The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Menyelesaikan Semuanya

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry.

Sekarang? Tidak selalu.

Mungkin karena semakin sering menonton drama, kita jadi semakin hafal resepnya. Bos galak. Anak baru yang polos. Tatapan di kantor. Salah paham. Mantan. Putus. Balikan. Lalu happy ending.

Oke, next.

Makanya ketika mulai menonton The Early Spring, aku awalnya mengira ini akan menjadi salah satu drama kantor yang bisa ditonton sambil melakukan pekerjaan lain.

Ternyata tidak.

Drama China yang dibintangi Jing Boran sebagai Luan Nian dan Sun Qian sebagai Shang Zhitao ini memang memakai formula office romance. Tetapi semakin jauh ceritanya berjalan, semakin terasa bahwa romance bukan satu-satunya hal yang ingin dibicarakan drama ini.

Ada pekerjaan. Ada ambisi. Ada posisi dan kekuasaan. Ada rasa tidak percaya diri. Ada dua orang dewasa yang ternyata membawa cukup banyak masalah pribadi ketika masuk ke dalam sebuah hubungan.

Dan yang paling menarik: drama ini tidak selalu meminta kita menyukai mereka.

Kadang-kadang justru meminta kita memahami mereka.

Bukan romance yang manis-manis saja

The Early Spring berlatar dunia advertising di Beijing. Shang Zhitao datang sebagai pekerja baru, sementara Luan Nian sudah berada jauh di atasnya dalam struktur pekerjaan.

Dari sini saja sebenarnya kita sudah bisa menebak akan ada masalah.

Luan Nian bukan tipe bos yang akan membuatmu berpikir, “Wah, aku ingin sekali punya atasan seperti dia.”

Dia tajam, keras, sulit ditebak dan punya cara sendiri dalam memperlakukan orang.

Dan, mari kita jujur saja, dia juga angkuh.

Bukan angkuh dalam arti sekadar dingin dan pendiam. Luan Nian punya posisi, kemampuan, uang, pengalaman dan dia tahu persis bahwa dirinya punya semua itu. Ada semacam keyakinan berlebihan bahwa caranya adalah cara yang paling benar.

Di sinilah karakter Luan Nian kadang bikin gregetan.

Aku bahkan sempat membaca beberapa komentar netizen Indonesia di akun-akun drama yang membahas dia. Reaksinya macam-macam, tapi satu hal cukup konsisten, banyak yang geregetan sama Luke yang bermulut lantam. 

Sampai-sampai Luan Nian mendapat nama lokalnya sendiri, Lukman.

Dan entah kenapa, setelah melihat panggilan itu, rasanya Luan Nian memang cocok dipanggil Lukman. 😂

“Lukman, tolong jangan bikin masalah lagi.”

“Lukman, ngomong baik-baik bisa nggak?”

“Lukman, kamu tuh sebenarnya kenapa?”

Bahkan Flora pernah punya cara yang lebih ekstrem untuk menyindir Luan Nian. Sambil bicara kepada anjingnya, Lu Ke, ia berkata,

“Lu Ke, kau dengar ucapannya? Kita racuni saja dia, supaya tidak bisa bicara lagi, ya?”

Jujur, aku paham sekali kenapa adegan seperti ini terasa lucu. 😂

Tapi justru itu yang menarik.

Karena kalau Luan Nian hanya dibuat sebagai pria sempurna yang dingin, kaya, pintar dan ganteng, karakter ini akan cepat membosankan. Sisi angkuhnya membuat dia punya masalah untuk diselesaikan juga.

Dan Jing Boran bekerja sangat baik di wilayah itu.

Luan Nian sebenarnya bisa saja menjadi karakter yang menyebalkan sepanjang 24 episode. Dan beberapa kali memang menyebalkan.

Namun Jing Boran membuat kita melihat bahwa di balik sikap dinginnya ada seseorang yang tidak selalu tahu bagaimana cara mengelola perasaannya sendiri.

Dia bukan pria sempurna.

Bahkan jauh dari itu.

Dan menurutku, itu yang membuat Luan Nian menarik.

Kita tidak sedang menonton seorang green flag yang kebetulan ganteng.

Kita sedang menonton laki-laki yang punya banyak kualitas baik, tetapi juga punya ego, ketakutan, kecemburuan dan sisi-sisi yang kadang bikin ingin bilang, “Mas, sebenarnya kamu maunya apa?”

Dan anehnya, justru itu yang membuatnya terasa lebih manusiawi.

Lalu ada Shang Zhitao

Di awal cerita, Shang Zhitao mungkin terlihat seperti perempuan muda yang terlalu polos.

Dia masih mencari tempatnya di dunia kerja, masih belajar membaca situasi, dan kadang mengambil sesuatu terlalu harfiah.

Tapi menurutku, ada satu hal yang cukup kuat dari Shang Zhitao, dia insecure.

Bukan insecurity yang dibuat-buat supaya karakter perempuan terlihat manis.

Dia benar-benar sering mempertanyakan dirinya sendiri.

Apakah dia cukup pintar?

Apakah dia cukup bagus?

Apakah dia pantas berada di lingkungan itu?

Dan ketika orang yang dia sukai ternyata jauh lebih berpengalaman, lebih mapan dan lebih percaya diri, rasa tidak aman itu semakin mudah muncul.

Di satu sisi, Luan Nian dengan segala keangkuannya berdiri seperti orang yang selalu tahu ke mana harus melangkah.

Di sisi lain, Shang Zhitao masih sibuk bertanya kepada dirinya sendiri apakah langkahnya sudah benar.

Menurutku, kontras inilah yang membuat hubungan mereka menarik.

Aku sempat berpikir, Oh, ini tipe female lead yang seperti itu lagi?

Tapi ternyata Shang Zhitao berkembang.

Dan perkembangan itu menurutku lebih menarik daripada sekadar membuatnya berubah menjadi perempuan yang tiba-tiba kuat, galak, dan bisa memenangkan semua perdebatan.

Dia tetap Shang Zhitao.

Hanya saja dia mulai mengenal dirinya sendiri.

Mulai tahu apa yang dia mau.

Mulai berani mempertanyakan sesuatu.

Dan yang paling penting, mulai belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus kehilangan batas diri.

Sun Qian mungkin tidak langsung mencuri perhatian sejak episode pertama. Tetapi semakin panjang ceritanya, semakin masuk akal perubahan karakternya.

Itu salah satu hal yang aku suka dari drama ini.

Perubahannya tidak terasa seperti tombol yang tiba-tiba ditekan penulis.

Chemistry Jing Boran dan Sun Qian? Iya. Tapi bukan cuma karena adegan romantis.

Ini mungkin alasan paling gampang kenapa orang akan tertarik menonton The Early Spring.

Jing Boran dan Sun Qian punya chemistry.

Tapi menurutku chemistry mereka bukan cuma soal adegan romantis atau tatapan lama-lama.

Justru banyak momen kecil yang bekerja lebih baik.

Cara mereka berbicara.

Cara mereka saling membaca.

Cara suasana di antara mereka berubah ketika hubungan mereka mulai berubah.

Ada rasa akrab yang pelan-pelan tumbuh, lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.

Dan karena hubungan mereka tidak selalu berada dalam kondisi baik, chemistry itu justru terasa lebih meyakinkan.

Mereka tidak terlihat seperti pasangan yang setiap kali bertemu langsung menemukan kalimat romantis yang sempurna.

Kadang mereka salah bicara.

Kadang salah memahami.

Kadang terlalu keras kepala.

Kadang tahu apa yang dirasakan tetapi tidak tahu bagaimana mengatakannya.

Nah, bagian seperti ini yang membuatku lebih percaya pada hubungan mereka.

Yang membuat drama ini sedikit berbeda, cerita tidak berhenti ketika mereka jatuh cinta

Ini bagian yang menurutku paling menarik.

Banyak drama romance bekerja keras membawa dua karakter utama sampai akhirnya mereka bersama.

Setelah itu, selesai.

The Early Spring justru punya sesuatu untuk dibicarakan setelah fase “mereka saling suka”.

Karena ternyata jatuh cinta itu bagian yang gampang.

Yang susah adalah mempertahankan hubungan ketika pekerjaan, ego, rasa tidak aman, ekspektasi dan luka lama ikut masuk ke dalamnya.

Drama ini cukup berani memperlihatkan hubungan sebagai sesuatu yang bisa berubah.

Hari ini seseorang bisa sangat yakin dengan perasaannya.

Besok dia bisa ragu.

Seseorang bisa terlihat sangat kuat di kantor, tetapi berantakan dalam hubungan.

Dan orang yang kelihatannya paling tenang ternyata bisa menjadi orang yang paling takut kehilangan.

Itu jauh lebih menarik daripada sekadar tarik-ulur “jadian atau tidak jadian”.

Aku juga suka bahwa pekerjaan mereka bukan sekadar dekorasi

Salah satu kelemahan drama kantor biasanya adalah kantornya cuma dipakai sebagai tempat bertemu.

Sisanya tetap romance.

Di The Early Spring, dunia advertising cukup punya fungsi dalam cerita.

Ada proyek, klien, persaingan, presentasi dan tekanan untuk membuktikan kemampuan.

Lingkungan kerja ikut membentuk hubungan kedua karakter.

Dan ini penting karena hubungan antara atasan dan bawahan memang tidak pernah benar-benar sederhana.

Ada persoalan posisi.

Ada reputasi.

Ada pilihan karier.

Ada konsekuensi ketika hubungan pribadi bercampur dengan pekerjaan.

Jadi, ketika hubungan mereka mengalami masalah, persoalannya tidak bisa diselesaikan hanya dengan kalimat, “Aku mencintaimu.”

Sayangnya, tidak semua konflik pekerjaan di drama ini terasa sama kuat. Ada beberapa bagian yang menurutku bisa dipangkas. Beberapa konflik terasa seperti sengaja dipanjangkan agar cerita punya cukup bahan sampai episode berikutnya.

Ini salah satu titik di mana The Early Spring kehilangan sedikit ritmenya.

Tentang adegan intimnya

Ada satu hal yang cukup menarik dari produksi drama ini.

Aku baca di beberapa media, The Early Spring menggunakan intimacy coordinator, Tsai Jia-yin, untuk membantu menangani adegan yang melibatkan kontak fisik intim.

Dan menurutku ini menarik bukan karena dramanya jadi lebih “berani”.

Justru sebaliknya.

Keberadaan intimacy coordinator memungkinkan adegan fisik dirancang sebagai bagian dari bahasa cerita. Jarak tubuh, sentuhan, posisi, bahkan perubahan cara dua karakter menyentuh satu sama lain bisa digunakan untuk menunjukkan perubahan hubungan mereka.

Jadi adegan intimnya tidak semata-mata terasa seperti bonus untuk penonton.

Ada fungsi naratif di dalamnya.

Dan ini salah satu detail produksi yang menurutku patut diapresiasi, terutama karena industri drama China masih relatif jarang membicarakan peran tersebut secara terbuka.

Tapi apakah The Early Spring sempurna?

Tidak.

Dan untungnya memang tidak perlu.

Ada beberapa bagian yang terasa terlalu panjang. Ada konflik yang sebenarnya bisa selesai lebih cepat. Ada karakter yang kadang membuat kita bertanya kenapa mereka tidak bicara baik-baik saja dari awal.

Tapi ya... kalau semua karakter dalam drama selalu mengambil keputusan paling masuk akal, mungkin kita tidak akan punya 24 episode untuk ditonton.

Yang lebih penting, drama ini berhasil membuat konflik mereka terasa punya konsekuensi.

Bukan sekadar drama karena penulis membutuhkan konflik.

Tentang ending-nya

Spoiler ringan.

Aku suka bahwa penyelesaian hubungan Luan Nian dan Shang Zhitao tidak dibuat seolah-olah semua masalah mereka mendadak hilang.

Mereka kembali bukan karena tiba-tiba menjadi pasangan sempurna.

Mereka kembali setelah masing-masing mengalami perubahan dan mulai memahami apa yang sebelumnya tidak mereka pahami.

Dan menurutku itu jauh lebih masuk akal.

The Early Spring akhirnya memberikan ending bahagia, tetapi bukan dengan pesan bahwa cinta akan menyelesaikan semuanya.

Lebih seperti:

Cinta mungkin membuat dua orang memilih satu sama lain. Tapi untuk tetap bersama, mereka tetap harus belajar memahami satu sama lain.

Dan mungkin itu sebabnya ending-nya terasa cukup memuaskan meskipun perjalanan menuju ke sana kadang bikin geregetan.

Jadi, apakah The Early Spring layak ditonton?

Menurutku, iya.

Terutama kalau kamu sedang mencari drama China modern yang tidak hanya mengandalkan romance manis.

Kalau yang kamu cari adalah fluffy romance, mungkin drama ini bukan pilihan paling aman.

Tapi kalau kamu suka cerita tentang dua orang dewasa yang punya pekerjaan, ambisi, ego, insecurity, chemistry dan masalah hubungan yang sedikit lebih rumit, The Early Spring cukup layak masuk daftar tontonan.

Dan tentu saja...

Jing Boran.

Aku tidak akan pura-pura objektif di bagian ini.

Ada aktor yang cukup ganteng ketika sedang diam.

Ada yang semakin menarik ketika sedang marah.

Dan Jing Boran punya kemampuan menyebalkan itu. Semakin Luan Nian berusaha terlihat dingin, semakin kita ingin tahu sebenarnya dia sedang menyembunyikan apa.

Sun Qian juga menjadi pasangan main yang pas untuknya karena Shang Zhitao tidak dibuat sekadar menjadi perempuan yang tugasnya mengagumi Luan Nian.

Dia punya perjalanan sendiri.

Dan itu penting.

Pada akhirnya, mungkin The Early Spring bukan drama tentang menemukan orang yang sempurna.

Justru sebaliknya.

Ini cerita tentang dua orang yang sama-sama tidak sempurna, kemudian harus memutuskan apakah mereka cukup dewasa untuk mengenali kesalahan masing-masing, memperbaiki diri, dan mencoba lagi.

Dan menurutku, itu jauh lebih menarik daripada sekadar kisah bos jatuh cinta pada anak baru.

Rating versiku, 9,8/10.

Bukan drama tanpa cela.

Tapi cukup bagus untuk membuatku bertahan sampai akhir dan, yang lebih penting, cukup menarik untuk membuat hubungan Luan Nian dan Shang Zhitao tetap kepikiran setelah episode terakhir selesai.

Dan bukankah itu salah satu tanda drama yang berhasil?

Bukan karena kita selalu menyukainya.

Tapi karena setelah selesai, kita masih punya sesuatu untuk dibicarakan. 

Buktinya, aku mengabadikannya di tulisan blog ini.😉

 

Pangsit Kuah, Kulit Dimsum, dan Pujian yang Tak Habis-Habis

 “Harum banget buuun, udah mateng, bun?”

“Icip ya bun..”

“Hmm... kulitnya aja enak, apalagi isian pangsitnya..”

“Udah bisa dimakan bun?”

“Hmmmm.. enak banget buuuun...”

“Makasih ya buuuun...”

Begitulah Zea. Kalau sudah menemukan makanan yang dia suka, komentarnya bisa panjang sekali. :D

“Rasanya pengen Ea cium pangsit ini, saking dia enak sekaliii.”

Aku yang mendengar cuma bisa tertawa.

“Kayaknya sekarang makanan favorit Ea pangsit kuah deh bun..”

“Pilihan tepat bun, bunda mampir beli kulit pangsit ini kemaren di swalayan.”

“Dipakein bon cabe, enak banget buun..”

“Ayo cobain bun, Ea mau liat First impression bunda saat coba pangsit buatan bunda ini.”

Sekarang giliran aku yang jadi objek pengamatan.

Dan belum selesai aku menikmati suapan pertama, pertanyaan berikutnya sudah muncul.

“Sekarang jam setengah lima, kalau jam lima Ea makan lagi boleh kan buuun?”

Hahaha.

Belum lima menit selesai makan, jadwal makan berikutnya sudah direncanakan.

Lalu Zea kembali berkata,

“Perasaan Ea makan pangsit ini, seperti perasaan Ea pertama kali makan Dubai Chewy cookie. Beuuh...”

Sementara dari depan kompor, Abak ikut bersuara.

“Sudah seminggu ini makan Abak nggak “enak” bun, bahkan pas kemarin makan pecel ayam, Abak bilang, “Ndak lamak salero doh”, Baruuulah ini yang enak Abak makan bun, makasih ya bun. Abak tambah yaaa...”

Daaaaan.... pujian yang tak habis-habisnya dari Zea dan Abak membuat semua lelah saya menguap tak tersisa.

------------------------------- 

Adalah kemarin sore, selepas pulang dari kampus, aku mampir di swalayan membeli roti untuk sarapan esok paginya.

Niatnya cuma mau beli roti.

Nggak taunya kakiku malah berjalan menuju freezer dan taraaa.. ada sekantong besar kulit dimsum di sana.

Bulat, pipih, 50 pcs setiap bungkusnya.

Aku hanya membeli dua bungkus.

Pertimbangannya sederhana, kalau satu, pasti kurang. Kalau tiga, nanti takut rusak atau membusuk di kulkas.

Sampai di rumah, Zea melihat kantong belanja dan menemukan kulit dimsum itu di sana. Matanya berbinar, dan dengan excited dia langsung request besok minta dibikinin pangsit kuah.

Malamnya dia bilang,

“Ea nggak sabar tunggu besok, bun.”

“Kenapa?” kataku.

“Nggak sabar makan pangsit.”

------------------------------- 
Sebenarnya kulit pangsit yang persegi sering tersedia di minimarket dekat rumah kami. Lalu kenapa nunggu kulit dimsum restock dulu, bukan pakai kulit pangsit yang persegi?

Karnaa, saat pakai kulit pangsit yang persegi, buat kami kulitnya terlalu lembek, nggak kenyal dan mudah hancur.

Jadi aku kadang suka kesel sendiri. Sudah capek-capek masak, eh, hasilnya malah nggak sesuai ekspektasi.

Makanya kami lebih suka pakai kulit dimsum yang bundar.

Kulitnya nggak mudah sobek saat terendam di kuah. Lebih kenyal juga.

Dan mungkin karena hal kecil semacam inilah, kami bisa berbulan-bulan menunggu kulit dimsum ini restock.

Sampai akhirnya sore itu aku menemukannya lagi di freezer swalayan.

Dua bungkus langsung masuk keranjang.

Barulah sore ini bisa mengeksekusi makanan favorit Zea dan Abak ini.

Juga favorit aku. :D

--------------------------------- 

Ternyata sesimple itu untuk bahagia.

Dengan mereka makan lahap.

Dengan mereka bilang enak.

Dengan mereka minta tambah.

Dan dengan segala komentar random Zea yang dari tadi nggak berhenti-berhenti.

Begitulah. Kadang-kadang, makanan rumahan yang sederhana justru jadi cerita kecil yang menyenangkan untuk diingat.

Dan sore itu, ceritanya adalah pangsit kuah.

Sepanci pangsit kuah

Ruang yang Diam-Diam Mengajar: Catatan dari Kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD

Siang ini, seperti biasa, saya berdiri di depan kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD, mendengarkan dua mahasiswa saya, Risa dan Nadia, mempresentasikan makalah tentang sumber, media, dan penataan lingkungan bermain anak usia dini. Makalahnya rapi. Tujuh prinsip penataan ruang dijelaskan lengkap. Lima sentra BCCT dipaparkan runtut. Kriteria memilih material main disebutkan satu-satu.

Tapi di tengah presentasi itu, saya menangkap diri saya bertanya-tanya: apakah mahasiswa saya -calon-calon guru PAUD yang akan berdiri di ruang kelas sungguhan beberapa tahun lagi- benar-benar memahami betapa sunyi tapi berkuasanya sebuah ruangan?

Saya rasa ini yang jarang dibicarakan orang di luar lingkaran PAUD. Sebelum seorang guru membuka mulutnya, sebelum RPPH dibacakan, sebelum satu kata pun diucapkan -ruang itu sudah lebih dulu "mengajar" anak kita.

Ruang Sebagai Guru Ketiga

Ada istilah cantik dari pendekatan Reggio Emilia di Italia yang selalu saya suka: the third teacher. Guru pertama adalah orang tua. Guru kedua adalah pendidik di sekolah. Dan guru ketiga -yang paling sering diabaikan- adalah lingkungan itu sendiri.

Coba pikirkan. Rak mainan yang tertata rapi dengan label bergambar, versus rak yang isinya ditumpuk sembarangan -dua-duanya sedang "mengajar" sesuatu ke anak. Yang pertama mengajarkan keteraturan dan kemandirian. Yang kedua, entah kita sadari atau tidak, mengajarkan bahwa kekacauan itu wajar. Anak tidak butuh ceramah untuk mempelajari ini. Ruang yang bicara, jauh sebelum guru buka suara.

Ini yang saya sebut kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang bersembunyi di balik cara kita menata rak, memilih warna dinding, meletakkan meja. Dan menurut saya, ini seharusnya menjadi bahan wajib di setiap program studi PAUD di Indonesia, bukan sekadar catatan kaki.

Kekayaan yang Tercecer di Halaman Rumah

Ada satu teori lain yang menurut saya jauh lebih revolusioner dari yang orang kira, Loose Parts Theory, dicetuskan arsitek Inggris Simon Nicholson tahun 1971. Intinya sederhana -semakin banyak "bahan lepasan" yang bisa dipindah, disusun ulang, dan dikombinasikan bebas oleh anak, semakin tinggi kreativitas yang lahir darinya.

Yang membuat saya tersenyum ketika membahas ini di kelas, bahan-bahan itu tidak harus dibeli dari toko APE (Alat Permainan Edukatif) yang harganya bisa membuat kepala pengelola PAUD pusing tujuh keliling. Di Pesisir Selatan tempat saya tinggal dan mengajar, loose parts itu berserakan gratis di sekitar kita -batok kelapa yang menumpuk di halaman, potongan bambu bekas, kerang dan pasir di sepanjang pantai yang jaraknya mungkin hanya sepelemparan batu dari beberapa PAUD di sini.

Ironisnya, justru karena benda-benda ini terlalu dekat dan terlalu biasa, kita sering tidak melihatnya sebagai alat edukatif. Kita sibuk mencari APE mahal buatan pabrik, sementara kekayaan pesisir kita sendiri menunggu untuk disentuh, dipegang, dan dijadikan bahan belajar. Saya kira ini pekerjaan rumah kita bersama sebagai pendidik daerah untuk melatih mata untuk melihat yang sudah ada, bukan selalu menoleh ke yang harus dibeli.

Regulasi Berubah, Buku Kuliah Kita Tertinggal

Ada satu hal yang membuat saya sedikit gelisah ketika membaca ulang makalah mahasiswa saya: mereka menulis "setiap sentra menampung 8-10 anak per kelompok" -angka yang sebetulnya sudah cukup lama beredar di buku-buku teks PAUD.

Padahal, regulasi kita terus bergerak. Permendikbudristek No. 22 Tahun 2023 tentang Standar Sarana dan Prasarana kini menegaskan enam prinsip wajib penataan sarpras PAUD -dan dua di antaranya jarang disebut di buku-buku lama: penggunaan sumber daya lokal yang tersedia, dan keberpihakan pada kelestarian lingkungan. Belakangan, Permendikdasmen No. 26 Tahun 2025 tentang Standar Pengelolaan, yang diperjelas lewat Kepmendikdasmen No. 14 Tahun 2026, mengatur batas rombongan belajar berdasarkan usia: maksimal 10 anak untuk usia 0-2 tahun, 12 anak untuk usia di atas 2 sampai 4 tahun, dan 15 anak untuk usia di atas 4 sampai 6 tahun.

Ini bukan sekadar detail administratif yang membosankan. ini pengingat bahwa dunia pendidikan anak usia dini di Indonesia sedang bergerak, dan kita sebagai pendidik, apalagi sebagai dosen yang mencetak calon-calon guru, punya tanggung jawab untuk terus meng-update diri. Saya sering bilang ke mahasiswa saya, regulasi itu bukan hafalan mati yang sekali dibaca lalu selesai. Ia hidup dan berubah.

Ruang Kelas Kita Bukan Ruang Kelas Jakarta

Saya juga ingin jujur soal satu hal, banyak literatur penataan ruang bermain PAUD yang kita pelajari di bangku kuliah, ditulis dengan asumsi ruang kelas ideal -luas, bersekat sentra, dengan anggaran pengadaan yang memadai. Realitas di banyak PAUD desa di Pesisir Selatan, jauh dari itu. Satu ruangan kecil, dipakai serba guna, dengan anggaran yang jauh dari kata cukup.

Saya kira inilah yang seharusnya menjadi bahan diskusi paling jujur di kelas-kelas kurikulum PAUD kita: bukan bagaimana menata ruang ideal ala buku teks, tapi bagaimana menata ruang yang ada, dengan segala keterbatasannya, tanpa mengorbankan filosofi di baliknya. Rak lipat, sekat dari kain atau karpet, rotasi material main dengan sistem simpan-tukar -solusi-solusi kecil yang justru lahir dari keterbatasan, bukan dari kelimpahan.

Satu Isu yang Belum Selesai Kita Bicarakan

Ada satu hal yang menarik dalam presentasi mahasiswa saya hari ini - dan sejujurnya, dalam kebanyakan makalah PAUD yang saya baca selama ini -isu material main berbasis layar nyaris tidak pernah disinggung. Padahal ini perdebatan besar yang sedang berlangsung di dunia pendidikan anak usia dini, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia tetap merekomendasikan screen time yang sangat terbatas untuk anak di bawah 6 tahun.

Sebagai dosen sekaligus penulis blog ini, saya pribadi termasuk yang percaya, sehebat apa pun sebuah aplikasi belajar, ia tidak pernah bisa menggantikan tekstur pasir di jari-jari anak, aroma tanah liat basah, atau rasa bangga saat menara balok yang ia susun sendiri akhirnya berdiri tegak. Prinsip dasar PAUD -belajar lewat pengalaman langsung dengan benda nyata seharusnya tetap jadi jangkar kita, di tengah godaan solusi digital yang serba instan.

Yang Ingin Saya Tinggalkan di Sini

Kalau ada satu hal yang ingin saya tinggalkan dari tulisan ini, ini dia: ruang bermain anak bukan sekadar dekorasi atau formalitas administrasi lembaga. Ia adalah kurikulum yang berbicara diam-diam, guru yang tidak pernah absen, dan cermin dari seberapa serius kita menghargai cara anak-anak belajar.

Sebagai pendidik di Pesisir Selatan, saya percaya kita punya keuntungan yang jarang disadari, kekayaan alam dan budaya lokal yang, kalau kita mau sedikit lebih peka melihatnya, adalah alat edukatif paling otentik yang bisa kita tawarkan pada anak-anak kita -jauh sebelum kita menoleh ke katalog APE dari kota.

Semoga tulisan ini jadi renungan kecil, bukan hanya untuk mahasiswa saya, tapi juga untuk siapa pun yang membaca blog ini dan sedang menata ruang belajar -di kelas, di rumah, atau di mana pun anak-anak kita bermain dan bertumbuh.

Tabik.

MUSIM PANAS YANG IKUT KUBAWA PULANG : Dazzling & Never Ending Summer

Kipas angin kecil merk Robot berwarna hijau sage masih menyala disamping kiri laptopku. Di kanan gelas labu daisy hadiah ulang tahun dari putriku tahun lalu, masih menyisakan potongan es batu. Terik musim panas kali ini, cukup membuat gerah.

Tapi di sudut kamar yang panas ini, aku merasakan sepoian angin yang menyejukkan. Seolah angin sore di sebuah pantai sedang berpindah arah ke sini. Tentu saja itu bukan dalam arti sebenarnya. Hehe. Kamar ini masih panas, kipas kecil ini masih menyala, tapi perasaanku malah sejuk berkat drama musim panas yang baru selesai kutamatkan.

Lucunya, kedua drama itu sama-sama berlatar musim panas. Mungkin itu sebabnya rasa hangat yang mereka tinggalkan terasa begitu mirip.

Aku baru saja menamatkan sebuah drama china berjudul Never Ending Summer. Sebelumnya, 14 juni lalu, Dazzling resmi berakhir dengan happy ending juga.

Oke, karena Dazzling tayang dulu, aku akan cerita soal Dazzling duluan.

DAZZLING

Drama yang tayang 27 Mei 2026 ini adalah drama romcom yang dibintangi oleh Li Yun Rui dan Guan Xiao Tong. Aku yang biasanya liat Yun Rui di drama-drama kolosal, jadi excited melihat dia di drama modern.

Di awal drama Yun rui tampil ala badboy. Mas-mas blonde yang bertemu dengan “sepupu” sombongnya, seorang gadis cantik yang terpaksa “mengungsi” ke kota kecil pesisir tersebut karena masalah keluarganya. Qing Ye (Guan Xiaotong), harus meninggalkan kehidupan glamornya di Beijing, untuk kemudian beradaptasi dengan lingkungan dan musim panasnya Kota  Zhazhating.

Pekan-pekan pertama di Zhazhating, bukanlah hal yang mudah untuk Qing Ye. Kamar mandi bibinya yang berbagi dengan tetangga, AC yang tidak ada, bahkan keramahan penduduk Zhazhating, menjadi masalah tersendiri buat Qing Ye.

Tapi berkat Xin Wu, kakak sepupu yang baik hati, rajin menabung dan multitalenta itu, Qing Ye, perlahan mendapatkan tempatnya sendiri di Zhazhating.

Xing wu, putus sekolah tiga tahun lalu. Iya bekerja membanting tulang untuk menopang ibu dan neneknya serta melunasi hutang peninggalan ayah tirinya yang penjudi. Semua hal dikerjakan oleh Xin Wu, jadi kuli ikan di TPI, jadi tukang reparasi dari rumah ke rumah, dan di bengkel Shunyi.

Kehidupan kerasnya di Zhazhating, tetap membuat seorang Xin Wu memiliki hati yang lembut. Qing Ye yang hampir putus asa setelah sesaat kembali ke Beijingpun, akhirnya dibawa kembali oleh Xin Wu ke Zhazhating. Saat pak guru mantan wali kelasnya yang merangkap tukang becak bertanya siapa perempuan yang dibawanya pulang, Xin Wu malah mengatakan, ia memungut seorang sepupu di Beijing. 😂

Entah kenapa aku selalu lemah dengan karakter laki-laki dracin seperti Xin Wu. Bukan karena dia tampan, yaaa, kalau itu sih bonus  dan harus, wkwkw. Tapi karena dia bekerja keras tanpa pernah menjadikan hidupnya sebagai alasan untuk bersikap kasar pada orang lain.

Kisah yang panjang ini, silahkan kalian tonton langsung di iQIYI. Tapi yang pasti, Dazzling bukanlah drama yang terburu-buru. Jika kalian menyukai drama korea Hometown Cha-Cha-Cha, besar kemungkinan kalian akan menyukai drama ini juga.

Drama ini, perlahan memberi ruang bagi kita untuk mengenal setiap karakter, memahami alasan mereka mengambil keputusan, lalu perlahan ikut merasakan perubahan yang terjadi.

Aku menikmati bagaimana hubungan antar tokohnya berkembang dengan alami. Menikmati tatapan yang tulus, percakapan yang hangat, dan keberanian untuk bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik. Rasanya seperti membaca novel yang pelan, tetapi sulit ditutup sebelum halaman terakhir.

NEVER ENDING SUMMER

Kalau Dazzling terasa lembut, maka Never Ending Summer terasa seperti angin sore di akhir liburan. Drama ini mengingatkanku bahwa ada masa-masa dalam hidup yang mungkin tidak akan pernah kembali, tetapi kenangannya selalu menemukan jalan untuk tinggal.

Never Ending Summer mempertemukan kita dengan Zhou Wan, seorang siswi cerdas yang sekilas terlihat lembut dan tenang. Namun, di balik penampilannya itu, ia menyimpan tekad yang begitu kuat. Demi menyelamatkan sang nenek yang membutuhkan biaya operasi, Zhou Wan memilih jalan yang sama sekali tidak mudah.

Ia menyusun sebuah rencana yang terkesan nekat. Sasarannya adalah Lu Xixiao, putra dari keluarga kaya yang dikenal berjiwa bebas dan sulit diatur. Bukan tanpa alasan, Lu Xixiao ternyata memiliki hubungan yang rumit dengan keluarga Zhou Wan. Dari sinilah kisah mereka dimulai, berawal dari niat yang penuh perhitungan, lalu perlahan berkembang menjadi cerita yang jauh lebih hangat dan menyentuh daripada yang kubayangkan.

Sementara itu, Lu Xixiao adalah sosok yang seolah memiliki segalanya. Lahir dari keluarga berada, tetapi justru merasa terjebak dalam kehidupan yang tidak pernah benar-benar ia pilih. Di balik sikapnya yang cuek dan sedikit pemberontak, sebenarnya ia hanya ingin hidup dengan caranya sendiri.

Menariknya, meski perlahan menyadari bahwa Zhou Wan mendekatinya dengan sebuah tujuan, Lu Xixiao tidak lantas menjauh. Entah karena penasaran, keras kepala, atau karena hatinya mulai bergerak lebih dulu, ia tetap memilih bertahan di dalam "permainan" yang diciptakan Zhou Wan.

Hubungan yang awalnya dipenuhi kepura-puraan itu perlahan berubah menjadi perasaan yang begitu tulus. Sayangnya, ketika cinta mulai menemukan tempatnya, sebuah kesalahpahaman besar justru memisahkan mereka.

Sepuluh tahun berlalu.

Takdir kembali mempertemukan Zhou Wan dan Lu Xixiao, kali ini bukan lagi sebagai dua remaja yang sama-sama terluka, melainkan sebagai dua orang dewasa yang dipertemukan oleh pekerjaan. Di balik dunia korporat yang mereka masuki, tersimpan sebuah kasus yang perlahan mereka ungkap bersama. Di saat yang sama, mereka juga dipaksa menghadapi luka lama yang ternyata belum benar-benar sembuh.

Entah kenapa, selesai menonton drama ini rasanya aku ingin berjalan sore, mendengarkan lagu yang tenang, menghirup nafas dalam-dalam, lalu membiarkan pikiran beristirahat sebentar.

---------------------------------

Drama yang bisa dirasakan.

Itu kalimat yang cocok untuk dua drama china ini.

Ada drama yang selesai kita tonton, lalu selesai begitu saja. Ada pula drama yang ikut tinggal beberapa hari di kepala kita. Yang membuat kita tiba-tiba tersenyum saat mencuci piring. Atau teringat sebuah adegan ketika sedang menunggu lampu merah.

Buatku, Dazzling dan Never Ending Summer termasuk ke dalam jenis yang kedua.

Mungkin itu alasan mengapa dua drama ini begitu membekas untukku. Bukan karena alurnya paling rumit atau plot twist-nya paling mengejutkan. Justru karena mereka mengingatkanku bahwa hidup tidak selalu tentang sesuatu yang spektakuler. Kadang kebahagiaan hadir dari hubungan yang sehat, keluarga yang saling mendukung, teman-teman yang tulus, dan seseorang yang memilih tetap tinggal ketika keadaan tidak selalu mudah.

Dan bukankah itu yang sebenarnya sering kita cari dari sebuah cerita?

Perasaan tenang. Perasaan bahwa setelah semua perjalanan panjang, selalu ada rumah untuk pulang.

Malam ini, setelah episode terakhir selesai, aku menatap layar laptop dengan senyum kecil.

Kipas Robot hijau sage di sampingku masih berputar seperti tadi. Es di gelas daisy sudah benar-benar mencair. Kamarku masih sama panasnya. Tapi anehnya, malam ini rasanya tetap sejuk. Mungkin musim panas di Zhazhating dan Pingchuan justru menghembuskan angin sejuk ke sudut Painan. 😍

----------------------------

Kalau kamu sedang mencari drama China modern yang ringan, hangat, minim konflik yang melelahkan, dan meninggalkan senyum setelah episode terakhir, menurutku Dazzling dan Never Ending Summer layak masuk daftar tontonanmu.

Karena nggak semua drama harus membuat kita menangis, kan?

Ada juga drama yang tugasnya hanya satu,

“Membuat hati terasa lebih tenang”.

PARTISIPASI SEMESTA, MUTU MASIH ENTAH DI MANA

Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua: Antara Retorika dan Realitas

Hari Pendidikan Nasional selalu menjadi momen reflektif. Setiap tanggal 2 Mei, kita mengenang Ki Hajar Dewantara, tokoh yang menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan sejati. Namun, peringatan ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang untuk bercermin, apakah pendidikan kita sudah benar-benar memerdekakan, atau masih terjebak dalam masalah klasik yang tak kunjung selesai?

Manteman, kalian semua pasti udah tahu tema Hardiknas tahun ini yang terdengar megah sekali, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tapi, apaan coba semesta-semestaan? Apa seluruh galaksi ikut serta gitu ngurusin pendidikan Indonesia? Retorika ini lebih mirip tagline film fiksi ilmiah ketimbang tema kebijakan pendidikan. Sumpah, hiperbola banget.

Di balik kata-kata bombastis itu, mutu pendidikan kita masih terseok-seok, guru masih gelisah, dan siswa masih berjuang dengan hasil belajar yang jauh dari harapan. Jadi, kalau semesta memang ikut, mungkin bintang-bintang di langit pun sudah bingung, kenapa anggaran triliunan bisa melayang, tapi kualitas belajar masih terbelakang.

Tahun 2026 menghadirkan dinamika pendidikan yang begitu kompleks. Di satu sisi, pemerintah menggelontorkan anggaran pendidikan terbesar sepanjang sejarah, mencapai Rp757,8 triliun. Di sisi lain, publik dikejutkan oleh hasil asesmen nasional yang menunjukkan capaian akademik siswa masih relatif rendah.

Tak hanya itu, Tempo dan berbagai media juga menyoroti isu-isu strategis lainnya ; program Sekolah Rakyat yang penuh tantangan, gelombang pengunduran diri guru, kurikulum nasional dengan pendekatan Deep Learning, hingga dinamika dunia kampus yang masih penuh polemik.

Anggaran Pendidikan: Fantastis, tapi Perlu Dicermati

Pada 21 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto dalam pidato perdana RAPBN 2026 di Gedung DPR menegaskan bahwa anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN, yakni sekitar Rp757,8 triliun, adalah “terbesar sepanjang sejarah kita.” Angka ini naik dari Rp724,3 triliun pada APBN 2025, dan sempat menimbulkan optimisme besar bahwa pendidikan Indonesia akan semakin bermutu.

Namun, ada catatan penting. Hampir setengah dari anggaran pendidikan RAPBN 2026, yakni sekitar Rp335 triliun, awalnya dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden Prabowo menyebut program ini sebagai senjata ampuh untuk mencetak SDM unggul dan berdaya saing global.

Belakangan, pemerintah melakukan koreksi. Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR menjelaskan bahwa porsi MBG dalam anggaran pendidikan bukan Rp335 triliun, melainkan Rp223,6 triliun. Angka ini dihitung berdasarkan jumlah penerima manfaat, yaitu sekitar 71,9 juta siswa dan santri. Sementara target MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia dini dialihkan ke anggaran kesehatan sebesar Rp24,7 triliun, serta Rp19,7 triliun masuk fungsi ekonomi.

Koreksi ini penting dicatat agar publik memahami bahwa tidak seluruh Rp757,8 triliun untuk anggaran pendidikan saja, melainkan Rp223,6 triliunnya dipotong untuk porsi MBG.

Alarm Serius dari Hasil TKA 2025

Akhir 2025 lalu kita dikejutkan oleh hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA yang menunjukkan rata-rata nilai mata pelajaran wajib berada pada level relatif rendah. Perdebatan pun muncul; apakah ini potret kegagalan sistem pendidikan nasional, atau sekadar anomali teknis dalam pelaksanaan asesmen?

Dalam perspektif yang lebih jernih, data tersebut sejatinya bukan sekadar kabar buruk, melainkan potret objektif yang memaksa kita bercermin secara jujur. Pendidikan Indonesia sedang menghadapi tantangan serius, tetapi sekaligus memiliki peluang besar untuk berbenah secara sistemis.

Hasil TKA ini harus dibaca sebagai alarm keras bahwa berbagai kebijakan, program, dan praktik pendidikan belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Data itu juga harus membuka ruang refleksi yang sehat untuk memperbaiki arah pembangunan pendidikan secara lebih berbasis bukti (evidence-based policy).

Dengan demikian, transisi dari “anggaran besar” ke “mutu pendidikan” menjadi jelas: dana yang fantastis harus diikuti dengan kebijakan yang tepat sasaran, agar tidak berhenti pada angka, tetapi benar-benar meningkatkan kualitas belajar siswa.

Indikator Makro Pendidikan: Antara Harapan dan Realitas

Besarnya anggaran pendidikan memang memberi harapan, tetapi indikator makro menunjukkan tantangan yang nyata. Data BPS 2025 mencatat Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 15 tahun ke atas baru 9,41 tahun, setara SMP. Sementara Harapan Lama Sekolah (HLS) masih di angka 13,30 tahun, yang berarti generasi muda Indonesia baru berpotensi menamatkan pendidikan setara diploma satu (D-1).

Kesenjangan ini semakin terasa ketika kita melihat Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi yang masih rendah, hanya 32,89%. Dalam konteks persaingan global yang semakin berbasis pengetahuan dan inovasi, angka ini jelas menjadi tantangan serius bagi agenda Indonesia Emas 2045.

Dari sisi kualitas, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga. Rata-rata skor Indonesia berada di angka 369 poin, lebih rendah dibanding Thailand (394), Malaysia (404), Vietnam (468), dan Singapura yang melesat jauh dengan skor 560.

Fakta ini menegaskan bahwa persoalan pendidikan Indonesia bukan hanya soal akses dan partisipasi, melainkan juga kualitas pembelajaran.

Hasil TKA 2025 semakin memperkuat gambaran ini. Rata-rata nilai bahasa Inggris hanya 24,93, matematika 36,10, dan bahasa Indonesia 55,38. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa meski kebijakan dan program sudah banyak digulirkan, dampaknya terhadap hasil belajar belum signifikan.

Resolusi Pendidikan 2026: Terobosan dan Konsistensi

Berbagai indikator makro menegaskan Indonesia tengah menghadapi tantangan struktural. Resolusi pendidikan 2026 harus dimulai dari konsistensi pemerintah terhadap arah pembangunan yang sudah dirumuskan dalam RPJPN 2025-2045 dan RPJMN 2025-2029. Kebijakan tidak boleh terus berubah mengikuti dinamika jangka pendek, tetapi harus bergerak dalam garis panjang pembangunan nasional.

Selain itu, kebijakan pendidikan harus inklusif, komprehensif, sistematis, partisipatif, dan berkelanjutan. Pendidikan tidak boleh hanya dirancang dari menara gading birokrasi, tetapi harus melibatkan guru, dosen, orangtua, organisasi profesi, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Tahun 2026 juga menuntut adanya terobosan kebijakan nyata. Salah satu agenda krusial ialah pembentukan dan pengesahan RUU Sisdiknas metode kodifikasi. RUU ini diharapkan mampu menyederhanakan regulasi pendidikan yang selama ini terfragmentasi dan tumpang tindih. Jika disahkan, ia berpotensi menjadi kompas regulasi yang menavigasi seluruh kebijakan pendidikan nasional.

Refleksi

Hari Pendidikan Nasional 2026 mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar angka anggaran atau jargon kurikulum. Pendidikan adalah soal manusia: guru yang berjuang di pelosok, siswa yang berusaha memahami pelajaran, mahasiswa yang mencari beasiswa, dan masyarakat yang berharap pada masa depan lebih baik.

Data memang menunjukkan tantangan besar, tetapi justru di sanalah letak peluang perubahan. Pendidikan Indonesia tidak sedang berada di ujung jalan buntu, melainkan di persimpangan penting untuk menentukan arah masa depan.

Dengan keberanian melakukan refleksi dan evaluasi, konsistensi menjalankan rencana pembangunan, serta kesungguhan menghadirkan terobosan kebijakan, pendidikan Indonesia diharapkan dapat melompat dari paradigma lama yang bersifat business as usual menuju paradigma transformatif. Dari sanalah mimpi besar Indonesia Emas 2045 menemukan pijakan yang nyata. Insya Allah. 

Idol Adalah Waktu Saya

Pagi ini sambil mencuci pakaian,  saya memutar playlist lagu Lee Seunggi. Because You’re My Woman, lalu Return, kemudian Words That Are Hard to Say, Meet Someone Like Me, Im Going to The Military, Please dan White lie. Lagu-lagu yang dulu terasa begitu dekat dengan kehidupan saya. Dan tiba-tiba saja saya sadar, belasan tahun telah lewat, tapi suara diplaylist  itu masih sama. Yang berubah hanya hidup saya.

Mungkin bagi sebagian kita, seorang idol hanyalah bagian dari industri hiburan yang kebetulan melintas dalam jeda-jeda hidup kita. Tapi bagi saya, idol adalah waktu saya. Seseorang yang menemani perjalanan hidup, baik saat jatuh maupun saat bertumbuh.

Mendengar kembali lagu-lagu mereka dari belasan tahun lalu membuat saya seperti menapaki kembali hidup yang pernah saya jalani. Seolah mereka adalah bagian dari “masa muda” saya. Kadang lagu-lagu itu membuat mata saya berkaca-kaca, kadang juga membuat saya kembali bersemangat karena menyadari sudah sejauh ini saya berjalan.

Seperti Lee Seung gi misalnya. Bagi saya, Seunggi bukan sekadar penyanyi, aktor, atau entertainer. Ia adalah bagian dari jatah waktu yang saya habiskan.

Bukan sekadar wajah di layar atau suara di playlist. Ia seperti penanda musim dalam hidup saya. Ada masa ketika lagu-lagunya menemani malam-malam panjang, ada masa ketika senyumnya muncul di layar dan entah kenapa membuat hari terasa sedikit lebih ringan. Waktu berjalan, hidup berubah, saya pun tumbuh dengan cara yang mungkin tidak pernah saya bayangkan dulu. Tapi setiap kali saya kembali mendengar suaranya, rasanya seperti membuka kembali sebuah kotak kenangan yang masih utuh tersimpan.

Mungkin begitulah cara seorang idol bekerja dalam hidup seseorang. Ia tidak benar-benar hadir dalam keseharian kita, tapi anehnya ia selalu ada di latar. Menjadi semacam soundtrack yang diam-diam merekam versi diri kita di masa lalu. Dan ketika kita kembali mendengarnya, yang sebenarnya kita temui bukan hanya mereka, tetapi juga diri kita sendiri, yang pernah hidup di waktu itu.

Barangkali itulah yang membuat seorang idol tidak pernah benar-benar sekadar “idol”. Ia adalah arsip emosi. Penjaga kecil dari waktu-waktu yang pernah kita lewati. Lagu yang dulu kita dengarkan sambil menatap langit-langit kamar, drama yang kita tonton diam-diam sampai larut malam, atau senyum di layar yang tiba-tiba membuat hari yang berat terasa sedikit lebih ringan.

Dan anehnya, meskipun tahun-tahun berlalu, semuanya masih terasa dekat. Hanya dengan satu lagu, satu potongan adegan, atau satu suara yang familiar, kita bisa kembali ke masa ketika hidup terasa berbeda. Bukan karena kita ingin kembali ke masa itu, tapi karena kita menyadari bahwa masa itu pernah benar-benar ada.

Mungkin karena itu pula, bagi saya, menyukai Lee Seunggi bukan hanya tentang mengagumi seorang artis. Ini tentang mengingat siapa saya dulu, dan menyadari siapa saya sekarang. Tentang perjalanan waktu yang diam-diam berjalan, sementara di beberapa sudut kenangan, lagu-lagunya tetap terdengar sama.

Dan mungkin, tanpa pernah ia sadari, Seunggi telah menjadi semacam penanda kecil dalam hidup saya, bahwa waktu memang terus berjalan, tapi tidak semua kenangan harus ikut hilang bersamanya.

Pada akhirnya, mungkin itulah arti seorang idol dalam hidup seseorang. Bukan sekadar sosok yang kita kagumi dari jauh, tetapi seseorang yang tanpa sadar ikut berjalan di sepanjang waktu kita. Mengisi jeda-jeda yang mungkin bahkan tidak ia ketahui pernah ada.

Dan ketika suatu hari kita kembali mendengar lagu-lagu lama itu, yang kita temukan bukan hanya suara yang familiar. Kita juga menemukan kembali potongan diri kita yang dulu, yang pernah bermimpi, pernah ragu, pernah jatuh, lalu perlahan belajar berdiri lagi.

Jadi bagi saya, Lee Seunggi bukan hanya penyanyi, aktor, atau entertainer. Ia adalah penanda waktu.

Penanda bahwa saya pernah hidup di masa itu, pernah menjadi versi diri yang berbeda, dan kini masih terus berjalan, dengan kenangan yang tetap setia tinggal di belakang.

Ulang tahun Hijriyah Zea ke 10

Aku akan bohong dan kufur nikmat jika bilang tak ada yang luar biasa di Ramadhan tahun ini.

Menjumpai Ramadhan itu sendiri saja sudah suatu hal yang luar biasa. Sehat dan selamat dalam menunaikan ibadah puasa, bergembira membeli takjil dan berbuka, berpeluh ria dalam setiap gerak pada sholat tarawih, dan malam-malam hening saat mengadu padaNya, hingga jadi yang pertama ke dapur menyiapkan sahur.

Namun di sudut hati, si paling reflektif, aku tak bisa menafikan bahwa ibadah yang aku kerjakan masih biasa-biasa saja, bahkan One Day One Juz saja, banyak yang terlewatkan.

Lalu tibalah malam ini. Semua umat Islam tahu, malam ini malam Nuzul Qur'an. Tapi bagi saya dan suami, malam ini menyimpan istimewa yang lain.

Malam saat kami sekeluarga lahir. Ya, sekeluarga. Malam ini, 10 tahun lalu, Zea lahir. Dan kami semua seperti ikut dilahirkan kembali. Saya lahir sebagai Ibu, suami lahir sebagai Abak, ayah Ibu kami, lahir sebagai uwan, kakek dan nenek, dan adik-adik kami, lahir menjadi mamak, acik, dan daddy untuk pertama kalinya.

Ya, Zea lahir sebagai cucu pertama dari kedua keluarga.

Seperti malam turunnya al-Qur'an sebagai Hudan wal Furqan, Zea yang lahir dimalam yang sama kelak akan mencari dan meniti jalan hidupnya sendiri. Semoga iya taat pada petunjuk, dan tegas dalam membedakan kebaikan dan keburukan.

Sekarang, bayi itu sudah berusia 10 tahun lalu. Baginya, pelukan ibunya masih menjadi hal favorit yang ia minta kapan saja. Padahal sebenarnya, akulah yang butuh pelukan itu.

Zea yang 10 tahun, sore tadi membelikanku vitamin C, dan mengingatkanku meminumnya setelah berbuka. Menurutnya, Vitamin C akan menyembuhkan sariawan yang aku derita dua hari ini.

Zea yang 10 tahun, tak pernah susah dibangunin sahur. Meski ketiduran setelah sholat subuh selama setengah jam, dengan kantuknya, ia akan berjalan ke kamar mandi dan bersiap ke sekolah jam 7 pagi.

Meski tak banyak yang “meningkat” di Ramadhan tahun ini, tapi seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Tak terbilang syukur atas semua ini.

Ramadhan yang datang kembali.

Keluarga yang masih lengkap.

Dan seorang anak yang dulu lahir di malam Nuzulul Qur’an, kini tumbuh pelan-pelan di depan mata kami.

Alhamdulillah. 

Selamat Ulang Tahun Hijriyah, Zea. Kami selalu sayang, selamanya. 💖

The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Menyelesaikan Semuanya

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry. Seka...