Kemarin aku genap berusia 36 tahun. Nggak ada pesta, nggak ada perayaan besar. Tapi ada satu kejutan kecil yang pelan-pelan tinggal di hatiku.
Pagi itu, Zea -putriku yang baru 9 tahun- izin jajan ke minimarket bareng Abaknya. Aku mengiyakan saja. Tapi entah kenapa, mereka lama sekali pulangnya. Di rumah, aku mulai bertanya-tanya. Pas mereka akhirnya datang, aku spontan nanya ke Zea,
“Ea, jajannya ke swalayan Salido ya?”
Dalam pikiranku, dia pasti ke sana buat beli jeruk Mandarin kesukaannya.
"Nggak Bun, tadi kami beli lakban dulu"
Malamnya, saat makan-makan kecil, baru aku tahu ke mana sebenarnya mereka pergi. Zea membeli konfeti. Dan kado. Untukku.
Kado sederhana, satu set beauty blender dan sebuah gelas mug cantik. Hatiku menghangat. Aku nggak pernah menyangka Zea memperhatikan hal sedetail itu, bahwa aku nggak punya gelas sendiri.
Selama ini aku pakai gelas apa saja yang ada di rumah. Sementara Abaknya punya gelas “khusus”, gelas toples berwarna biru untuk ngeteh, dan gelas kaca "Raksasa"nya untuk minum protein. Zea juga punya gelas kelinci miliknya. Dan aku? Ya… gelas umum.
Sekarang tidak lagi.
Zea memberiku gelas labu dengan motif bunga Daisy. Manis. Lembut. Cantik.
Tapi yang membuatku benar-benar bahagia bukan gelasnya. Melainkan perhatian itu. Kesadaran kecil seorang anak bahwa ibunya layak dipikirkan, direncanakan, dan diberi kejutan.
Zea kini sudah bisa memikirkan kado. Sudah bisa menyusun surprise. Bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari, perhatiannya sering membuatku terpesona. Tak terbilang berapa kali ucapan "Ea sayang Bunda" keluar dari mulut mungilnya itu. Setiap aku berbuka puasa, meski sedang asyik main game, begitu azan berkumandang, dia akan berlari ke mejaku dan berkata,
“Selamat berbuka puasa, Buun.”
Kadang, hidup memang tidak memberi kita perayaan besar. Tapi ia menghadirkan cinta dalam bentuk-bentuk kecil, sebuah gelas, sebuah ucapan, sebuah perhatian yang lahir tanpa diminta.
Dan sejak kemarin, setiap kali aku minum dari gelas bermotif Daisy itu, aku tahu:
ini bukan sekadar gelas.
Ini adalah ingatan.
Tentang dicintai.
Dengan cara yang paling sederhana, dan paling tulus.

No comments:
Post a Comment