Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena
dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry.
Sekarang? Tidak selalu.
Mungkin karena semakin sering menonton drama, kita jadi
semakin hafal resepnya. Bos galak. Anak baru yang polos. Tatapan di kantor.
Salah paham. Mantan. Putus. Balikan. Lalu happy ending.
Oke, next.
Makanya ketika mulai menonton The Early Spring, aku
awalnya mengira ini akan menjadi salah satu drama kantor yang bisa ditonton
sambil melakukan pekerjaan lain.
Ternyata tidak.
Drama China yang dibintangi Jing Boran sebagai Luan Nian
dan Sun Qian sebagai Shang Zhitao ini memang memakai formula office
romance. Tetapi semakin jauh ceritanya berjalan, semakin terasa bahwa romance
bukan satu-satunya hal yang ingin dibicarakan drama ini.
Ada pekerjaan. Ada ambisi. Ada posisi dan kekuasaan. Ada
rasa tidak percaya diri. Ada dua orang dewasa yang ternyata membawa cukup
banyak masalah pribadi ketika masuk ke dalam sebuah hubungan.
Dan yang paling menarik: drama ini tidak selalu meminta kita
menyukai mereka.
Kadang-kadang justru meminta kita memahami mereka.
Bukan romance yang manis-manis saja
The Early Spring berlatar dunia advertising di
Beijing. Shang Zhitao datang sebagai pekerja baru, sementara Luan Nian sudah
berada jauh di atasnya dalam struktur pekerjaan.
Dari sini saja sebenarnya kita sudah bisa menebak akan ada
masalah.
Luan Nian bukan tipe bos yang akan membuatmu berpikir, “Wah,
aku ingin sekali punya atasan seperti dia.”
Dia tajam, keras, sulit ditebak dan punya cara sendiri dalam
memperlakukan orang.
Dan, mari kita jujur saja, dia juga angkuh.
Bukan angkuh dalam arti sekadar dingin dan pendiam. Luan
Nian punya posisi, kemampuan, uang, pengalaman dan dia tahu persis bahwa
dirinya punya semua itu. Ada semacam keyakinan berlebihan bahwa caranya adalah
cara yang paling benar.
Di sinilah karakter Luan Nian kadang bikin gregetan.
Aku bahkan sempat membaca beberapa komentar netizen
Indonesia di akun-akun drama yang membahas dia. Reaksinya macam-macam, tapi
satu hal cukup konsisten, banyak yang geregetan sama Luke yang bermulut lantam.
Sampai-sampai Luan Nian mendapat nama lokalnya sendiri, Lukman.
Dan entah kenapa, setelah melihat panggilan itu, rasanya
Luan Nian memang cocok dipanggil Lukman. 😂
“Lukman, tolong jangan bikin masalah lagi.”
“Lukman, ngomong baik-baik bisa nggak?”
“Lukman, kamu tuh sebenarnya kenapa?”
Bahkan Flora pernah punya cara yang lebih ekstrem untuk
menyindir Luan Nian. Sambil bicara kepada anjingnya, Lu Ke, ia berkata,
“Lu Ke, kau dengar ucapannya? Kita racuni saja dia,
supaya tidak bisa bicara lagi, ya?”
Jujur, aku paham sekali kenapa adegan seperti ini terasa
lucu. 😂
Tapi justru itu yang menarik.
Karena kalau Luan Nian hanya dibuat sebagai pria sempurna
yang dingin, kaya, pintar dan ganteng, karakter ini akan cepat membosankan.
Sisi angkuhnya membuat dia punya masalah untuk diselesaikan juga.
Dan Jing Boran bekerja sangat baik di wilayah itu.
Luan Nian sebenarnya bisa saja menjadi karakter yang
menyebalkan sepanjang 24 episode. Dan beberapa kali memang menyebalkan.
Namun Jing Boran membuat kita melihat bahwa di balik sikap
dinginnya ada seseorang yang tidak selalu tahu bagaimana cara mengelola
perasaannya sendiri.
Dia bukan pria sempurna.
Bahkan jauh dari itu.
Dan menurutku, itu yang membuat Luan Nian menarik.
Kita tidak sedang menonton seorang green flag yang
kebetulan ganteng.
Kita sedang menonton laki-laki yang punya banyak kualitas
baik, tetapi juga punya ego, ketakutan, kecemburuan dan sisi-sisi yang kadang
bikin ingin bilang, “Mas, sebenarnya kamu maunya apa?”
Dan anehnya, justru itu yang membuatnya terasa lebih
manusiawi.
Lalu ada Shang Zhitao
Di awal cerita, Shang Zhitao mungkin terlihat seperti
perempuan muda yang terlalu polos.
Dia masih mencari tempatnya di dunia kerja, masih belajar
membaca situasi, dan kadang mengambil sesuatu terlalu harfiah.
Tapi menurutku, ada satu hal yang cukup kuat dari Shang Zhitao,
dia insecure.
Bukan insecurity yang dibuat-buat supaya karakter perempuan
terlihat manis.
Dia benar-benar sering mempertanyakan dirinya sendiri.
Apakah dia cukup pintar?
Apakah dia cukup bagus?
Apakah dia pantas berada di lingkungan itu?
Dan ketika orang yang dia sukai ternyata jauh lebih
berpengalaman, lebih mapan dan lebih percaya diri, rasa tidak aman itu semakin
mudah muncul.
Di satu sisi, Luan Nian dengan segala keangkuannya berdiri
seperti orang yang selalu tahu ke mana harus melangkah.
Di sisi lain, Shang Zhitao masih sibuk bertanya kepada
dirinya sendiri apakah langkahnya sudah benar.
Menurutku, kontras inilah yang membuat hubungan mereka
menarik.
Aku sempat berpikir, Oh, ini tipe female lead yang
seperti itu lagi?
Tapi ternyata Shang Zhitao berkembang.
Dan perkembangan itu menurutku lebih menarik daripada
sekadar membuatnya berubah menjadi perempuan yang tiba-tiba kuat, galak, dan
bisa memenangkan semua perdebatan.
Dia tetap Shang Zhitao.
Hanya saja dia mulai mengenal dirinya sendiri.
Mulai tahu apa yang dia mau.
Mulai berani mempertanyakan sesuatu.
Dan yang paling penting, mulai belajar bahwa mencintai
seseorang tidak berarti harus kehilangan batas diri.
Sun Qian mungkin tidak langsung mencuri perhatian sejak
episode pertama. Tetapi semakin panjang ceritanya, semakin masuk akal perubahan
karakternya.
Itu salah satu hal yang aku suka dari drama ini.
Perubahannya tidak terasa seperti tombol yang tiba-tiba
ditekan penulis.
Chemistry Jing Boran dan Sun Qian? Iya. Tapi bukan cuma
karena adegan romantis.
Ini mungkin alasan paling gampang kenapa orang akan tertarik
menonton The Early Spring.
Jing Boran dan Sun Qian punya chemistry.
Tapi menurutku chemistry mereka bukan cuma soal adegan
romantis atau tatapan lama-lama.
Justru banyak momen kecil yang bekerja lebih baik.
Cara mereka berbicara.
Cara mereka saling membaca.
Cara suasana di antara mereka berubah ketika hubungan mereka
mulai berubah.
Ada rasa akrab yang pelan-pelan tumbuh, lalu berubah menjadi
sesuatu yang lebih rumit.
Dan karena hubungan mereka tidak selalu berada dalam kondisi
baik, chemistry itu justru terasa lebih meyakinkan.
Mereka tidak terlihat seperti pasangan yang setiap kali
bertemu langsung menemukan kalimat romantis yang sempurna.
Kadang mereka salah bicara.
Kadang salah memahami.
Kadang terlalu keras kepala.
Kadang tahu apa yang dirasakan tetapi tidak tahu bagaimana
mengatakannya.
Nah, bagian seperti ini yang membuatku lebih percaya pada
hubungan mereka.
Yang membuat drama ini sedikit berbeda, cerita tidak
berhenti ketika mereka jatuh cinta
Ini bagian yang menurutku paling menarik.
Banyak drama romance bekerja keras membawa dua karakter
utama sampai akhirnya mereka bersama.
Setelah itu, selesai.
The Early Spring justru punya sesuatu untuk
dibicarakan setelah fase “mereka saling suka”.
Karena ternyata jatuh cinta itu bagian yang gampang.
Yang susah adalah mempertahankan hubungan ketika pekerjaan,
ego, rasa tidak aman, ekspektasi dan luka lama ikut masuk ke dalamnya.
Drama ini cukup berani memperlihatkan hubungan sebagai
sesuatu yang bisa berubah.
Hari ini seseorang bisa sangat yakin dengan perasaannya.
Besok dia bisa ragu.
Seseorang bisa terlihat sangat kuat di kantor, tetapi
berantakan dalam hubungan.
Dan orang yang kelihatannya paling tenang ternyata bisa
menjadi orang yang paling takut kehilangan.
Itu jauh lebih menarik daripada sekadar tarik-ulur “jadian
atau tidak jadian”.
Aku juga suka bahwa pekerjaan mereka bukan sekadar
dekorasi
Salah satu kelemahan drama kantor biasanya adalah kantornya
cuma dipakai sebagai tempat bertemu.
Sisanya tetap romance.
Di The Early Spring, dunia advertising cukup punya
fungsi dalam cerita.
Ada proyek, klien, persaingan, presentasi dan tekanan untuk
membuktikan kemampuan.
Lingkungan kerja ikut membentuk hubungan kedua karakter.
Dan ini penting karena hubungan antara atasan dan bawahan
memang tidak pernah benar-benar sederhana.
Ada persoalan posisi.
Ada reputasi.
Ada pilihan karier.
Ada konsekuensi ketika hubungan pribadi bercampur dengan
pekerjaan.
Jadi, ketika hubungan mereka mengalami masalah, persoalannya
tidak bisa diselesaikan hanya dengan kalimat, “Aku mencintaimu.”
Sayangnya, tidak semua konflik pekerjaan di drama ini terasa
sama kuat. Ada beberapa bagian yang menurutku bisa dipangkas. Beberapa konflik
terasa seperti sengaja dipanjangkan agar cerita punya cukup bahan sampai
episode berikutnya.
Ini salah satu titik di mana The Early Spring
kehilangan sedikit ritmenya.
Tentang adegan intimnya
Ada satu hal yang cukup menarik dari produksi drama ini.
Aku baca di beberapa media, The Early Spring
menggunakan intimacy coordinator, Tsai Jia-yin, untuk membantu menangani
adegan yang melibatkan kontak fisik intim.
Dan menurutku ini menarik bukan karena dramanya jadi lebih
“berani”.
Justru sebaliknya.
Keberadaan intimacy coordinator memungkinkan adegan fisik
dirancang sebagai bagian dari bahasa cerita. Jarak tubuh, sentuhan, posisi,
bahkan perubahan cara dua karakter menyentuh satu sama lain bisa digunakan
untuk menunjukkan perubahan hubungan mereka.
Jadi adegan intimnya tidak semata-mata terasa seperti bonus
untuk penonton.
Ada fungsi naratif di dalamnya.
Dan ini salah satu detail produksi yang menurutku patut
diapresiasi, terutama karena industri drama China masih relatif jarang
membicarakan peran tersebut secara terbuka.
Tapi apakah The Early Spring sempurna?
Tidak.
Dan untungnya memang tidak perlu.
Ada beberapa bagian yang terasa terlalu panjang. Ada konflik
yang sebenarnya bisa selesai lebih cepat. Ada karakter yang kadang membuat kita
bertanya kenapa mereka tidak bicara baik-baik saja dari awal.
Tapi ya... kalau semua karakter dalam drama selalu mengambil
keputusan paling masuk akal, mungkin kita tidak akan punya 24 episode untuk
ditonton.
Yang lebih penting, drama ini berhasil membuat konflik
mereka terasa punya konsekuensi.
Bukan sekadar drama karena penulis membutuhkan konflik.
Tentang ending-nya
Spoiler ringan.
Aku suka bahwa penyelesaian hubungan Luan Nian dan Shang
Zhitao tidak dibuat seolah-olah semua masalah mereka mendadak hilang.
Mereka kembali bukan karena tiba-tiba menjadi pasangan
sempurna.
Mereka kembali setelah masing-masing mengalami perubahan dan
mulai memahami apa yang sebelumnya tidak mereka pahami.
Dan menurutku itu jauh lebih masuk akal.
The Early Spring akhirnya memberikan ending bahagia,
tetapi bukan dengan pesan bahwa cinta akan menyelesaikan semuanya.
Lebih seperti:
Cinta mungkin membuat dua orang memilih satu sama lain.
Tapi untuk tetap bersama, mereka tetap harus belajar memahami satu sama lain.
Dan mungkin itu sebabnya ending-nya terasa cukup memuaskan
meskipun perjalanan menuju ke sana kadang bikin geregetan.
Jadi, apakah The Early Spring layak ditonton?
Menurutku, iya.
Terutama kalau kamu sedang mencari drama China modern yang
tidak hanya mengandalkan romance manis.
Kalau yang kamu cari adalah fluffy romance, mungkin drama
ini bukan pilihan paling aman.
Tapi kalau kamu suka cerita tentang dua orang dewasa yang
punya pekerjaan, ambisi, ego, insecurity, chemistry dan masalah hubungan yang
sedikit lebih rumit, The Early Spring cukup layak masuk daftar tontonan.
Dan tentu saja...
Jing Boran.
Aku tidak akan pura-pura objektif di bagian ini.
Ada aktor yang cukup ganteng ketika sedang diam.
Ada yang semakin menarik ketika sedang marah.
Dan Jing Boran punya kemampuan menyebalkan itu. Semakin Luan
Nian berusaha terlihat dingin, semakin kita ingin tahu sebenarnya dia sedang
menyembunyikan apa.
Sun Qian juga menjadi pasangan main yang pas untuknya karena
Shang Zhitao tidak dibuat sekadar menjadi perempuan yang tugasnya mengagumi
Luan Nian.
Dia punya perjalanan sendiri.
Dan itu penting.
Pada akhirnya, mungkin The Early Spring bukan drama
tentang menemukan orang yang sempurna.
Justru sebaliknya.
Ini cerita tentang dua orang yang sama-sama tidak sempurna,
kemudian harus memutuskan apakah mereka cukup dewasa untuk mengenali kesalahan
masing-masing, memperbaiki diri, dan mencoba lagi.
Dan menurutku, itu jauh lebih menarik daripada sekadar
kisah bos jatuh cinta pada anak baru.
Rating versiku, 9,8/10.
Bukan drama tanpa cela.
Tapi cukup bagus untuk membuatku bertahan sampai akhir dan,
yang lebih penting, cukup menarik untuk membuat hubungan Luan Nian dan Shang
Zhitao tetap kepikiran setelah episode terakhir selesai.
Dan bukankah itu salah satu tanda drama yang berhasil?
Bukan karena kita selalu menyukainya.
Tapi karena setelah selesai, kita masih punya sesuatu untuk dibicarakan.
Buktinya, aku mengabadikannya di tulisan blog ini.😉







