Showing posts with label Cerita Zea. Show all posts
Showing posts with label Cerita Zea. Show all posts

Pangsit Kuah, Kulit Dimsum, dan Pujian yang Tak Habis-Habis

 “Harum banget buuun, udah mateng, bun?”

“Icip ya bun..”

“Hmm... kulitnya aja enak, apalagi isian pangsitnya..”

“Udah bisa dimakan bun?”

“Hmmmm.. enak banget buuuun...”

“Makasih ya buuuun...”

Begitulah Zea. Kalau sudah menemukan makanan yang dia suka, komentarnya bisa panjang sekali. :D

“Rasanya pengen Ea cium pangsit ini, saking dia enak sekaliii.”

Aku yang mendengar cuma bisa tertawa.

“Kayaknya sekarang makanan favorit Ea pangsit kuah deh bun..”

“Pilihan tepat bun, bunda mampir beli kulit pangsit ini kemaren di swalayan.”

“Dipakein bon cabe, enak banget buun..”

“Ayo cobain bun, Ea mau liat First impression bunda saat coba pangsit buatan bunda ini.”

Sekarang giliran aku yang jadi objek pengamatan.

Dan belum selesai aku menikmati suapan pertama, pertanyaan berikutnya sudah muncul.

“Sekarang jam setengah lima, kalau jam lima Ea makan lagi boleh kan buuun?”

Hahaha.

Belum lima menit selesai makan, jadwal makan berikutnya sudah direncanakan.

Lalu Zea kembali berkata,

“Perasaan Ea makan pangsit ini, seperti perasaan Ea pertama kali makan Dubai Chewy cookie. Beuuh...”

Sementara dari depan kompor, Abak ikut bersuara.

“Sudah seminggu ini makan Abak nggak “enak” bun, bahkan pas kemarin makan pecel ayam, Abak bilang, “Ndak lamak salero doh”, Baruuulah ini yang enak Abak makan bun, makasih ya bun. Abak tambah yaaa...”

Daaaaan.... pujian yang tak habis-habisnya dari Zea dan Abak membuat semua lelah saya menguap tak tersisa.

------------------------------- 

Adalah kemarin sore, selepas pulang dari kampus, aku mampir di swalayan membeli roti untuk sarapan esok paginya.

Niatnya cuma mau beli roti.

Nggak taunya kakiku malah berjalan menuju freezer dan taraaa.. ada sekantong besar kulit dimsum di sana.

Bulat, pipih, 50 pcs setiap bungkusnya.

Aku hanya membeli dua bungkus.

Pertimbangannya sederhana, kalau satu, pasti kurang. Kalau tiga, nanti takut rusak atau membusuk di kulkas.

Sampai di rumah, Zea melihat kantong belanja dan menemukan kulit dimsum itu di sana. Matanya berbinar, dan dengan excited dia langsung request besok minta dibikinin pangsit kuah.

Malamnya dia bilang,

“Ea nggak sabar tunggu besok, bun.”

“Kenapa?” kataku.

“Nggak sabar makan pangsit.”

------------------------------- 
Sebenarnya kulit pangsit yang persegi sering tersedia di minimarket dekat rumah kami. Lalu kenapa nunggu kulit dimsum restock dulu, bukan pakai kulit pangsit yang persegi?

Karnaa, saat pakai kulit pangsit yang persegi, buat kami kulitnya terlalu lembek, nggak kenyal dan mudah hancur.

Jadi aku kadang suka kesel sendiri. Sudah capek-capek masak, eh, hasilnya malah nggak sesuai ekspektasi.

Makanya kami lebih suka pakai kulit dimsum yang bundar.

Kulitnya nggak mudah sobek saat terendam di kuah. Lebih kenyal juga.

Dan mungkin karena hal kecil semacam inilah, kami bisa berbulan-bulan menunggu kulit dimsum ini restock.

Sampai akhirnya sore itu aku menemukannya lagi di freezer swalayan.

Dua bungkus langsung masuk keranjang.

Barulah sore ini bisa mengeksekusi makanan favorit Zea dan Abak ini.

Juga favorit aku. :D

--------------------------------- 

Ternyata sesimple itu untuk bahagia.

Dengan mereka makan lahap.

Dengan mereka bilang enak.

Dengan mereka minta tambah.

Dan dengan segala komentar random Zea yang dari tadi nggak berhenti-berhenti.

Begitulah. Kadang-kadang, makanan rumahan yang sederhana justru jadi cerita kecil yang menyenangkan untuk diingat.

Dan sore itu, ceritanya adalah pangsit kuah.

Sepanci pangsit kuah

Ulang tahun Hijriyah Zea ke 10

Aku akan bohong dan kufur nikmat jika bilang tak ada yang luar biasa di Ramadhan tahun ini.

Menjumpai Ramadhan itu sendiri saja sudah suatu hal yang luar biasa. Sehat dan selamat dalam menunaikan ibadah puasa, bergembira membeli takjil dan berbuka, berpeluh ria dalam setiap gerak pada sholat tarawih, dan malam-malam hening saat mengadu padaNya, hingga jadi yang pertama ke dapur menyiapkan sahur.

Namun di sudut hati, si paling reflektif, aku tak bisa menafikan bahwa ibadah yang aku kerjakan masih biasa-biasa saja, bahkan One Day One Juz saja, banyak yang terlewatkan.

Lalu tibalah malam ini. Semua umat Islam tahu, malam ini malam Nuzul Qur'an. Tapi bagi saya dan suami, malam ini menyimpan istimewa yang lain.

Malam saat kami sekeluarga lahir. Ya, sekeluarga. Malam ini, 10 tahun lalu, Zea lahir. Dan kami semua seperti ikut dilahirkan kembali. Saya lahir sebagai Ibu, suami lahir sebagai Abak, ayah Ibu kami, lahir sebagai uwan, kakek dan nenek, dan adik-adik kami, lahir menjadi mamak, acik, dan daddy untuk pertama kalinya.

Ya, Zea lahir sebagai cucu pertama dari kedua keluarga.

Seperti malam turunnya al-Qur'an sebagai Hudan wal Furqan, Zea yang lahir dimalam yang sama kelak akan mencari dan meniti jalan hidupnya sendiri. Semoga iya taat pada petunjuk, dan tegas dalam membedakan kebaikan dan keburukan.

Sekarang, bayi itu sudah berusia 10 tahun lalu. Baginya, pelukan ibunya masih menjadi hal favorit yang ia minta kapan saja. Padahal sebenarnya, akulah yang butuh pelukan itu.

Zea yang 10 tahun, sore tadi membelikanku vitamin C, dan mengingatkanku meminumnya setelah berbuka. Menurutnya, Vitamin C akan menyembuhkan sariawan yang aku derita dua hari ini.

Zea yang 10 tahun, tak pernah susah dibangunin sahur. Meski ketiduran setelah sholat subuh selama setengah jam, dengan kantuknya, ia akan berjalan ke kamar mandi dan bersiap ke sekolah jam 7 pagi.

Meski tak banyak yang “meningkat” di Ramadhan tahun ini, tapi seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Tak terbilang syukur atas semua ini.

Ramadhan yang datang kembali.

Keluarga yang masih lengkap.

Dan seorang anak yang dulu lahir di malam Nuzulul Qur’an, kini tumbuh pelan-pelan di depan mata kami.

Alhamdulillah. 

Selamat Ulang Tahun Hijriyah, Zea. Kami selalu sayang, selamanya. 💖

Gelas dari Zea

Kemarin aku genap berusia 36 tahun. Nggak ada pesta, nggak ada perayaan besar. Tapi ada satu kejutan kecil yang pelan-pelan tinggal di hatiku.

Pagi itu, Zea -putriku yang baru 9 tahun- izin jajan ke minimarket bareng Abaknya. Aku mengiyakan saja. Tapi entah kenapa, mereka lama sekali pulangnya. Di rumah, aku mulai bertanya-tanya. Pas mereka akhirnya datang, aku spontan nanya ke Zea,
“Ea, jajannya ke swalayan Salido ya?”
Dalam pikiranku, dia pasti ke sana buat beli jeruk Mandarin kesukaannya.

"Nggak Bun, tadi kami beli lakban dulu"

Malamnya, saat makan-makan kecil, baru aku tahu ke mana sebenarnya mereka pergi. Zea membeli konfeti. Dan kado. Untukku.

Kado sederhana, satu set beauty blender dan sebuah gelas mug cantik. Hatiku menghangat. Aku nggak pernah menyangka Zea memperhatikan hal sedetail itu, bahwa aku nggak punya gelas sendiri.

Selama ini aku pakai gelas apa saja yang ada di rumah. Sementara Abaknya punya gelas “khusus”, gelas toples berwarna biru untuk ngeteh, dan gelas kaca "Raksasa"nya untuk minum protein. Zea juga punya gelas kelinci miliknya. Dan aku? Ya… gelas umum.

Sekarang tidak lagi.

Zea memberiku gelas labu dengan motif bunga Daisy. Manis. Lembut. Cantik.

Tapi yang membuatku benar-benar bahagia bukan gelasnya. Melainkan perhatian itu. Kesadaran kecil seorang anak bahwa ibunya layak dipikirkan, direncanakan, dan diberi kejutan.

Zea kini sudah bisa memikirkan kado. Sudah bisa menyusun surprise. Bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari, perhatiannya sering membuatku terpesona. Tak terbilang berapa kali ucapan "Ea sayang Bunda" keluar dari mulut mungilnya itu. Setiap aku berbuka puasa, meski sedang asyik main game, begitu azan berkumandang, dia akan berlari ke mejaku dan berkata,
“Selamat berbuka puasa, Buun.” 

Kadang, hidup memang tidak memberi kita perayaan besar. Tapi ia menghadirkan cinta dalam bentuk-bentuk kecil, sebuah gelas, sebuah ucapan, sebuah perhatian yang lahir tanpa diminta.

Dan sejak kemarin, setiap kali aku minum dari gelas bermotif Daisy itu, aku tahu:
ini bukan sekadar gelas.
Ini adalah ingatan.
Tentang dicintai.
Dengan cara yang paling sederhana, dan paling tulus.

PENGALAMAN PERTAMA ANAK BERPUASA NISFU SYA’BAN

 

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang istimewa dalam Islam, karena di dalamnya terdapat malam Nisfu Sya’ban, yaitu malam ke 15 yang diyakini sebagai malam penuh berkah dan ampunan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار)

Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya Allah memperhatikan hamba-Nya (dengan penuh rahmat) pada malam nisfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antara sesama umat Islam) (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daraquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389.

--------------

Sebagai seorang ibu, melihat anak menjalani ibadah pertamanya adalah momen yang istimewa. Nisfu Sya’ban kali ini, putri kecilku, Zea, mencoba berpuasa di hari Nisfu Sya’ban untuk pertama kalinya. Awalnya, saya sempat ragu, dan berulangkali menanyakan apa beneran dia mau dibangunin sahur. Saya mikirnya bangunin sahur saja dulu, ntar kalau mau batalin siang juga nggak apa-apa. Jadilah jam 04.00 itu saya bangunin dia. Zea termasuk anak yang nggak susah dibangunin. Bahkan, selama puasa Ramadhan tahun lalu, ia selalu bangun tanpa drama.

Sekitar jam 10 saya nanya lagi apa dia masih sanggup, jawabannya malah menyentak saya,  “kok Bunda nggak percaya sih sama Ea, Ea kuat bun, Ea sudah gede”. Jleb. Ternyata saya yang meragukannya. Padahal seharusnya saya cukup mendukung dan menunggu sampai ia sendiri yang meminta berbuka.

Karena Zea masuk siang, jam satu abis Abaknya sholat jum’at Zea diantar ke sekolah. Disekolah sampai jam setengah lima. Lanjut pergi les bahasa inggris jam lima. Jadwal les yang harusnya hari sabtu jam setengah dua digeser sama Miss-nya jadi Jum’at jam lima sore karena miss ada keperluan hari Sabtu dan hari ini hanya tes naik tingkat saja.

Kami benar-benar takjub. Pas ditanya lagi saat mau diantar les apakah aman-aman saja, dia jawab, “aman, I’m okay”.

Pulangnya malah makin sumringah. “Kata Miss, nilai Ea yang paling tinggi”. Masya Allah Tabarokallah.

Meja makan kami saat iftar ini berisi goreng ikan, bakso urat, roti bakar, cindua dan melon potong.

Azan berkumandang, dan satu hari yang luar biasa tlah kami lewatkan. Pendidikan ibadah adalah proses bertahap, semoga perjalanan mentarbiyahi ini menjadi titik tolak untuk mempersiapkan Zea menjadi hamba yang taat dan mencintai Tuhannya.

Menjelang HARI IBU


Usai sholat zhuhur, aku menyalakan saklar lampu kamar yang sengaja kumatikan karena panas dan bergegas ke meja kerja membuka laptop. Apa yang membuatku terburu-buru hingga mengetuk-ngetuk jemariku ke meja sambil menunggu laman dokumen microsoft word terbuka? Tidak ada. Hanya saja rasanya aku ingin menulis. Mengetikkan sesuatu di laman putih itu. Atau mungkin saja karena lamunan panjangku beberapa saat usai sholat zhuhur tadi?

Ya, terkadang aku memang suka tercenung sendiri. Biasanya usai sholat atau malam setelah Zea tidur. Kadang ada yang sedang kupikirkan, tapi terkadang hanya pikiran kosong saja. Tentu saja aku menikmatinya. Bagiku ini adalah bentuk dari healing versi beku..hehe.😁

Kadang aku bicara dengan diri sendiri, bercerita tentang hari itu, bertanya tentang apa yang kurasa, dan kadang memeluk diriku dan berterimakasih atas semua yang telah dia lakukan. Bukan sebuah kesepian. Mungkin lebih pada kebiasaan untuk mengenal, menghargai dan mencintai diri sendiri. Atau kerennya, Me time versi Mita lah ya.😅

Selepas zhuhur tadi, aku bertanya pada diri sendiri. “gimana hari ini mit?, apa kau bahagia? Apa semua berjalan lancar? Apa kau puas dengan hidupmu?”, dan lainnya.

Aku juga menyusun-nyusun ingatan apa yang sudah kulakukan hingga sore ini.

Hari ini aku bangun lebih siang dari biasanya. Bukan gara-gara nonton final piala dunia kok. Hanya tak bisa tidur saja, karena udara sudah mulai lumayan panas dan suara abak dan kakek Zea masih terdengar di ruang tivi. Mungkin hampir setengah dua malam, aku baru mulai tidur.

Usai sholat subuh, masak nasi, nyeduh teh dan sarapan roti, cuci sisa gelas di wastafel, marinasi udang buat Zea, nemanin Zea bangun (peluk-cium), nyuci pakaian, nyapu rumah, siapin sarapan suami, goreng udang krispi Zea, nyetrika segunung pakaian yang diselingi dengan masak sayur, makan brunch, memeluk Zea lagi, nemani Zea masak gulali ampe jari telunjukku terbakar, lanjut nyetrika lagi, ungkep dan goreng ayam buat makan siang, nyuci piring kesekian kalinya, nyuapin Zea yang sedang makan dengan ogah-ogahan, lanjut makan siang, mandi, sholat zhuhur, baru deh duduk depan laptop.  

Beginilah seninku hari ini. Terima kasih untuk diriku sendiri. Aku sudah melakukan yang terbaik yang kubisa. Menjalani hari Seninku dengan bahagia. Aku tau, tentu rutinitas ini tak bisa diukur atau dibandingkan dengan rutinitas siapapun di dunia ini. Setiap kita punya alur dan ritme yang berbeda.

Sebagai ibu rumah tangga yang katanya “tidak bekerja”, aku telah melewatkan dua pertiga hari ini dengan melakukan banyak hal. Ya walau mungkin masih banyak yang belum sempat dikerjakan. Lantai belum dipel, bak mandi belum dikuras, drakor episode terakhir belum ditonton, but it’s oke. Ibu tak bekerja ini akan mengerjakannya setelah ini, wkwkwkwkwkwk.🤣

Menjelang Hari Ibu, izinkan aku mengirim pelukan terhangat untuk semua Ibu hebat di dunia ini. Ibu yang meski tak sempurna, tapi telah berupaya. Terima kasih telah menjadi hebat, Bu. Kalian semua luar biasa. Kalian makhluk paling keren di jagat raya ini. Mari mencintai diri sendiri dan berbagi cinta dengan yang mencintai kita.

Selamat Hari Ibu. 💐


 

Perihal PR


Tidak seperti PR Bahasa Indonesia, tegak bersambung dan dikte, khusus PR Matematika, Wali Kelas Zea mengirimkannya melalui WhatsApp Group kelas. 

Sebelumnya, PR juga biasa dikirim agak sore.  Tapi hari Rabu kemarin, ibu wali kelas terlambat mengirimkan PR hingga Maghrib. Zea sedikit kesal karena harus mengerjakan PR malam hari saat dia mulai mengantuk. 

Esok harinya. Sepulang Zea sekolah, notifikasi WhatsApp Bunda berbunyi. Ada PR matematika dikirim oleh ibu wali kelasnya. Bunda pun bilang "Tumben Ze, PR Matematika cepat dikirim Bu guru".

"Ia, Bun. Tadi Ea tegur Ibuk tu"

Jleb, anak kelas satu SD ini negur guru. hehehe. "Negur gimana?" Tanya Bunda lagi. 

"Ea bilang tadi, 'buk, kemaren PR Matematikanya lama sekali Ibuk kirim', lalu teman-teman ea juga mengiyakan. Iya buuuk.., terus Bu guru bilang, 'oke, nanti sepulang kalian sekolah, pas udah di ruang guru, langsung Ibuk kirim PR nya', gitu Buuun".

Bunda : "😅😅😅😅😅"

Libur 17an

"Kita jadi pergi Bun?"

"Coba tanya Abak dulu"

"Kita jadi pergi Bak?"

"Yuk"

"Yuk Bun, buruan. Ea makan di sana aja, nanti kita kesiangan perginya".

"No, Ea makan dulu sebelum pergi. Biar nanti Ea nggak sakit perut pas mandi-mandi"

------------------------

Sepenggal dialog itu mengawali pagi kami hari ini. Dari kemarin kami sudah berjanji pada Zea akan menemaninya mandi ombak di Pantai Bukit Ransam. 

Segera setelah Zea makan dan beres-beres, kamipun berangkat bertiga. 

Tak ada yang istimewa sepanjang perjalanan. Cuaca cerah, lalu lintas sepi, waktu yang pas sekali untuk pergi berlibur. Meski hanya pergi ke tempat wisata yang dekat saja, tapi Zea excited sekali karena mau main air laut. 

Bahkan dia sendiri yang berinisiatif untuk merekam vlog jalan-jalan kali ini. 

Setiba di lokasi, saya dan Zea turun dari motor di atas jalan. Pantai ini memiliki turunan yang cukup terjal, jadi kami memutuskan berjalan kaki menuruninya. Dan Abak sendirian memarkir motor di bawah. 

Tak ada siapa-siapa di pantai ini. Bahkan penjual yang biasanya menjual aneka makanan dan minuman untuk wisatawan pun sepertinya meliburkan diri. 

Agak rada-rada gimana sih sebenarnya, tapi kami tetap melanjutkan niat awal menemani Zea bermain ombak. 

Setibanya saja di pantai, Zea langsung menghambur ke sisi pantai dan main air. 

Saya menemani sambil merekamnya. 

Karna di sisi tengah pantai cekungannya agak dalam, Abak meminta Zea pindah ke sisi kanan pantai. Kamipun pindah dan Zea bermain ombak lagi sambil mencari kerangka kerang. 

Sesaat bermain, saya menyarankan gimana kalau kita ke sisi satunya lagi. Sepertinya di sana agak landai juga dan ada pohon untuk berteduh. 

Kamipun beranjak ke sisi sebelah kiri pantai. Saya merekam Zea yang sibuk mencari kerang dan Abak memotret dan meminta kami menoleh padanya.

Tak lama kemudian, Zea tiba-tiba berteriak. 

"Pulaaaang, pulaaaang, yuk kita pulang Buuun"

Bulu remang kamipun bergidik. 

"Ada apa sayang?"

"Pokoknya pulang, nanti aja cerita"

Zea histeris. Saya memeluknya dan membacakan ayat kursi ke ubun-ubunnya.

Kami bergegas menuju jalan tanpa membilas badan Zea di kamar mandi pantai. 

Kami memberi alternatif padanya, mau lanjut main ombak di pantai Carocok aja, atau pulang? Zea memilih pulang. 

"Pulang aja Bak, nggak usah ke Carocok, ntar siapa tau dia demam lagi. Pasti ada sesuatu di tempat tadi"

Kamipun sampai di rumah selang beberapa menit saja. 

Setelah mandi, saya membaluri Zea dengan minyak telon, memakaikan pakaian yang nyaman, memberikan kue dorayaki kesukaannya dan kemudian menanyainya. 

"Sini lihat Bunda, tadi Ea lihat apa? Lihat hantu?ada rupa sesuatu yang Ea lihat?"

"Nggak Bun, Ea cuma dengar suara aneh aja dan perasaan Ea nggak enak."

"Jadi bukan karna Ea lihat sesuatu? Tapi karna Ea mendengar suara yang aneh dan perasaan Ea nggak enak, gitu?"

Saya lanjut mengkonfirmasi apa yang terjadi padanya. 

"O syukurlah Ea nggak lihat hantu, mungkin suara yang Ea dengar suara siamang bercampur suara ombak, jadi terdengar aneh" 

Padahal kami sudah berkunjung beberapa kali di sana. Namun baru kali ini aura bergidik cukup berasa. Lokasinya seolah berubah suram. Ombak menghempas-hempas marah seolah menyuruh kami pergi karna mengganggu waktu istirahatnya. Mungkin kami diminta pergi agar ikut menyaksikan detik-detik proklamasi.

"Mungkin ombaknya marah, Bun. Karna kita pergi saat dia mau libur juga. Mungkin dia mau istirahat." 

Ungkap Zea menutup cerita.

CERITA ZEA 1

Alkisah, Beberapa hari yang lalu Zea bilang dia mau jualan di sekolah.

Aiih, ibu mana pulak yang tak senang liat anaknya yang bercita-cita jadi pengusaha. 

Zea : Klo udah besar, Ea mau jadi pengusaha Skincare, Bun. Punya cabang di 4 negara. Dan tiap-tiap negaranya punya 4 toko (read: cabang) juga. 

Bunda : Masya Allaaaaaaah, hebatnya anak Bunda. Aaaaaamiiiin Allahumma Aaamiin

Zea : Tapi sekarang Ea mau jualan di sekolah dulu.

-------------------

Walhasil, akhirnya Bunda order beberapa stiker Princess dan stiker kuku untuk Zea jual di sekolah. Modal per pcs stiker kuku, 3800. Bunda bilang, bisa Zea jual 5000.

Hari ini :

Zea : Bun, Bun, Bun, jualan Ea hari ini laku 1 buah. Di beli Elif. 

Bunda : Berapa ea jual?

Zea : 5 ribu.

Bunda : Good. Hebatnya Ea. Trus mana uangnya?

Zea : Naaah, gini ceritanyaaa...Setelah Ea dapat uangnya. Ea bilang gini sama Elif dan Ailen, kalian boleh jajan apa aja di kantin, asal nggak lebih dari 3 untuk Elif dan 2 untuk Ailen. Gitu Bun.

Bunda : Waaaah, pintarnya anak Bunda. Nraktir teman, semoga Ea dapat pahala dan dijauhkan dari api neraka yaaa...(Jangan tanya bahasa kalbu Bunda yaaaa..:D wkwkw)

Zea : Ia Bun. Kayak episode Nusa Rara yang nraktir teman itu ya Bun. Klo kita traktir teman, kita dijauhkan dari neraka sejauh 10 meter.

Bunda : Trus rugi dong?

Zea : Nggak papa rugi di dunia Bun, asal beruntung di akhirat.

--------------------------------------

ANAK ABAK

Kata orang, Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Sosok yang membuat putri kecil itu mendapatkan kenyamanan dan perlindungan ekstra. Sosok yang kelak setelah dewasa, menjadi tolak ukur putrinya dalam menilai pasangannya. Ikatan antara mereka sangat unik, dan tentu saja sangat menyenangkan melihat kedekatan itu.

Abak, kami mengajari malaikat kecil itu mengeja panggilan ini sejak lahir. Dan diusia kelimanya ini, Zea dan Abaknya menjelma menjadi partner in crime dan Bestie sesungguhnya.

Setiap mau tidur, Abak –dan Bunda tentu saja- harus ada disampingnya. Setelah minum susu, gosok gigi, ganti piyama, sebelum lampu dimatikan, semua orang harus lengkap. Jika Abak pulang kemalaman atau terpaksa menginap karena kerjaan, setelah video call, dia akan meminta lampu tidak dimatikan.

Bahkan minggu malam kemaren, ia minta tidur berdua saja dengan Abaknya, sambil mewanti-wanti Bunda, “Kalau Bunda takut tidur sendiri, kasih tau Ea ya, biar Ea tidur bareng Bunda”. Dan tentu saja dia tidur dengan pulas hingga pagi sambil memegang tangan Abaknya.

Zea dan Abaknya juga punya game mereka sendiri, mereka menyebutnya Game Nanas. Dan sampai tulisan ini diposting, Bunda tidak tau game apa yang mereka mainkan dengan seru itu. Saat Abak di rumah, tidak ada lagi yang namanya tidur siang. Mereka benar-benar menjadi partner in crime sejati.

Beberapa penelitian tentang ini pernah dilakukan. Mereka menemukan bahwa anak perempuan yang dekat dengan ayahnya cenderung tidak menghadapi masalah kesehatan mental di masa depan saat tumbuh menjadi perempuan dewasa. Dengan kata lain, anak akan jadi lebih tangguh dan tahan banting menghadapi kehidupan karena banyak belajar dari ayahnya. Menurut penelitian, dukungan penuh ayah terhadap anak perempuannya juga mampu membuat anak tumbuh dewasa secara mandiri dan percaya diri.

Sebagai seorang putri ayahnya, aku pribadi juga merasakan hal yang sama. Ayah bagiku bukanlah sosok yang bisa aku gambarkan dengan kata atau kalimat sederhana. Sosoknya adalah terjemahan atas apa yang dibutuhkan anak perempuan terhadap ayahnya. Ayah menurutku berperan besar dalam membentuk aku yang sekarang.

Karena itu, aku bersyukur membersamai kedekatan Zea dengan Abaknya. Melihat ia tumbuh mendapat kasih sayang yang utuh. Melihat ia semakin percaya diri karena Abak yang selalu memuji. Melihat ia berusaha, karena mendapat dukungan semangat dari Abaknya. Zea tumbuh menjadi anak Abak, dan itu benar-benar membuat kami bersyukur dan berbahagia.

PERIHAL MINGGU PAGI


Hari minggu kami dimulai saat selesai sholat subuh, saya membangunkan Zea dan Abaknya. Malam sebelumnya kami berjanji akan jogging pagi-pagi ke Pantai Carocok. Sebuah momen yang ditunggu-tunggu Zea setelah beberapa hari tidak bisa bermain keluar karena hujan terus mengguyur kota kecil ini setiap siang hingga sore. Kita akan pergi bermain sambil jogging besok pagi, tapi syaratnya jangan marah kalau dibangunin, begitu janji kami sebelum tidur.

Dan disinilah kami pagi-pagi memvideokan sunrise dengan fastmotion dan menemani Zea berendam dan bermain peran menjadi bajak laut dengan harta karunnya.

“Boleh berendam nggak bun?”, tanya Zea setelah duduk tanpa perasaan bersalah pada pakaiannya yang basah. Sambil tersenyum simpul, tentu saja saya bilang, “iyaaaa, boleh sayaaang”.
Bagi para orang tua, anak-anak mereka adalah harta yang sangat berharga dan mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Dan kamipun tak ubahnya demikian. Kami tau pasti, tak ada satupun cara yang sempurna untuk menjadi orang tua yang baik. Setiap situasi itu unik, dan setiap orang tua melewati tantangan yang berbeda, mempunyai kemampuan dan keahlian yang berbeda, dan tentunya memiliki anak yang berbeda pula. Karena itu keputusan akan berbeda dan unik juga untuk setiap orang tua dalam membesarkan putra-putrinya. Dan kami memilih cara seperti ini melewati masa kecil putri kecil kami. Membiarkannya bereksplorasi. Memeluk dan menciuminya sesering mungkin, juga mengatakan bahwa kami sangat menyayanginya sepanjang waktu.

Kami tau pasti, bahwa masa-masa seperti ini tak akan berlangsung lama. Sampai usia berapa mereka mau dicium-cium dan dipeluk-peluk begitu? Hanya sampai usia berapa mereka bergelenjotan disekitar kita? Udah gedean dikit, ntar mereka malah malu sama teman-temannya kita cium dan peluk-peluk. Gedean dikit, malah waktunya bersama kita juga akan terbatas karena dia udah mulai punya dunianya sendiri. Hanya sampai berapa lama, kita menjadi pusaran dunia mereka? Nggak lama.

Karena itu bahagia dan beruntung sekali rasanya bisa menghabis hari-hari kami bersama Zea. Seperti hari Minggu ini.


Sepagi tadi, kami bermain di Pantai Carocok. Air laut sedang surut, sehingga karang-karang yang biasanya digenangi air terlihat muncul dipermukaan. Zea mengumpulkan baru-batu karang dan membuatnya menjadi harta karun bajak laut miliknya. Puas bermain di pantai, kami mendatangi kedai sate Kambang. Setengah porsi dengan daging kecil tanpa bawang untuk Zea, beberapa bakwan dan keripik ubi plus daging tanpa ketupat untuk Abaknya, dan satu porsi penuh dengan daging besar untuk bundanya,,hahaha, maklum bundanya butuk tenaga ekstra untuk menemani Zea bermain sampai dia terlelap siang nanti. :D
Sudah kenyang, dan saya pikir kami akan langsung pulang. Ternyata Uda membawa kami ke Pincuran Boga. Sebuah taman kecil dengan lapangan olahraga yang baru selesai dibangun. Awalnya, lapangan basket berada di samping taman Spora di depan masjid Akbar Baiturrahman, tempat Zea biasa bermain. Karena taman dipugar lebih luas, lapangan olahragapun di pindahkan ke Pincuran boga. Lapangan tenis, bulu tangkis dan basket terlihat segar dan berwarna-warni. Sekeliling pagar kawatnya dicat warna hijau dan Zea memanfaatnya untuk latihan rock climbing :D.
Uda meminjam bola basket dan memainkannya bersama Zea. Dan saya duduk dibawah pagar untuk memotret dan mem-boomerang-in mereka. Sebuah kesepakatan sepertinya sudah mereka buat. Membeli bola basket kecil berwarna pink dan baju basket kecil dengan warna yang sama dengan bola.

Saya menggantikan Uda bermain dengan Zea. Kami bermain engklek-engklekan. Kaki kanan Zea menginjak kaki kanan saya dan kaki kirinya diatas kaki kiri saya. Kanan, kiri, kanan, kiri, kami melangkah bersamaan sambil tertawa. Capek bermain engklek, kami lomba lari, dan tentu saja Zea pemenangnya. Saya membiarkannya menikmati waktunya di lapangan ini dengan menjadi pemenang.

Hampir siang, kami sepakat pulang. Di tempat makan sate tadi, Zea hanya makan sedikit, dan saya akan menyuapinya makan dengan nasi putih hangat dan telur dadar kesukaannya sesampai di rumah.

Beberapa saat setelah makan dan minum susu, Zea ditemani saya pulas di tempat tidur. Perihal hari minggu pagi, kami melewatinya dengan riang hati. 




Hari Ibu, Raport dan Pantai


Semua orang sedang membicarakan tentang hari Ibu. Facebook, Instagram, Tweeter, grup-grup WhatsApp, portal-poral berita online dan media sosial lainnya. Televisipun tak mau kalah pamor dengan tanyangan seharian penuh tentang perempuan-perempuan hebat di Indonesia. Hari Ibu menjadi hari kita semua, karena tanpa ibu, kita tak pernah ada untuk merayakan hari itu.

Ibu, sosok yang begitu besar artinya untuk kita. Tak hanya berjuang mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat hingga besar, tapi sosoknya adalah “monument” nyata sebuah komitmen seumur hidup, bahwa dia tak lagi bisa hidup hanya untuk dirinya sendiri.


“I love Bunda”, “Selamat Hari Ibu, mak”, “Happy Mother’s day, mom”, daaaan sebagainya, ucapan-ucapan itu bertebaran menyeruak haru kita. Sekali lagi Ibu, dengan semua yang dimilikinya lahir dan batin adalah sosok istimewa buat kita semua. 


Saat menjadi seorang Ibu, meski tak serta merta mengerti, saya paham bagaimana Ibu adalah tempat kembali. “Rumah” yang tak pernah ada sudahnya. Meski sebenarnya, Hari Ibu tak hanya hari ini, tapi setiap hari, tujuh hari dalam sepekan, semua adalah Hari Ibu. Hari-hari dimana ibu berjuang seharian hingga kadang terlelap dengan koyo atau balsem yang menempel dibadan.

Menurut sejarahnya, hari ini ditetapkan sebagai Hari Besar Nasional pada tahun 1959 dalam SK Presiden RI No. 316/1959. Saat itu, namanya adalah Hari Kebangkitan Perempuan, sebelum akhirnya Soeharto mengubah Hari Kebangkitan Perempuan itu menjadi Hari Ibu. Dalam tulisan ini saya tak hendak memperbandingkan antara ibu, calon ibu, atau mereka yang tak hendak menjadi ibu.  Tapi satu hal yang ingin saya sampaikan adalah sebuah terima kasih kepada perempuan-perempuan hebat dimasa lalu yang telah  berjasa membuat Hari Ibu terlaksana. Sebuah pengingat akan peranan dan perjuangan perempuan dan ibu hingga hari ini.

Perjuangan perempuan, perjuangan ibu yang tak pernah ada padamnya, sejak ribuan tahun lalu, hingga hari ini tepat di depan mata saya dan saya menjadi bagian darinya. Hari ini saya, kami, para ibu-ibu dengan sukacita menggandeng tangan-tangan malaikat kecil kami dengan beragam bawaan keperluan si pemilik tangan-tangan mungil itu. Menuntun mereka ke odong-odong, memeluk, bercerita dan memberi camilan selagi di jalan, menyuapi makan setelah sampai tujuan, lalu bertepuk tangan sambil terharu saat mereka mendapatkan raport sekolah pertama mereka.

Raport sekolah Zea tak berisi angka-angka. Kami sangat mengapresiasi hal itu. Lagian, angka apa yang akan ditulis di raport pendidikan anak usia dini? Tujuan kami -saya dan suami- menyekolahkan Zea di sekolah formal pertamanya pun adalah biar Zea punya teman. Memiliki aktivitas yang beragam dengan teman-teman sebayanya, bersosialisasi, menekan ego pribadinya dan tumbuh menjadi versi dirinya sendiri dengan bersemangat, bergembira dan bahagia. 

Sekolah Zea memutuskan untuk membagikan raport di sebuah pantai. Tentu saja hal itu mudah terwujud karena kami tinggal di kota kecil yang dikelilingi pantai dan laut. Sebuah berkah tersendiri tentunya.


Hanya butuh 10 menit untuk berangkat dari rumah, belanja camilan dan duduk-duduk santai di tepi pantai Carocok. Atau jika mau bersabar sedikit, kami bisa pergi ke Pantai Sungai Nipah dan puas bermain ombak hingga jari-jari kesemutan dan pulang setelah perut dipenuhi nasi atau mie goreng instan. Atau jika mau menyempatkan waktu sedikit, bisa agak ke selatan melihat penyu yang akan dilepas ke lautan. Atau makan es krim sambil melihat nelayan “maelo pukek” di pantai Sago. Atauuuu bisa seperti yang kami lakukan kali ini, menerima raport sekolah di pantai Pulau Karam, dan kemudian bersantai sambil menyeruput es kelapa muda di pantai Batu Kalang. Ada banyak atau, artinya ada banyak pilihan. Sungguh, Tuhan Maha Baik, bukan.



Datanglah ke kota kecil ini. Bisa bersama ibu, calon ibu mertua, teman yang akan menjadi ibu, atau calon ibunya anak-anak. Kalian akan disambut pula oleh ibu-ibu yang menulis tentang Hari Ibu ini juga tentunya.

Selamat Hari Ibuuuu….!


The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Cukup

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry. Seka...