursi ala Tea Time di sebuah ruangan yang terbuka. Dan roti sourdough seperti inilah yang tersedia di sana. Aih, namanya juga impian ya...semoga semesta mewujudkannya.

Di tengah lalu lalang sebuah persimpangan yang ramai, bakery kecil ini terasa seperti jeda yang disengaja. Dan sayapun pulang dengan mengenang sebuah buku dan mengingat sebuah impian. Lalu Carmy, yang berdiam di balik kaca, seakan menyimpan rahasia tua, bahwa hidup yang dirawat dengan kesetiaan tak pernah kehabisan cara untuk memberi.



Aku dan Tahun yang Baru Saja Datang

Pagi ini aku membuka laptop dan mendapati kalender di pojok kanan bawah sudah berganti tahun. 1/1/2026 muncul begitu saja, seperti angka keramat di pagi yang masih sunyi. Perasaanku campur aduk melihat angka tahun yang sudah berubah. 

Karena merayakan ulang tahun disetiap akhir Desember, maka setiap pergantian tahun bagiku bukan sekadar perubahan angka. Ia adalah pertambahan usia.

Mungkin itulah sebabnya, tahun baru sering datang bersama beban kecil di kepala, ruang perenungan yang tiba-tiba terbuka tentang hidup, tentang waktu, dan tentang sejauh apa aku sudah berjalan.

Angka yang diam itu, berbunyi nyaring di kepalaku. Seolah mengingatkanku pada hal-hal yang sudah lewat, waktu yang tak bisa diulang, keputusan yang pernah ragu, dan doa-doa yang sebagian sudah terjawab, sebagian lagi masih menggantung di langit.

Aku menarik napas sejenak, lalu tersenyum kecil. Mungkin bukan karena aku siap menyambut tahun yang baru, tapi karena aku akhirnya sadar, hidup tidak selalu menuntut jawaban cepat. Ada fase-fase di mana kita hanya perlu jujur pada perasaan sendiri, mengakui lelah, dan memberi diri sendiri izin untuk berjalan lebih pelan.

Aku menyambut tahun ini tanpa resolusi besar. Tidak ada daftar target yang ambisius. Tidak ada janji hidup sempurna. Yang ada hanya satu niat sederhana, menjalani hidup itu sendiri dengan sehidup-hidupnya.

Beberapa tahun terakhir mengajarkanku satu hal penting, bertahan saja sudah termasuk sebuah pencapaian. Kita sering lupa merayakan itu. Kita terlalu sibuk merasa kurang, merasa tertinggal, merasa belum jadi apa-apa. Padahal setiap orang punya jalan ninjanya masing-masing.

Aku belajar bahwa hidup tidak selalu butuh percepatan. Kadang justru butuh jeda. Berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan langkah dengan kesadaran. Tidak harus selalu cepat. Tidak harus selalu terlihat “berhasil”. 

Aku juga belajar berdamai dengan versi diriku yang tidak selalu produktif. Ada hari-hari di mana aku hanya ingin diam, membaca, atau sekadar menyesap kopi tanpa merasa bersalah. Dulu, hari-hari seperti itu terasa sia-sia. Sekarang, justru terasa menyembuhkan.

Di tahun baru ini, aku ingin memberi ruang lebih luas untuk hal-hal kecil. Waktu bersama keluarga tanpa distraksi. Pekerjaan yang dikerjakan dengan tenang. Menulis tanpa target viral. Membaca tanpa harus selesai cepat. Hidup tanpa harus selalu tampak hebat.

Niat yang tidak terlalu keras bukan berarti menyerah. Justru sebaliknya. Ini tentang memilih bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi. Tentang memahami batas diri, tanpa berhenti melangkah.

Aku percaya, keberlimpahan tidak selalu datang dalam bentuk angka atau pencapaian besar. Kadang ia hadir sebagai pikiran yang lebih tenang, tubuh yang lebih didengarkan, dan hati yang tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Tahun ini, aku ingin belajar mengatakan “cukup” tanpa rasa bersalah. Cukup bekerja hari ini. Cukup berusaha sejauh tenaga yang ada. Cukup menjadi diri sendiri, tanpa harus memenuhi standar siapa pun.

Kalau ada doa yang kupanjatkan untuk tahun ini, mungkin sesederhana ini, “semoga aku tetap diberi kesadaran untuk hidup pelan-pelan, tapi tidak kehilangan arah. Semoga aku tetap berani bermimpi, tapi tidak lupa menikmati prosesnya. Semoga aku tetap ingin berkembang, tapi tidak lupa berterima kasih pada diri sendiri yang sudah sejauh ini bertahan”.

Untuk siapa pun yang membaca ini, kalau kamu juga masuk tahun baru dengan perasaan campur aduk, itu tidak apa-apa. Kamu tidak sendirian. Kita tidak harus memulai tahun ini dengan lompatan besar. Melangkah kecil pun sah.

Bismillah untuk tahun yang baru. Dengan niat yang sederhana, hati yang lebih lapang, dan kepala yang tidak terlalu berisik. Semoga kita semua sampai, dengan cara masing-masing.

Gelas dari Zea

Kemarin aku genap berusia 36 tahun. Nggak ada pesta, nggak ada perayaan besar. Tapi ada satu kejutan kecil yang pelan-pelan tinggal di hatiku.

Pagi itu, Zea -putriku yang baru 9 tahun- izin jajan ke minimarket bareng Abaknya. Aku mengiyakan saja. Tapi entah kenapa, mereka lama sekali pulangnya. Di rumah, aku mulai bertanya-tanya. Pas mereka akhirnya datang, aku spontan nanya ke Zea,
“Ea, jajannya ke swalayan Salido ya?”
Dalam pikiranku, dia pasti ke sana buat beli jeruk Mandarin kesukaannya.

"Nggak Bun, tadi kami beli lakban dulu"

Malamnya, saat makan-makan kecil, baru aku tahu ke mana sebenarnya mereka pergi. Zea membeli konfeti. Dan kado. Untukku.

Kado sederhana, satu set beauty blender dan sebuah gelas mug cantik. Hatiku menghangat. Aku nggak pernah menyangka Zea memperhatikan hal sedetail itu, bahwa aku nggak punya gelas sendiri.

Selama ini aku pakai gelas apa saja yang ada di rumah. Sementara Abaknya punya gelas “khusus”, gelas toples berwarna biru untuk ngeteh, dan gelas kaca "Raksasa"nya untuk minum protein. Zea juga punya gelas kelinci miliknya. Dan aku? Ya… gelas umum.

Sekarang tidak lagi.

Zea memberiku gelas labu dengan motif bunga Daisy. Manis. Lembut. Cantik.

Tapi yang membuatku benar-benar bahagia bukan gelasnya. Melainkan perhatian itu. Kesadaran kecil seorang anak bahwa ibunya layak dipikirkan, direncanakan, dan diberi kejutan.

Zea kini sudah bisa memikirkan kado. Sudah bisa menyusun surprise. Bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari, perhatiannya sering membuatku terpesona. Tak terbilang berapa kali ucapan "Ea sayang Bunda" keluar dari mulut mungilnya itu. Setiap aku berbuka puasa, meski sedang asyik main game, begitu azan berkumandang, dia akan berlari ke mejaku dan berkata,
“Selamat berbuka puasa, Buun.” 

Kadang, hidup memang tidak memberi kita perayaan besar. Tapi ia menghadirkan cinta dalam bentuk-bentuk kecil, sebuah gelas, sebuah ucapan, sebuah perhatian yang lahir tanpa diminta.

Dan sejak kemarin, setiap kali aku minum dari gelas bermotif Daisy itu, aku tahu:
ini bukan sekadar gelas.
Ini adalah ingatan.
Tentang dicintai.
Dengan cara yang paling sederhana, dan paling tulus.

KETIKA KEINDAHAN TAK LAGI MENGGETARKAN: TENTANG AESTHETIC FATIGUE DAN HILANGNYA RASA TAKJUB

pinterest.com

Ada masa di mana aku bisa betah menatap layar berjam-jam, menanti setiap episode baru dengan degup yang sama seperti orang jatuh cinta. Ada masa di mana setiap drama terasa istimewa. Dunia baru, karakter baru, dan kisah yang bikin aku rela begadang demi satu episode lagi. Jika dramanya tayang setiap hari jum’at dan sabtu, aku berharap waktu seminggu itu dilipat saja, agar besoknya jum’at dan sabtu lagi. Tapi entah sejak kapan, sensasi itu berkurang. Aku masih menonton, tapi jarang merasa terpukau. Kadang baru tiga episode, udah kutinggalkan begitu saja.

Padahal dulu, waktu awal ngedrakor atau ngedracin, tiap tayangan terasa seperti jendela menuju dunia lain. Kini, justru muncul rasa jenuh yang aneh. Nyalain drama baru yang katanya “bagus banget”, nonton 20 menit pertama, lalu entah kenapa… aku menutupnya begitu saja. Bukan karena ceritanya jelek. Bukan juga karena pemainnya nggak menarik. Dan bukan karena aku semakin tua, hehehe… Rasanya cuma… B aja. Seolah semua sudah pernah kulihat.

Ternyata, fenomena ini punya nama: aesthetic fatigue, aku kelelahan secara estetika.

Apa Sebenarnya Aesthetic Fatigue Itu?

Istilah ini dikenal dalam dunia seni dan budaya populer. Secara sederhana, aesthetic fatigue adalah kondisi di mana seseorang merasa lelah terhadap keindahan. Kita bukan berhenti suka, tapi kehilangan kemampuan untuk merasakan indahnya sesuatu seperti dulu.
Fenomena ini sering terjadi pada orang-orang yang terbiasa mengonsumsi banyak karya visual, dari film, drama, hingga media sosial. Ibaratnya, kita sudah “kenyang” secara estetika.

Kritikus budaya Simon Reynolds pernah menyebut bahwa dunia modern dipenuhi nostalgia visual yang berulang. Kita terus memproduksi bentuk “baru” yang sejatinya cuma remix dari masa lalu. Akibatnya, otak kita lelah memproses keindahan tanpa makna. Kita bukan lagi menikmati, tapi menelan, cepat, banyak, tanpa sempat merasa.

Kita bisa menebak twist, menebak siapa yang jatuh cinta, bahkan tahu kapan musik latar akan mengiringi adegan sedih. Pada titik itu, drama yang mungkin sebenarnya bagus pun terasa datar. Kita tidak terkejut, tidak terpukau, hanya melihat.

Aku mulai menyadari ini saat menonton beberapa serial terakhir. Aku masih bisa menikmati Love in the Cloud, drama xianxia yang ceritanya ngalir lembut dan menyentuh, dengan kostum mewah dan dunia fantasi yang megah. Atau Tempest, drakor dengan emosi yang dalam dan realistis. Tapi selain itu, banyak drama lain yang kutonton sekilas lalu kutinggalkan begitu saja. Bukan karena dramanya buruk. Hanya saja mungkin karena mataku sudah terbiasa dengan keindahan yang nyaris sempurna, visual sinematik, aktor karismatik. Semuanya baik, tapi entah kenapa… terasa datar. Seperti menikmati kue favorit yang terlalu sering disajikan, tetap manis, tapi kehilangan kejutan.

Kenapa Kita Bisa Burnout Secara Estetika?

Kritikus budaya Simon Reynolds pernah menulis, “Kelelahan estetika bukan karena dunia kehabisan ide, tapi karena kita kehabisan ruang untuk merasakan sesuatu secara penuh.”

Kalau dipikir, sama seperti tubuh yang bisa burnout karena kerja berlebihan, indra estetika kita juga bisa kelelahan karena paparan berlebih. Di era streaming dan algoritma, kita nyaris tidak berhenti “mengonsumsi.” Selesai satu drama, langsung disuguhi rekomendasi lainnya.

Kita jadi jarang benar-benar berhenti dan mencerna cerita. Padahal, keindahan butuh ruang untuk mengendap. Tanpa jeda, keindahan berubah jadi kebisingan visual.

Budaya populer sekarang membentuk ritme konsumsi yang cepat dan instan. Orang ingin segera tahu, segera paham, segera move on ke tayangan berikutnya. Padahal, rasa takjub tidak lahir dari kecepatan, ia tumbuh dari keterlibatan.

Neil Postman, dalam bukunya Amusing Ourselves to Death, bahkan sudah memprediksi hal ini sejak 1985. Ketika hiburan menjadi pusat kehidupan modern, manusia kehilangan kemampuan untuk diam dan meresapi. Semua harus cepat, padat, dan instan.
Hasilnya? Otak kita lelah, tapi hati kita kosong.

Dan yang paling ironis, kita sering menyalahkan diri sendiri. “Mungkin aku lagi bad mood,” atau “mungkin aku udah susah terharu.” Padahal, bisa jadi kita hanya sedang mengalami kejenuhan estetika.

Aku pernah mikir, kenapa dulu aku bisa terobsesi dengan satu drama sampai rela begadang, tapi sekarang lebih sering skip-skip aja? Ternyata jawabannya sederhana tapi dalam: semakin banyak yang kita konsumsi, semakin kecil ruang untuk merasa.

Bukan Dramanya yang Salah

Lucunya, rasa letih ini justru muncul di tengah era yang disebut “golden age of content.”
Kualitas produksi meningkat, teknologi visual makin canggih, aktor makin berkarakter. Tapi ironinya, semua terasa mirip. Warna sinematografi, gaya bicara, bahkan tempo musiknya sering kali seperti kloning dari satu template sukses.

Algoritma platform streaming pun memperkuat itu. Kalau kamu suka satu genre, kamu akan terus disuguhi yang mirip. Masalahnya, keindahan tidak lahir dari kemiripan, tapi dari kejutan dan perbedaan.

Makanya, aesthetic fatigue sering menyerang orang-orang yang paling banyak menonton, paling terbuka terhadap estetika. Karena otak mereka sudah menyerap terlalu banyak “indah yang serupa.”

Bagaimana Menemukan Lagi Rasa Takjub Itu?

Aku belum menemukan jawabannya sepenuhnya, tapi aku punya beberapa dugaan kecil yang sedang kucoba pelan-pelan. Mungkin, kuncinya bukan pada mencari tontonan yang lebih spektakuler, tapi menonton dengan cara yang berbeda.

Aku ingin mencoba menonton dengan ritme yang lebih pelan, membiarkan satu cerita benar-benar tinggal lebih lama dalam kepala.

Mungkin juga mulai menjelajahi genre yang jarang kusentuh: dokumenter, slice of life, atau film indie yang nggak banyak dibicarakan di media sosial.

Secara kritis, langkah ini bukan sekadar soal pilihan tontonan, tapi tentang cara pandang terhadap estetika itu sendiri. Kalau selama ini keindahan kita ukur dari visual dan produksi, mungkin sekarang saatnya menilai dari rasa. Dari kejujuran emosi, kedalaman makna, dan kemampuan cerita menyentuh hal-hal yang manusiawi.

Dan mungkin, di luar layar, kita juga bisa menemukan lagi rasa takjub itu dari membaca buku, dan berjalan sore sambil memperhatikan langit.

Akhirnya, Kita Hanya Butuh Jeda

Aesthetic fatigue bukan tanda bahwa kita kehilangan minat, tapi bahwa kita pernah terlalu lama berada di tengah keindahan tanpa sempat bernapas. Otak kita lelah, mata kita jenuh, hati kita butuh ruang, butuh jeda.

Mungkin nanti, ketika kita benar-benar berhenti sejenak, akan ada drama sederhana yang tiba-tiba membuat kita menangis tanpa tahu kenapa. Bukan karena visualnya megah atau dialognya puitis, tapi karena ia terasa hidup.

Atau mungkin, kalau suatu malam kita menemukan diri kita tersenyum lagi di depan layar, entah karena adegan sederhana atau dialog kecil yang hangat, itu mungkin tandanya kita baru saja menemukan kembali rasa takjub kita yang hilang.

Tabik.

Lagu yang Membuatku Selalu Pulang ke 2016

Pernahkah kalian tiba-tiba merasa mellow saat sebuah lagu diputar? Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, tapi setiap mendengar lagu itu, jantung rasanya nyess sekali dan mata tiba-tiba berkaca-kaca. Aku pernah. Dan lagu itu adalah I'm Gong To The Army-nya Lee Seung Gi yang dirilis pada 21 Januari 2016. Cinta pertama aku di dunia perkoreaan. Si Triple Threat kesayangan Airen. Penyanyi, aktor, dan entertainer yang multitalenta. Meski pertama mengenal Seunggi bukan dari debutnya sebagai penyanyi, tapi semua lagu-lagu Seunggi selalu membuat hangat di hati. Mendengar lagu-lagunya, seakan-akan Seunggi sedang berbicara langsung pada kita. Padahal, sebagai Airen, kami sudah dimanjakan dengan suaranya di berbagai variety show, dari tawanya yang khas sampai celetukan asbunnya yang spontan.

Tapi, lagu I'm Gong To The Army-nya Seung Gi, berbeda dengan semua lagunya. Lagu itu adalah lagu perpisahannya dengan Airen saat akan menjalani wajib militernya. Seunggi wamil dari 1 Februari 2016 sampai 31 Oktober 2017. Airen yang saat itu lagi sayang-sayangnya, harus kehilangan Seunggi selama 18 bulan. Tapi saat itu, kebanggaan kami padanya tak berkurang. Seunggi kami saat wamil sangat membanggakan. Ia ditempatkan di Special Warfare Command (Pasukan Khusus Tentara Korea Selatan). Itu cabangnya Angkatan Darat yang terkenal berat banget latihannya. Jadi bukan cuma sekadar wajib militer biasa, tapi dia bener-bener masuk ke unit elit yang tugasnya lebih berat dari rata-rata. Dan yang bikin makin haru, dia tidak pergi dalam diam, tapi berpamitan dengan cara paling manis, dengan sebuah lagu. Lagu yang bikin Airen, nangis sedih, bangga, dan rindu di saat yang sama.

Jadi, setiap kali aku dengar lagi lagu itu sekarang, rasanya waktu kayak balik ke 2016. Aku masih ingat betul perasaan campur aduk itu, sedih karena harus “kehilangan” Seunggi untuk sementara waktu, tapi juga bangga karena dia menjalani kewajibannya. Lagu ini jadi pengingat bahwa Seunggi bukan hanya idola yang pandai bernyanyi, berakting, atau menghibur di layar kaca bagi Airen, tapi juga seorang pria yang bertanggung jawab, yang nggak pernah setengah-setengah dalam menjalani hidupnya. Ia berangkat dengan kepala tegak, memberi salam perpisahan lewat sebuah lagu, lalu kembali dengan binar yang sama bahkan lebih matang. Mungkin itulah alasan kenapa cinta kami, para Airen, tak pernah pudar. Sampai hari ini.

SANDIWARA BESAR BERNAMA NEGARA


Sebelumnya, saya jaraang menulis atau bercerita tentang politik di blog saya. Bukan, bukan karena saya menganggap politik tak layak untuk diceritakan atau berdiri di sisi lain cerita hidup saya, bukan. Hanya saja, dari awal saya menginginkan blog ini sebagai media atau citra dari diri saya sebagai person, sebagai individu, sebagai seorang ”Mita”. Saya ingin blog ini jadi bagian -baik buat saya secara pribadi maupun orang lain-, untuk melihat sisi persona saya. Blog ini saya buat agar saya tak lupa perjalanan yang sudah saya lalui sebagai seorang manusia.

Namun hari ini, sepertinya akan jadi kali pertama saya bicara tentang carut marut politik negeri yang luar biasa kusut ini. Saya “dipaksa” nurani saya untuk menuliskan sesuatu yang sebenarnya enggan saya singgung sebelumnya. Bukan karena saya apatis, tetapi karena setiap kali menyentuh ranah ini, rasanya seperti merobek luka bernanah yang sudah lama dibiarkan tanpa diobati. Luka yang semakin hari semakin “maruyak” saja. Saya tidak tahu akan memulai menulis dari mana, dari poin apa. Saking kusut dan silang sengkarutnya ingatan dan lalu lalang informasi di kepala saya.

Tadi malam, berita tentang tergilasnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online berusia 21 tahun oleh kendaraan taktis negara hanyalah puncak dari gunung es. Sebuah simbol paling telanjang betapa relasi antara rakyat dan penguasa sudah tak lagi sehat. Aparat yang semestinya menjadi pelindung, yang harusnya menjaga rakyat sampai setiap warga pulang dengan selamat, tapi malah menjadi mesin dingin tanpa nurani. Rakyat yang seharusnya dilindungi, justru dilindas. Penindas melindas yang tertindas.

Kemarahan rakyat yang tumpah ruah saat ini, sejatinya bukan ledakan spontan. Ia adalah akumulasi panjang dari kekecewaan yang menumpuk sejak presiden dilantik. Setiap bulan, rakyat seakan dipaksa menelan pil pahit baru. Dari kenaikan PPN 12%, korupsi timah Rp271 triliun yang pelakunya justru tersenyum bahagia di ruang sidang, hingga fenomena mobil pejabat dengan strobo di jalanan yang makin merajalela.

Belum lagi soal dwifungsi TNI yang kembali dihidupkan, drama MBG yang absurd, anak SD hampir ditabok, nenek meninggal karena berebut gas 3,5 kg, keracunan massal, sampai mitra usaha yang menanggung kerugian miliaran tanpa bayaran. Sementara itu, ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian atas nama “efisiensi.” Ironisnya, di tengah IHSG yang jatuh, Presiden dengan ringan berkata, “Saya tidak main saham,”.

Kegetiran makin menyesakkan hati ketika BUMN kita sendiri tercoreng kasus oplosan bensin. dilanjutkan komentar pejabat yang menyalahkan rakyat, hingga sindiran-sindiran seperti “cari kerja di luar negeri saja” atau “jangan mengandalkan pemerintah.” Kata-kata yang semestinya lahir dari empati, justru berubah menjadi ejekan. Rakyat yang kritis dianggap tolol, suara protes dituding tak perlu karena “lebih baik diskusi saja.”

Sementara itu, kenaikan PBB yang melonjak ratusan persen hingga seribu persen, rekening rakyat dibekukan hanya karena tidak aktif, tanah nganggur diambil paksa, hingga parameter kemiskinan yang dipelintir agar angka di atas kertas tampak menurun, semuanya semakin menegaskan betapa rakyat dibiarkan berjalan sendirian.

Yang lebih menyakitkan, wakil rakyat di Senayan justru sibuk berjoget, mengeluh soal macet, atau menuntut tunjangan rumah Rp50 juta per bulan. Di saat rakyat berteriak di jalan, mereka memilih WFH. Presiden sendiri seakan berada di panggung paralel, sibuk membagi-bagikan tanda kehormatan kepada tokoh-tokoh yang jauh dari kata pantas untuk menerimanya.

Dan di puncak gunung es itu, lahirlah tragedi, Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang tewas dilindas kendaraan polisi, sebuah ironi paling getir ketika aparat yang dibiayai pajak rakyat justru merenggut nyawa rakyat kecil.

Semua fragmen ini menegaskan satu hal, pemerintah kehilangan kepekaan. Mereka bukan hanya gagal membaca gelombang kemarahan, tetapi juga terus memproduksi masalah baru tiap bulannya. Situasi kita makin menyerupai distopia Hunger Games, dimana rakyat terus dipaksa bertahan hidup di arena yang diciptakan oleh kebijakan dan kelalaian penguasa sendiri.

Inilah politik negara kita hari ini, politik yang kehilangan denyut moral dari nadi nurani yang putus. Penuh penguasa serakah yang tak peduli jeritan rakyat. Penuh politikus yang tega membiarkan jalanan dipenuhi gas air mata, tetapi menutup mata pada air mata rakyatnya sendiri.

Kalau kita bicara tentang politik dalam kerangka negara demokrasi, bukankah semestinya harus ada keseimbangan, rakyat sebagai pemegang kedaulatan dan pemerintah sebagai pengemban amanah. Tetapi hari ini, yang kita saksikan justru pembalikan peran. Rakyat dianggap ancaman, dianggap beban, bukan pemilik sah negeri ini. Kritik dipandang musuh, bukan vitamin untuk memperbaiki sistem yang sudah kepalang rusak.

Dan di titik inilah, kita harus berani bertanya, untuk siapa sih sesungguhnya negara ini bekerja? Apakah untuk rakyat yang membayar pajak, yang setiap hari berjuang dengan keringat dan darah? Ataukah untuk segelintir elite yang hanya memelihara kekuasaan seperti memelihara harta warisan?

Demokrasi, yang dulu dielu-elukan sebagai capaian paling monumental pascareformasi 1998, kini tinggal jargon kosong. Kalau dulu kita punya mimpi besar tentang pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan berpihak pada rakyat, sekarang yang tersisa hanyalah ritual prosedural bernama “pemilu”. Demokrasi berhenti pada bilik suara, bukan lagi pada ruang hidup rakyat sehari-hari.

Kita menyaksikan bagaimana kebebasan sipil dikebiri pelan-pelan. Demonstrasi mahasiswa yang mustinya jadi “mesin moral bangsa” kini dibungkam dengan gas air mata dan pentungan. Kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi, dijerat dengan pasal-pasal karet UU ITE. Rakyat yang mengkritik, di-framing sebagai pembuat onar. Sementara elite yang korup, justru dirayakan dengan karpet merah dan tanda kehormatan.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari semakin vulgarnya praktik oligarki. Politik kita kini bukan lagi arena ide dan gagasan, melainkan pasar gelap kepentingan. Kursi legislatif, jabatan birokrasi, hingga posisi strategis di BUMN, semuanya bisa dinegosiasikan. Yang menentukan tentu saja bukan kualitas, bukan integritas, tetapi siapa yang punya modal finansial paling tebal, siapa yang punya ordal. Kekuasaan berubah menjadi bisnis, dan negara hanyalah perseroan terbatas milik segelintir orang.

Lebih parah lagi, hukum yang seharusnya menjadi pagar moral dan konstitusional bangsa, kini kerap dijadikan alat tukar. Manipulasi hukum seakan jadi hal biasa. Pasal bisa dicari untuk menghantam lawan politik, tetapi pasal juga bisa hilang jika menyangkut kawan sendiri. Apa yang kita saksikan belakangan ini adalah betapa hukum tidak lagi berfungsi sebagai pedoman keadilan, melainkan senjata politik bagi siapa saja yang memegang palu kekuasaan.

Ketika demokrasi meredup, oligarki semakin beringas, dan hukum menjadi komoditas, maka yang hilang adalah rasa keadilan publik. Rakyat kehilangan kepercayaan, dan itu tentu saja berbahaya. Karena kepercayaan adalah fondasi negara. Tanpa itu, negara bisa terlihat besar secara formal, tetapi rapuh di dalam. Dan rapuhnya negara tidak hanya soal ekonomi atau politik, melainkan soal kehilangan arah moral.

Fenomena tergilasnya seorang driver ojek oleh rantis negara tadi malam hanyalah simbol-simbol kecil dari kerusakan besar yang sedang kita alami. Simbol bahwa rakyat semakin tak dianggap, bahwa nyawa manusia bisa jadi sekadar “collateral damage” dari politik kekuasaan. Simbol bahwa negara ini sedang sakit keras, dan para penguasa berpura-pura tidak tahu, pura-pura dungu.

Pada akhirnya, politik bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi soal bagaimana kuasa itu digunakan. Aristoteles pernah berkata, politik adalah jalan menuju kebaikan bersama. Namun dalam praktik kita hari ini, politik justru semakin menjauh dari hakikatnya. Ia kehilangan substansi moralnya, kehilangan etika publiknya, dan terjebak pada kepentingan pragmatis yang hanya melayani segelintir elite. Sekelompok Tenryuubito.

Fenomena demokrasi yang meredup, oligarki yang semakin vulgar, serta hukum yang dipermainkan adalah tanda-tanda klasik dari negara yang kehilangan arah nalar publik. Politik berhenti sebagai ruang deliberasi gagasan, dan bergeser menjadi instrumen untuk melanggengkan dominasi. Ketika itu terjadi, rakyat hanya dilihat sebagai angka, bukan sebagai manusia dengan hakikat kemanusiaan yang utuh.

Maka pertanyaan mendasarnya adalah, apakah kita masih bisa menyebut diri sebagai bangsa yang demokratis ketika rakyat tidak lagi merasa aman di hadapan negaranya sendiri? Apakah kita masih bisa bicara tentang supremasi hukum ketika hukum itu sendiri tunduk pada kuasa modal dan politik?

Refleksi ini membawa kita pada sebuah kesimpulan pahit. Negeri ini tengah berjalan di jalan yang keliru. Dan jalan keliru itu tidak bisa diluruskan hanya dengan retorika politik atau seremoni demokrasi lima tahunan. Bangsa ini hanya bisa diselamatkan oleh mereka yang berani secara moral, jernih dalam berpikir, dan tulus berpihak pada rakyat. Namun bukankah itu justru utopia di tengah panggung politik yang dipenuhi aktor dengan topeng kekuasaan?

Jika politik kehilangan moral, hukum kehilangan keadilan, dan penguasa kehilangan rasa malu, maka pada dasarnya yang kita saksikan hanyalah panggung besar sandiwara. Dan rakyat, seperti driver ojek yang tergilas tadi malam, hanyalah korban yang ditinggalkan begitu saja di balik tirai tebal kekuasaan.

Idol I: Potret Perasaan Kami, Para Fangirl

Idol I resmi menayangkan episode terakhirnya malam ini. Meski hanya berada di posisi 8 Top 10 TV Shows di Indonesia, drama ini diam-diam men...