Kipas angin kecil merk Robot berwarna hijau sage masih menyala disamping kiri laptopku. Di kanan gelas labu daisy hadiah ulang tahun dari putriku tahun lalu, masih menyisakan potongan es batu. Terik musim panas kali ini, cukup membuat gerah.
Tapi di sudut kamar yang panas ini, aku merasakan sepoian
angin yang menyejukkan. Seolah angin sore di sebuah pantai sedang berpindah
arah ke sini. Tentu saja itu bukan dalam arti sebenarnya. Hehe. Kamar ini masih
panas, kipas kecil ini masih menyala, tapi perasaanku malah sejuk berkat drama
musim panas yang baru selesai kutamatkan.
Lucunya, kedua drama itu sama-sama berlatar musim panas.
Mungkin itu sebabnya rasa hangat yang mereka tinggalkan terasa begitu mirip.
Aku baru saja menamatkan sebuah drama china berjudul Never Ending
Summer. Sebelumnya, 14 juni lalu, Dazzling resmi berakhir dengan happy ending
juga.
Oke, karena Dazzling tayang dulu, aku akan cerita soal Dazzling
duluan.
DAZZLING
Drama yang tayang 27 Mei 2026 ini adalah drama romcom yang
dibintangi oleh Li Yun Rui dan Guan Xiao Tong. Aku yang biasanya liat Yun Rui
di drama-drama kolosal, jadi excited melihat dia di drama modern.
Di awal drama Yun rui tampil ala badboy. Mas-mas blonde
yang bertemu dengan “sepupu” sombongnya, seorang gadis cantik yang terpaksa “mengungsi”
ke kota kecil pesisir tersebut karena masalah keluarganya. Qing Ye (Guan
Xiaotong), harus meninggalkan kehidupan glamornya di Beijing, untuk kemudian
beradaptasi dengan lingkungan dan musim panasnya Kota Zhazhating.
Pekan-pekan pertama di Zhazhating, bukanlah hal yang mudah
untuk Qing Ye. Kamar mandi bibinya yang berbagi dengan tetangga, AC yang tidak
ada, bahkan keramahan penduduk Zhazhating, menjadi masalah tersendiri buat Qing
Ye.
Tapi berkat Xin Wu, kakak sepupu yang baik hati, rajin
menabung dan multitalenta itu, Qing Ye, perlahan mendapatkan tempatnya sendiri
di Zhazhating.
Xing wu, putus sekolah tiga tahun lalu. Iya bekerja
membanting tulang untuk menopang ibu dan neneknya serta melunasi hutang
peninggalan ayah tirinya yang penjudi. Semua hal dikerjakan oleh Xin Wu, jadi
kuli ikan di TPI, jadi tukang reparasi dari rumah ke rumah, dan di bengkel
Shunyi.
Kehidupan kerasnya di Zhazhating, tetap membuat seorang Xin
Wu memiliki hati yang lembut. Qing Ye yang hampir putus asa setelah sesaat
kembali ke Beijingpun, akhirnya dibawa kembali oleh Xin Wu ke Zhazhating. Saat
pak guru mantap wali kelasnya yang merangkap tukang becak bertanya siapa
perempuan yang dibawanya pulang, Xin Wu malah mengatakan, ia memungut seorang
sepupu di Beijing. :D
Entah kenapa aku selalu lemah dengan karakter laki-laki dracin
seperti Xin Wu. Bukan karena dia tampan, yaaa, kalau itu sih bonus dan harus, wkwkw. Tapi karena dia bekerja
keras tanpa pernah menjadikan hidupnya sebagai alasan untuk bersikap kasar pada
orang lain.
Kisah yang panjang ini, silahkan kalian tonton langsung di iQIYI.
Tapi yang pasti, Dazzling bukanlah drama yang terburu-buru. Jika kalian
menyukai drama korea Hometown Cha-Cha-Cha, besar kemungkinan kalian akan
menyukai drama ini juga.
Drama ini, perlahan memberi ruang bagi kita untuk mengenal
setiap karakter, memahami alasan mereka mengambil keputusan, lalu perlahan ikut
merasakan perubahan yang terjadi.
Aku menikmati bagaimana hubungan antar tokohnya berkembang
dengan alami. Menikmati tatapan yang tulus, percakapan yang hangat, dan
keberanian untuk bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik. Rasanya seperti
membaca novel yang pelan, tetapi sulit ditutup sebelum halaman terakhir.
NEVER ENDING SUMMER
Kalau Dazzling terasa lembut, maka Never Ending Summer
terasa seperti angin sore di akhir liburan. Drama ini mengingatkanku bahwa ada
masa-masa dalam hidup yang mungkin tidak akan pernah kembali, tetapi
kenangannya selalu menemukan jalan untuk tinggal.
Never Ending Summer mempertemukan kita dengan Zhou
Wan, seorang siswi cerdas yang sekilas terlihat lembut dan tenang. Namun, di
balik penampilannya itu, ia menyimpan tekad yang begitu kuat. Demi
menyelamatkan sang nenek yang membutuhkan biaya operasi, Zhou Wan memilih jalan
yang sama sekali tidak mudah.
Ia menyusun sebuah rencana yang terkesan nekat. Sasarannya
adalah Lu Xixiao, putra dari keluarga kaya yang dikenal berjiwa bebas dan sulit
diatur. Bukan tanpa alasan, Lu Xixiao ternyata memiliki hubungan yang rumit
dengan keluarga Zhou Wan. Dari sinilah kisah mereka dimulai, berawal dari niat
yang penuh perhitungan, lalu perlahan berkembang menjadi cerita yang jauh lebih
hangat dan menyentuh daripada yang kubayangkan.
Sementara itu, Lu Xixiao adalah sosok yang seolah memiliki
segalanya. Lahir dari keluarga berada, tetapi justru merasa terjebak dalam
kehidupan yang tidak pernah benar-benar ia pilih. Di balik sikapnya yang cuek
dan sedikit pemberontak, sebenarnya ia hanya ingin hidup dengan caranya
sendiri.
Menariknya, meski perlahan menyadari bahwa Zhou Wan
mendekatinya dengan sebuah tujuan, Lu Xixiao tidak lantas menjauh. Entah karena
penasaran, keras kepala, atau karena hatinya mulai bergerak lebih dulu, ia
tetap memilih bertahan di dalam "permainan" yang diciptakan Zhou Wan.
Hubungan yang awalnya dipenuhi kepura-puraan itu perlahan
berubah menjadi perasaan yang begitu tulus. Sayangnya, ketika cinta mulai
menemukan tempatnya, sebuah kesalahpahaman besar justru memisahkan mereka.
Sepuluh tahun berlalu.
Takdir kembali mempertemukan Zhou Wan dan Lu Xixiao, kali
ini bukan lagi sebagai dua remaja yang sama-sama terluka, melainkan sebagai dua
orang dewasa yang dipertemukan oleh pekerjaan. Di balik dunia korporat yang
mereka masuki, tersimpan sebuah kasus yang perlahan mereka ungkap bersama. Di
saat yang sama, mereka juga dipaksa menghadapi luka lama yang ternyata belum
benar-benar sembuh.
Entah kenapa, selesai menonton drama ini rasanya aku ingin
berjalan sore, mendengarkan lagu yang tenang, menghirup nafas dalam-dalam, lalu
membiarkan pikiran beristirahat sebentar.
---------------------------------
Drama yang bisa dirasakan.
Itu kalimat yang cocok untuk dua drama china ini.
Ada drama yang selesai kita tonton, lalu selesai begitu
saja. Ada pula drama yang ikut tinggal beberapa hari di kepala kita. Yang
membuat kita tiba-tiba tersenyum saat mencuci piring. Atau teringat sebuah
adegan ketika sedang menunggu lampu merah.
Buatku, Dazzling dan Never Ending Summer termasuk ke dalam
jenis yang kedua.
Mungkin itu alasan mengapa dua drama ini begitu membekas
untukku. Bukan karena alurnya paling rumit atau plot twist-nya paling
mengejutkan. Justru karena mereka mengingatkanku bahwa hidup tidak selalu
tentang sesuatu yang spektakuler. Kadang kebahagiaan hadir dari hubungan yang
sehat, keluarga yang saling mendukung, teman-teman yang tulus, dan seseorang
yang memilih tetap tinggal ketika keadaan tidak selalu mudah.
Dan bukankah itu yang sebenarnya sering kita cari dari
sebuah cerita?
Perasaan tenang. Perasaan bahwa setelah semua perjalanan
panjang, selalu ada rumah untuk pulang.
Malam ini, setelah episode terakhir selesai, aku menatap
layar laptop dengan senyum kecil.
Kipas Robot hijau sage di sampingku masih berputar seperti
tadi. Es di gelas daisy sudah benar-benar mencair. Kamarku masih sama panasnya.
Tapi anehnya, malam ini rasanya tetap sejuk. Mungkin musim panas di Zhazhating
dan Pingchuan justru menghembuskan angin sejuk ke sudut Painan. :D
----------------------------
Kalau kamu sedang mencari drama China modern yang ringan,
hangat, minim konflik yang melelahkan, dan meninggalkan senyum setelah episode
terakhir, menurutku Dazzling dan Never Ending Summer layak masuk
daftar tontonanmu.
Karena nggak semua drama harus membuat kita menangis, kan?
Ada juga drama yang tugasnya hanya satu,
“Membuat hati terasa lebih tenang”.











