Sebelumnya, saya jaraang menulis atau bercerita tentang politik di blog
saya. Bukan, bukan karena saya menganggap politik tak layak untuk diceritakan
atau berdiri di sisi lain cerita hidup saya, bukan. Hanya saja, dari awal saya
menginginkan blog ini sebagai media atau citra dari diri saya sebagai person,
sebagai individu, sebagai seorang ”Mita”. Saya ingin blog ini jadi bagian -baik
buat saya secara pribadi maupun orang lain-, untuk melihat sisi persona saya.
Blog ini saya buat agar saya tak lupa perjalanan yang sudah saya lalui sebagai seorang
manusia.
Namun hari ini, sepertinya akan jadi kali pertama saya bicara tentang carut
marut politik negeri yang luar biasa kusut ini. Saya “dipaksa” nurani
saya untuk menuliskan sesuatu yang sebenarnya enggan saya singgung sebelumnya.
Bukan karena saya apatis, tetapi karena setiap kali menyentuh ranah ini,
rasanya seperti merobek luka bernanah yang sudah lama dibiarkan tanpa diobati. Luka
yang semakin hari semakin “maruyak” saja. Saya tidak tahu akan memulai menulis dari mana,
dari poin apa. Saking kusut dan silang sengkarutnya ingatan dan lalu lalang
informasi di kepala saya.
Tadi malam, berita tentang
tergilasnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online berusia 21 tahun oleh
kendaraan taktis negara hanyalah puncak dari gunung es. Sebuah simbol paling
telanjang betapa relasi antara rakyat dan penguasa sudah tak lagi sehat. Aparat
yang semestinya menjadi pelindung, yang harusnya menjaga rakyat sampai setiap
warga pulang dengan selamat, tapi malah menjadi mesin dingin tanpa nurani.
Rakyat yang seharusnya dilindungi, justru dilindas. Penindas melindas yang
tertindas.
Kemarahan rakyat yang tumpah
ruah saat ini, sejatinya bukan ledakan spontan. Ia adalah akumulasi panjang
dari kekecewaan yang menumpuk sejak presiden dilantik. Setiap bulan, rakyat
seakan dipaksa menelan pil pahit baru. Dari kenaikan PPN 12%, korupsi timah
Rp271 triliun yang pelakunya justru tersenyum bahagia di ruang sidang, hingga
fenomena mobil pejabat dengan strobo di jalanan yang makin merajalela.
Belum lagi soal dwifungsi TNI
yang kembali dihidupkan, drama MBG yang absurd, anak SD hampir ditabok, nenek
meninggal karena berebut gas 3,5 kg, keracunan massal, sampai mitra usaha yang
menanggung kerugian miliaran tanpa bayaran. Sementara itu, ribuan pekerja
kehilangan mata pencaharian atas nama “efisiensi.” Ironisnya, di tengah IHSG
yang jatuh, Presiden dengan ringan berkata, “Saya tidak main saham,”.
Kegetiran makin menyesakkan hati
ketika BUMN kita sendiri tercoreng kasus oplosan bensin. dilanjutkan komentar
pejabat yang menyalahkan rakyat, hingga sindiran-sindiran seperti “cari
kerja di luar negeri saja” atau “jangan mengandalkan pemerintah.” Kata-kata
yang semestinya lahir dari empati, justru berubah menjadi ejekan. Rakyat yang
kritis dianggap tolol, suara protes dituding tak perlu karena “lebih baik
diskusi saja.”
Sementara itu, kenaikan PBB yang
melonjak ratusan persen hingga seribu persen, rekening rakyat dibekukan hanya
karena tidak aktif, tanah nganggur diambil paksa, hingga parameter kemiskinan
yang dipelintir agar angka di atas kertas tampak menurun, semuanya semakin
menegaskan betapa rakyat dibiarkan berjalan sendirian.
Yang lebih menyakitkan, wakil rakyat di Senayan justru sibuk berjoget, mengeluh soal macet, atau menuntut tunjangan rumah Rp50 juta per bulan. Di saat rakyat berteriak di jalan, mereka memilih WFH. Presiden sendiri seakan berada di panggung paralel, sibuk membagi-bagikan tanda kehormatan kepada tokoh-tokoh yang jauh dari kata pantas untuk menerimanya.
Dan di puncak gunung es itu,
lahirlah tragedi, Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang tewas
dilindas kendaraan polisi, sebuah ironi paling getir ketika aparat yang
dibiayai pajak rakyat justru merenggut nyawa rakyat kecil.
Semua fragmen ini menegaskan satu
hal, pemerintah kehilangan kepekaan. Mereka bukan hanya gagal membaca gelombang
kemarahan, tetapi juga terus memproduksi masalah baru tiap bulannya. Situasi
kita makin menyerupai distopia Hunger Games, dimana rakyat terus dipaksa
bertahan hidup di arena yang diciptakan oleh kebijakan dan kelalaian penguasa
sendiri.
Inilah politik negara kita hari
ini, politik yang kehilangan denyut moral dari nadi nurani yang putus. Penuh
penguasa serakah yang tak peduli jeritan rakyat. Penuh politikus yang tega
membiarkan jalanan dipenuhi gas air mata, tetapi menutup mata pada air mata
rakyatnya sendiri.
Kalau kita bicara tentang politik
dalam kerangka negara demokrasi, bukankah semestinya harus ada keseimbangan, rakyat
sebagai pemegang kedaulatan dan pemerintah sebagai pengemban amanah. Tetapi
hari ini, yang kita saksikan justru pembalikan peran. Rakyat dianggap ancaman,
dianggap beban, bukan pemilik sah negeri ini. Kritik dipandang musuh, bukan
vitamin untuk memperbaiki sistem yang sudah kepalang rusak.
Dan di titik inilah, kita harus
berani bertanya, untuk siapa sih sesungguhnya negara ini bekerja? Apakah untuk
rakyat yang membayar pajak, yang setiap hari berjuang dengan keringat dan
darah? Ataukah untuk segelintir elite yang hanya memelihara kekuasaan seperti
memelihara harta warisan?
Demokrasi, yang dulu dielu-elukan
sebagai capaian paling monumental pascareformasi 1998, kini tinggal jargon
kosong. Kalau dulu kita punya mimpi besar tentang pemerintahan yang transparan,
partisipatif, dan berpihak pada rakyat, sekarang yang tersisa hanyalah ritual
prosedural bernama “pemilu”. Demokrasi berhenti pada bilik suara, bukan lagi
pada ruang hidup rakyat sehari-hari.
Kita menyaksikan bagaimana
kebebasan sipil dikebiri pelan-pelan. Demonstrasi mahasiswa yang mustinya jadi
“mesin moral bangsa” kini dibungkam dengan gas air mata dan pentungan.
Kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi, dijerat dengan pasal-pasal karet
UU ITE. Rakyat yang mengkritik, di-framing sebagai pembuat onar. Sementara
elite yang korup, justru dirayakan dengan karpet merah dan tanda kehormatan.
Fenomena ini tidak bisa
dilepaskan dari semakin vulgarnya praktik oligarki. Politik kita kini bukan
lagi arena ide dan gagasan, melainkan pasar gelap kepentingan. Kursi
legislatif, jabatan birokrasi, hingga posisi strategis di BUMN, semuanya bisa
dinegosiasikan. Yang menentukan tentu saja bukan kualitas, bukan integritas,
tetapi siapa yang punya modal finansial paling tebal, siapa yang punya ordal.
Kekuasaan berubah menjadi bisnis, dan negara hanyalah perseroan terbatas milik
segelintir orang.
Lebih parah lagi, hukum yang
seharusnya menjadi pagar moral dan konstitusional bangsa, kini kerap dijadikan
alat tukar. Manipulasi hukum seakan jadi hal biasa. Pasal bisa dicari untuk
menghantam lawan politik, tetapi pasal juga bisa hilang jika menyangkut kawan
sendiri. Apa yang kita saksikan belakangan ini adalah betapa hukum tidak lagi
berfungsi sebagai pedoman keadilan, melainkan senjata politik bagi siapa saja
yang memegang palu kekuasaan.
Ketika demokrasi meredup,
oligarki semakin beringas, dan hukum menjadi komoditas, maka yang hilang adalah
rasa keadilan publik. Rakyat kehilangan kepercayaan, dan itu tentu saja berbahaya.
Karena kepercayaan adalah fondasi negara. Tanpa itu, negara bisa terlihat besar
secara formal, tetapi rapuh di dalam. Dan rapuhnya negara tidak hanya soal
ekonomi atau politik, melainkan soal kehilangan arah moral.
Fenomena tergilasnya seorang
driver ojek oleh rantis negara tadi malam hanyalah simbol-simbol kecil dari
kerusakan besar yang sedang kita alami. Simbol bahwa rakyat semakin tak
dianggap, bahwa nyawa manusia bisa jadi sekadar “collateral damage” dari
politik kekuasaan. Simbol bahwa negara ini sedang sakit keras, dan para
penguasa berpura-pura tidak tahu, pura-pura dungu.
Pada akhirnya, politik bukan
hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi soal bagaimana kuasa itu digunakan.
Aristoteles pernah berkata, politik adalah jalan menuju kebaikan bersama. Namun
dalam praktik kita hari ini, politik justru semakin menjauh dari hakikatnya. Ia
kehilangan substansi moralnya, kehilangan etika publiknya, dan terjebak pada
kepentingan pragmatis yang hanya melayani segelintir elite. Sekelompok Tenryuubito.
Fenomena demokrasi yang meredup,
oligarki yang semakin vulgar, serta hukum yang dipermainkan adalah tanda-tanda
klasik dari negara yang kehilangan arah nalar publik. Politik berhenti sebagai
ruang deliberasi gagasan, dan bergeser menjadi instrumen untuk melanggengkan
dominasi. Ketika itu terjadi, rakyat hanya dilihat sebagai angka, bukan sebagai
manusia dengan hakikat kemanusiaan yang utuh.
Maka pertanyaan mendasarnya
adalah, apakah kita masih bisa menyebut diri sebagai bangsa yang demokratis
ketika rakyat tidak lagi merasa aman di hadapan negaranya sendiri? Apakah kita
masih bisa bicara tentang supremasi hukum ketika hukum itu sendiri tunduk pada
kuasa modal dan politik?
Refleksi ini membawa kita pada
sebuah kesimpulan pahit. Negeri ini tengah berjalan di jalan yang keliru. Dan
jalan keliru itu tidak bisa diluruskan hanya dengan retorika politik atau
seremoni demokrasi lima tahunan. Bangsa ini hanya bisa diselamatkan oleh mereka
yang berani secara moral, jernih dalam berpikir, dan tulus berpihak pada
rakyat. Namun bukankah itu justru utopia di tengah panggung politik yang
dipenuhi aktor dengan topeng kekuasaan?
Jika politik kehilangan moral,
hukum kehilangan keadilan, dan penguasa kehilangan rasa malu, maka pada
dasarnya yang kita saksikan hanyalah panggung besar sandiwara. Dan rakyat,
seperti driver ojek yang tergilas tadi malam, hanyalah korban yang ditinggalkan
begitu saja di balik tirai tebal kekuasaan.
No comments:
Post a Comment