Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

BERJUMPA CARMY DI SEBUAH TOKO BAKERY

Kemarin siang, saya melangkah ke sebuah bakery. Di depan tertulis Bakery, Brunch & Coffee. Tokonya tidak besar, tapi terlihat chic dan nyaman. Sebuah tempat dengan nuansa warna kayu dan hijau tua. Pas untuk duduk dan ngobrol santai.

Begitu masuk, aroma roti langsung menguar memenuhi udara di dalam toko. Di etalase kaca, berjejer aneka roti dari soft sourdough yang empuk sampai country bread yang crusty.

Yap, toko ini adalah bakery sourdough. Jenis roti yang dikenal lebih sehat, lebih mudah dicerna, dan ramah untuk tubuh.

Namun, ada yang menarik perhatian disebuah sudut dinding pajangan.

Sebuah toples kaca, berdiri sendiri, dibawah cahaya yang hangat. Bertulis Carmy.

Carmy adalah sourdough mother/starter yang telah hidup selama sembilan tahun. Melihatnya, ingatanku langsung melayang ke Madre karya Dee Lestari. Tentang adonan yang bukan sekadar adonan. Tentang sesuatu yang hidup, dirawat, dan dijaga dengan sepenuh hati.

Di bakery ini, Carmy diperlakukan seperti makhluk bernyawa. Ia diberi makan tiga kali sehari, setiap hari, tanpa jeda dan tanpa boleh terlambat. Dari Carmy inilah roti-roti di toko Bakery ini berasal. Proses fermentasi alaminya membuat roti lebih gentle di perut, lebih mudah dicerna, dan memiliki karakter rasa serta tekstur yang khas, keunikan yang tidak bisa ditiru secara instan.

Menu di sini beragam. Ada Cranberry Cheese Sourdough dan Chocolate Cheese Sourdough dengan perpaduan rasa segar dan manis yang seimbang. Ada Egg tart dengan berbagai varian dari original hingga matcha dan Coffee. Salt bread lengkap, dari butter salt bread yang klasik, Milky Creme salt bread yang lembut, banoffee salt bread yang legit, hingga garlic butter salt bread yang legend, favorit Zea.

Suasana tokonya membuat siapa pun ingin berlama-lama di sini. Pengunjung duduk dengan ritme masing-masing. Ada yang datang sendiri, ada yang berbagi meja. Semua seperti sepakat untuk melambat sejenak.

Bakery kecil ini bukan hanya soal roti. Ia bercerita tentang proses, tentang kesabaran, dan tentang waktu yang dibiarkan bekerja. Tentang starter yang dirawat bertahun-tahun, tentang roti yang difermentasi lama, tentang rasa yang tidak instan.

Sedikit banyaknya, toko ini seperti bakery impian saya. Saya selalu punya impian untuk punya rumah dengan halaman belakang yang luas. Ada ruangan di bagian belakang yang bisa difungsikan sebagai toko bakery kecil yang bisa diakses dari samping rumah. Pengunjung bisa duduk santai menikmati teh dan roti sore-sore selepas bekerja sepanjang hari. Meja dan kursi ala Tea Time di sebuah ruangan yang terbuka. Dan roti sourdough seperti inilah yang tersedia di sana. Aih, namanya juga impian ya...semoga semesta mewujudkannya.

Di tengah lalu lalang sebuah persimpangan yang ramai, bakery kecil ini terasa seperti jeda yang disengaja. Dan sayapun pulang dengan mengenang sebuah buku dan mengingat sebuah impian. Lalu Carmy, yang berdiam di balik kaca, seakan menyimpan rahasia tua, bahwa hidup yang dirawat dengan kesetiaan tak pernah kehabisan cara untuk memberi.



Aku dan Tahun yang Baru Saja Datang

Pagi ini aku membuka laptop dan mendapati kalender di pojok kanan bawah sudah berganti tahun. 1/1/2026 muncul begitu saja, seperti angka keramat di pagi yang masih sunyi. Perasaanku campur aduk melihat angka tahun yang sudah berubah. 

Karena merayakan ulang tahun disetiap akhir Desember, maka setiap pergantian tahun bagiku bukan sekadar perubahan angka. Ia adalah pertambahan usia.

Mungkin itulah sebabnya, tahun baru sering datang bersama beban kecil di kepala, ruang perenungan yang tiba-tiba terbuka tentang hidup, tentang waktu, dan tentang sejauh apa aku sudah berjalan.

Angka yang diam itu, berbunyi nyaring di kepalaku. Seolah mengingatkanku pada hal-hal yang sudah lewat, waktu yang tak bisa diulang, keputusan yang pernah ragu, dan doa-doa yang sebagian sudah terjawab, sebagian lagi masih menggantung di langit.

Aku menarik napas sejenak, lalu tersenyum kecil. Mungkin bukan karena aku siap menyambut tahun yang baru, tapi karena aku akhirnya sadar, hidup tidak selalu menuntut jawaban cepat. Ada fase-fase di mana kita hanya perlu jujur pada perasaan sendiri, mengakui lelah, dan memberi diri sendiri izin untuk berjalan lebih pelan.

Aku menyambut tahun ini tanpa resolusi besar. Tidak ada daftar target yang ambisius. Tidak ada janji hidup sempurna. Yang ada hanya satu niat sederhana, menjalani hidup itu sendiri dengan sehidup-hidupnya.

Beberapa tahun terakhir mengajarkanku satu hal penting, bertahan saja sudah termasuk sebuah pencapaian. Kita sering lupa merayakan itu. Kita terlalu sibuk merasa kurang, merasa tertinggal, merasa belum jadi apa-apa. Padahal setiap orang punya jalan ninjanya masing-masing.

Aku belajar bahwa hidup tidak selalu butuh percepatan. Kadang justru butuh jeda. Berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan langkah dengan kesadaran. Tidak harus selalu cepat. Tidak harus selalu terlihat “berhasil”. 

Aku juga belajar berdamai dengan versi diriku yang tidak selalu produktif. Ada hari-hari di mana aku hanya ingin diam, membaca, atau sekadar menyesap kopi tanpa merasa bersalah. Dulu, hari-hari seperti itu terasa sia-sia. Sekarang, justru terasa menyembuhkan.

Di tahun baru ini, aku ingin memberi ruang lebih luas untuk hal-hal kecil. Waktu bersama keluarga tanpa distraksi. Pekerjaan yang dikerjakan dengan tenang. Menulis tanpa target viral. Membaca tanpa harus selesai cepat. Hidup tanpa harus selalu tampak hebat.

Niat yang tidak terlalu keras bukan berarti menyerah. Justru sebaliknya. Ini tentang memilih bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi. Tentang memahami batas diri, tanpa berhenti melangkah.

Aku percaya, keberlimpahan tidak selalu datang dalam bentuk angka atau pencapaian besar. Kadang ia hadir sebagai pikiran yang lebih tenang, tubuh yang lebih didengarkan, dan hati yang tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Tahun ini, aku ingin belajar mengatakan “cukup” tanpa rasa bersalah. Cukup bekerja hari ini. Cukup berusaha sejauh tenaga yang ada. Cukup menjadi diri sendiri, tanpa harus memenuhi standar siapa pun.

Kalau ada doa yang kupanjatkan untuk tahun ini, mungkin sesederhana ini, “semoga aku tetap diberi kesadaran untuk hidup pelan-pelan, tapi tidak kehilangan arah. Semoga aku tetap berani bermimpi, tapi tidak lupa menikmati prosesnya. Semoga aku tetap ingin berkembang, tapi tidak lupa berterima kasih pada diri sendiri yang sudah sejauh ini bertahan”.

Untuk siapa pun yang membaca ini, kalau kamu juga masuk tahun baru dengan perasaan campur aduk, itu tidak apa-apa. Kamu tidak sendirian. Kita tidak harus memulai tahun ini dengan lompatan besar. Melangkah kecil pun sah.

Bismillah untuk tahun yang baru. Dengan niat yang sederhana, hati yang lebih lapang, dan kepala yang tidak terlalu berisik. Semoga kita semua sampai, dengan cara masing-masing.

KETIKA KEINDAHAN TAK LAGI MENGGETARKAN: TENTANG AESTHETIC FATIGUE DAN HILANGNYA RASA TAKJUB

pinterest.com

Ada masa di mana aku bisa betah menatap layar berjam-jam, menanti setiap episode baru dengan degup yang sama seperti orang jatuh cinta. Ada masa di mana setiap drama terasa istimewa. Dunia baru, karakter baru, dan kisah yang bikin aku rela begadang demi satu episode lagi. Jika dramanya tayang setiap hari jum’at dan sabtu, aku berharap waktu seminggu itu dilipat saja, agar besoknya jum’at dan sabtu lagi. Tapi entah sejak kapan, sensasi itu berkurang. Aku masih menonton, tapi jarang merasa terpukau. Kadang baru tiga episode, udah kutinggalkan begitu saja.

Padahal dulu, waktu awal ngedrakor atau ngedracin, tiap tayangan terasa seperti jendela menuju dunia lain. Kini, justru muncul rasa jenuh yang aneh. Nyalain drama baru yang katanya “bagus banget”, nonton 20 menit pertama, lalu entah kenapa… aku menutupnya begitu saja. Bukan karena ceritanya jelek. Bukan juga karena pemainnya nggak menarik. Dan bukan karena aku semakin tua, hehehe… Rasanya cuma… B aja. Seolah semua sudah pernah kulihat.

Ternyata, fenomena ini punya nama: aesthetic fatigue, aku kelelahan secara estetika.

Apa Sebenarnya Aesthetic Fatigue Itu?

Istilah ini dikenal dalam dunia seni dan budaya populer. Secara sederhana, aesthetic fatigue adalah kondisi di mana seseorang merasa lelah terhadap keindahan. Kita bukan berhenti suka, tapi kehilangan kemampuan untuk merasakan indahnya sesuatu seperti dulu.
Fenomena ini sering terjadi pada orang-orang yang terbiasa mengonsumsi banyak karya visual, dari film, drama, hingga media sosial. Ibaratnya, kita sudah “kenyang” secara estetika.

Kritikus budaya Simon Reynolds pernah menyebut bahwa dunia modern dipenuhi nostalgia visual yang berulang. Kita terus memproduksi bentuk “baru” yang sejatinya cuma remix dari masa lalu. Akibatnya, otak kita lelah memproses keindahan tanpa makna. Kita bukan lagi menikmati, tapi menelan, cepat, banyak, tanpa sempat merasa.

Kita bisa menebak twist, menebak siapa yang jatuh cinta, bahkan tahu kapan musik latar akan mengiringi adegan sedih. Pada titik itu, drama yang mungkin sebenarnya bagus pun terasa datar. Kita tidak terkejut, tidak terpukau, hanya melihat.

Aku mulai menyadari ini saat menonton beberapa serial terakhir. Aku masih bisa menikmati Love in the Cloud, drama xianxia yang ceritanya ngalir lembut dan menyentuh, dengan kostum mewah dan dunia fantasi yang megah. Atau Tempest, drakor dengan emosi yang dalam dan realistis. Tapi selain itu, banyak drama lain yang kutonton sekilas lalu kutinggalkan begitu saja. Bukan karena dramanya buruk. Hanya saja mungkin karena mataku sudah terbiasa dengan keindahan yang nyaris sempurna, visual sinematik, aktor karismatik. Semuanya baik, tapi entah kenapa… terasa datar. Seperti menikmati kue favorit yang terlalu sering disajikan, tetap manis, tapi kehilangan kejutan.

Kenapa Kita Bisa Burnout Secara Estetika?

Kritikus budaya Simon Reynolds pernah menulis, “Kelelahan estetika bukan karena dunia kehabisan ide, tapi karena kita kehabisan ruang untuk merasakan sesuatu secara penuh.”

Kalau dipikir, sama seperti tubuh yang bisa burnout karena kerja berlebihan, indra estetika kita juga bisa kelelahan karena paparan berlebih. Di era streaming dan algoritma, kita nyaris tidak berhenti “mengonsumsi.” Selesai satu drama, langsung disuguhi rekomendasi lainnya.

Kita jadi jarang benar-benar berhenti dan mencerna cerita. Padahal, keindahan butuh ruang untuk mengendap. Tanpa jeda, keindahan berubah jadi kebisingan visual.

Budaya populer sekarang membentuk ritme konsumsi yang cepat dan instan. Orang ingin segera tahu, segera paham, segera move on ke tayangan berikutnya. Padahal, rasa takjub tidak lahir dari kecepatan, ia tumbuh dari keterlibatan.

Neil Postman, dalam bukunya Amusing Ourselves to Death, bahkan sudah memprediksi hal ini sejak 1985. Ketika hiburan menjadi pusat kehidupan modern, manusia kehilangan kemampuan untuk diam dan meresapi. Semua harus cepat, padat, dan instan.
Hasilnya? Otak kita lelah, tapi hati kita kosong.

Dan yang paling ironis, kita sering menyalahkan diri sendiri. “Mungkin aku lagi bad mood,” atau “mungkin aku udah susah terharu.” Padahal, bisa jadi kita hanya sedang mengalami kejenuhan estetika.

Aku pernah mikir, kenapa dulu aku bisa terobsesi dengan satu drama sampai rela begadang, tapi sekarang lebih sering skip-skip aja? Ternyata jawabannya sederhana tapi dalam: semakin banyak yang kita konsumsi, semakin kecil ruang untuk merasa.

Bukan Dramanya yang Salah

Lucunya, rasa letih ini justru muncul di tengah era yang disebut “golden age of content.”
Kualitas produksi meningkat, teknologi visual makin canggih, aktor makin berkarakter. Tapi ironinya, semua terasa mirip. Warna sinematografi, gaya bicara, bahkan tempo musiknya sering kali seperti kloning dari satu template sukses.

Algoritma platform streaming pun memperkuat itu. Kalau kamu suka satu genre, kamu akan terus disuguhi yang mirip. Masalahnya, keindahan tidak lahir dari kemiripan, tapi dari kejutan dan perbedaan.

Makanya, aesthetic fatigue sering menyerang orang-orang yang paling banyak menonton, paling terbuka terhadap estetika. Karena otak mereka sudah menyerap terlalu banyak “indah yang serupa.”

Bagaimana Menemukan Lagi Rasa Takjub Itu?

Aku belum menemukan jawabannya sepenuhnya, tapi aku punya beberapa dugaan kecil yang sedang kucoba pelan-pelan. Mungkin, kuncinya bukan pada mencari tontonan yang lebih spektakuler, tapi menonton dengan cara yang berbeda.

Aku ingin mencoba menonton dengan ritme yang lebih pelan, membiarkan satu cerita benar-benar tinggal lebih lama dalam kepala.

Mungkin juga mulai menjelajahi genre yang jarang kusentuh: dokumenter, slice of life, atau film indie yang nggak banyak dibicarakan di media sosial.

Secara kritis, langkah ini bukan sekadar soal pilihan tontonan, tapi tentang cara pandang terhadap estetika itu sendiri. Kalau selama ini keindahan kita ukur dari visual dan produksi, mungkin sekarang saatnya menilai dari rasa. Dari kejujuran emosi, kedalaman makna, dan kemampuan cerita menyentuh hal-hal yang manusiawi.

Dan mungkin, di luar layar, kita juga bisa menemukan lagi rasa takjub itu dari membaca buku, dan berjalan sore sambil memperhatikan langit.

Akhirnya, Kita Hanya Butuh Jeda

Aesthetic fatigue bukan tanda bahwa kita kehilangan minat, tapi bahwa kita pernah terlalu lama berada di tengah keindahan tanpa sempat bernapas. Otak kita lelah, mata kita jenuh, hati kita butuh ruang, butuh jeda.

Mungkin nanti, ketika kita benar-benar berhenti sejenak, akan ada drama sederhana yang tiba-tiba membuat kita menangis tanpa tahu kenapa. Bukan karena visualnya megah atau dialognya puitis, tapi karena ia terasa hidup.

Atau mungkin, kalau suatu malam kita menemukan diri kita tersenyum lagi di depan layar, entah karena adegan sederhana atau dialog kecil yang hangat, itu mungkin tandanya kita baru saja menemukan kembali rasa takjub kita yang hilang.

Tabik.

Lagu yang Membuatku Selalu Pulang ke 2016

Pernahkah kalian tiba-tiba merasa mellow saat sebuah lagu diputar? Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, tapi setiap mendengar lagu itu, jantung rasanya nyess sekali dan mata tiba-tiba berkaca-kaca. Aku pernah. Dan lagu itu adalah I'm Gong To The Army-nya Lee Seung Gi yang dirilis pada 21 Januari 2016. Cinta pertama aku di dunia perkoreaan. Si Triple Threat kesayangan Airen. Penyanyi, aktor, dan entertainer yang multitalenta. Meski pertama mengenal Seunggi bukan dari debutnya sebagai penyanyi, tapi semua lagu-lagu Seunggi selalu membuat hangat di hati. Mendengar lagu-lagunya, seakan-akan Seunggi sedang berbicara langsung pada kita. Padahal, sebagai Airen, kami sudah dimanjakan dengan suaranya di berbagai variety show, dari tawanya yang khas sampai celetukan asbunnya yang spontan.

Tapi, lagu I'm Gong To The Army-nya Seung Gi, berbeda dengan semua lagunya. Lagu itu adalah lagu perpisahannya dengan Airen saat akan menjalani wajib militernya. Seunggi wamil dari 1 Februari 2016 sampai 31 Oktober 2017. Airen yang saat itu lagi sayang-sayangnya, harus kehilangan Seunggi selama 18 bulan. Tapi saat itu, kebanggaan kami padanya tak berkurang. Seunggi kami saat wamil sangat membanggakan. Ia ditempatkan di Special Warfare Command (Pasukan Khusus Tentara Korea Selatan). Itu cabangnya Angkatan Darat yang terkenal berat banget latihannya. Jadi bukan cuma sekadar wajib militer biasa, tapi dia bener-bener masuk ke unit elit yang tugasnya lebih berat dari rata-rata. Dan yang bikin makin haru, dia tidak pergi dalam diam, tapi berpamitan dengan cara paling manis, dengan sebuah lagu. Lagu yang bikin Airen, nangis sedih, bangga, dan rindu di saat yang sama.

Jadi, setiap kali aku dengar lagi lagu itu sekarang, rasanya waktu kayak balik ke 2016. Aku masih ingat betul perasaan campur aduk itu, sedih karena harus “kehilangan” Seunggi untuk sementara waktu, tapi juga bangga karena dia menjalani kewajibannya. Lagu ini jadi pengingat bahwa Seunggi bukan hanya idola yang pandai bernyanyi, berakting, atau menghibur di layar kaca bagi Airen, tapi juga seorang pria yang bertanggung jawab, yang nggak pernah setengah-setengah dalam menjalani hidupnya. Ia berangkat dengan kepala tegak, memberi salam perpisahan lewat sebuah lagu, lalu kembali dengan binar yang sama bahkan lebih matang. Mungkin itulah alasan kenapa cinta kami, para Airen, tak pernah pudar. Sampai hari ini.

SANDIWARA BESAR BERNAMA NEGARA


Sebelumnya, saya jaraang menulis atau bercerita tentang politik di blog saya. Bukan, bukan karena saya menganggap politik tak layak untuk diceritakan atau berdiri di sisi lain cerita hidup saya, bukan. Hanya saja, dari awal saya menginginkan blog ini sebagai media atau citra dari diri saya sebagai person, sebagai individu, sebagai seorang ”Mita”. Saya ingin blog ini jadi bagian -baik buat saya secara pribadi maupun orang lain-, untuk melihat sisi persona saya. Blog ini saya buat agar saya tak lupa perjalanan yang sudah saya lalui sebagai seorang manusia.

Namun hari ini, sepertinya akan jadi kali pertama saya bicara tentang carut marut politik negeri yang luar biasa kusut ini. Saya “dipaksa” nurani saya untuk menuliskan sesuatu yang sebenarnya enggan saya singgung sebelumnya. Bukan karena saya apatis, tetapi karena setiap kali menyentuh ranah ini, rasanya seperti merobek luka bernanah yang sudah lama dibiarkan tanpa diobati. Luka yang semakin hari semakin “maruyak” saja. Saya tidak tahu akan memulai menulis dari mana, dari poin apa. Saking kusut dan silang sengkarutnya ingatan dan lalu lalang informasi di kepala saya.

Tadi malam, berita tentang tergilasnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online berusia 21 tahun oleh kendaraan taktis negara hanyalah puncak dari gunung es. Sebuah simbol paling telanjang betapa relasi antara rakyat dan penguasa sudah tak lagi sehat. Aparat yang semestinya menjadi pelindung, yang harusnya menjaga rakyat sampai setiap warga pulang dengan selamat, tapi malah menjadi mesin dingin tanpa nurani. Rakyat yang seharusnya dilindungi, justru dilindas. Penindas melindas yang tertindas.

Kemarahan rakyat yang tumpah ruah saat ini, sejatinya bukan ledakan spontan. Ia adalah akumulasi panjang dari kekecewaan yang menumpuk sejak presiden dilantik. Setiap bulan, rakyat seakan dipaksa menelan pil pahit baru. Dari kenaikan PPN 12%, korupsi timah Rp271 triliun yang pelakunya justru tersenyum bahagia di ruang sidang, hingga fenomena mobil pejabat dengan strobo di jalanan yang makin merajalela.

Belum lagi soal dwifungsi TNI yang kembali dihidupkan, drama MBG yang absurd, anak SD hampir ditabok, nenek meninggal karena berebut gas 3,5 kg, keracunan massal, sampai mitra usaha yang menanggung kerugian miliaran tanpa bayaran. Sementara itu, ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian atas nama “efisiensi.” Ironisnya, di tengah IHSG yang jatuh, Presiden dengan ringan berkata, “Saya tidak main saham,”.

Kegetiran makin menyesakkan hati ketika BUMN kita sendiri tercoreng kasus oplosan bensin. dilanjutkan komentar pejabat yang menyalahkan rakyat, hingga sindiran-sindiran seperti “cari kerja di luar negeri saja” atau “jangan mengandalkan pemerintah.” Kata-kata yang semestinya lahir dari empati, justru berubah menjadi ejekan. Rakyat yang kritis dianggap tolol, suara protes dituding tak perlu karena “lebih baik diskusi saja.”

Sementara itu, kenaikan PBB yang melonjak ratusan persen hingga seribu persen, rekening rakyat dibekukan hanya karena tidak aktif, tanah nganggur diambil paksa, hingga parameter kemiskinan yang dipelintir agar angka di atas kertas tampak menurun, semuanya semakin menegaskan betapa rakyat dibiarkan berjalan sendirian.

Yang lebih menyakitkan, wakil rakyat di Senayan justru sibuk berjoget, mengeluh soal macet, atau menuntut tunjangan rumah Rp50 juta per bulan. Di saat rakyat berteriak di jalan, mereka memilih WFH. Presiden sendiri seakan berada di panggung paralel, sibuk membagi-bagikan tanda kehormatan kepada tokoh-tokoh yang jauh dari kata pantas untuk menerimanya.

Dan di puncak gunung es itu, lahirlah tragedi, Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang tewas dilindas kendaraan polisi, sebuah ironi paling getir ketika aparat yang dibiayai pajak rakyat justru merenggut nyawa rakyat kecil.

Semua fragmen ini menegaskan satu hal, pemerintah kehilangan kepekaan. Mereka bukan hanya gagal membaca gelombang kemarahan, tetapi juga terus memproduksi masalah baru tiap bulannya. Situasi kita makin menyerupai distopia Hunger Games, dimana rakyat terus dipaksa bertahan hidup di arena yang diciptakan oleh kebijakan dan kelalaian penguasa sendiri.

Inilah politik negara kita hari ini, politik yang kehilangan denyut moral dari nadi nurani yang putus. Penuh penguasa serakah yang tak peduli jeritan rakyat. Penuh politikus yang tega membiarkan jalanan dipenuhi gas air mata, tetapi menutup mata pada air mata rakyatnya sendiri.

Kalau kita bicara tentang politik dalam kerangka negara demokrasi, bukankah semestinya harus ada keseimbangan, rakyat sebagai pemegang kedaulatan dan pemerintah sebagai pengemban amanah. Tetapi hari ini, yang kita saksikan justru pembalikan peran. Rakyat dianggap ancaman, dianggap beban, bukan pemilik sah negeri ini. Kritik dipandang musuh, bukan vitamin untuk memperbaiki sistem yang sudah kepalang rusak.

Dan di titik inilah, kita harus berani bertanya, untuk siapa sih sesungguhnya negara ini bekerja? Apakah untuk rakyat yang membayar pajak, yang setiap hari berjuang dengan keringat dan darah? Ataukah untuk segelintir elite yang hanya memelihara kekuasaan seperti memelihara harta warisan?

Demokrasi, yang dulu dielu-elukan sebagai capaian paling monumental pascareformasi 1998, kini tinggal jargon kosong. Kalau dulu kita punya mimpi besar tentang pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan berpihak pada rakyat, sekarang yang tersisa hanyalah ritual prosedural bernama “pemilu”. Demokrasi berhenti pada bilik suara, bukan lagi pada ruang hidup rakyat sehari-hari.

Kita menyaksikan bagaimana kebebasan sipil dikebiri pelan-pelan. Demonstrasi mahasiswa yang mustinya jadi “mesin moral bangsa” kini dibungkam dengan gas air mata dan pentungan. Kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi, dijerat dengan pasal-pasal karet UU ITE. Rakyat yang mengkritik, di-framing sebagai pembuat onar. Sementara elite yang korup, justru dirayakan dengan karpet merah dan tanda kehormatan.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari semakin vulgarnya praktik oligarki. Politik kita kini bukan lagi arena ide dan gagasan, melainkan pasar gelap kepentingan. Kursi legislatif, jabatan birokrasi, hingga posisi strategis di BUMN, semuanya bisa dinegosiasikan. Yang menentukan tentu saja bukan kualitas, bukan integritas, tetapi siapa yang punya modal finansial paling tebal, siapa yang punya ordal. Kekuasaan berubah menjadi bisnis, dan negara hanyalah perseroan terbatas milik segelintir orang.

Lebih parah lagi, hukum yang seharusnya menjadi pagar moral dan konstitusional bangsa, kini kerap dijadikan alat tukar. Manipulasi hukum seakan jadi hal biasa. Pasal bisa dicari untuk menghantam lawan politik, tetapi pasal juga bisa hilang jika menyangkut kawan sendiri. Apa yang kita saksikan belakangan ini adalah betapa hukum tidak lagi berfungsi sebagai pedoman keadilan, melainkan senjata politik bagi siapa saja yang memegang palu kekuasaan.

Ketika demokrasi meredup, oligarki semakin beringas, dan hukum menjadi komoditas, maka yang hilang adalah rasa keadilan publik. Rakyat kehilangan kepercayaan, dan itu tentu saja berbahaya. Karena kepercayaan adalah fondasi negara. Tanpa itu, negara bisa terlihat besar secara formal, tetapi rapuh di dalam. Dan rapuhnya negara tidak hanya soal ekonomi atau politik, melainkan soal kehilangan arah moral.

Fenomena tergilasnya seorang driver ojek oleh rantis negara tadi malam hanyalah simbol-simbol kecil dari kerusakan besar yang sedang kita alami. Simbol bahwa rakyat semakin tak dianggap, bahwa nyawa manusia bisa jadi sekadar “collateral damage” dari politik kekuasaan. Simbol bahwa negara ini sedang sakit keras, dan para penguasa berpura-pura tidak tahu, pura-pura dungu.

Pada akhirnya, politik bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi soal bagaimana kuasa itu digunakan. Aristoteles pernah berkata, politik adalah jalan menuju kebaikan bersama. Namun dalam praktik kita hari ini, politik justru semakin menjauh dari hakikatnya. Ia kehilangan substansi moralnya, kehilangan etika publiknya, dan terjebak pada kepentingan pragmatis yang hanya melayani segelintir elite. Sekelompok Tenryuubito.

Fenomena demokrasi yang meredup, oligarki yang semakin vulgar, serta hukum yang dipermainkan adalah tanda-tanda klasik dari negara yang kehilangan arah nalar publik. Politik berhenti sebagai ruang deliberasi gagasan, dan bergeser menjadi instrumen untuk melanggengkan dominasi. Ketika itu terjadi, rakyat hanya dilihat sebagai angka, bukan sebagai manusia dengan hakikat kemanusiaan yang utuh.

Maka pertanyaan mendasarnya adalah, apakah kita masih bisa menyebut diri sebagai bangsa yang demokratis ketika rakyat tidak lagi merasa aman di hadapan negaranya sendiri? Apakah kita masih bisa bicara tentang supremasi hukum ketika hukum itu sendiri tunduk pada kuasa modal dan politik?

Refleksi ini membawa kita pada sebuah kesimpulan pahit. Negeri ini tengah berjalan di jalan yang keliru. Dan jalan keliru itu tidak bisa diluruskan hanya dengan retorika politik atau seremoni demokrasi lima tahunan. Bangsa ini hanya bisa diselamatkan oleh mereka yang berani secara moral, jernih dalam berpikir, dan tulus berpihak pada rakyat. Namun bukankah itu justru utopia di tengah panggung politik yang dipenuhi aktor dengan topeng kekuasaan?

Jika politik kehilangan moral, hukum kehilangan keadilan, dan penguasa kehilangan rasa malu, maka pada dasarnya yang kita saksikan hanyalah panggung besar sandiwara. Dan rakyat, seperti driver ojek yang tergilas tadi malam, hanyalah korban yang ditinggalkan begitu saja di balik tirai tebal kekuasaan.

SETENGAH TAHUN, SETENGAH JALAN

Refleksi Tengah Tahun Seorang Ibu, Dosen, dan Perempuan Biasa yang Masih Belajar

Hy, everyone, welcome to July.

Rasanya baru kemarin ya, kita merayakan euforia tahun baru, sibuk bikin resolusi awal tahun, dan nulis quote harapan-harapan manis di awal Januari. Dan tiba-tiba, taraaa.... setengah tahun sudah kelar aja. Saat kita sibuk “bertahan hidup”, waktu ternyata nggak cuma bergulir, tapi melesat cepat. 

Ibaratnya kita naik sepeda melewati turunan, kita fokus menyeimbangkan diri, menjaga agar nggak jatuh, sampai lupa menikmati pemandangan sekitar. Dan Juli, datang sebagai alarm. “Sudah setengah jalan, mau lanjut kemana?”.

Kalau ditanya, “Apa yang sudah terjadi di paruh pertama tahun ini?” Jawaban saya mungkin tidak akan penuh prestasi besar atau pencapaian luar biasa. Tapi banyak hal yang tetap patut dirayakan dan disyukuri.

Sebagai ibu, ada momen-momen sederhana yang membuat hati hangat. Melihat anak tertawa lepas saat bermain, mendengar ia bertanya hal-hal kecil yang membuat saya berpikir dua kali untuk menjawabnya. Momen remeh yang kadang terlewat, tapi ternyata membuat jiwa saya penuh pelan-pelan.

Sebagai dosen, saya belajar banyak dari mahasiswa sendiri. Dari antusiasme mereka di kelas microteaching, dari hangatnya diskusi dan refleksi di kelas kompetensi guru PAI, dari pandangan mereka tentang kurikulum negara ini di kelas Pengembangan kurikulum. Mereka "memaksa" saya untuk lebih banyak membaca, lebih banyak belajar.

Sebagai perempuan, sebagai Mita, saya melewati hari-hari naik turun emosi, mengatur waktu antara pekerjaan, rumah, dan... diri sendiri. Ada hari-hari di mana saya merasa cukup kuat untuk menaklukkan dunia, dan ada juga hari di mana mencuci piring saja terasa berat. Ada hari-hari saat saya sehat dan stamina saya sanggup mengerjakan banyak pekerjaan rumah dalam satu waktu, ada saatnya saya hanya bisa terbaring tak bisa apa-apa karena asam lambung atau sakit kepala. Tapi semua itu tetap bagian dari hidup saya yang terus berjalan.

Di tengah semua itu, ada juga hal-hal yang belum tercapai. Target menulis blog rutin, misalnya. Atau proyek-proyek kreatif yang masih tersimpan di draft. Tapi semakin ke sini, saya belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Karena ternyata, menjadi manusia bukanlah tentang selalu berhasil, tapi tentang selalu mencoba.

Pelajaran yang saya petik

Setengah tahun ini mengajarkan saya bahwa hidup bukan soal seberapa banyak yang kita capai, tapi bagaimana kita hadir penuh dalam setiap langkah yang kita jalani.

Saya juga berdamai dan membuat kesepakatan dengan diri sendiri. Tidak membiarkan diri dan pikiran saya dipenuhi penyesalan tentang masa lalu, tidak mau digundahkan oleh masa depan yang belum saya tahu. Saya membawa diri saya untuk “hadir” di masa sekarang. Fokus pada apa yang ada di depan mata. Fokus untuk menikmati hal-hal baik yang terjadi saat ini.

Menikamati ngobrol random ngalor-ngidul dengan suami, menikmati mengusap kepala dan pillow talk dengan anak kami menjelang tidur, menikmati slow morning dengan menggaruk punggung, memeluk dan menciumnya saat bangun tidur. Menikmati segarnya mandi pagi, hangatnya teh dan roti, ngefansgirl, nonton drakor dan drachin. Menikmati sorot mata anak kami yang berbinar saat ia bercerita tentang game-game yang sedang dimainkan, juga menikmati tawa-tawa receh kami di sebuah kafe di sore hari. Saya ingin menikmati masa sekarang seolah dunia tak perlu tergesa. Menikmati setiap momen kecil, yang justru menjelma jadi kebahagiaan paling utuh.

Saya belajar bahwa istirahat itu bukan bentuk kemunduran, tapi bagian penting dari proses bertumbuh. Saya belajar bahwa membiarkan sesuatu selesai dengan perlahan tidak membuat kita lemah, justru menguatkan. Karena butuh keberanian untuk menolak tekanan dari standar yang seringkali bukan kita yang menciptakannya.

Saya juga belajar bahwa menjadi produktif tidak selalu berarti menghasilkan banyak. Tapi lebih kepada: apakah yang saya lakukan hari ini bermakna? Apakah itu membuat saya lebih baik, lebih tenang, lebih ikhlas?

Dan pelajaran terbesarnya mungkin adalah: menerima. Menerima bahwa saya punya batas. Menerima bahwa tidak semua hal bisa saya kendalikan. Dan di titik itu, saya belajar berserah dengan cara yang sehat, bukan pasrah, tapi tetap bergerak walau pelan.

Harapan untuk 6 Bulan ke Depan

Kalau boleh minta, saya ingin enam bulan ke depan terasa lebih ringan.

Bukan karena bebannya berkurang, tapi karena hati saya lebih lapang.

Bukan karena waktu tiba-tiba jadi longgar, tapi karena saya lebih mampu memilah mana yang penting dan mana yang bisa ditunda.

Saya ingin lebih hadir. Dalam setiap tawa anak saya. Dalam setiap sesi kuliah yang saya ampu. Dalam setiap tulisan yang saya tulis.

Saya juga ingin menepati janji pada diri sendiri. Untuk tetap menulis, bukan demi angka pembaca atau pageviews, tapi demi kewarasan batin. Karena nulis itu memang healing terbaik saya. Setiap kata adalah cara untuk berdamai dengan isi kepala yang ramai.

Dan tentu saja, saya ingin tetap jadi versi terbaik diri saya. Yang bisa menangis saat lelah, tapi juga bisa tersenyum esok harinya dan kembali bersemangat.

Kadang saya merasa neuron-neuron di kepala saya seperti simpang siur, berlomba memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Ada saat-saat saya merasa usia 36 ini sudah cukup tua -terlambat untuk mengejar banyak hal, terlambat untuk memulai sesuatu. Tapi di waktu yang lain, hati saya berbisik: forever we are young. Usia 36 bukan tua, apalagi terlambat. Itu justru masa ketika kita mulai benar-benar mengenal diri sendiri: apa yang kita suka, apa yang bikin kita gemetar excited, dan apa yang layak kita perjuangkan.

Saya masih bisa bergembira saat menonton anime kesukaan, masih bisa tertawa dan fangirling seperti remaja, masih gemetar tiap kali membayangkan impian untuk kuliah S3, masih ingin belajar bahasa Inggris, Korea, bahkan Mandarin. Kadang saya merasa aneh dengan diri saya sendiri. Tapi pelan-pelan saya belajar menerima bahwa mungkin...saya bukan sedang bingung, saya hanya sedang mekar -di banyak arah, di waktu yang bersamaan. Dan itu tak apa. Karena menjadi dewasa tidak harus berarti kehilangan sisi anak-anak yang penuh harap. Mungkin, ini yang disebut “hidup sepenuhnya”.

Kalau kamu juga pernah merasa otakmu riuh, itu karena ada banyak cahaya di sana. Banyak keinginan, banyak ide, banyak gairah. Saya ingin mengatakan pada diri saya sendiri, “You’re not lost, Mita. You’re just blooming in all directions at once.”

----------------------

Dan setengah tahun sudah lewat. Tidak apa-apa kalau belum semua tercapai. Tidak apa-apa kalau ada hari-hari yang terasa gagal. Yang penting kita tidak berhenti.

Hidup bukan perlombaan cepat-cepatan. Kadang kita hanya perlu melangkah pelan, tapi konsisten. Kadang kita butuh duduk sebentar, menarik napas dalam, sebelum lanjut lagi.

Juli ini, saya ingin mengajak teman-teman juga untuk refleksi kecil. Apa kabar kamu sejauh ini? Sudah cukupkah kamu memeluk dirimu sendiri?

Dan jika ada satu hal yang bisa kita sepakati hari ini, mungkin ini:

Setengah jalan sudah dilewati. Sisanya akan kita hadapi bersama, dengan semangat baru, dengan harapan baru, dan dengan lebih banyak kasih untuk diri sendiri.

Terima kasih sudah membaca.

Kalau kamu, bagaimana perjalananmu di enam bulan pertama 2025 ini?

JUNI : SAAT SEMUA CINTA KEMBALI

 

Bagi saya, Juni tahun ini terasa seperti rollercoaster emosi yang tak terduga. Bulan yang biasanya cuma lewat begitu saja, kini jadi panggung besar buat momen-momen yang bikin hati bergetar. Bukan bulan kelahiran saya, tapi entah kenapa, Juni 2025 ini terasa begitu personal, begitu hidup, begitu terhubung dengan setiap detiknya. Idul Adha, come back BTS, dan perayaan ulang tahun putri kecil kami yang genap berusia 9 tahun. Semua seperti pelukan hangat dari alam semesta. Saya berharap, kebahagian ini tak ada putus-putusnya.

Idul Adha: Cinta dan Kepasrahan seorang Hamba

Awal Juni, Idul Adha datang menyapa. Idul Adha bukan sekadar hari raya, tapi kisah cinta yang begitu dalam antara manusia dan Tuhannya. Ia bermula dari perjalanan spiritual Nabi Ibrahim yang diuji oleh Allah SWT lewat mimpi: menyembelih anak yang paling dicintainya, Ismail. Dalam dilema antara cinta kepada anak dan ketaatan pada perintah Tuhan, Ibrahim menunjukkan puncak keimanan. Ismail pun menerima dengan penuh keikhlasan. Sebuah kisah yang bukan hanya tentang pengorbanan, tapi tentang totalitas cinta dan kepasrahan.

Setiap hewan kurban yang disembelih bukan hanya ritual fisik semata. Di baliknya ada pesan kuat tentang bagaimana manusia seharusnya “menyembelih” ego, keserakahan, dan keakuan. Idul Adha mengajarkan kita untuk mencintai lebih tulus, memberi tanpa menghitung, juga merendahkan hati.

Di tengah dunia yang makin individualis dan serba cepat, Idul Adha datang bagai momen menenangkan. Ia mengingatkan kita betapa pentingnya kembali pada nilai-nilai dasar kemanusiaan: rela berkorban, peduli pada sesama, dan percaya pada skenario terbaik dari Allah SWT. Seperti Ibrahim yang tidak tahu akhir dari kisahnya, kita pun diajak untuk terus melangkah dengan iman, meski kadang tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang.

BTS Come Back Home

2 hari terakhir ini, dunia seolah berhenti sejenak buat ARMY seperti aku. Meski masih minus Yoongi, BTS akhirnya berkumpul lagi di hari kepulangan mereka dari wajib militer. Kemarin Namjoon dan Taehyung, hari ini duo Busan, Jungkook dan Jimin. Aih, tak ada yang lebih membahagiakan dan mengharukan dari kepulangan mereka. Dua tahun lalu, Army berlinang air mata saat satu persatu member pamit melaksanakan tugas negara. Kuat, bertahan, Army ditinggal dengan konten-konten yang mereka siapkan. Tapi tentu saja tak ada yang benar-benar bisa menggantikan kehadiran mereka.

Kemaren dan hari ini, tanpa menunggu lama, mereka langsung menyapa. Live setiba mereka di gedung HYBE menjadi momen yang tidak akan pernah terlupakan. Senyum-senyum malu, tawa-tawa canggung, tapi juga pelukan hangat yang menembus layar. ARMY di seluruh dunia menahan napas. Jantung berdegup tak karuan. Jutaan Army menangis bukan karena sedih, tapi karena bahagia.

Namun di tengah tawa, muncul juga cerita yang menusuk hati. Namjoon, Bapak leader, bercerita tentang perjuangannya selama di militer. Tentang insomnia yang ia alami selama 1 tahun 2 bulan belakangan ini. Tentang malam-malam panjang tanpa tidur yang sunyi dan berat. ARMY tentu saja menangis lagi. Bukan hanya karena sedih, tapi karena cinta. Karena kita tahu betapa kuatnya mereka mencoba terlihat baik-baik saja. Tapi di balik layar, mereka pun manusia yang terluka, yang lelah, yang berusaha sekuat tenaga.

Kita memang tidak bisa menggantikan waktu-waktu sulit itu. Tapi melalui layar kecil, melalui komentar ramdom penuh cinta, melalui kehadiran yang setia, kita ingin mereka tahu:

“Kami tidak pernah pergi. Dan kami akan terus di sini. Terima kasih sudah kembali. Terima kasih sudah bertahan.”

Bagi Army, BTS bukan sekadar grup musik. Mereka rumah. Mereka pelukan hangat. Mereka suara di tengah sunyi. Dan sekarang, di bulan yang sama saat mereka dulu debut, mereka kembali. BTS dan Army seperti cinta yang tak butuh logika. Tak hanya ikatan Idol dan penggemar, tapi teman seperjalanan yang melewati hari-hari sulit sampai puncak kejayaan.

Tentu saja saya tidak berada di Seoul. Tapi hati ini ikut berteriak bersama jutaan ARMY di seluruh dunia. Menyambut kepulangan mereka.  Rasanya seperti mimpi. Melihat nama "BTS" muncul lagi di trending, mendengar suara dan tawa mereka lagi. Untuk kami para ARMY, ini lebih dari sekadar momen. Ini seperti titik temu dari perjalanan panjang yang penuh rindu dan kesetiaan. Karena selama mereka pergi, Army tetap di sini.

Welcome back, BTS. ARMY’s home is always yours.

Ulang Tahun Putri Kecilku: 9 Tahun yang Luar Biasa

Juni akan ditutup dengan dua momen spesial di hari yang sama. Ulang tahun putri kecil kami yang ke-9 dan kepulangan Yoongi di 21 Juni nanti.

Aih, rasanya baru kemarin aku menggendongnya untuk pertama kali, kini gadis kecil kami adalah sosok ceria yang penuh tawa dan mimpi. Anak bayi yang sudah bisa diajak curhat random. “Tukang pijit” yang dibayar dengan kecupan. Lucu, cerdas, penuh rasa ingin tahu, dan... sangat pengertian. Kami bersyukur Tuhan mempercayakan makhluk special ini untuk tumbuh di pelukan kami. Kami berdoa agar dunia selalu baik padanya. Agar ia tetap menjadi dirinya yang ceria dan penuh empati. Agar langkahnya selalu diarahkan menuju hal-hal baik yang ia cintai.

Jadi di hari yang sama, dua orang yang sangat saya cintai pulang.

Satu ke pelukanku.

Satu ke rumah yang lebih luas: panggung, musik, dan hati jutaan Army.

Dan aku?

Aku duduk di sini, bersyukur.

Karena cinta, dalam segala bentuknya, selalu tahu jalan pulang.

MENULIS DI RAMADHAN: SEBUAH PERCAKAPAN DENGAN DIRI SENDIRI

 

Sudah masuk Episode kedua Bulan Ramadhan. Dalam setiap fasenya, Ramadhan selalu punya cara untuk membawa kita kembali ke dalam diri sendiri. Bulan ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga tentang merawat hati, menenangkan pikiran, dan menemukan makna di setiap detik yang berjalan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, Ramadhan datang seperti jeda yang menenangkan. Ada sesuatu yang berbeda dalam ritmenya, lebih pelan, lebih dalam, dan lebih reflektif. Puasa tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga memberi kesempatan bagi jiwa untuk beristirahat. Saat perut kosong, hati terasa lebih peka. Ketika kita mengurangi distraksi duniawi, ada lebih banyak ruang untuk merenung.

Healing bukan selalu tentang bepergian ke tempat-tempat indah atau melakukan self-care dengan cara-cara kekinian. Healing juga bisa terjadi dalam keheningan sahur, dalam sholat malam yang khusyuk, atau dalam dzikir yang mengalir pelan di antara detik-detik menjelang berbuka. Dan tentu saja, juga dalam tulisan-tulisan yang kita buat sebagai bentuk refleksi diri.

Menulis sering kali jadi cara terbaik untuk berdialog dan mengenal diri sendiri. Jika membaca mengasah otak, maka menulis adalah jalan bagi jiwa kita untuk menemukan bentuknya sendiri. Tulisan yang kita buat adalah peta perjalanan, karena di sanalah kita menemukan siapa diri kita. Kadang, ada hal-hal yang tak bisa kita katakan dengan suara, tetapi bisa kita bisikan lewat tulisan. Menulis membukakan pintu ke dalam diri kita sendiri. Menulis bukan hanya soal merangkai kata, tetapi tentang merawat ingatan. Menulis bukan soal menjadi hebat, tapi tentang menjadi jujur. Dan Ramadhan, dengan segala ketenangannya, menjadi waktu yang tepat untuk merenung dan menuliskan apa yang kita rasakan.

Menulis tak hanya tentang membuat narasi ratusan kata. Kita bisa saja menulis tentang tentang rasa syukur yang selama ini jarang disadari, tentang harapan yang ingin dipanjatkan, atau sekadar mencatat dan menceklis perubahan kecil dalam diri kita lewat jurnal Ramadhan yang kita print. Tantangannya, tentu saja, adalah menjaga konsistensi. Di tengah jadwal yang berubah selama Ramadhan, menyisihkan waktu untuk menulis bisa jadi terasa sulit. Tapi sebenarnya, justru dalam keterbatasan itulah tulisan bisa menjadi lebih jujur dan penuh makna. Tidak perlu sempurna, yang penting ada.

Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan yang sangat personal. Setiap orang punya cara sendiri untuk mengisinya, tapi jika ada satu hal yang bisa membuatnya lebih bermakna, mungkin itu adalah menulis. Dengan menulis, kita bisa merekam perasaan, mencatat doa-doa yang terucap dalam hati, dan menemukan perubahan diri sekecil apa pun.

Jadi, bagaimana kalau tahun ini kita coba menulis lebih banyak selama Ramadhan? Tidak perlu muluk-muluk. Cukup selembar catatan kecil setiap hari. Sebuah jurnal yang mungkin suatu hari akan kita baca kembali, lalu tersenyum, dan berkata, "Ramadhan tahun ini berlalu dengan indah, dan saya pernah merasakannya dengan sepenuh hati."

#INDONESIAGELAP DAN #KABURAJADULU

 

instagram.com/bbcindonesia

Sejak Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demonstrasi pada Senin, 17 Februari 2025 hingga Rabu, 19 Februari 2025 lalu, tagar #IndonesiaGelap menggema di seluruh jagat maya. Tagar ini tak sekedar ungkapan viral, namun menjadi tema unjuk rasa menyuarakan kegelisahan akan masa depan bangsa dan menuntut pertanggungjawaban presiden Prabawo Subianto atas seluruh kebijakannya yang tak berpihak pada rakyat.

Sebelumnya juga ada tagar #KaburAjaDulu yang sudah mulai digaungkan sejak Januari lalu. Tagar yang menyuarakan keresahan anak bangsa atas sulitnya mendapat penghidupan yang layak di negeri sendiri. Tagar ini menjadi bentuk satire kekecewaan dan kemarahan atas pendidikan berkualitas yang mahal, kurangnya lapangan kerja dan rendahnya gaji di Indonesia.

Dua tagar yang viral ini mengungkapkan keresahan, kekecewaan, kemarahan, keputusasaan dan protes anak bangsa akan kebijakan yang amburadul di negeri ini.

Sebagai Ibu rumah tangga dan pendidik, saya tentu saja tak mau tutup mata dengan peristiwa-peristiwa tersebut. Agar tak lupa, saya ikut ”berisik” dengan mengabadikan rentetannya di sini.

Seperti yang kita ketahui bersama, kebijakan (yang tidak bijak) presiden Prabowo tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai sejak 6 Januari 2025. Namun kebijakan ini dinilai oleh lembaga riset ekonomi dan hukum, Celios, sebagai kebijakan yang boros dan tidak tepat sasaran. BGN (Badan Gizi Nasional) menyebutkan anggaran Makan Bergizi Gratis mencapai Rp 1,2 Triliun Per Hari, kalikan saja jika sebulan, setahun atau lima tahun. Dan contoh tak tepat sasarannya tak usah jauh-jauh. Di kota kecil kami, Sekolah Dasar yang mendapatkan jatah MBG adalah sekolah dasar di “pusat kota” yang peserta didiknya notabene adalah anak-anak pegawai dan pejabat yang terbiasa kenyang dengan makan enak. Sedangkan sekolah yang agak “kepinggiran” masih belum kebagian.

instagram.com/bbcindonesia

Tanggal 20 Januari 2025, KontraS, LSM HAM, menerbitkan laporan kekebalan hukum pada 100 hari kepemimpinan Prabowo-Gibran. 

22 Januari 2025, Presiden mengesahkan Inpres nomor 1 tahun 2025 tentang efisiensi anggaran. Tentu saja banyak kementerian yang terkena penyusutan. Namun mirisnya Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kesehatan juga ditargetkan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah disunat Rp. 8 triliun, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi dipangkas Rp. 22,54 Triliun, dan anggaran Kementerian Kesehatan dipotong Rp. 19,63 triliun. Tahu sendiri kan, apa yang akan terjadi jika anggaran pendidikan dan kesehatan yang tidak pernah cukup itu dipangkas juga? huuuuufff..

4 februari 2025, kebijakan baru dibuat lagi. DPR mengesahkan RUU BUMN yang memuat soal Danantara. Lembaga pengelola investasi milik negara yang katanya akan mengelola Rp. 1400 triliun uang negara. 4 kali lebih besar dari APBN Indonesia tahun 2025.

18 Februari 2025, UU Minerba disahkan DPR. Ya memang terkesan tergesa. Dihari yang sama, DPR bilang kalau mereka akan memproses RUU TNI. Di revisian RUU ini, nggak ada lagi larangan TNI berbisnis, dan TNI bisa kerja dibanyak kementerian dan lembaga. Pasal 47 yang tadinya cuma ngebolehin TNI punya jabatan di 10 kementerian/lembaga, sekarang diusulkan bisa lebih bebas sesuai kebijakan presiden. Dihari yang sama juga, Ribuan pelajar di Papua menggelar aksi masa menolak Makan Bergizi Gratis. Aksi yang dibubarin secara paksa oleh aparat dan menuai banyak pelanggaran HAM.

17-21 Februari 2025, ribuan Mahasiswa dan masyarakat sipil melalukan demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia. Tuntutan mereka? Salah banyaknya : efisiensi Kabinet Merah Putih secara struktural dan teknis, mendesak Prabowo keluarkan Perpu Perampasan Aset, tolak revisi UU TNI, Polri, dan Kejaksaan, evaluasi total pelaksanaan Makan Bergizi Gratis, penciptaan pendidikan gratis, tolak revisi UU Minerba, hapuskan dwifungsi militer di sektor, dan reformasi Polri. Juga menolak revisi peraturan tata tertib DPR, hingga realisasikan anggaran tunjangan kinerja dosen. Lengkapnya di sini. 

instagram.com/trendingbuzz.id

Hari ini, 24 Februari 2025, Danantara launching. Presiden Prabowo Subianto menandatangani keputusan presiden Nomor 30 Tahun 2025 mengenai pengangkatan Dewan Pengawas dan Badan Pelaksana, Badan Pengelola Investasi ini di Istana Kepresidenan. Sekaligus menekan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kelola BPI Danantara. 

Kalau teman-teman mau tahu lebih mudah dan simplenya tentang Danantara, silahkan tonton di sini ya.

Sebagai ibu rumah tangga, kebijakan-kebijakan yang tak pro rakyat ini tentu saja akan berdampak besar sekali. Baik secara finansial, sosial maupun psikologis. Kenaikan biaya hidup tak akan bisa dihindari. Efisiensi yang menyunat anggaran pendidikan dan kesehatan akan membuat biaya pendidikan dan akses kesehatan lebih mahal lagi.

Dan dengan berkurangnya anggaran untuk pendidikan tinggi, peluang beasiswa bisa menipis dan biaya kuliah makin melambung. Bagi ibu-ibu, yang setiap hari menabung sedikit demi sedikit demi melihat anaknya duduk di bangku kuliah, ini akan jadi “pertarungan” yang panjang dan luar biasa sekali.

instagram.com/pramudyakevin

Pada akhirnya, kebijakan bukan sekadar deretan angka di atas kertas atau wacana yang lalu-lalang di ruang rapat para pejabat. Ia adalah denyut kehidupan yang dirasakan langsung oleh jutaan rakyat, oleh ibu yang mengkhawatirkan masa depan pendidikan anaknya, oleh ayah yang berjuang agar dapur tetap mengepul, oleh generasi muda yang bertanya-tanya apakah negeri ini masih punya tempat untuk mimpi-mimpi mereka.

Jika negara terus melangkah tanpa mendengar suara rakyatnya, akankah kita hanya menjadi saksi bisu yang perlahan terbiasa? Ataukah kita akan tetap bersuara, mengingatkan bahwa keadilan bukan sekadar janji, tapi hak yang seharusnya dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat? 

Sebab, dalam gelap kita menyadari pentingnya menyalakan cahaya.

10 Tahun Ngeblog: Sebuah Perjalanan, Sebuah Cerita, Sebuah Hidup

 

Meski bukan penulis hebat dan terkenal, saya sebenarnya sudah mulai menulis sejak dibangku sekolah menengah di sebuah Pondok Pesantren terbesar di Sumatera. Transisi dari anak SD yang ”kecil” menjadi anak asrama yang banyak dinamikanya, membuat saya banyak mencurahkan pikiran dan perasaan pada tulisan. Saat tamat dari pesantren, puluhan diary sudah saya tulisi. Saat waktu luang, kadang saya membaca tulisan-tulisan itu kembali, dan mendapati diri saya menangis, tertawa, nelangsa dan kadang geli sendiri membaca tulisan-tulisan itu lagi. Mengingatkan hal-hal kecil dan besar yang telah saya lalui. Melihat kebelakang ternyata sudah sejauh ini perjalanan yang saya tapaki.

Saat internet mulai masuk dalam kehidupan perkuliahan saya, saya mencoba-coba menulis blog. Dan blog ini tentu saja bukan blog pertama saya. Ditulisan pertama saya diblog ini, saya pernah memention bahwa blog ini adalah blog ke empat saya setelah amnesia pada password blog-blog yang lama.

Tak ada yang special saat saya mulai ngeblog. Saya hanya menulis apa yang terasa ingin saya tulis. Saat memulai bikin blog baru lagi di 2015 lalu, saya juga tak punya ekspektasi apa-apa terhadap tulisan saya. Saya hanya ingin menulis agar tak lupa. Tak lupa bahwa saya pernah sendirian ke pameran buku Braga, tak lupa bahwa saya pernah menunggu dengan sepenuh hati agar bertemu dengan travel writer favorit saya dalam satu sesi diskusi, juga agar tak lupa bahwa saya pernah hujan-hujan naek angkot untuk pergi ke pasar seni ITB dengan seorang sahabat yang sekarang telah pergi ke sisi Ilahi. Yap, hanya itu alasan saya ngeblog.

Vakum? Tentu saja pernah. Semangat bercerita yang diawali niat baik itu tak serta merta membuat seorang Mita konsisten menulis. Banyak cerita yang tak terdokumentasikan, banyak kisah-kisah penting yang telah saya lewatkan. Jika kalian melongok ke sisi kanan blog ini, kalian akan melihat jeda panjang tahun-tahun yang tak terisi. Tulisan yang diawali di tahun 2015, baru tersambung lagi pada Hari Anak Nasional tahun 2019, saat saya sudah memiliki seorang putri berusia 3 tahun. Menyesal? Tentu saja! Banyak memori-memori yang sekarang tak saya ingat lagi. Banyak cerita yang sudah menguap begitu saja.

Perjalanan 10 tahun blog ini memang tak banyak prestasi. Hanya sekali saya mengikuti lomba blog dan menang juara 2. Saat itu Komisi Informasi Sumatera Barat menyelenggaran lomba artikel blog tentang keterbukaan informasi publik. Setelahnya? Ya tidak pernah lagi. 😆

Menulis itu bagi saya adalah healing dan eksistensi diri. Dengan menulis, saya merasakan keberadaan saya sebagai seorang “Mita”. Menulis juga punya sisi penyembuhan tersendiri bagi saya. Saya menulis apa saja yang terpikir dengan bahasa yang saya bisa, lalu saat membacanya kembali saya merasa ada yang lapang dan lega di dada saya. Menulis organik tanpa memikirkan SEO atau traffic, hanya tentang berbagi cerita, pengalaman dan sudut pandang dengan jujur membuat ngeblog terasa lebih deep dan bermakna.

Blog ini adalah pantulan dari perjalanan hidup saya. Seperti yang bisa teman-teman lihat di sini, tak ada yang sempurna. Ada celah, ada jeda panjang, ada cerita yang melompat dari satu topik ke topik lain. Begitulah hidup yang saya maknai, penuh warna, tak selalu beraturan, namun tetap layak dan menyenangkan. Setiap tulisan di sini adalah bagian dari proses saya memahami dunia, bertumbuh, dan berbagi dengan kalian.

Dalam perjalanannya, menulis bagi saya bukan hanya sekadar aktivitas pribadi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial. Dunia digital semakin berkembang, dan literasi digital menjadi semakin penting. Di era informasi yang serba cepat ini, menulis di blog bukan hanya tentang bercerita, tetapi juga menjadi bagian dari keberpihakan terhadap literasi digital yang sehat. Blog adalah ruang bebas untuk berbagi pemikiran, merekam sejarah kecil, dan memberikan perspektif yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.

Dukungan terhadap komunitas blogger di Indonesia juga semakin berkembang. Salah satu yang berperan besar adalah dukungan ASUS, yang sejak tahun 2015 aktif mengadakan berbagai event baik online maupun offline untuk mendukung perjalanan para blogger. Dari workshop menulis, diskusi tentang teknologi, hingga acara peluncuran produk yang melibatkan para blogger sebagai media independen. Inisiatif seperti ini sangat berarti, karena membuka ruang belajar dan berbagi bagi para blogger di Indonesia, serta mengakui peran mereka dalam ekosistem digital yang terus tumbuh. Dan untuk saat ini, special thanks untuk laptop kesayangan saya ASUSVivobook Pro 14 OLED yang sudah membersamai perjalanan blogging ini.

Saya percaya bahwa setiap tulisan memiliki kekuatannya sendiri. Mungkin tidak terlihat langsung, mungkin butuh waktu lama untuk disadari, tetapi menulis adalah investasi. Satu tulisan yang kita anggap sederhana bisa saja menjadi penyemangat bagi seseorang di luar sana. Satu refleksi pribadi bisa saja menjadi titik terang bagi pembaca yang sedang mencari jawaban. Dan lebih dari itu, menulis bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri, bahwa kita pernah ada di suatu titik, dengan perasaan dan pengalaman yang pernah begitu nyata.

Saya jadi ingat sebuah dialog dalam drama korea “Study Group” : “apa yang terjadi, saat kamu merebus air? Jawabannya adalah tidak ada yang terjadi. Air mulai menggelembung dan menciptakan peluang ketika mencapai titik didih. Tapi sepertinya tidak ada yang terjadi sampai saat itu. Jadi yang ingin kukatakan adalah sampai kamu mencapai titik didih, kamu mungkin berpikir tidak ada yang berubah sama sekali. Tapi jika kamu memberikan energi pada sesuatu secara konsisten, perubahan besar akan terjadi pada akhirnya. Entah itu air, atau belajar” (atau ngeblog 😁). 

Lalu Apakah saya akan terus ngeblog? Jawabannya, tentu saja iya. Blog ini sudah menjadi bagian dari hidup saya. Selama masih menulis, artinya selama itu saya akan selalu belajar. Selama saya masih belajar, artinya saya masih “hidup”. Saya menulis karena saya ada. Aiiih, plesetannya agak jauh ya :D

Kalau teman-teman masih ragu untuk ngeblog, atau mungkin pernah vakum dan ingin kembali, menulislah. Bukan untuk viral, bukan untuk sempurna, tapi untuk diri teman-teman sendiri. Blogging adalah perjalanan, bukan perlombaan. Kalian nggak harus punya banyak pembaca untuk merasa tulisan kalian berarti. Kadang, satu tulisan bisa mengubah hidup seseorang, termasuk hidup kita sendiri.

Jadi, mari menulis, mari berbagi. Karena setiap cerita layak untuk didengar, dan setiap pengalaman pantas untuk dikenang.



*Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel

DESEMBER

 

Bagi saya, Desember adalah bulan yang selalu terasa istimewa -lebih seperti sebuah hari raya. Setiap kali Desember tiba, perasaan saya bercampur aduk. Ada kegembiraan, harapan, sekaligus keheningan yang mengajak saya merenung. Lahir di akhir bulan, di penghujung tahun, membuat saya terbiasa melakukan “itung-itungan” tentang apa saja yang telah terjadi selama setahun ini. Membuat saya merefleksi dan mengkaleidoskop perjalanan saya kembali.

Rasanya seperti baru kemarin tahun 2024 menyapa, dan sekarang, hanya menghitung hari hingga tahun berganti lagi. Tentu saja, saya tidak berani berkata bahwa "tahun ini berlalu begitu saja." Tidak. Bagaimana mungkin saya mengatakan itu, ketika setiap dari 356 hari ini terisi dengan begitu banyak cerita, pengalaman, dan pelajaran? Hari-hari itu tidak sekadar berlalu, mereka adalah perjalanan yang saya tempuh dengan keberanian, meskipun tidak selalu mudah. Dan Desember bagi saya bukan sekadar penutup tahun, tetapi sebuah panggung refleksi untuk melihat kembali bagaimana saya bertahan, tumbuh, dan berbahagia.

Kalianpun akan merasa begitu juga bukan? Siapa bilang tahun berlalu begitu saja, saat hari-hari kita penuh dengan drama. Bagi ibu rumah tangga seperti saya, hari-hari itu berlalu dengan padat. Bagun sebelum seisi rumah terjaga. Nyuci piring yang tak terhitung kalinya. Mabok dengan cucian, jemuran dan sterikaan. Belanja, foodprep, masak, agar anak bisa makan enak dan bergizi tiga kali sehari. Nyapu, ngepel, nguras bak mandi, daaaaaaan ”pekerjaan sebanyak bulu kucing” -seperti yang ibu saya dulu katakan- menunggu penyelesaian dari kita hari demi hari. Status Ibu rumah tangga yang sering kali dicap ”Tidak Bekerja” itu, aiiiih, kalian lanjutkan saja narasinya!

Ulang tahun saya hanya selisih satu hari dengan hari ibu. Karena itu refleksi atas usia dan status saya sebagai ibu, membuat air mata saya merebak sepanjang mengetik tulisan ini.

Sebagai Mita, yang hari ini genap berusia tiga puluh lima tahun, saya ingin menatap cermin kehidupan dengan penuh syukur. Saya yang berdiri di depannya hari ini adalah versi terbaik dari diri saya -bukan karena tanpa cacat atau sempurna, tetapi karena saya terus berusaha menjadi lebih baik. Bagi saya, ulang tahun artinya membuka bab selanjutnya dalam buku kumpulan cerita hidup saya. Esok akan ada hal-hal dan tantangan baru, dan saya tentu saja akan terus mengusahakan untuk menjadikan Mita di masa depan sebagai versi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih bahagia.

Tahun ini telah menjadi guru terbaik bagi saya, mengajarkan banyak hal berharga tentang hidup dan kebahagiaan sederhana. Saya belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil yang sering terlewat dalam hiruk-pikuk rutinitas menjalani peran saya -seperti kehangatan secangkir teh di pagi hari, atau momen-momen sederhana saat hati saya berbunga dan bahagia ngefansgirl sebagai Army -Oiya, V bias saya di BTS juga berulangtahun selang seminggu setelah ini. Ada juga kebahagiaan sederhana dari menonton drama Korea atau drama Cina favorit saya, hingga tawa lepas anak dan suami saya saat mereka asyik bermain game bersama.

Hal-hal kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi mereka adalah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang besar. Kebahagiaan justru sering hadir di sela detik-detik kehidupan yang biasa dan sederhana. Tahun ini, saya belajar bahwa merayakan momen-momen seperti itu adalah cara terbaik untuk mencintai hidup dan diri sendiri. Enjoy the little things, seperti tulisan dihelm saya 😅

Saya juga belajar merayakan setiap pencapaian, besar ataupun kecil, karena bagi saya, setiap langkah yang saya tapaki layak untuk dihargai dan dirayakan. Saat gagal, tentu saja saya harus berdamai. Sebab meskipun gagal, artinya saya sedang berproses.

Berusaha menjadi Mita yang bahagia, bukan karena segalanya selalu berjalan mulus, tetapi karena saya memilih untuk fokus pada hal-hal yang bisa saya kendalikan. Hidup, seperti air yang mengalir, tak selalu jernih atau tenang. Namun, jika masih bisa "baminyak aia” tentu saya hanya akan menampilkan yang baik-baiknya saja.

Pun tidak semua hari dipenuhi pelangi. Ada saat-saat di mana hujan deras membasahi hati saya. Sepanjang tahun ini, saya telah bekerja keras, untuk keluarga, untuk impian, dan untuk diri saya sendiri. Jadi, di usia ini, saya akan berterima kasih pada diri sendiri: Sugohaesseo, Mita. Kamu telah melakukannya dengan baik. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah percaya bahwa hidup ini, meskipun tidak sempurna, tetap indah untuk dijalani.

Sebagai seorang “ibu”, sering kali saya bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana sebenarnya saya bisa mengukur peran ini?" Apakah ada alat atau metode yang cukup valid untuk mengevaluasi perjalanan saya sebagai seorang ibu? Atau, lebih jauh lagi, apakah layak seorang ibu dihakimi dengan label "berhasil" atau "gagal"? Lalu, apa indikator keberhasilan itu? Apakah ketika anak makan tiga kali sehari dengan lahap, saya bisa berbangga hati sebagai ibu yang sukses? Atau mungkin ketika rapor sekolah menunjukkan anak saya jadi sang juara kelas, saya bisa menyematkan medali tak kasatmata untuk diri saya sendiri?

Refleksi ini sering kali terasa seperti labirin -berliku dan penuh keraguan. Menjadi ibu bukanlah soal mencapai standar tertentu, melainkan sebuah perjalanan yang penuh dengan cinta, dan pembelajaran. Ada saat-saat di mana saya merasa puas karena telah memberi yang terbaik, tetapi di lain waktu, bayangan keraguan itu muncul, mempertanyakan apakah yang saya lakukan sudah cukup.

Namun, semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa menjadi ibu adalah tentang kehadiran, bukan kesempurnaan. Anak saya mungkin tidak akan mengingat apa saja yang sudah saya belikan untuknya, tetapi ia akan mengingat kecupan dan pelukan hangat setiap harinya. Ia mungkin tidak mencatat seberapa sehat menu makannya, tetapi saya yakin ia akan selalu mengingat kebahagiaan saat saya menyajikan makanan kesukaannya bahkan kadang menyuapinya.

Mungkin, menjadi ibu tidak perlu dinilai seperti itu. Tidak ada satu pun anak yang lahir dengan buku manual, dan tidak ada ibu yang dilengkapi dengan sertifikat kompetensi. Keibuan adalah perjalanan yang tak memiliki akhir, sebuah hubungan yang terus berkembang, penuh dengan ketidaksempurnaan yang justru membuatnya menjadi sempurna.

Di penghujung tahun ini, saya juga ingin menyematkan harapan sederhana untuk diri saya sendiri. Tidak perlu yang muluk-muluk, hanya ingin terus menjadi Mita yang tidak takut mencoba. Mita yang lebih baik, lebih hadir, dan lebih tulus dalam menjalani setiap peran. Kalau bisa, Mita yang lebih rajin olahraga, lebih sering menabung, dan lebih kaya sehingga nggak perlu numpuk wishlist tanpa check out di keranjang belanja online. Tapi, yah, kita lihat nanti, ya! Yang penting, setiap langkah di tahun depan, saya ingin menjalaninya dengan keberanian yang sama seperti tahun ini.

Desember selalu punya tempat istimewa di hati saya. Ada sesuatu yang berbeda dengan bulan ini, suasana akhir tahun yang tak mampu saya bahasakan dengan baik, seperti teman lama yang datang membawa cerita-cerita hangat. Meski tidak ada salju di sini, hawa Desember selalu punya caranya sendiri untuk membuat hati saya penuh. Mungkin karena di bulan ini, saya selalu diingatkan akan waktu, akan bagaimana saya bertumbuh, dan bagaimana hidup ini terus berjalan.

Dan, bicara tentang waktu, saya juga ingin mengangkat topi untuk semua ibu di luar sana. Peran kita memang sering kali tidak terlihat, bahkan dianggap remeh. Tapi siapa pun yang pernah menjalani hari-hari penuh pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dan tetap mencoba waras dan menjadi versi terbaik dirinya pasti tahu, tidak ada pekerjaan yang lebih berat daripada ini. Jadi, untuk kita semua, ibu-ibu hebat, mari bertepuk tangan untuk diri kita sendiri. Kita pantas untuk itu!

Anak saya, tanpa dia sadari, sering kali menjadi guru kehidupan saya. Dari senyum polosnya, saya belajar bahwa kebahagiaan itu sederhana. Dari pertanyaannya yang kadang tak terduga, saya diingatkan untuk melihat dunia dengan penuh rasa ingin tahu. Dan dari celotehan dan argumen-argumennya saat menjawab perkataan saya, saya belajar bahwa saya harus melembutkan suara, harus masuk akal memberi jawaban, karena saya sedang berhadapan dengan fotokopi diri saya sendiri. Ia tidak hanya mengisi hari-hari saya, tetapi juga menguatkan alasan saya untuk terus maju, belajar dan bertumbuh.

Oh, dan kalau ada yang berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga itu monoton, percayalah, drama rumah tangga kami cukup untuk membuat serial Netflix. Ya, hidup ini tidak pernah membosankan!

Dengan semua itu, saya tahu, tahun ini bukan hanya tentang apa yang telah saya capai, tetapi juga tentang bagaimana saya bertahan, tertawa, dan belajar. Sugohaesseo, Mita. Kamu sudah melakukannya dengan baik. ❤️

The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Cukup

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry. Seka...