BERJUMPA CARMY DI SEBUAH TOKO BAKERY

Kemarin siang, saya melangkah ke sebuah bakery. Di depan tertulis Bakery, Brunch & Coffee. Tokonya tidak besar, tapi terlihat chic dan nyaman. Sebuah tempat dengan nuansa warna kayu dan hijau tua. Pas untuk duduk dan ngobrol santai.

Begitu masuk, aroma roti langsung menguar memenuhi udara di dalam toko. Di etalase kaca, berjejer aneka roti dari soft sourdough yang empuk sampai country bread yang crusty.

Yap, toko ini adalah bakery sourdough. Jenis roti yang dikenal lebih sehat, lebih mudah dicerna, dan ramah untuk tubuh.

Namun, ada yang menarik perhatian disebuah sudut dinding pajangan.

Sebuah toples kaca, berdiri sendiri, dibawah cahaya yang hangat. Bertulis Carmy.

Carmy adalah sourdough mother/starter yang telah hidup selama sembilan tahun. Melihatnya, ingatanku langsung melayang ke Madre karya Dee Lestari. Tentang adonan yang bukan sekadar adonan. Tentang sesuatu yang hidup, dirawat, dan dijaga dengan sepenuh hati.

Di bakery ini, Carmy diperlakukan seperti makhluk bernyawa. Ia diberi makan tiga kali sehari, setiap hari, tanpa jeda dan tanpa boleh terlambat. Dari Carmy inilah roti-roti di toko Bakery ini berasal. Proses fermentasi alaminya membuat roti lebih gentle di perut, lebih mudah dicerna, dan memiliki karakter rasa serta tekstur yang khas, keunikan yang tidak bisa ditiru secara instan.

Menu di sini beragam. Ada Cranberry Cheese Sourdough dan Chocolate Cheese Sourdough dengan perpaduan rasa segar dan manis yang seimbang. Ada Egg tart dengan berbagai varian dari original hingga matcha dan Coffee. Salt bread lengkap, dari butter salt bread yang klasik, Milky Creme salt bread yang lembut, banoffee salt bread yang legit, hingga garlic butter salt bread yang legend, favorit Zea.

Suasana tokonya membuat siapa pun ingin berlama-lama di sini. Pengunjung duduk dengan ritme masing-masing. Ada yang datang sendiri, ada yang berbagi meja. Semua seperti sepakat untuk melambat sejenak.

Bakery kecil ini bukan hanya soal roti. Ia bercerita tentang proses, tentang kesabaran, dan tentang waktu yang dibiarkan bekerja. Tentang starter yang dirawat bertahun-tahun, tentang roti yang difermentasi lama, tentang rasa yang tidak instan.

Sedikit banyaknya, toko ini seperti bakery impian saya. Saya selalu punya impian untuk punya rumah dengan halaman belakang yang luas. Ada ruangan di bagian belakang yang bisa difungsikan sebagai toko bakery kecil yang bisa diakses dari samping rumah. Pengunjung bisa duduk santai menikmati teh dan roti sore-sore selepas bekerja sepanjang hari. Meja dan kursi ala Tea Time di sebuah ruangan yang terbuka. Dan roti sourdough seperti inilah yang tersedia di sana. Aih, namanya juga impian ya...semoga semesta mewujudkannya.

Di tengah lalu lalang sebuah persimpangan yang ramai, bakery kecil ini terasa seperti jeda yang disengaja. Dan sayapun pulang dengan mengenang sebuah buku dan mengingat sebuah impian. Lalu Carmy, yang berdiam di balik kaca, seakan menyimpan rahasia tua, bahwa hidup yang dirawat dengan kesetiaan tak pernah kehabisan cara untuk memberi.



No comments:

Post a Comment

Idol Adalah Waktu Saya

Pagi ini sambil mencuci pakaian,   saya memutar playlist lagu Lee Seunggi. Because You’re My Woman , lalu Return , kemudian Words That Are H...