Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

PAINAN NIGHT CULINARY: GELIAT EKONOMI KULINER PASCA PANDEMI

 


Pandemi, kata horor yang tak hanya memakan korban jiwa, tapi juga mengguncang semua sendi kehidupan kita. Kondisi darurat yang membuat deyut nadi dunia terhenti, mati suri. Pandemi telah melompati jauh dari apa yang kita pikirkan tentangnya, yang secara signifikan merubah prilaku dan hidup kita. Pandemi pada akhirnya menuntut kita untuk beradaptasi dengan dunia yang penuh guncangan dan resiko ketidakpastian. Jutaan pekerja terkena gelombang pemutusan hubungan kerja diberbagai bidang usaha. Dan butuh kreatifitas dan inovasi agar mereka bisa bangkit kembali. 

Pandemi menuntut kompotensi-kompetensi kita agar bisa bertahan. Menuntut Critical thinking, Problem solving, Creativity, Innovation, Collaboration dan juga Communication. Pandemi menuntut kita menyadari seutuhnya apa yang tengah terjadi, menemukan solusi dengan berbagai opsi untuk menyelesaikan masalah yang tengah kita hadapi. Mengembangkan gagasan baru, bersinergi dan bekerja sama dengan orang lain. Juga mengkomunikasikan agar ide-ide baru ini dapat terwujud dan diterima orang banyak.

Painan yang terkenal dengan Pantai Carocok dan Pulau Cingkuaknya, tercatat sebagai salah satu destinasi wisata andalan Sumatera Barat yang sangat merasakan imbas dari pandemi kemarin. Saat pandemi terjadi jumlah mobilisasi wisatawan yang semakin berkurang, juga sangat berdampak pada bisnis makanan dan minuman di kota ini. Mengakibatkan imbas yang buruk pada pengelola unit usaha makanan.

Kabar baiknya, ulah pandemi ini, sebuah event kuliner tercipta yang diberi nama Painan Night Cullinary. Painan Night Cullinary adalah salah satu event kuliner yang tercipta pasca gelombang pandemi tersebut. Saat pemerintah memberlakukan pola kehidupan baru, bisnis kuliner yang awalnya mati suri, kemudian berubah menjadi bisnis online rumahan, akhirnya dapat membuka stand mereka di event ini. Sebuah event kuliner mingguan yang diadakan setiap Rabu malam di Taman Kota. Event ini adalah kerja sama antara pemerintah daerah dan komunitas kuliner di Painan. Painan Night Culinary adalah upaya bersama untuk membangkitkan kembali geliat ekomoni dan pariwisata dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam pengelolaannya.

Painan Night Culinary dapat menjadi ajang hunting streetfood lokal saat berkunjung ke Painan. Juga menjadi ajang silaturrahim bagi anak Nagari. 

Makanan dan minuman yang dijual di event ini, selain beragam dan menarik juga dapat dibeli dengan harga terjangkau. Kita bisa membeli takoyaki dengan harga lima ribu rupiah, dimsum sepuluh ribu rupiah, seafood lima belas ribu rupiah dan banyak lagi makanan dan minuman enak dan terjangkau lainnya. Area cuci tangan dan handsanitizer juga disediakan di pintu masuk event.

Yang menarik dari Night Culinary ini juga ada beberapa stand makanan yang hanya dapat ditemukan sekali seminggu saja. Mungkin penjual memiliki pekerjaan ganda di hari lain yang membuatnya hanya bisa berjualan sekali seminggu di Painan Night Culinary. Hal ini membuat Painan Night Culinary menjadi event yang ditunggu-tunggu setiap minggunya.

Painan Night Culinary juga menyajikan pertunjukan kesenian yang memeriahkan event mingguan ini. Seniman lokal dapat berpartisipasi menghibur pengunjung saban malam. Ulah Painan Night Culinary, geliat kota ini menjadi terasa lagi.

Saat ini, meski pandemi sudah terbilang usai, Painan Night Culinary tumbuh menjadi event ekonomi baru yang berkelanjutan. Event ini masih terus diadakan setiap minggunya. Menjadi alternatif untuk berwisata makanan bersama keluarga, teman dan handai taulan.

Sesudah kesulitan akan ada kemudahan. Kita optimis dan percaya, geliat ini akan benar-benar membangunkan ekonomi kecil menengah di sudut kota kecil ini. Dari Painan, Sumatera Barat, kabar baik ini semoga menginspirasi kita untuk terus berjuang dan optimis menapaki tahun baru dan tahun-tahun selanjutnya. 

(tulisan ini dimuat di GNFI)

BERLIBUR BARENG SI KECIL, SIAPIN APA AJA YA?

Libur tlah tibaa, libur tlah tibaa….🎢🎢🎢

Mulai terngiang-ngiang yah lirik lagu fenomenal ini. Yap, akhir Desember emang identik dengan liburan. Aah, Desember yang menyenangkan. πŸ₯°

Ayah dan Bunda semua gimana?Udah ada planning liburan bareng si buah hati? Kemana? Pake apa?Bawa apa aja? (jangan bilang “Kamu nanyea, kamu bertanyea-tanyea” yaaaa πŸ˜…), hehehe.

Berlibur bawa si kecil emang nggak mudah ya buuun. Banyaaak yang mesti dipersiapkan. Kita nggak bisa asal pergi aja, kayak zaman kita masih single dulu, yang kalau mau kemanapun, tinggal chaw.

Jalan-jalan bareng si kecil harus atur strategi dulu. Iya, strategi. Hehehe.

Pertama, Siapkan Fisik dan Mental. Ayah, Bunda dan Anak harus mastiin dulu fisik fit dan sehat. Wajib dan paling utama banget nih. Bakal nggak bisa kemana-mana kan yah, kalau salah satunya nggak sehat, kan judulnya mau liburan keluarga. Mental juga harus siap, karena diperjalanan dan ditempat liburan bakal banyak hal-hal yang terjadi diluar dugaan kita. Jadi jangan mudah terbawa emosi dan tetap berfikiran jernih  ya AyBun. Libatkan juga anak dalam proses persiapan, biar moodnya bagus dan dia bersemangat untuk liburan.

Kedua, Siapkan Budged. Ayah Bunda harus ngintip dulu nih saldo tabungan dan setelah itu baru nyari destinasi wisata yang sesuai budget kita.

Ketiga, tentukan destinasi wisata. Kalau bawa anak-anak, pengennya tuh destinasi wisata ramah anak yang menyediakan tempat bermain atau tempat wisata edukatif untuk anak-anak. Biar anak hepi dan ayah bunda bahagia.

Keempat, cari akomodasi yang nyaman. Pilih kamar yang luas atau family room. Pastikan juga akses hotel bisa menggunakan stroller. Kalau bisa juga memiliki kolam renang dan dekat dengan destinasi wisata.

Nah, kalau empat poin ini udah deal, baru deh mikirin printilan-printilan lainnya.

Pertama, B-A-W-A-A-N. Gimana bun? Bikin senyum-senyum sendiri ya, kalau mikirin bawaan ini. Hehe. Ya gimana enggak, bakalan butuh effort luar biasa nih, nyiapinnya. Kalau anak masih bayi, kita perlu bawa popok, baju ganti, perlengkapan mandi, tisu basah, tisu kering, telon, minyak kayu putih, krim ini itu, alat makan, alat pumping daaan masih banyaaak yang lainnya.

Kalau anak udah mulai gede, bawa mainan biar dia anteng diperjalanan, bawa buku bacaan, camilan, kalau pake kendaraan pribadi harus siapin playlist lagu favoritnya juga. Ya kaan.


Kedua, pilih alat transportasi yang tepat. Pastikan alat transportasi yang digunakan membuat anak-anak kita nyaman dan mereka bisa beristirahat tanpa kepanasan.

Ketiga, pikirin trik biar si kecil betah diperjalanan. Butuh strategi biar mereka anteng diperjalanan. Ayah bunda harus mutar otak mikirin agar mereka nggak rewel, eits..belum lagi jaga-jaga kalau si kecil mabuk perjalanan ya bun.

Trus tips apa aja nih, yang kita butuhkan?

1.    Pilih jam perjalanan yang berbarengan dengan jam tidur si kecil. Nah trik ini mempan banget kalau saya bawa Zea bepergian. Mungkin beberapa saat dia akan rewel karena mulai bosan, tapi dia bakal tidur lebih awal, karena udah jam tidurnya dia.

2.   Bawa camilan favorit si kecil. Camilan ini bisa mengalihkan perhatian anak kalau udah mulai bosan. “Nih nguyah aja naaak” hehehe.

3.   Bawa perlengkapan portable. Sekarang kan udah banyak tuh bun, perlengkapan portable yang travel friendly. Stroller, sterilizer, cooler bag, termos dan lainnya.

4.   Siapin playlist lagu favorit si kecil. Nggak apa-apa kalau memberi mereka gadget juga untuk memainkan game kesukaan mereka.

5.    Bawa mainan favorit si kecil. Nggak usah bawa banyak sih Bun, cukup satu atau dua aja yang ringkas, biar nggak repot dibawa. Boleh juga membawa kamera si kecil untuk membantunya mengeksplorasi hal-hal baru di tempat wisata nanti.

6.   Pisahkan pakaian si kecil dengan anggota keluarga lain. Nah, biasanya nih, kalau bepergian, aku selalu siapin satu tas buat selimut, jaket dan pakaian ganti anak, selain pakaian yang akan digunakan di destinasi wisata nanti. Jadi pas anak mabuk perjalanan, atau makanannya tumpah ke baju, nggak harus bongkar-bongkar koper dulu.

7.    Bawa pakaian yang simple dan nyaman. si kecil biasanya aktif kan yah, karena itu bawa pakaian yang nyaman, menyerap keringat dan sesuai tempat wisata.

8.   Gunakan diaper bag. Nah, kalau kita bawa bayi, diaper bag adalah barang penting. Tapi tenang aja bun, sekarang banyak banget diaper bag yang desainnya stylish dan kompatemennya gede.

9.   Bawa printilan kebersihan. Kantong Ziplock, handsanitizer, Masker, tisu basah, tisu kering dan Laundry bag.

10.    Bawa obat-obatan. Sedia payung sebelum hujan ya kan buuun. Kayak obat turun panas, diare, antimemar, anti septik dan obat-obat lain yang dibutuhkan.

Keempat, jika berlibur ke luar negeri. Pastikan paspor dan semua keperluan administrasi udah lengkap dan difotokopi ya Bun. Pastikan juga pakaian sesuai dengan musim di negara yang akan AyBun tuju.

Keenam, stock makanan instant. Meski terkesan nggak sehat, tapi banyak kok makanan instant sehat yang dijual di toko-toko makanan organik. Jaga-jaga siapa tau AyBun tidak menemukan minimarket sedangkan si kecil sudah lapar.

 

Gimana AyBun? Mau tetap jalan atau bongkar koper lagi nih? hehehe. Ya jalan dong yaaa..

Selamat berlibur bersama buah hati tercinta. Have a wonderful holidayyyy! πŸ€—

Libur 17an

"Kita jadi pergi Bun?"

"Coba tanya Abak dulu"

"Kita jadi pergi Bak?"

"Yuk"

"Yuk Bun, buruan. Ea makan di sana aja, nanti kita kesiangan perginya".

"No, Ea makan dulu sebelum pergi. Biar nanti Ea nggak sakit perut pas mandi-mandi"

------------------------

Sepenggal dialog itu mengawali pagi kami hari ini. Dari kemarin kami sudah berjanji pada Zea akan menemaninya mandi ombak di Pantai Bukit Ransam. 

Segera setelah Zea makan dan beres-beres, kamipun berangkat bertiga. 

Tak ada yang istimewa sepanjang perjalanan. Cuaca cerah, lalu lintas sepi, waktu yang pas sekali untuk pergi berlibur. Meski hanya pergi ke tempat wisata yang dekat saja, tapi Zea excited sekali karena mau main air laut. 

Bahkan dia sendiri yang berinisiatif untuk merekam vlog jalan-jalan kali ini. 

Setiba di lokasi, saya dan Zea turun dari motor di atas jalan. Pantai ini memiliki turunan yang cukup terjal, jadi kami memutuskan berjalan kaki menuruninya. Dan Abak sendirian memarkir motor di bawah. 

Tak ada siapa-siapa di pantai ini. Bahkan penjual yang biasanya menjual aneka makanan dan minuman untuk wisatawan pun sepertinya meliburkan diri. 

Agak rada-rada gimana sih sebenarnya, tapi kami tetap melanjutkan niat awal menemani Zea bermain ombak. 

Setibanya saja di pantai, Zea langsung menghambur ke sisi pantai dan main air. 

Saya menemani sambil merekamnya. 

Karna di sisi tengah pantai cekungannya agak dalam, Abak meminta Zea pindah ke sisi kanan pantai. Kamipun pindah dan Zea bermain ombak lagi sambil mencari kerangka kerang. 

Sesaat bermain, saya menyarankan gimana kalau kita ke sisi satunya lagi. Sepertinya di sana agak landai juga dan ada pohon untuk berteduh. 

Kamipun beranjak ke sisi sebelah kiri pantai. Saya merekam Zea yang sibuk mencari kerang dan Abak memotret dan meminta kami menoleh padanya.

Tak lama kemudian, Zea tiba-tiba berteriak. 

"Pulaaaang, pulaaaang, yuk kita pulang Buuun"

Bulu remang kamipun bergidik. 

"Ada apa sayang?"

"Pokoknya pulang, nanti aja cerita"

Zea histeris. Saya memeluknya dan membacakan ayat kursi ke ubun-ubunnya.

Kami bergegas menuju jalan tanpa membilas badan Zea di kamar mandi pantai. 

Kami memberi alternatif padanya, mau lanjut main ombak di pantai Carocok aja, atau pulang? Zea memilih pulang. 

"Pulang aja Bak, nggak usah ke Carocok, ntar siapa tau dia demam lagi. Pasti ada sesuatu di tempat tadi"

Kamipun sampai di rumah selang beberapa menit saja. 

Setelah mandi, saya membaluri Zea dengan minyak telon, memakaikan pakaian yang nyaman, memberikan kue dorayaki kesukaannya dan kemudian menanyainya. 

"Sini lihat Bunda, tadi Ea lihat apa? Lihat hantu?ada rupa sesuatu yang Ea lihat?"

"Nggak Bun, Ea cuma dengar suara aneh aja dan perasaan Ea nggak enak."

"Jadi bukan karna Ea lihat sesuatu? Tapi karna Ea mendengar suara yang aneh dan perasaan Ea nggak enak, gitu?"

Saya lanjut mengkonfirmasi apa yang terjadi padanya. 

"O syukurlah Ea nggak lihat hantu, mungkin suara yang Ea dengar suara siamang bercampur suara ombak, jadi terdengar aneh" 

Padahal kami sudah berkunjung beberapa kali di sana. Namun baru kali ini aura bergidik cukup berasa. Lokasinya seolah berubah suram. Ombak menghempas-hempas marah seolah menyuruh kami pergi karna mengganggu waktu istirahatnya. Mungkin kami diminta pergi agar ikut menyaksikan detik-detik proklamasi.

"Mungkin ombaknya marah, Bun. Karna kita pergi saat dia mau libur juga. Mungkin dia mau istirahat." 

Ungkap Zea menutup cerita.

5 TEMPAT BAGUS YANG BISA KAMU KUNJUNGI JIKA BERLIBUR KE PAINAN

    Perjalanan domestik darat, laut dan udara tak perlu antigen atau PCR. Headline berita beberapa hari lalu yang sontak membuat banyak dari kita ikut bersorak. Horee..kemana-mana nggak perlu “tusuk hidung” lagi. Meski minyak goreng semakin langka dengan harga yang menggila, semoga tiket transportasi tak turut serta, agar kita bisa healing kemana-mana.

    Sejak pandemi mulai mengikat langkah kita, healing tiba-tiba menjadi istilah yang populer. Kita butuh sesuatu hal untuk “menyembuhkan” keterkekangan kita ulah pandemi. Healing bisa berupa apa saja. Makan makanan favorit, marathon Netflix, juga mengunjungi tempat-tempat menarik.

    Painan, kota kecil indah yang terkenal dengan Pantai Carocok, Bukit Langkisau dan Pulau cingkuak-nya, bisa menjadi salah satu “place of my vibe”nya kalian untuk berhealing ria. Disamping destinasi utama, ada tempat-tempat seru disekitar destinasi tersebut yang wajib kalian samperin jika berlibur kesini. Sini aku bisikin tempat favorit kami yang tentu saja sayang untuk dilewati jika berkunjung ke kota kecil ini.  

1.    Mesjid terapung Samudra Ilahi

Berada tepat di pinggir Pantai Carocok, bagi teman-teman yang muslim kalian bisa melepas “beban” di sini. “Penyembuhan” terbaik mana lagi, melebihi bertemu langsung dengan penyembuh sesungguhnya.  Iya kan? :D

Mesjid yang diresmikan 5 Februari 2021 ini bisa kalian kunjungi dengan berjalan kaki beberapa meter saja dari huruf-huruf raksasa ikon Pantai Carocok. Sejuknya sepoi-sepoi angin pantai, ademnya suasana di dalam masjid, bakal bikin kamu betah berlama-lama di sini. Bawa orang tua kesini? Dijamin mereka bakal bahagia dan senang sekali.

2.   Paparakan CafΓ© and Gallery

Kafe tepi pantai yang baru-baru ini buka bisa jadi pilihan terbaik untuk menikmati pantai sambil menyantap seafood segar dan enak saat makan siang. Pada hari-hari tertentu, kalian bisa makan sambil menikmati akustik disini. Kafe ini punya halaman belakang yang cukup luas. Kalian bisa bersantai dihammock yang terikat diantara pohon-pohon pala disana. Bersantai menikmati angin pantai, menunggu pesanan seafood hangat disajikan. 

Setelah kenyang, kalian bisa berjalan-jalan ringan di jalan beraspal mulus depan kafe, view yang langsung membingkai Pantai Carocok, Pulau Kareta dan Pulau Cingkuak, tanpa penghalang mata sama sekali. Wisata healing yang sempurna, bukan?


3.   Jalan lingkar Salido - Carocok

Jalan ini persis di depan Paparakan CafΓ© and gallery tadi. Jalan sejauh 2,5 kilometer ini menghubungkan pantai Salido dan Carocok Painan. 

Disepanjang jalan ini kalian akan disuguhi pemandangan pantai. Bersepeda, jogging pagi atau berkendara sepanjang jalan ini bisa menjadi pilihan bagus untuk kalian coba dan nikmati.

Masih disekitar Jalan lingkar Salido-Carocok dan tak jauh dari Paparakan CafΓ© and Gallery tadi, juga ada “sekelumit” pantai rindang yang cocok untuk bersantai sore jika ombak tidak pasang. Kami (saya, suami dan putri semata wayang kami) menyebut pantai ini “pantai pribadi”.  Yap, setiap kali kami berkunjung pagi hari, pantai mungil ini selalu sepi. Dibagian ujung pantai ini, rimbun oleh pohon yang rindang, yang dahan dan daunnya melengkung ke pasir pantai, membentuk seperti lengkungan gua. Berteduh dibawah sini menyantap camilan yang dibawa sendiri, sambil melihat anak riang bermain pasir dan karang, huummmm..nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan.


4.   Takicok Coffe & Drinks

Beberapa meter dari Gerbang Pantai Carocok, kalian akan menemukan tongkrongan berkonsep milenial ini. Memesan beragam minuman dan makanan, sambil menikmati view pantai Carocok dari lantai atas. Memandang laut dengan kapal nelayan yang berjejeran, menyeruput minuman kesukaan, bertukar cerita dengan teman, tapi jangan lupa tetap patuhi protocol kesehatan. Okeee…!

5.    Pantai Hutan Peri

Begitu anak kami, Zea, menyebut pantai yang rimbun oleh cemara laut ini. Tempat ini bukan destinasi utama atau berada disekitaran pantai carocok seperti tempat-tempat yang disebutkan sebelumnya. Pantai ini terletak di Salido. Teman-teman bisa masuk lewat jalan kecil di samping Puskesmas Salido. Terus saja menyusuri jalan “setapak” dan diujung jalan, pantai ini akan langsung terlihat. Menuju pantai ini hanya kendaraan roda dua yang bisa lewat. Jika menggunakan kendaraan roda empat, kalian bisa numpang parkir disekitaran Puskesmas. Jangan lupa membawa tikar dan bekal jika berkunjung ke pantai tersembunyi ini. Karena bukan destinasi wisata utama, tak ada yang berjualan di sekitar pantai ini. Jadi, sediakan bekal, sebelum lapar ya! :D


Yuk ke Painan !


**Semua foto by Yuka Fainka Putra

PULAU CINGKUAK: KISAH DERMAGA REMPAH DI PANTAI BARAT SUMATERA

 

Siapa yang tidak suka makanan enak, perawatan tubuh, dan obat untuk menangkal penyakit? Ribuan tahun lidah masyarakat kita dimanjakan oleh perpaduan bahan dan bumbu temuan nenek moyang, hingga kini meja rias kita penuh dengan rangkaian kosmetik dan produk-produk perawatan tubuh, serta selalu ada “sitawa sidingin” ramuan penangkal semua tulah dan sakit.

Tapi makanan enak, aneka “ingredients” dalam botol-botol segala rupa, juga obat yang kerap kita balur dan telan itu, tak tersedia di meja berkat ayunan tongkat ajaib atau rapalan mantra. Ada serangkaian alur dan jalur yang harus terlewati, hingga semua itu menjadi bagian dari kehidupan bangsa kita saat ini.

Serangkaian jalur yang sekarang kita kenal dengan sebutan, Jalur Rempah.

Alkisah, dahulu kala sebagai penghasil emas hijau terbaik ‘pala’, Pulau Run di Banda diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Melalui perjanjian Breda, Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda. Sebagai imbalannya, Belanda menyerahkan pulau Manhattan di Amerika serikat -yang juga diperebutkan keduanya- kepada Inggris.

Tapi kali ini kita tidak akan berkisah tentang pulau Run yang sudah melegenda itu. Kita akan berkisah tentang sebuah pulau di Pantai Barat Sumatera. Pulau tempat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1666 mendirikan benteng untuk lojinya. Loji pertama mereka di Pantai Barat Sumatera. Pulau Cingkuak namanya. Dalam banyak literatur sejarah Pulau Cingkuak memiliki nama lain yaitu Chinco, Poulo Chinco, Poulo Chinko (dalam bahasa Portugis) Poeloe Tjinko, Poelau Tjingkoek, dan Pulu Tjinkuk (dalam bahasa Belanda).

Suatu pagi mengunjungi Pulau Cingkuak bersama Zea

Menurut data sejarah, Pulau Cingkuak dipilih karena bisa sekaligus menjadi  pelabuhan bagi kapal-kapal besar VOC, karena pada saat itu, kapal-kapal besar milik VOC tersebut tidak bisa merapat ke teluk Painan yang masih penuh dengan lumpur dan rawa yang dangkal.

Pulau dengan luas lebih kurang lima hektar itu berada tepat di ujung bibir teluk Painan. Jika kita memandanginya dari puncak Bukit Langkisau, pulau itu akan tampak serupa kapal layar. Samudera Indonesia di depannya bagai halaman lapang terbentang. Secara administratif pulau Cingkuak terletak di Kenagarian Painan Selatan Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat.

Hanya butuh 10 menit menaiki Speedboat dari Pantai Carocok kita akan berjumpa dengan Pulau Cingkuak. Selain memiliki pasir putih dan beragam keindahan pantai lainnya, pulau Cingkuak juga menyimpan berbagai bukti peninggalan sejarah berupa benteng Portugis, Prasasti Madam Van Kempen dan situs dermasa lama. 

Bercerita tentang Pulau Cingkuak yang masuk ke dalam wilayah Painan, tidak bisa dilepaskan dari kisah panjang Banda Sapuluah di Pesisir Barat Sumatera. Wilayah Banda Sapuluah merupakan suatu wilayah konfederasi bandar atau pelabuhan yang berada di sepuluh nagari. Pada masa dahulunya, Banda Sapuluah ini bagian dari wilayah rantau Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu di dataran tinggi Minangkabau bagian selatan. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu sendiri adalah sebuah kerajaan yang berdiri pada abad 16 di daerah Solok Selatan Sumatera Barat sekarang.

Wilayah Banda Sapuluah ini dimulai dari Bungo Pasang, lalu langsung ke Batang Kapeh, terus ke selatan ada Surantiah, Ampiang Parak, kemudian Kambang, Lakitan, Palangai, Sungai Tunu, Punggasan, dan terakhir Aie Haji. Bandar-bandar itu hadir menjadi jalur perdagangan penting terutama di Pantai Barat Sumatera. Maka tidak heran, kemudian Kesultanan Aceh menguasai konfederasi sepuluh bandar perdagangan ini, hingga ke Inderapura di selatannya pada abad ke-15 masehi.

Pada masanya, Banda Sapuluah penting bagi jalur perdagangan rempah di Pantai Barat Sumatera. Pelabuhan-pelabuhan di Banda Sapuluah menjadi penyalur komoditi dagang dari dataran tinggi Minangkabau yang kemudian diangkut kapal-kapal dagang yang merapat di bandar-bandar mereka. Komoditi dagang yang biasa ditampung di bandar-bandar itu, di antaranya rempah seperti lada dan cengkeh, damar, rotan, hingga emas.

Pulau Cingkuak pada masa itu merupakan pusat pelabuhan terbesar di Pantai Barat Sumatera. Kedatangan Portugis ke Pulau Cingkuak, hampir bersamaan dengan ke datangan Portugis ke Pulau Banda, Maluku.

Dari Pulau Cingkuak, Portugis berusaha menguasai jalur perdagangan rempah di Pesisir Barat Sumatera. Sisa Benteng Portugis yang ditemukan di pulau Cingkuak menjadi bukti pertahanan Portugis menghadapi Kerajaaan Inderapura di bagian selatan, dan kedatangan Belanda. Awalnya benteng itu terbuat dari kayu, lalu pada tahun 1679 benteng batu dibangun sepanjang 5 meter denga ketebalan 75 cm. Benteng yang ada di Pulau Cingkuak sebenarnya merupakan benteng Portugis, namun benteng tersebut menemui puncak kejayaannya sebagai gudang lada pada masa VOC.

Kisah panjang tentang sejarah kejayaan VOC di pulau Cingkuak tidak terlepas dari Perjanjian Painan/ Het Painans Tractaat. Yaitu perjanjian yang dibuat oleh penghulu atau penguasa beberapa kota pantai di Pesisir Barat Minangkabau dengan wakil VOC. Pada tahun 1662, perjanjian ini ditandatangani di sebuah pulau tidak berpenghuni dekat Batang Kapeh. Tahun 1663, perjanjian itu dikukuhkan lagi di Batavia. Penghulu pesisir yang ikut menanda tangani perjanjian ini adalah Sultan Mansyur Syah (putra Raja Indrapura) yang merupakan perwakilan dari para penguasa dibagian selatan pantai barat Minangkabau dan Orang Kayo Kaciak yang merupakan perwakilan dari Khalifah Bandar (penguasa Tiku) dan juga mewakili para penghulu dari Padang. Isi perjanjian ini adalah VOC akan membantu penguasa daerah pantai mengusir musuh-musuh mereka, termasuk Aceh bila musuh-musuh tersebut menyerang dari laut. Sebagai imbalan dari bantuan itu, maka para penghulu kawasan pesisir akan memberikan hak berdagang kepada VOC di daerah yang berada dalam kekuasaannya (Indrapura, Padang, Tiku, dan daerah lainnya) tanpa membayar bea.

Rencananya kantor perwakilan dagang VOC akan didirikan di Padang, selain Tiku dan Pariaman. Akan tetapi, rencana itu mendapat penolakan dari masyarakat Minang. Karena kelicikan VOC, dengan alasan keamanan, loji VOC dipindahkan ke Pulau Cingkuak. Sejak saat itu Pulau Cingkuak mengalami masa kejayaaannya sebagai pelabuhan kapal Internasional yang sangat ramai.

Di pulau Cingkuak ini Thomas Van Kempen, pernah tinggal. Thomas Van Kempen adalah kepala dagang VOC untuk Pantai Barat Sumatera yang bertugas mengendalikan Pantai Barat Sumatera dalam perdagangan lada. Lada kemudian diekspor langsung dari Pulau Cinkuak ke India oleh VOC. Saat menetap di pulau Cingkuak Thomas van kempen membawa serta keluarganya bahkan saking nyamannya tinggal di pulau indah tersebut, ia bahkan membuat perkebunan anggur di dalam bentengnya.

Seratus tahun kemudian, serangan dadakan dari pasukan Inggris menghancurkan ketangguhan benteng pertahanan VOC di pulau Cingkuak dan serangan ini kemudian berlanjut untuk menguasai benteng di Padang. Kapal Inggris yang mengangkut lebih dari 400 orang tentara berhasil mengelabui pasukan keamanan di perairan pesisir barat Sumatera dengan siasat memasang bendera Belanda dan Perancis, sehingga VOC menyangka mereka adalah sekutunya.

Saat ini benteng portugis yang berupa sisa-sisa benteng yang tidak utuh -hanya berupa tembok pagar sebelah timur dan pintu utama di bagian barat- dan sebuah prasasti yang dituliskan dalam bahasa Perancis di atas makam Madam Van Kempen (Susanna Geertruij Haije, istri dari Thomas van Kempen yang wafat pada tahun 1767) masih bisa disaksikan di pulau Cingkuak. Disebelah timur Pulau Cingkuak juga masih terdapat sisa-sisa dermaga lama. Dermaga ini berupa susunan dari batu andesit. Kondisinya sudah rusak parah karena terkikis oleh air laut. Sisa-sisa dermaga yang masih dapat disaksikan saat ini berukuran panjang ±20 meter dengan lebar 3 meter.

Berkisah tentang rempah, akan membuat kita menyadari bahwa rempah bukanlah sekedar komoditi dagang. Tidak sekedar tanaman kering berwarna coklat berbau harum yang harus tersedia di dapur rumah kita. Tapi lebih dari itu, kisah rempah penuh dengan sejarah, pertukaran banyak budaya, silang siur jalur dagang, sampai menjadi identitas bangsa kita hari ini.

Secara global, Jalur Rempah mencakup berbagai lintasan jalur budaya dari timur Asia hingga barat Eropa terhubung dengan Benua Amerika, Afrika dan Australia. Di Nusantara sendiri sejak abad ke 14 (atau mungkin bahkan sebelumnya), saudagar dari berbagai Negara datang ke Maluku untuk membeli rempah. Daerah-daerah yang mereka lalui ini mengalami perubahan budaya. Persentuhan budaya dengan orang asing membuat pertukaran budaya- termasuk kuliner- terjadi. Di Ranah Minang sendiri, di ranah yang terkenal dengan masakan yang penuh rempahnya, tentu tak terlepas pula dari persentuhan budaya. Bahkan makanan Minang sebenarnya banyak terpengaruh oleh budaya India. Ini terjadi karena kontak antara pedagang Minangkabau, India dan Afrika dahulunya. Arus dan angin yang arahnya bolak balik membawa kapal pedagang berkeliling ke pelabuhan di ketiga tempat tersebut.

Hari ini, meski kejayaan rempah yang sangat berharga melebihi emas itu sudah berada dimasa lalu, tapi peninggalan-peninggalan yang tersisa masih bisa kita nikmati dan lestarikan. Pokok-pokok pala dan lada masih tersisa di pulau Cingkuak. Halaman rumah pengepul rempah di sekitar Nagari Painan masih penuh dengan jemuran berbagai tanaman yang berbau harum itu. Rumah-rumah penduduk dan rumah makan, masih mengepulkan asap mengolah setiap rempah menjadi makanan yang nikmat di lidah. Suatu karunia Tuhan atas negeri ini, atas emas hijau yang kita miliki dimasa lalu hingga hari ini.

Upaya revitalisasi peninggalan-peninggalan sejarah ini sebaiknya terus dilakukan. Meski Pulau Cingkuak sudah resmi menjadi situs cagar budaya, akan lebih baik juga jika setiap tahunnya di Pulau Cingkuak juga diadakan pekan sejarah. Bisa berupa expo rempah, lomba memotret, melukis pulau, membuat animasi dan sebagainya. Dengan kegiatan ini, upaya mendekatkan dan mengenalkan sejarah pulau Cingkuak kepada masyarakat dan khalayak luas akan lebih mudah terealisasi. Sehingga kita semua akan semakin mengenal sejarah, asal-usul, dan menjadikannya identitas kebanggaan kita. Bukankah bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai sejarah?. Dengan diadakannya acara seperti pekan sejarah ini, diharapkan kunjungan wisatawan juga akan semakin meningkat, sehingga perekonomian masyarakat sekitar menjadi semakin baik.

Kisah ini dengan berbagai bukti peninggalan sejarahnya yang masih bisa kita temui, juga menjadi bukti pasti bahwa Pulau Cingkuak di masa lalu adalah dermaga internasional penting dan menjadi salah satu titik jalur rempah Nusantara di Pantai Barat Sumatera.

Salam Nusa dan Rara ! eh..! ☺











Foto : Yuka Fainka Putra


SEBUAH KADO PERJALANAN (PART 1 : Kami menyebutnya "Perjalanan Bermakna")

“Apa yang bisa kita ingat dari sebuah perjalanan dan seberapa lama kita bisa mengingat sebuah kenangan?”
......................................................................................
Tanda tanya ini terus menggelitik saya untuk bersegera menuliskan apa yang masih saya ingat agar kelak saya tak menyesal ketika sudah mulai lupa, meski tak bermaksud melupakan.
Ini perjalanan penting, setidaknya saya harus menyebutnya begitu. Perjalanan yang kami lakukan, “kami” ya kami. Saya dan Uda sudah sah untuk bersama memulai pelayaran kami. Komitmen dan janji bersama untuk menantang badai. Ah, setidaknya hingga tulisan ini dibuat, kami masih di sekitaran pantai, angin masih sepoi-sepoi. Kami memulainya dari Bandara Internasional Minangkabau. Bandara kebanggaan Ranah Minang itu menjadi sebuah saksi perjalanan awal.  Citilink dengan kode penerbangan QG 973, jam 09:25, Padang-Jakarta, seat 23 C dan 23 D. Yap, kami bersebelahan setidaknya begitu yang bisa saya gambarkan. Uda bisa memotret saya dan saya memotretnya pula.  Burung besi itu mengucapkan selamat berpisah pada kami di Bandara Soekarno-Hatta. Nama yang waktu awal SD saya kira hanya nama satu orang saja.
Di Soeta, kami mencari travel ke Bandung, ya kami harus “mancigok” dulu kontrakan saya yang sudah satu semester terabaikan, sekaligus menaruh barang-barang bawaan kami. Backpack Uda, koper, tas kamera, tas hp, kardus oleh-oleh dan tas tangan saya. Di Bandung kami tiba sore. Dari travel Cipaganti kami turun di Pasteur, naik taksi Gemah ripah menuju kontrakan, begitulah hingga kami bisa merebahkan badan pada akhirnya di Bumi Pasundan ini lagi.
Esoknya setelah sarapan kami membeli tiket kereta api di sebuah Mini market.  Kereta api Lodaya Malam No. 82 kelas Bisnis, kursi 14 A-14B. Sabtu, 22 Agustus 2015 pukul 18:55 WIB. Ini pengalaman pertama kami naik kereta di tanah jawa. Uda bahkan menjadikan ini sebagai pengalaman pertamanya naik kereta. Kami tiba di Jogja Minggu  pukul 3. Pagi, tentu saja. Menunggu sebentar di stasiun untuk kemudian disambut double Roland di parkiran. Ya, ada adik sekampung uda yang kuliah disana, Roland namanya. Dia membawa temannya asal Bengkulu bernama Roland pula. Ah suatu kebetulan yang sangat keterlaluan. J
Sebuah hotel yang kami tanyai di dekat stasiun mengaku full booked, harus menunggu jam 12 siang nanti untuk bisa kami booking kembali. Ya, kami bukan turis manca negara di sini. Ada teman, ada abang, ada adik dan tentu saja ada internet di sini. Apa yang patut kami risaukan? Tak beroleh hotel tak jadi masalah, kami dengan menenteng koper besar berboncengan menuju kosan Roland di sekitaran UNY. Kami istirahat dan double Roland menawarkan diri mencarikan hotel untuk siang nanti. Hotel Pules dengan kamar balkon di Jl. Mataram di balik Jl. Malioboro, kami akhirnya menghirup lega udara Jogja.
Apa yang terpikir oleh kalian tentang Jogja? Ah, ini bukanlah suatu pertanyaan konyol pada sebuah kaus dagadu gadungan. Tapi ini adalah apa yang Jogja tanyakan pada kami saat menyeruput Mie Sedap Cup di balkon kamar. Jauh-jauh ke Jogja, kita hanya makan mie instan, saya dan uda menertawakan awan? Kok awan? Ya siapa lagi? Kami tak mau menertawakan diri kami,,hahaha.
Agak sore, ada telpon dari resepsionis, ada tamu untuk Uda. Namanya Doni, teman Uda. Laki-laki dengan rambut ikal gondrong sepunggung -dihari berikutnya menanyakan pada saya sampo apa yang membuat rambut tidak rontok-, kaos putih oblong, celana jeans, sepatu converse dan tas punggung dengan syal batik yang sudah 4 tahun tak dicuci-begitu ceritanya pada kami.
Doni memandu kami jalan-jalan. Kita kemana, tanyanya. Tentu saja ke Malioboro. Tempat wisata dengan pencarian teratas tentang Jogja. 

Sebuah jalan dengan lalu lalang orang dan kendaraan, pedagang kaki lima di sepanjang jalan. Tulisan Malioboro dengan huruf sansakerta, tukang becak yang menawarkan jasa, toko batik di sebelah kanan jalan, pustaka Jogja, pedagang kaos oblong dan turis manca negara. 
Jl. Sepanjang 300 meter itu mengarah lurus hingga ke titik nol, alun-alun dan keraton Jogja. Garis imaginer ke arah utara hingga gunung merapi diujung sana. Tentang garis imaginer ini dimulai dari pantai parang kusumo, panggung Krapyak, Tugu, keraton hingga merapi. Jika garis lurus ini bertemu maka ada sebuah makna yang terkandung di dalamnya, yaitu berawal dari Merapi sebagai gunung api, dan berakhir di Parangkusumo sebagai laut. Air dan Api, sebuah makna filosofis yang tak hanya sebuah garis khayal, namun juga simbolisasi keharmonisan elemen alam, Air dan Api, Yin dan Yang yang terwujud dalam kearifan lokal masyarakat Jogja.
Lalu, Apa yang kami lakukan di Malioboro? Pertanyaan itu sepertinya hanya butuh jawaban dua kata saja. Makan dan Memotret. 

Kami memulai langkah dengan makan di sebuah warung pinggir jalan dengan menu nasi goreng, burung dara bakar dan goreng plus es teh. Meski cukup aneh melihat sajian burung dara lengkap dengan kepalanya di atas piring, tapi hidangan itu sukses kami habiskan.  

Lalu memotret, ya kami memotret jalan, memotret diri sendiri, memotret pejalan kaki, memotret tukang becak, memotret ibu-ibu pedagang  bakso bakar, memotret museum yang sudah tutup, bahkan memotret patung Scrat (tupai) dalam film serial Ice Age dengan buah pohon ek kesayangannya. Saya tidak bisa menyingkronkan apa hubungan Ice Age dengan Jogja. Doni juga menggelengkan kepala.
 Hampir senja, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Mempersiapkan diri untuk tour selanjutnya. FKY, festival kesenian Yogyakarta di Taman Kuliner Condongcatur. FKY adalah bonus, bonus riuh dan riangnya sebuah perjalanan, dan bonus selanjutnya buat saya adalah bertemu mak Indah Harwanti, Director saya di Oriflame Indonesia. 

Kami janjian ketemu di Waroeng Ayam Kampung (Warung Akam) di seberang jembatan dekat gerbang FKY. Ada orderan yang saya titip pada mak Indah dan kami juga belum pernah bertatap muka langsung, maka kemudian selepas dari hotel, Doni mengantar saya duluan ke Condongcatur, saya menunggu mak Indah dengan segelas jus, namun sampai Uda dan Doni ikut bergabung, mak Indah belum juga datang, hingga beberapa waktu kemudian, saya melihat gadis kecil Nayla (anak Mak Indah) celigukan mencari saya. Haaaa,,saya histeris akhirnya bertemu ibu peri kami, director yang baik hati. Kami memesan makanan dan ngobrol apa saja, seperti melepas rindu, padahal kami tak pernah bertemu.
Sudah 20:30 WIB, kami harus menuju panggung sastra di utara komplek FKY. Ada pembacaan cerpen dari Indrian Koto, Naomi Srikandi dan beberapa seniman di sana.
 Ngomong-ngomong tentang Bang Koto, beliau adalah Bos Toko buku online Jual Buku Sastra (JBS) di sana. Owner JBS sekaligus abang kandungnya Doni. Apa yang paling membahagiakan selain bertemu handai taulan di rantau orang? Ya, begitulah, kami disambut dengan hangat oleh Bang Koto, Mbak Sukma dan Nak Gadih Rinai yang sudah terlelap di pangkuan mamanya. Malam melarut, selesai menyaksikan penampilan terbaik putri sastrawan W.S Rendra tersebut, kami merapat ke dekat stan JBS di belakang tempat lesehan penonton. Dan Uda pun kemudian menyadarkan saya, ada Joko Pinurbo di samping kami. Tentu saja saya harus berfoto dengannya, Uda juga. “Kau menanamku pada sungaimu dan aku tumbuh menjadi arus yang menyimpan mimpimu”, siapa yang tak kenal sajaknya itu. ☺

Tepat pukul 22.00 acara selesai. Benar-benar acara yang tepat waktu. Saya dan Uda bahkan takjub, sampai-sampai kami bertanya, di Indonesiakah kita? Hehe. Kami kembali diantar ke penginapan oleh Doni dan mba’ Ira, kali ini dengan bekal sebuah motor matic yang bisa kami gunakan untuk “malala” esok harinya.
Prambanan, menjadi destinasi utama kami di hari kedua. Dipandu GPS, kami akhirnya sampai di parkiran Candi. Berjalan ke loket tiket kami ditawarkan paket wisata Prambanan-Ratu Boko HTM 50K  dengan fasilitas obyek Candi Prambanan, Obyek Candi Ratu Boko plus gratis transportasi. Kami setuju, dan sebelum menginjakkan kaki di Prambanan, kami dibawa sebuah mini bus elf menuju kaki tangga candi Ratu Boko, sekitar 3 kilometer sebelah selatan Prambanan.

Konon katanya, tempat tersebut bukanlah candi, tapi sebuah Istana kerajaan Medang (Mataram Hindu). Diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran). Nama "Ratu Boko" berasal dari legenda masyarakat setempat. Bahasa Jawa yang arti harafiahnya "Raja bangau". Ayah dari Roro Jonggrang.
Menurut situs Wikipedia Luas keseluruhan kompleks adalah sekitar 25 ha. Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton (istana raja). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini. Tapi kenapa sekarang disebut Candi? Sudah buramkah pengkajian sejarah di negeri ini?

Usai mengitari Istana Ratu Boko, kami kembali ke Candi Prambanan. Disebuah spot yang disediakan untuk berfoto, kami bertemu bule yang minta tolong untuk difoto dengan pasangannya. Dan merekapun menawarkan diri untuk memotret saya dan Uda. Foto resmi pertama kami di Candi Prambanan ini.
Matahari sedang menyeringai di atas kepala. Candi yang konon katanya didirikan dengan siasat licik seorang wanita bernama Roro Jonggrang ini berada kurang lebih 30 kilo meter sebelah timur laut kota Jojga. Ketinggiannya mencapai 47 meter. Ditetapkan sebagai cagar budaya abad ke-9 oleh UNESCO. Kami berkeliling, mengabadikan dan kemudian melarikan diri ke sebuah rumah makan Padang. Perut harus segera bersua nasi. Berdamai dengan jam biologis kami.
Usai makan, kami langsung pulang ke penginapan. Lelah menghantam kami. Dan kami harus kembali mempersiapkan diri untuk menonton FKY lagi malam nanti. Uda harus bertemu Puthut EA katanya. J  Malamnya kami melawat ke Tugu. Icon kota Jogja ini akan lebih indah untuk dikunjungi malam hari. 
Photografy menantang maut, ungkapan itu sangat tepat untuk menggambarkan tempat ini. Mengambil foto sambil memperhatikan Traffic light. Lengah sedikit maka bersiaplah ditabrak mobil atau motor dengan pengendara yang tak mengerti apa arti kata ngebut. Bagi mereka kecepatan 80 km/jam adalah hal yang biasa saja. Sungguh kota yang tergesa-gesa.
Saya tak bisa menyembungikan perut yang berontak. Suara kruk-kruknya sangat tak tau malu untuk menggiring saya ke sebuah angkringan di kiri Tugu.  Angkringan Lik Man namanya. Uda memotret sendiri, saya makan sambil menunggu Zakky, adik junior Uda di klub basket dan panitia buku tahunan SMA yang dikelola Uda. Zakky baru semester satu di jurusan komunikasi UGM, baru beberapa bulan di Jogja. Pas Zakky datang, kami mengajaknya ke House of  Raminten. 
Sebuah restoran dengan atmosfer Jawa yang sangat kental. Alunan musik gending Jawa berpadu dengan bau mawar dan dupa menjadi ciri khas tempat makan yang cukup unik di tengah Kota Jogja ini. Memasuki bagian depan restoran yang terletak di Jalan FM Noto No. 7, Kota Baru ini, kami tidak langsung berhadapan dengan ruangan yang dipadati meja makan. Tapi justru ruang tunggu dengan deretan kursi , dua buah kereta kuno ala Kesultanan Mataram dan beberapa foto sang pemilik restoran. Aksi tak biasa rumah makan ini juga terlihat dari beberapa tulisan di area ruang tunggu. Papan peringatan untuk para tamu misalnya. Tertulis: Mohon perhatian! “Barang” anda (handphone, dompet, sisir, kaca mata, jaket, tas, topi, gergaji, setrika, dll) supaya jangan sampai ketinggalan”.
Raminten tampaknya tak ingin para tamunya antri menunggu dengan perasaan bosan. Pelayan restoran juga tak kalah unik. Para pelayan perempuan dengan pakaian kemben dan jarit batik. Pelayan laki-laki mengenakan kaos putih, rompi hitam dan kain batik. Mereka juga saling berkomunikasi menggunakan walkie talkie.
Kami harus antri di bangku yang sudah disediakan, menuggu giliran dengan nomor antrian delapan. Rata-rata menu yang disediakan oleh House of Raminten adalah menu-menu masakan Jawa. Saya memesan nasi liwet, es teh dan ayam koteka. Ayam Koteka, namanya memang nyentrik, mengingatkan kita dengan pakaian adat khas suku di Papua. Menu ini berbahan dasar cacahan ayam yang dicampur dengan telur, kemudian dimasak dan disajikan pada sebilah bambu, sekilas bentuknya mirip-mirip seperti koteka. Menu ayam koteka ini memiliki rasa yang cukup gurih sehingga pas dijadikan sebagai lauk tambahan untuk menemani menu nasi yang telah dipesan. Sangat elegan,,hehehe. Uda dengan Nasi liwet juga plus sate ayam dan lemon tea hangat, Zakki dengan kupat tahu dan es dawet. Serta es krim bakar yang disajikan kemudian membuat kami siap untuk mengitari Jogja kembali.
Usai makan, kami langsung ke lokasi FKY di Condongcatur. Saya bertemu adik, junior di HMI asal Maluku di sana, Dilo namanya. Sengaja ketemu karena ini kali pertama saya ke Jogja. Usai FKY, kami kembali ke hotel, janjian dengan Doni untuk ke Borobudur esok hari.
Dan bangunlah kami pagi-pagi. Saat Jogja mulai mengeliat. Deretan toko sepatu di seberang hotel belum dibuka satupun. Mereka mungkin sedang pulas, berdamai dengan kantuk, agar tak datang dipenghujung sore hingga pertengahan malam. Kami sengaja tak memesan menu breakfas hotel, agar bisa berjalan menyusuri trotoar dan memesan semangkuk soto serta sepiring nasi rames pada ibu-ibu pedagang kaki lima diujung sana. Sangat sederhana dan sangat Jogja, tapi setidaknya kami mencicipi kepingan kota ini disini, hangat dan ramah.
Kami mengemas semua pakaian dan menitipkannya di resepsionis ketika check out. Saat  itu Doni dan Teguh sudah tiba di depan hotel dengan secangkir kopi di samping mereka. Masih hangat dan sangat “mengganggu” Uda dengan aromanya. Sama-sama pecinta kopi membuat kami tahu betapa melegakannya secangkir genangan hitam itu dikala pagi. Hangat dan menggembirakan.
Tujuan hari ini adalah Keraton dan alun-alun.
Dan perjalanan pun dimulai kembali setelah menyerahkan gelas kopi pada Bapak penjualnya. Kami menuju Istana sang Sultan.
Sudah siang dan matahari sudah semakin tinggi saat kami berkeliling dan menikmati udara istana. Tak banyak yang kami lakukan di sana, selain menikmati suasana, memotret beberapa sudur keraton, berfoto dengan abdi dalem dan menikmati gamelan di pendopo. Saya mencuri dengar dari tour guide rombongan wisatawan di sebelah saya, bahwa sebuah pohon besar di depan saya usianya sekitar 300 tahun.

Kami juga mengunjungi museum kereta kencana kerajaan dan galeri tempat dipajangnya foto-foto para sultan. Istana yang damai dan rindang, membuat kami betah berlama-lama di sana. Kami juga sempat “mancigok” ke pabrik batik hingga ke toko penjualannya. 

Menjelang sore kami menghabiskan waktu di Taman sari. Istana Air Tempat Permaisuri dan Putri Raja Mandi. Bangunan kuno ini memiliki arsitektur yang indah perpaduan budaya Eropa, Hindu, Jawa, dan Cina lengkap dengan ruangan dan lorong-lorong rahasia yang menyimpan banyak kisah.
Istana Air Taman Sari terletak di kompleks Njeron Beteng, tak jauh dari Keraton Yogyakarta. Dari Malioboro tempat ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik becak. Lokasinya yang tersebunyi di kompleks perkampungan warga, sehingga sering menjadikan wisatawan sedikit bingung saat ingin mengunjungi Taman Sari. Padahal tempat ini sangat mudah dicapai. Kami dan uda juga sempat kebingungan,  dan melototin GPS yang membuat kami berputar-putar beberapa kali.

Ada dua cara untuk sampai ke tempat ini. Yang pertama adalah melewati Pasar dan Plaza Ngasem. Silahkan masuk dan temukan gang KP III. Dari gang tersebut belok kiri dan jalan kaki sekitar 200 m. Pulo Kenongo sudah menyambut. Sedangkan jika ingin masuk memalui gerbang utama, dari Pasar Ngasem naik becak ke arah Alun-alun Selatan. Kurang lebih 0,5 km akan bertemu dengan Jl. Tamansari.
Hampir menjelang magrib, kami sampai di Rumah Bang Koto. Saya beristirahat, sementara uda dan doni kemudiaan balik ke Hotel mengambil barang yang kami titipkan.
Malamnya, kami ditraktir makan bakmi oleh mbak Sukma, istri bang koto. Jogja adalah negeri asal bakmi, dan saya ingin mencicipi kuliner ini di tempat asalnya. Dan lidah padang saya, ternyata sangat menikmatinya. Usai makan, kami rame-rame pergi nonton teater. Meski agak telat, tapi kami, khususnya saya pulang dengan dada yang sesak. Saya terpukau, saya tersihir, dan saya seperti menemukan apa yang saya cari dikerumunan kota ini.

Kami kembali ke JBS untuk menyiapkan energy untuk keesokan harinya. Esok kami akan mengunjungi sebuah Keajaiban, Borobudur.
Jarak kurang lebih satu jam perjalanan kami tempuh dengan kecepatan yang tak biasa. Uda tak pernah mengendarai motor seperti itu kalau di Padang. Tapi di sini, kami harus mengikuti alur laju kendaraan, tak ada yang tahu angka 40 atau 60 di sini, mereka hanya hafal, bahwa speedometer motor mereka hanya punya angka 80 hingga 200, batas kecepatan minimal dan maksimal menurut mereka. Kamipun was-was kalau sudah begini. Hanya berhenti disebuah SPBU dan kemudian melanjutkan perjalanan, kami akhirnya berlabuh disebuah resto sarapan. Perut harus diisi kembali :D
Bertiga mereka sepakat memesan nasi goreng, dan saya yang sudah makan nasi sebelumnya memesan bakmi jawa plus sambal dan ayam goreng tentunya. Doni dan Uda dengan kopi lagi, saya dan Teguh dengan teh hangat kami. Sarapanpun kami sudahi dan lanjut membelok pada sebuah persimpangan menuju kebun tembakau, tempat yang sangat ingin Uda datangi. 
Kami “memergoki” ibu-ibu sedang mematahkan tangkai-tangkai daun tembakau di sebuah area kebun. “hanya satu atau dua helai daun yang bisa dipetik setiap harinya dari sebatang pohon tembakau dan harus melakukannya denga hati-hati agar tak merusak pohon”, ibu-ibu itu menjelaskan pada kami sambil mempraktekkan cara melepas daun itu dari batangnya. Kalian darimana? Ibu yang lain bertanya. Padang, jawab kami bersamaan. Wah, sangat jauh dari sini. Apa yang kalian cari di sebuah kebun tembakau yang jauhnya  beribu kilometer jaraknya dari rumah kalian. Mungkin itu maksud dari anggukan ibu-ibu tersebut setelah menanyai kami.

Uda menekan tombol shutter kameranya sesering mungkin, seolah tak ada jalan lagi buat kami kembali ke sini. Dia kalap melihat hamparan hijau kebun tembakau yang sangat luas dan kuningnya tembakau yang sedang dijemur warga. Sebagian terlihat sudah ada yang coklat. Los-los wadah penjemuran tembakau tersebut berjejer sepanjang jalan, mengawal kami hingga kembali berbelok menuju Candi. Sampai bertemu lagi. Raja komoditi.
Kami memarkir kendaraan tidak jauh dari gerbang C. Disambut para penjaja souvenir, rental payung dan puluhan penjual topi yang menawarkan kami membeli salah satunya. Tentu saja hanya satu, sebagai satu-satunya perempuan dalam rombongan kecil ini, hanya saya yang mengenakan topi seperti putri, yang lainnya menyiapkan syal sekedar menutupi kepala di tengah teriknya matahari di atas sana. Atas??anggap saja begitu.
 Ada gerbang tempat memesan karcis masuk dengan card yang lucu tapi tak boleh kami bawa pulang. Dan ada penyewaan angkutan taman, sebuah kereta mini  dipojok sana yang siap mengangkut kami ke mulut candi dengan merogok kantong RP. 7.500/orang.
Tiba digerbang candi, kami diminta memakai batik khas Borobudur yang berwarna ungu tua dan putih, sangat indah dan kita akan dibantu petugasnya kalau kesulitan mengenakannya. Welcome to Borobudur.

Kami berjalan menanjak menuju candi, memasang beberapa pose selfie dan wefie. Ini pertama kali kami –saya dan Uda- disini, mengagumi sebuah keajaiban. Mengitari lekuknya dan mengabadikan beberapa sudut yang dipenuhi lalu lalang para wisatawan domestik maupun mancanegara. 
Meski telah dikeluarkan dari tujuh keajaiban dunia, Borobudur masih menjadi sebuah keajaiban dalam hidup kami. sampai di sinipun adalah suatu keajaiban bagi saya pribadi. Menapaki tanah jawa dan menatap salah satu kebanggaannya, sebuah keajaiban atas terwujudkan impian yang selalu saya tanamkan. Ya, sebuah keajaiban.

Setelah puas dan capek berkeliling ke beberapa sudut candi, kami akhirnya menyerah pada panas dan kaki yang pegal. Meski mengenakan sepatu kets, tetap saja kami harus berdamai dengan kaki yang tak sanggup lagi diajak kompromi. Istirahat dibawah pohon usai pintu keluar candi, dan kemudian berjalan kaki menuju jalan masuk kami tadi. Ternyata salah gerbang dan motor kami diparkir nuuun diujung sana, hingga sampai ditempat parkiran, tak satupun dari kami yang mau membuka suara, bicara akan menguras energi kami untuk berjalan menuju pelataran parkir yang jauh. Lebih baik diam, jika tidak, akan diam selama-lamanya,,hehehehe :D
Capek, haus dan lapar membuat kami memacu kendaraan dengan lebih kencang lagi, Rumah Makan Duta Minang melambai-lambaikan tangannya pada kami jauh di Jogja sana. Tak apalah, yang penting lapar ini bisa dituntaskan dengan sepiring nasi Padang berikut lauk khasnya. Jauh-jauh ke Jogja, restoran inilah yang pada akhirnya melunaskan hutang kami pada perut yang sering dicekoki dengan masakan “antahbarantah”. Lapar dan capekpun dibayar lunas. Usai makan, saya tepar di Markas JBS (Jual Buku Sastra).
Sore itu juga kami kembali ke Malioboro, menerobos kios pedagang batik di pasar Beringharjo. Belanja beberapa batik, kaos bejo dan berlabuh di Mirota batik, disambut batu dupa, karena pemiliknya sama dengan House of Raminten, maka suasananyapun tak jauh beda. Mirota Batik ada tiga lantai, katanya lantai tiga adalah kafe, tapi kami tak mampir di sana, saya membeli baju terusan warna toska dilantai dasar dan Uda kembali dengan souvenir topeng di tangannya dari lantai dua. Pasar Beringharjo dan Malioboro adalah surga belanja para pecinta batik dan souvenir. Usai sudah sesi belanja kami. Kami harus kembali ke JBS memilah buku dan merapikan barang-barang. Bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Menuju Bromo. 

The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Cukup

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry. Seka...