Showing posts with label Drama korea. Show all posts
Showing posts with label Drama korea. Show all posts

Idol Adalah Waktu Saya

Pagi ini sambil mencuci pakaian,  saya memutar playlist lagu Lee Seunggi. Because You’re My Woman, lalu Return, kemudian Words That Are Hard to Say, Meet Someone Like Me, Im Going to The Military, Please dan White lie. Lagu-lagu yang dulu terasa begitu dekat dengan kehidupan saya. Dan tiba-tiba saja saya sadar, belasan tahun telah lewat, tapi suara diplaylist  itu masih sama. Yang berubah hanya hidup saya.

Mungkin bagi sebagian kita, seorang idol hanyalah bagian dari industri hiburan yang kebetulan melintas dalam jeda-jeda hidup kita. Tapi bagi saya, idol adalah waktu saya. Seseorang yang menemani perjalanan hidup, baik saat jatuh maupun saat bertumbuh.

Mendengar kembali lagu-lagu mereka dari belasan tahun lalu membuat saya seperti menapaki kembali hidup yang pernah saya jalani. Seolah mereka adalah bagian dari “masa muda” saya. Kadang lagu-lagu itu membuat mata saya berkaca-kaca, kadang juga membuat saya kembali bersemangat karena menyadari sudah sejauh ini saya berjalan.

Seperti Lee Seung gi misalnya. Bagi saya, Seunggi bukan sekadar penyanyi, aktor, atau entertainer. Ia adalah bagian dari jatah waktu yang saya habiskan.

Bukan sekadar wajah di layar atau suara di playlist. Ia seperti penanda musim dalam hidup saya. Ada masa ketika lagu-lagunya menemani malam-malam panjang, ada masa ketika senyumnya muncul di layar dan entah kenapa membuat hari terasa sedikit lebih ringan. Waktu berjalan, hidup berubah, saya pun tumbuh dengan cara yang mungkin tidak pernah saya bayangkan dulu. Tapi setiap kali saya kembali mendengar suaranya, rasanya seperti membuka kembali sebuah kotak kenangan yang masih utuh tersimpan.

Mungkin begitulah cara seorang idol bekerja dalam hidup seseorang. Ia tidak benar-benar hadir dalam keseharian kita, tapi anehnya ia selalu ada di latar. Menjadi semacam soundtrack yang diam-diam merekam versi diri kita di masa lalu. Dan ketika kita kembali mendengarnya, yang sebenarnya kita temui bukan hanya mereka, tetapi juga diri kita sendiri, yang pernah hidup di waktu itu.

Barangkali itulah yang membuat seorang idol tidak pernah benar-benar sekadar “idol”. Ia adalah arsip emosi. Penjaga kecil dari waktu-waktu yang pernah kita lewati. Lagu yang dulu kita dengarkan sambil menatap langit-langit kamar, drama yang kita tonton diam-diam sampai larut malam, atau senyum di layar yang tiba-tiba membuat hari yang berat terasa sedikit lebih ringan.

Dan anehnya, meskipun tahun-tahun berlalu, semuanya masih terasa dekat. Hanya dengan satu lagu, satu potongan adegan, atau satu suara yang familiar, kita bisa kembali ke masa ketika hidup terasa berbeda. Bukan karena kita ingin kembali ke masa itu, tapi karena kita menyadari bahwa masa itu pernah benar-benar ada.

Mungkin karena itu pula, bagi saya, menyukai Lee Seunggi bukan hanya tentang mengagumi seorang artis. Ini tentang mengingat siapa saya dulu, dan menyadari siapa saya sekarang. Tentang perjalanan waktu yang diam-diam berjalan, sementara di beberapa sudut kenangan, lagu-lagunya tetap terdengar sama.

Dan mungkin, tanpa pernah ia sadari, Seunggi telah menjadi semacam penanda kecil dalam hidup saya, bahwa waktu memang terus berjalan, tapi tidak semua kenangan harus ikut hilang bersamanya.

Pada akhirnya, mungkin itulah arti seorang idol dalam hidup seseorang. Bukan sekadar sosok yang kita kagumi dari jauh, tetapi seseorang yang tanpa sadar ikut berjalan di sepanjang waktu kita. Mengisi jeda-jeda yang mungkin bahkan tidak ia ketahui pernah ada.

Dan ketika suatu hari kita kembali mendengar lagu-lagu lama itu, yang kita temukan bukan hanya suara yang familiar. Kita juga menemukan kembali potongan diri kita yang dulu, yang pernah bermimpi, pernah ragu, pernah jatuh, lalu perlahan belajar berdiri lagi.

Jadi bagi saya, Lee Seunggi bukan hanya penyanyi, aktor, atau entertainer. Ia adalah penanda waktu.

Penanda bahwa saya pernah hidup di masa itu, pernah menjadi versi diri yang berbeda, dan kini masih terus berjalan, dengan kenangan yang tetap setia tinggal di belakang.

MELO MOVIE: MENCINTAI, MELEPASKAN, MELANGKAH

 

(instagram.com/netflixid)

Bagi teman-teman yang udah nonton Our Beloved Summer, pasti nggak asing lagi sama aktor “slengek an” satu ini, Choi Woo Shik. 😄

Bagi Army, Woo Shik juga bukan orang asing, ia adalah “keluarga” karena dekat dengan Taehyung BTS di Wooga Squad. Kali ini, Woo Shik jadi tokoh utama dalam serial romcom Melo Movie. Serial 10 episode ini mulai tayang di Netflix 14 februari 2025.

Awalnya saya pikir drama ini ongoing, tapi syukurnya nggak, jadi bisa langsung maraton nonton seharian. Dan apa yang bikin saya betah mantengin drama ini hingga akhir, saya akan cerita sama kalian. Tapi sebelum itu kita bahas dulu pemeran drama ini yaa..

Tokoh utama drama ini Ko Gyeom, manusia yang sangat mencintai film sejak “lahir”. Seorang yang bertekad akan menonton semua film yang dibuat di dunia ini. Suatu hari saat movie time dengan teman-temannya, Gyeom terpikir untuk melakukan sesuatu tentang hobinya itu, yap, dia akan jadi aktor, agar dunia perfilman tak kehilangan sosok berbakat seperti dirinya, namun karirnya mentok menjadi figuran saja. Gyeom ternyata tak seberbakat yang dia kira. Namun Gyeom yang hobi berada di set syuting (karena ada Mubee juga) ternyata punya bakat terpendam lainnya. Kejeliannya menilai dan mengulas film membuatnya menjadi kritikus film yang terkenal. Dia mengelola sebuah blog dan juga menjadi kritikus film sebuah majalah.

Lalu Kim Mubee, ya Mubee, Movie. Nama yang rasanya ingin sekali ia ganti. Saat bertemu Gyeom, Mubee masih kru di lokasi syuting. Namun 5 tahun kemudian, Mubee sudah memproduksi filmnya sendiri, dia sudah jadi sutradara.

(instagram.com/netflixid)

Hong Si Jun. Si pecinta musik yang kabur dari rumah yang “nyaman” demi merawat kecintaannya pada musik. Sosok yang harusnya populer disekolah karena tampan, jago maen musik dan tinggi. Tapi semua item populer yang dia punya itu seketika akan buyar saat dia mulai membuka mulutnya, dia tak bisa mengontrol kata-katanya. 😆. Si jun sebenarnya adalah sosok yang baik dan manis, hanya saja dia tak terbiasa mengungkapkan “kebaikannya”.

Son Ju A, gadis manis tinggi langsing yang selalu membuntuti Si jun sejak dibangku sekolah. Penggemar nomor satu sang pacar. Sosok yang selalu percaya Si Jun akan sukses kelak dengan musiknya.

(instagram.com/netflixid)

Ko Jun, kakak yang tak banyak cakap, yang menempatkan semua keinginan dan ambisinya untuk sang adik. Apa yang membuat adiknya bahagia, maka itulah kebahagiaan Ko Jun. Kakak yang juga berperan sebagai orang tua buat Gyeom.

(instagram.com/netflixid)

Ringan dan realistis

Buat kalian yang suka nonton drakor yang ringan-ringan aja tanpa teori ini teori itu, drama ini bisa jadi pilihan. Mungkin kalau liat judulnya, kita sempat mikir ini drama melow yang akan menguras air mata. Tapi, tidak. Meski nanti akan ada “masanya” kita dibuat termewek-mewek di episode 7 sih. Tapi percayalah, drama ini drama Romcom, Romantic Comedy. Ya Komedi Romantis. Drama ringan yang kadang bikin kita berbunga-bunga, kadang sedih, kadang geli dan kadang kesel, kayak dalam hati itu bilang “duuuh, kok cinta-cintaan bisa seribet ini yaaa...” 😂

(instagram.com/netflixid)

Pokoknya drama ini akan bawa kita naek “roller coaster”. Dibawa merasakan berdebarnya jatuh cinta, sakitnya putus dan rumitnya balikan lagi. Juga ikut merasakan frustasi tentang dua orang yang saling sayang tapi tak mungkin “bersatu” lagi.

Duh, kok saya jadi masuk karakter Ko Gyeom si pengulas film ya..hehe.

Tokoh yang menarik, plot yang kuat dan kru yang hebat

Yap, alasan pertama saya nonton drama ini tentu saja karena diperankan oleh Cho Woo Shik dan Park Bo Young. Tapi setelah nonton drama ini saya jadi lebih tertarik lagi, karena ada second couple gemes Lee Jun Young yang berperan sebagai Hong Si Jun dan Jeon So Nee yang berperan sebagai Son Ju A. Penempatan tokoh ini menarik menurut aku, karena second couplenya nggak kalah keren dari si Lead Couple. Alih-alih sebagai bumbu cerita, mereka berdua ini justru lebih “ngena” kisahnya. Lebih dalam dan rumit. Lalu ada cerita Ko Gyeom dan Abangnya Ko Jun, saya nggak nyangka akan jadi semelow ini kisah mereka berdua.

(instagram.com/netflixid)

Dan cerita menarik ini tentu saja tercipta berkat kolaborasi apik dari sutradara dan penulis naskah yang keren pula. Sutradaranya adalah Oh Choong Hwan yang pernah menggarap drakor populer Start Up (2020) dan Hotel Del Luna (2019). Sementara penulis naskahnya yaitu Lee Na Eun, yang suskes dengan Our Beloved Summer (2021).

Cinta yang “deep”

Meski sekilas terlihat klise, kisah cinta Ko Gyeom dan Kim Mubee sangat dalam dan rentan. Saya jadi teringat kata-kata Ibu Mobee, “kuharap Mubee memacari pria yang lebih simple, tapi dia malah dapat pacar yang persis dia”.

Mubee tumbuh dengan merawat kebencian pada ayah yang tak pernah “hadir” dalam kehidupannya. Ayah yang menurutnya lebih mencintai film ketimbang dirinya. Kebencian yang kadang bersisian dengan rindu dan iba pada sosok laki-laki yang harusnya menjadi cinta pertamanya. Sebuah kebencian pada sosok ayah yang dia rawat sehingga tak menyisakan ruang pada kecintaan ibu yang selalu mengusahakan hadir dalam hidupnya.

Mubee dewasa, bertemu Ko Gyeom yang melapisi kecemasan masa kecil dengan keceriaan. Ko gyeom kecil yang tumbuh tanpa orang tua, selalu bersikap baik dan ceria agar sang Abang tak pernah berpikiran meninggalkannya. Sehingga setelah dewasa, sikap itu tetap terbawa, Gyeom yang punya banyak pikiran tapi punya kesulitan mengungkapkannya.

Cinta antara orang-orang yang inner child-nya terluka ini, kadang bisa saling mengerti dan menguatkan, tapi kadang juga rentan.

(instagram.com/netflixid)

Pun begitu dengan kisah cinta Si Jun dan Ju A. Hubungan yang mereka jalin selama tujuh tahun akhirnya berujung kata putus juga. Ju A yang selalu mendampingi Si Jun akhirnya lelah sendiri. Dan memutuskan untuk fokus pada dirinya dan mengembangkan potensinya sebagai penulis naskah.

Suatu hari sebuah naskah skenario yang dibuat Ju A memaksanya untuk menemui kembali sang mantan. Di sinilah kisah mereka yang ternyata sangat dalam itu diulas dalam bentuk yang sangat manis sekaligus menyakitkan. Meski masih saling mencintai, tapi mereka sangat tahu bahwa mereka tak mungkin bersama lagi.

Yang tak kalah menarik juga, hubungan persahabatan Gyeom dan Si jun. Setelah meninggalnya Ko Jun, kakak Gyeom, Si Jun tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghibur Gyeom. Si Jun tak terbiasa menghibur orang dengan kata-kata. Chat yang berulangkali dihapusnya adalah bukti bahwa ia tak tahu harus bilang apa. Tapi Si Jun tak salah, apa yang harus dikatakan pada orang yang kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya.

Dan Si Jun menemukan caranya sendiri. Diam-diam membawa perlengkapan untuk Gyeom yang tidur di dalam mobil karena tak sanggup tidur dalam rumah yang kosong tanpa abangnya. Setiap pagi membersihkan mobil Gyeom yang penuh dengan kaleng-kaleng bir, membawakannya pelembab udara dan sebagainya. Tentu saja Gyeom menyadari hal itu, dia sudah mengenal sahabatnya itu sejak di bangku sekolah.  

Memeluk inner child dan melangkah ke depan

Drama ini mengajarkan kita tentang menerima dan melepaskan dengan jujur. Berani mengakui luka dan berdamai dengan diri sendiri. Memeluk “si kecil” yang terluka dalam diri kita masing-masing.

Melo Movie bukan sekadar kisah romansa biasa. Ini adalah cerita tentang mereka yang jatuh cinta, berjuang mengejar mimpi, dan berusaha berdamai dengan masa lalu. Dari Ko Gyeom, si kritikus film yang dulu bercita-cita menjadi aktor, hingga Kim Mubee, sutradara berbakat yang tumbuh dengan luka masa kecilnya, drama ini menghadirkan perjalanan emosional yang realistis, hangat, dan penuh makna.

(instagram.com/netflixid)

Sebuah serial drama yang akan membuat kita tertawa, menangis, sekaligus merenung: tentang cinta, kehilangan, dan cara kita memeluk masa lalu untuk melangkah ke depan.

Jadi, apa drama ini layak mendapatkan waktu berharga dan perhatian kita? Sangat layak. Selamat menonton.

THE TRAUMA CODE: HEROES ON CALL Drama Medis yang Mengetuk Hati dan Memacu Adrenalin

Instagram : netflixid
Minggu ini sedang seru-serunya ngomongin drama korea yang satu ini. Dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan musibah-musibah yang tak terduga, drama yang tayang di Netflix ini menyajikan pandangan yang bermakna dan mendalam tentang hal yang kadang luput dari fokus kita, penanganan trauma. Bagi “alumni” Doldam, drakor Dr. Romantic, yang sudah khatam season 1 sampai season 3, fasilitas trauma center pasti sudah kebayang gambarannya. Pusat layanan trauma itu sendiri adalah fasilitas yang menyediakan perawatan khusus di luar cakupan perawatan IGD bagi pasien dengan trauma fatal.

Ya, meski bukan drakor pertama yang bercerita tentang pusat penanganan trauma, tapi drama ini sukses mengambil hati penonton dengan alur yang memikat, menarik juga menyentuh. Alurnya yang menyajikan beberapa genre seperti komedi dan aksi menjadikan drama ini semakin menghipnotis untuk lanjut menonton episode demi episode.

Tak hanya memacu adrenalin saat menyaksikan adegan-adegan heroik si dokter jenius Baek Kang Hyuk dan bromance-nya dr. Yang Jae Won saat menghadapi kasus-kasus kritis, nurani kita juga disentuh dengan melihat lebih dalam perasaan, pengorbanan, dan keberanian yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa di tengah situasi paling menegangkan.

Yuk kita spoiler dikit, biar kamu punya banyak alasan kenapa drakor The Trauma Code : Heroes On Call ini worth it untuk kamu tonton.

Hadirnya si Dokter ugal-ugalan

Buruknya penanganan pasien trauma fatal di rumah sakit ternama di Seoul, menyebabkan 13 orang meninggal dunia tahun itu karena tidak mendapat penanganan darurat yang memadai dari pusat penanganan trauma. Hal itu menjadi keresahan tersendiri bagi masyarakat Seoul. Kegelisahan tersebut membuat masyarakat meminta langkah yang konkrit dari pemerintah khususnya kementerian kesehatan.

Hal ini memicu kemarahan ibu mentri kesehatan ketika rapat bersama para kepala Rumah Sakit ternama di Seoul. Dana 10 milyar won yang sudah digelontorkan kementerian pada Rumah Sakit Universitas Hankuk hanya berbuah fasilitas yang berupa formalitas saja, tidak berfungsi dan terabaikan.

Instagram : netflixid

Dalam situasi ini, ibu mentri akhirnya memulangkan seorang dokter “trantrum” dari tempat kerja sukarelanya di Sudan. Joo Ji Hoon yang berperan sebagai Baek Kang Hyuk, ahli traumatologi dengan kepribadian keras kepala namun jenius, pulang disambut pasien trauma yang mengharuskannya langsung masuk ruang operasi dan terlambat ke pertemuan penyambutannya. Di episode ini lah ia bertemu dengan si “anus” doktor spesialis kolorektal, Yang Jae Won, yang kemudian menjadi "budak nomor 1" dan kepala perawat cantik, Cheon Jang Mi si “Gangster” yang kemudian hari menjadi "budak nomor 2". Lalu siapa "budak nomor 3?", nanti kamu bakal tau juga..Wkwkkwk. 😂

Kelahiran Murid Pertama

Pertemuan dr. Baek dengan dr. Yang membuat koneksi tersendiri antara mereka. Si cerdas mahasiswa terbaik dan penerima beasiswa penuh Fakultas kedokteran Universitas Hankuk itu dipinang menjadi murid pertama oleh dr. Baek. Tentu saja Jae won galau memilih antara tetap menjadi murid “pak kabag” yang punya banyak sertifikat dan predikat atau beralih menjadi murid dokter trantrum yang punya segudang pengalaman.

Instagram : netflix
Terus Berjuang

Meski sudah menjadi “zombie” saking lelahnya menghandle trauma center berdua sama dokter Baek, Jae won tetap bertekad untuk terus “berlari”. Puncaknya, terjadi kecelakaan beruntun di sebuah terowongan, kakak adik yang sedang dalam perjalanan untuk menemui ayah mereka yang sedang sekarat di Rumah sakit menjadi korbannya. Kakak adik yang terluka parah itu akhirnya menerima tranplantasi organ masing-masih dari ayah mereka.

Instagram : netflixid

Terjadi pada siapa saja

Yap, namanya musibah bisa saja terjadi pada siapa saja.  Qodarullah kali ini menimpa putri kesayangan dr. Han Yoo Rim yang sedang berseteru dengan dr. Baek Kang Hyuk. Dokter Han yang sedang diatas angin pada rapat kepala-kepala bagian Rumah Sakit, mencerca habis-habisan dr. Baek karena defisit anggaran pusat trauma saat dering HPnya berbunyi mengabarkan Han Ji young, putrinya, mengalami kecelakaan fatal dan harus segera ditangani di pusat penanganan trauma. 

Instagram : netflixid

Kode Hitam

Sebuah kecelakaan besar terjadi di sebuah jembatan yang menelan korban ratusan orang di atas maupun di bawah jembatan. dr. Baek Kang Hyuk langsung ke TKP dan nge-triage korban sesuai kode merah, kuning, hijau dan hitam. Di tengah hiruk pikuk inilah Jae won dipercaya untuk melakukan operasi pertamanya. Dalam episode ini juga dijelaskan bahwa tiga pasien dengan cedera parah akhirnya berhasil diselamatkan berkat bantuan cepat si dokter jenius, Baek Kang Hyuk.

Instagram : netflixid

Alasan untuk tidak menyerah

Meski politik kotor Rumah sakit tetap berlanjut, dr. Baek tetap fokus menangani pasien di pusat trauma. Hal ini akhirnya juga menginspirasi dr. Yang Jae Won untuk menemukan alasan untuk tidak menyerah membantu pasien. “itu karena kalian bisa. Karena kalian bisa, jadi kenapa tidak!. Melihatmu, rasanya seperti melihat diriku yang dulu. Dahulu, “kenapa aku harus kerja sekeras ini, toh tak ada yang sadar”, aku sering berpikir begitu. Tetapi, tujuan kita bukan minta pengakuan, bukan juga minta kompensasi. Apa aku menjadi kepala perawat selama lima tahun di pusat trauma karena aku pahlawan super? Karena harus kulakukan. Harus ada yang melakukannya, dan kebetulan aku orangnya. Dan sialnya, kau juga orangnya”, ujar kepala perawat Cheon Jang Mi suatu ketika pada Jae won.

SOS dari Sudan Selatan

Anggota unit Hanbit di Sudan Selatan terjebak baku tembak. Sebelas anggota asosiasi medis yang melakukan kegiatan bantuan dan medis hampir diculik oleh kelompok bersenjata. Namun prajurit uni Hanbit sekaligus anggota militer PBB, yang sedang melakukan rekonstruksi jalan di sana, melakukan operasi penyelamatan. Namun dalam prosesnya, Kapten Lee Hyeon Jong dari uni Hanbit terluka tembak dan dikabarkan kritis. Menteri Kesehatan menelepon dr. Baek untuk membawa timnya menyelamatkan Kapten Lee Hyeon Jong. Dan seperti yang kalian tebak, dr. Baek berangkat bersama 3 “budak”nya :D. Budak Nomor 1, budak nomor dua, dan dr. Park si dokter anestesi.

Pasien: Baek Kang Hyuk

Saat kembali dari Sudan Selatan dengan selamat, sebuah kebakaran besar terjadi. dr. Baek langsung menuju lokasi. Malangnya, di gedung yang kebakaran ada sebuah unit yang menjual gas medis. Ditengah kebakaran terjadi ledakan besar yang membuat dokter spesialis trauma ini harus dilarikan ke tempat kerjanya sebagai pasien. Nyama dr. Baik ada ditangan muridnya. Berhasilkah dokter trantrum ini siuman dan menyumpah “shibal sekiya” kembali?

Secara keseluruhan, drama ini berhasil menggambarkan situasi di pusat trauma dengan realistis. Drama yang diadoptasi dari webtoon Severe Trauma Center: Golden Hour karya Hansaiga ini worth it untuk kamu tonton. Silahkan dilanjut di Netflix ya Yeorobun 😀. Annyeoooong... 

*semua foto dari Instagram : netflixid

Queen of Tears

 

Drama korea Queen of Tears berakhir dengan rating tertinggi 24,9 %. Rating ini tercatat sebagai rekor tertinggi drama korea yang tayang di stasiun TV tvN. Sebagai pecinta drakor, alasan utama saya menonton drama ini tentu saja karena aktornya. Comeback akting aktor termahal Kim Soo hyun.

Saya mengenal Kim Soo Hyun sejak drama Dream High yang ia bintangi Bersama Suzy, IU dan aktor lainnya. Siapa sangka setelah waktu berlalu ia menjadi aktor termahal dengan akting yang memukau. Drama yang digarap oleh dua sutradara, yaitu Jang Young-woo dan Kim Hee-won ini juga menampilkan Kim Ji won. Meski udah tau Kim Ji won sejak drama The Heirs 2013 lalu, namun aktingnya di drama Descendants of The Sun pada 2016 lah yang bikin saya jatuh hati pada aktris cantik ini.

Seperti drama romance pada umumnya, kisah yang ditampilnya cukup sederhana. Namun seperti biasa, salah satu daya tarik drakor adalah mampu menyajikan kisah yang sederhana menjadi sangat dalam dan bermakna.

Kisah ini menceritakan seorang Baek Hyun woo yang diperankan oleh Kim Soo-hyun. Sosok lelaki sempurna yang sebenarnya sulit ada di dunia nyata. Hehehe. Tampan, Mapan, Cerdas, Pintar, Pengacara jebolan SNU, atlet tinju, jago renang, anak kepala desa dan juragan pir yang cukup di hormati di kampung halamannya plus baik hati dan bucin pula. Baek Hyun woo memulai karir pengacaranya di perusahaan Queens Group. Perusahaan tempat ia bertemu dan jatuh cinta pada Hong Hae in, anak magang yang suka menendang mesin fotokopi, sering dimarahi dan mengalami kesulitan yang ternyata adalah cucu pemilik perusahaan.

Kisah cinta itu membawa mereka pada sebuah pernikahan yang membuat iri banyak orang. Pernikahan ini menambah kesempurnaan seorang Baek Hyun woo yang disebut-sebut bak cinderella versi cowok. 3 tahun menikah, hubungan itu sepertinya tak terselamatkan lagi. Dan Hyun woo berniat untuk menggugat cerai istrinya. Usut punya usut, ternyata bukan tekanan dari keluarga Hae in yang membuat Hyun woo ingin menyerah, tapi hubungan dingin dengan istrinyalah yang membuat Hyun woo merasa bahwa perceraian adalah jalan yang tepat buatnya untuk terbebas dari istri dan keluarganya.

Cerita itu dimulai dari sebuah kebahagian saat  Hae in dinyatakan hamil 3 bulan. Namun kebahagian tersebut tak berlangsung lama. Hae in keguguran dan kehilangan buah hatinya. Namun alih-alih berpelukan dan merasa sedih bersama, Hae in dan Hyun wo memilih cara lain menutupi kesedihan mereka. Hae in memilih mengosongkan kamar bayi yang sudah mereka dekorasi, dan Hyun wo merasa marah saat Hae in melakukan itu, dan malah pindah kamar tersebut. Sejak itu hubungan mereka jadi terkesan dingin dan berjarak.

Membahas drama ini rasanya nggak lengkap tanpa membahas latar belakang tokoh-tokohnya. Yuk kita kuliti satu persatu.

Hong Hae in

Cewek cantik pintar nan keren ini sebenarnya adalah sosok yang kesepian. Ingat nggak saat bulan madu di Jerman, saat mereka jalan-jalan di taman yang berdekatan dengan area pemakaman. Hae in bilang ”aku mau dimakamkan di tempat yang ramai, biar aku nggak ngerasa sendirian”. Hae in yang selama hidupnya apa-apa dilakukan sendirian, tak ingin sampai akhir hidupnya juga seperti itu. Sikap Hae in yang dingin dan kesepian ini sebenarnya  tak terlepas dari peran ibunya yang membencinya sejak kecil,  sejak kakak laki-lakinya meninggal dunia. Sang Ibu menyalahkan Hae in sebagai penyebabnya. Hingga puluhan tahun sang ibu membenci dan tak memberinya kasih sayang. Uluran tangan Hae in kecil, selalu ditepis ibunya. Hae in tumbuh tanpa pelukan, dengan rasa bersalah, kesepian dan tanpa kasih seorang ibu. Bahkan saat dia berusaha memberitahu ibunya bahwa dia sedang sakit, ibunya bilang ”kalau kamu punya masalah, pasti bisa mengatasi sendiri, selama ini kamu kuat dan bisa beresin banyak hal sendirian”. Hae in jadi terbiasa tidak mengungkapkan perasaannya dan merasa kosong sendirian. Ia tumbuh dengan dengan tuduhan penyebab kematian kakaknya dan dianggap saingan oleh orang-orang sekitarnya. Dari luar Hae in kelihatan tumbuh dengan baik. Tapi secara psikologis Hae in adalah cangkang yang kosong. Hingga nggak aneh kalau setelah dewasa, Hae in jadi sulit menunjukkan perasaannya sendiri, karena ngerasa hanya bisa bergantung dan ngandalin dirinya sendiri. Buat komunikasi aja dia gengsi. Menunjukkan sedih saat kehilangan buah hati saja dia tidak mau. ”Daripada mengetuk pintumu dan berbicara, aku memilih diam dan membencimu”, Hae in mengakui perasaannya di kemudian hari. Untungnya Hae in ketemu cowok green flag Baek Hyun woo yang tumbuh dengan utuh.

Baek Hyun woo

Bertolak belakang dengan Hae in, pengacara berbakat Baek Hyun Woo, dibesarkan dengan pelukan dan kasih sayang dari Ayah, Ibu dan kedua kakaknya. Dibesarkan dalam keluarga yang hangat, diapresiasi semua pencapaiannya dan dipuk-puk punggungnya saat iya punya masalah atau kalah. Oleh kehangatan itu, Hyun woo tumbuh menjadi orang yang percaya diri dan baik hati.

Yoon Eun sung

Yoon Eun sung atau David Yoon yang diperankan oleh Park Sung hoon memiliki masa lalu panjang dengan Hae in. Eun sung merupakan mantan analis Wall Street yang berbakat dalam urusan merger dan akuisisi. Suatu hari, Yoon Eun sung memutuskan pulang ke Korea dan melanjutkan karier sebagai investor.

Tokoh antagonis nan nyebelin ini awalnya hanya seorang anak laki-laki polos yang ditinggal ibunya di panti asuhan. Ibunya meninggalkan Eun sung kecil demi uang. Demi mengejar ambisinya untuk menguasai uang konglomerat kaya yang menjadikannya pasangan tidak sah konglomerat tersebut. Eun sung akhirnya tumbuh dengan luka, trauma, penantian dan haus akan kasih seorang ibu dan dengan pemikiran bahwa uang adalah segalanya, uang akan membawa ibu kembali padanya. Namun saat uang ternyata tak mampu untuk meraih Hae in, Eun sung menemukan ”gong” nya. Bagi Eun sung, ditinggalkan dan tak dicintai adalah trauma yang mendalam. Diakhir episode ia malah tega menembak Hae in, wanita yang dicintainya, dan ingin membawanya pergi meski dalam keadaan tidak bernyawa sekalipun. Meski menyebalkan, Eun Sung sebenarnya sangat menyedihkan.

Hong Soo Cheol dan Cheon Da Hye

Hong soo Cheol tumbuh dengan dimanja oleh Ibunya. Apa-apa nggak boleh karena takut Soo Cheol terluka. Sampai akhirnya ia malah baru belajar mengendarai sepeda saat sudah punya anak dan ingin anaknya belajar sepeda dari dia. Karena selalu dilindungi, meskipun berakhlak baik, Soo Cheol tumbuh menjadi orang yang mudah dibohongi. Da Hye tumbuh di panti asuhan tanpa bimbingan orang tua. Meski akhirnya ia kembali pada Soo Cheol, Da Hye sempat tergelincir kehilangan arah.

Drama ini mengajarkan banyak hal pada kita. Peran orang tua, terutama Ibu berpengaruh besar dalam tumbuh kembang anaknya. Bahwa apapun itu, emosi sayang, senang, sedih, marah, kecewa, ya ungkapin aja, apalagi sama suami sendiri. Bahwa komunikasi adalah kunci utama dalam membina rumah tangga.

SAFE FLIGHT OUR ASTRONAUT

Jin BTS memulai wamilnya kemarin. Berkumpul dengan 200 orang lainnya di Yeoncheon untuk menjalani pelatihan terlebih dahulu di divisi garis depan atau "front-line center”. Posko wamil di Provinsi Gyeonggi ini terkenal sebagai salah satu pos yang berdekatan dengan Korea Utara. Diantar para dongsaeng dengan mata sembab, diiringi do’a dan pinta Army agar Jin aman dan selalu sehat.

Sebagai bagian dari Army, tentu saja saya ikut terbawa suasana gado-gado kemaren. Perasaan sedih, haru, berasa ada yang hilang, bercampur aduk jadi satu dengan perasaan senang karena Jin sedang memenuhi panggilan negaranya. Juga senang liat K-Army nurut banget sama ucapan jin yang minta mereka nggak ikut ngantar. Army emang selevel idolanya.

Bangtan nggak sekedar idol buat Army. Mereka sebenarnya adalah supporter-penyemangat, penyembuh, dan pengembira bagi banyak Army.

Lagu-lagu mereka tak hanya membahagiakan, lirik-liriknya yang luar biasa juga mengajarkan banyak hal. Jangan bersedih, mencintai diri kita sendiri, melangkah lebih hebat dan banyak hal baik lainnya yang bisa dipetik dari buah karya mereka.

------------------------------------------------------------

“Gwaenchanha ja hana dul set hamyeon ijeo seulpeun gieok modu jiwo nae soneul japgo useo, It’s alright, now count 1, 2, 3, and forget. Erase all sad memories, hold my hand and smile’ artinya ‘Ini baik-baik saja, sekarang berhitung 1, 2, 3, dan lupakan. Hapus semua ingatan menyedihkan, pegang tanganku dan tersenyum” - two! Three!

“Naragal su eopseum ttwieo, twieogal su eopseum georeo,Today we will survive, georeogal su eopseum gieo. “If you can’t fly, run. If you can’t run, walk. Today, we will survive”, artinya “Kalau kamu tidak bisa terbang, lari. Kalau kamu tidak bisa lari, jalan. Hari ini, kita akan berjuang” – Not Today

 “Ijeya kkaedala so I love me. I realize only now, so I love me”, artinya “sekarang aku sadar, jadi aku mencintai diriku” - Epiphany

“Jeoldae jjolji mara, Nuga mworaedo neon gwaenchanha, Don’t ever be scared, whatever people say, you’re okay”, artinya “Jangan pernah menjadi takut, apa yang orang katakan, kamu baik-baik saja”. “Ganghae neoneun marya, You are strong, you say yes or no’, artinya “Kamu kuat, kamu katakan iya atau tidak” - 21st Century Girls

“Deoneun namui kkume gatyeo salji ma, Don’t be trapped in someone else’s dream” artinya “Jangan terperangkap dalam mimpi orang lain”- N.O

 ‘I’m learning how to love myself. Ppajim-eobs-i namgim-eobs-i modu da na, with no exception, it’s all me’, artinya “Aku sedang belajar untuk mencintai diri sendiri. Tanpa alasan, ini aku” – Love My Self

“Meomchwoseodo gwaenchanha, Amu iyudo moleuneun chae dallil pilyo eobseo. It’s okay to stop. You do not have to run without knowing why”, artinya “Tidak apa-apa untuk berhenti. Kamu tidak perlu lari tanpa tahu kenapa”- Paradise

“Naega nain ge silheun nal yeong-yeong salajigo sipeun nal, Days when you hate that you’re you, days when you wanna disappear” artinya “Hari ketika kamu membenci dirimu, itu adalah hari ketika kamu akan menghilang” – Magic Shop

“Ni kkumul ttaraga like Breaker. Follow your dram like breaker”, artinya “Ikuti mimpimu seperti gelombang”- Tomorow

“I do what I do, geunikka neon neona jalhashyeo, I do what I do, so mind your own business”, artinya “Aku lakukan apa yang ku lakukan, jadi pikirkan urusanmu sendiri”- Idol

------------------------------------------------

Daaaaan..masih banyak lirik keren lainnya, ya kan my. :D

Kepribadian member Bangtan juga nggak kaleng-kaleng. Ada IQ 148 yang tersimpan di otak sang leader, RM. Kecerdasan dan gaya leadershipnya yang hebat, patut diajungin jempol dan dicontoh oleh Army. Bahkan Jin sebagai Hyung tertua menaruh hormat pada sang leader. Pecinta buku dan lukisan, yang suka riset segala sebelum bikin lagu.

Jin, si kakak pertama. Si pekerja keras yang berlatih dua kali lebih banyak dari member lain. Jin adalah sosok yang logis, tenang, mudah beradaptasi dan fokus. Pantes aja hobinya mancing walau sering nggak berhasil. Yang hobi masak, suka makan dan pintar maen game.

Si periang J-Hope, tak hanya the best dancer, tapi juga si cerah yang mudah tertawa meski karena hal-hal kecil saja. Bagi saya, hobi tu kayak seorang teman yang dia tuh pengertian banget dan selalu jadi andalan buat nemenin kesana-sini. Yang selalu bilang, “oke, kemana kita?”. Kakak yang pengertian, yang suka ngasih hadiah dan selalu jadi teman plus Hyung buat adik-adiknya.

Si Minstradamus, Suga. Meski terkesan cuek, Suga adalah pria yang berhati hangat dan bisa diandalkan. Nggak cuma jago nyanyi, ngedance dan nulis lagu, Suga juga jago masak buat Hyung, teman dan adik-adiknya. Si pekerja keras yang kadang terlalu keras pada dirinya sendiri, yang sering dinasehati Jin, kalau dia udah melalukan yang terbaik. Dan itu udah lebih dari cukup.

Jimin, ChimChim sang Malaikat baik hati, tombol tawanya J-Hope. Nggak cuma memiliki suara emas, Jimin juga berhati emas. Si tukang penawar bantuan, tukang cek panggung sebelum perform memastikan semua member tampil dengan aman. Alih-alih mendo’akan dirinya sendiri saat tahun baru, dia malah berharap semua hal-hal baik terjadi dalam hidup para member.

Taehyung, si Veautiful. Pemilik kepribadian 4D. Si unik yang memborong semua tipe kecerdasan dalam dirinya. Ide-ide cerdas dan uniknya sering membuat member lain ternganga. Si yang paling modis. Kadang paling polos.

Jungkook, si golden maknae yang nggak cuma tampan, bersuara emas, jago nge-dance, jago melukis dan pemegang sabuk hitam taekwondo saja, tapi juga kesayangan abang-abangnya yang juga balik menjaga mereka. Si yang paling sayang sama Jin. Yang paling Jin kawatirkan saat dia mau wamil. Si bontot multitalenta kesayangan semua.

------------------------------------------------------

13 Desember 2022. Tepat sembilan hari setelah Jin berusia 30 tahun, Jin harus menghabiskan musim dinginnya di tempat pelatihan. Jin yang tak suka dingin, tentu saja membuat member dan Army khawatir. Tapi semua percaya, Jin lebih kuat dari dugaan kita, bukan. Jin yang selama ini melakukan latihan dua kali lebih banyak dari orang lain pasti bisa melaluinya dengan sehat dan aman. Kita harus percaya.

Selamat menjalani wamil, Astronot kami tersayang. Sampai kita berjumpa lagi The moon-nya Army. Kami akan mulai menabung rindu, Jin. Baik-baik disana. Kami berharap kau selalu sehat, bahagia dan kembali dengan aman dan lebih dewasa.


JINsimeuro Saranghaeeee…💜💜💜


SEOUL VIBE: BALAPAN DENGAN SUASANA RETRO

 

Korea Selatan, lagi-lagi tak mengecewakan dengan karya-karya industri hiburan mereka. Tak hanya drakor yang bertabur kisah-kisah dan alur yang menarik untuk ditunggu dan ditonton setiap minggunya, K-movie juga menyuguhkan tayangan yang tak kalah memikat. Film-film seperti “Parasite” yang menyabet piala Oscar, Money Heist, hingga Extreme Job yang membuat melongo dan mengocok perut. Minggu lalu, Seoul Vibe pun, menarik perhatian hingga tranding di Netflix.

Bak The Fast and The Furious versi Korea, Seoul Vibe menyuguhkan tanyangan yang cukup ringan dengan latar retro tahun 80-an.

Ceritanya berlatar belakang tahun 1988, saat Korea Selatan, khususnya Seoul sedang menyambut Olimpiade Seoul. Gegap gempita demokrasi dan tren barat mengalir deras ke Seoul. Mcdonald’s, Coca-cola dan mode membanjiri Seoul saat Yoo Ah In (Dong Wook) dan Ong Seong Wu (Joon Gi) kembali dari perjalanan mereka sebagai pengemudi untuk pengedar senjata illegal di Arab Saudi.

Film ini mengkisahkan impian Dong Wook untuk menjadi pembalap professional di New York. Di Seoul, mereka memiliki bengkel Sanggye Supreme Team yang berisikan Dong wook (Yoo Ah in) leader tim penggemar Knight Rider, Woo Sam (Go Kyung Po) DJ tampan dan gila yang lulus universitas, Joon Gi (Ong Seong Wu) maknae MacGiver si mekanik jenius, Bok Nam (Lee kyu Hyung) sopir taksi dengan dandanan trendi yang sangat hafal semua sudut kota Seoul, dan Yoon Hee (Park Ju hyun) Pembalap motor yang cantik dan banyak akal, penyuka drift dan balapan.

Setelah kembali ke Seoul dan berkumpul kembali dengan timnya, Dong Wook dan tim digerebek oleh Jaksa Ahn (Oh Jung Se) dan diancam dengan berbagai hukuman yang akan masing-masing mereka terima akibat berbagai ulah yang sudah mereka perbuat sejak musim panas lalu. Catatan criminal seperti: transaksi illegal di Dongducheon, mengangkut barang berbahaya di luar negeri, melanggar undang-undang valuta asing, mengirim uang dari Arab Saudi ke rekening ibu mereka di Amerika dan ibunya juga menukar mata uang secara illegal di sana, memodifikasi kendaraan illegal, menjadi sopir taksi illegal yang tak membayar pajak, kebiasaan berkencan yang tercela, dan malah Joon Gi juga dihukum karena bertemu dengan saudara yang salah. wkwkkw.

Tapi Jaksa Ahn berjanji tidak akan memperkarakan mereka, jika mereka sepakat untuk bekerja sama dengan sang jaksa. Jika kesepatan mereka sukses, jaksa Ahn berjanji akan membebaskan semua tuntutan mereka dan mengurus visa mereka menuju Amerika.

Antara terpaksa dan takut, akhirnya mereka sepakat akan membantu jaksa Ahn. Target mereka adalah Kang In Sook, Presdir Industri rentenir, orang paling kuat kedua di Korea. Presdir Kang memiliki bawahan Lee Hyein Gyun, Mantan Mayor yang “gila” cara kekerasan ala militer. Keduanya mengelola dana rahasia rezim sebelumnya.

Baru-baru ini semua kurir yang bekerja untuk mereka tertangkap dan akan memilih kurir baru. Jaksa Ahn ingin Dong Wook dan Tim yang akan menjadi kurir pengangkut uang yang akan dicuci oleh presdir Kang sekaligus menjadi mata-mata Jaksa Ahn.

Untuk menjadi kurir, semua pembalap akan dites. Jika mereka lulus tes, maka perkara Arab Saudi akan beres. Dan Catatan kriminal lainnya akan dibereskan setelah mereka menemukan buku rekening dana rahasia sang diktator.

Alur cerita yang menegangkan, kocak dan unik akan kalian temukan sepanjang film ini. Film berdurasi 138 menit ini adalah film yang cocok untuk kalian tonton diakhir pekan. 

Disutradarai oleh Hyung Sung Moon, film ini menyajikan genre laga komedi luar biasa dan sangat menghibur.  Oiya, bagi Inner Circle, fandom Winner, debut Song Mino sebagai bintang film dengan karakter Galchi wajib kalian tonton. Till then Happy Watching!!

HOMETOWN CHA CHA CHA: DRAMA HEALING TENTANG “RUMAH” UNTUK “PULANG”

           

           Berakhir dengan rating 12,7% tadi malam, rekor tertinggi sejak penayangannya, drama korea romantis ini sukses bikin sebungkus tissue di meja berkurang setengahnya. Cry..cry..cry. But, thank you tvN, thank you writer-nim, PD-nim, thank you para cast, thank you para kru, atas tayangan yang hangat, menyentuh dan mempotekkan hati ini. Beuh, ini bukan sambutan pemenang nominasi ya, hanya segelintir ucapan “pemirsa” yang bahkan tak akan pernah sampai pada mereka yang terlibat langsung dalam produksi drama luar biasa ini.

Tak hanya pasangan ShikHye yang bikin baper, satu persatu warga Gongjin, memberikan pelajaran yang sangat bermakna dalam setiap scenenya. Drama sederhana yang sepertinya akan singgah lama dalam ingatan.

Drama ini bercerita dengan “bahasa” yang sederhana tentang “rumah dan orang-orang tersayang yang berada di bawah atapnya”. Hometown, kampung halaman, selalu punya tempat yang hangat disetiap sudut hati kita. “Rumah” tempat pulang, “rumah” tempat menyembuhkan goresan-goresan luka yang kau dapat dari bertarung dengan hidup. Bahkan meski orang-orang di “rumah” itupun punya luka mereka masing-masing. Di sudut “rumah” itu, kau selalu punya tempat untuk menangis dan tersedu.

Drama ini juga mengingatkan banyak hal yang sering terlupakan oleh kita yang selalu sibuk menakar diri dengan timbangan orang lain. “hidup itu tak seperti matematika. Tak ada jawaban dan cara menghitung paling benar. Kita hanya diberi soal, lalu penyelesaiannya terserah kita”, ucap Du sik suatu hari di sebuah kedai makan pada Hye jin.

Scene demi scene drama ini menghangatkan hati. Belajar, bahwa hidup selalu tak sama bagi setiap orang. “Ada yang jalannya penuhnya lubang dan ada pula yang berlari sekuat tenaga, tepi tetap menemui jurang di ujung jalan”. Setiap orang punya pertarungannya masing-masing, dan kita tidak punya hak menghakimi atau merasa diri lebih hebat dari mereka.

Lewat quote-quote nya, Hometown cha cha cha menelanjangi kita sebagai manusia yang kerap lupa hakikat dirinya. Meski bukan kalimat filosofis yang terdengar elegan, quote sederhana dengan bahasa yang spontan pun sukses bikin jleb hati kita. “aku memang tak sempurna, tapi kau pun sama”. Tuh kan, ngena banget.

Pada episode kedua drama ini, kita disuguhkan potret-potret luka setiap orang. Hye jin menarasikannya dengan “setiap orang pasti punya penyesalan dalam hidupnya”. Perceraian Chang yeong guk dan Yeo hwa jeong, Jo nam sook yang sempat “gila” karena kehilangan putri kecilnya, Oh yoon, pemilik kedai kopi yang tak bahkan bisa menyeduh kopi, masih tenggelam dengan masa lalunya sebagai penyanyi. Dan Du sik sendiri yang masih menyimpan setelan hitam dengan mimpi-mimpi mengerikan yang membuatnya mengunjungi psikiater beberapa kali.

Drama ini juga mengingatkan kita dengan hakikat manusiawi kita, bahwa setiap kita, pernah melakukan kesalahan, tapi semua akan baik-baik saja. Hye Jin pernah melakukan kesalahan yang membuat semua warga Gongjin membencinya.

Saat baru pertama membuka praktek dokter giginya di Gongjin, Hye Jin adalah gadis Seol yang perfeksionis dan blak-blakan dengan pandangannya tentang orang lain. Merasa diri lulusan kedokteran gigi yang cukup bergengsi, Hye Jin sempat memandang rendah orang lain. Dia terang-terangan membeberkan “luka” Oh yoon pada sahabatnya Mi seon lewat telepon yang sialnya terekam mikrofon acara yang masih menyala. Semua warga Gongjin mendengarnya. Du sik menghampirinya, dan mengatakan setiap orang wajar melakukan kesalahan, tapi juga harus diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. “Setelah kupikir-pikir, setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Lagipula, waktu itu kau tak tahu mikrofonnya menyala. Setiap orang pasti pernah membicarakan orang lain. Tak apa-apa, jangan kawatir. Sekarangpun semua orang di sini pasti sedang membicarakan keburukanmu. Jadi, anggap aja impas. Mulai kini, kau hanya perlu bersikap baik”.

Adegan kepindahan Hye Jin ke Gongjin mengajarkan kita banyak hal tentang beradaptasi dan berbaur. Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Gongjin bukan Seol. Dan Hye Jin harus menyadari hal itu jika ingin menetap di sana. “Menyebalkan “, ungkap Hye Jin kesal. “Kau sendiri yang memilih tinggal di tempat menyebalkan ini. Jadi, mulailah untuk belajar beradaptasi”, balas Du sik.

Di episode kelima sepulang memberi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut di sebuah sekolah SD, Du sik mengajak Hye Jin makan dan hujan-hujanan. Hye jin sebenarnya sangat membenci basah dan lepek, dia selalu punya payung dalam tasnya. Tapi Du sik berkata padanya “kau akan tetap basah walaupun memakai payung. Tak perlu banyak berpikir dan terjang saja hujannya”. Du sik mengingatkan Hye jin bahwa saat ada masalah yang menghampiri, kita hanya perlu menghadapinya dengan berani. Jangan kabur dan tetap hadapi.

Saat memastikan Du sik yang tenyata Lulusan Seoul National University, Hye Jin bertanya kenapa Du sik tidak berkarir sesuai gelarnya. “Sudut pandangmu terlalu sempit. Banyak hal yang lebih penting daripada uang dan kesuksesan di dunia ini”. Maksud Du sik, ada begitu banyak hal yang bisa menjadi sumber kebahagiaan seseorang, tidak selalu harta dan kesuksesan.

Episode kelima juga menghadirkan second lade Ji Seong Hyun (Ji PD). Produser acara ragam yang kurang pandai membaca peta dan selalu tersesat. Namun kecerobohannya itu sering kali membawanya ke tempat tak terduga yang malah membuatnya bahagia. Kali ini dia tersesat ke Gongjin, bertemu Du sik, Hye Jin cinta pertamanya dan memutuskan syuting variety show garapannya di sana.

Lalu, meski pada akhirnya Pyo Mi seon, sahabatnya Hye Jin bikin gemes penonton di episode terakhir karena memacari Misteri ke 3 Gongjin (hehe..kalian bisa tonton detailya di episode terakhir), Mi soen adalah gambaran teman yang baik. Persahabatan keduanya hangat dan menggemaskan.

Sebagai seorang Ibu, scene parenting Yeo Hwa Jeong terhadap anaknya Jang Yi Joon, sangat mempotekkan hati. “Tapi, I joon-a, Ibu mengizinkan memelihara landak, bukan karena kau mendapat penghargaan, Ibu izinkan karena kau mau memeliharanya. Pesta ini pun bukan karena kau mendapat peghargaan. I jun, mendapatkan penghargaan adalah hal yang bagus. Tapi walaupun kau tak menjadi juara, kita tetap akan berpesta. Pesta ini untuk merayakan usaha kerasmu. Menurut ibu, usaha keras lebih penting daripada hasil akhirnya”. “itu benar, I jun. Tak masalah walaupun nilaimu jelek. Ayah hanya berharap kau tumbuh menjadi anak yang bahagia”. Timpal ayahnya.

Drama ini juga bercerita tentang si gadis remaja Oh Ju Ri. Anak dari mantan penyanyi Oh Yoon. Yang dia besarkan sendiri karena ibu Ju Ri meninggal saat dia kecil. Layaknya remaja-remaja pada umumnya, Ju Ri tergila-gila dengan Kpop idol. Ju Ri adalah penggemar DOS dengan June sebagai biasnya dan bercita-cita kelak menjadi Stylis mereka. Karena disibukan dengan grup idolanya, Ju Ri jadi malas belajar. Saat dimarahi ayahnya, Ju Ri meminta pembelaan Hye Jin, tapi Hye Jin malah membenarkan ayah Ju Ri. “Nilai juga penting bagi seorang siswa. Punya impian itu bagus. Kecuali untuk kasus yang sangat istimewa, kita harus kuliah untuk mewujudkan impian itu”. Bagi Hye Jin yang relistis, seorang anak memang sangat bagus memiliki hobi atau cita-cita. Namun usaha keras juga diperlukan. Salah satunya mendapat nilai bagus agar bisa melanjutkan pendidikan.

Karena sering dimarahi ayahnya, Ju Ri mencoba kabur dari rumah. Ju Ri tahu, bahwa ayahnya sangat peduli padanya. Ayahnya berusaha menjadi sosok ayah plus ibu untuk Ju Ri. Tapi karena itu, ayahnya menjadi lebih protektif. Sebagai orang tua, scene ini memuat pembelajaran untuk saya. Anak juga membutuhkan ruang pribadi dan waktu untuk “bernafas”. Setiap anak bertumbuh. Maka sebagai orang tua, kita perlu menerima perubahan mereka dan mencoba memberi kesempatan pada anak untuk mandiri dan menjadi dirinya sendiri.

Sebagai seorang anak, episode terakhir adegan kematian nenek Gamri, menggores hati kita. Betapa waktu adalah suatu hal yang tidak bisa kita prediksi dan kendalikan. Penyesalan anaknya nenek Gamri, saat kematian ibunya menyesakkan dada kita. Saat ibunya masih ada, ia jarang menghubungi ibunya karena sibuk dengan keluarga dan pekerjaan di Seol. Saat ibunya mengabarinya akan memasang implan gigi, dia mengatakan sedang tidak punya uang, karena anaknya sekolah di luar negeri. Sebagai putra satu-satunya dia juga tidak ada di dekat ibunya saat dia akan meninggal. Dan sekarang, saat ibunya meninggal dunia, bahkan untuk menangis pun dia merasa malu. “Awalnya aku pikir, dia akan tetap dihidupku untuk waktu yang lama, karena itu aku terus menunda menemuinya. Ku pikir aku masih punya banyak waktu. Tapi ternyata sudah habis. Saat orang tua meninggal, anaklah yang paling menyesal dan paling tersedu-sedu. Tapi aku terlalu malu untuk menangis”. Kita tak bisa memprediksi waktu. Adegan ini seolah berpesan pada kita, “buat yang jauh dari orang tua, segera ambil handphone, video call dengan orang tua. Bagi yang orang tuanya sudah berpulang, segera layangkan do’a”.

Terima kasih, Gongjin. Desa tepi laut dengan nama fiktif yang hangat. Terima kasih Hometown Cha Cha Cha, atas tanyangan yang menyembuhkan luka, atas pelajaran hidup, atas pemandangan yang indah, atas soundtrack-sountrack yang bagus, atas quote-qoute yang berharga. Akhir pekan beberapa bulan ini tidak sia-sia.

The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Cukup

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry. Seka...