Ruang yang Diam-Diam Mengajar: Catatan dari Kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD

Siang ini, seperti biasa, saya berdiri di depan kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD, mendengarkan dua mahasiswa saya, Risa dan Nadia, mempresentasikan makalah tentang sumber, media, dan penataan lingkungan bermain anak usia dini. Makalahnya rapi. Tujuh prinsip penataan ruang dijelaskan lengkap. Lima sentra BCCT dipaparkan runtut. Kriteria memilih material main disebutkan satu-satu.

Tapi di tengah presentasi itu, saya menangkap diri saya bertanya-tanya: apakah mahasiswa saya -calon-calon guru PAUD yang akan berdiri di ruang kelas sungguhan beberapa tahun lagi- benar-benar memahami betapa sunyi tapi berkuasanya sebuah ruangan?

Saya rasa ini yang jarang dibicarakan orang di luar lingkaran PAUD. Sebelum seorang guru membuka mulutnya, sebelum RPPH dibacakan, sebelum satu kata pun diucapkan -ruang itu sudah lebih dulu "mengajar" anak kita.

Ruang Sebagai Guru Ketiga

Ada istilah cantik dari pendekatan Reggio Emilia di Italia yang selalu saya suka: the third teacher. Guru pertama adalah orang tua. Guru kedua adalah pendidik di sekolah. Dan guru ketiga -yang paling sering diabaikan- adalah lingkungan itu sendiri.

Coba pikirkan. Rak mainan yang tertata rapi dengan label bergambar, versus rak yang isinya ditumpuk sembarangan -dua-duanya sedang "mengajar" sesuatu ke anak. Yang pertama mengajarkan keteraturan dan kemandirian. Yang kedua, entah kita sadari atau tidak, mengajarkan bahwa kekacauan itu wajar. Anak tidak butuh ceramah untuk mempelajari ini. Ruang yang bicara, jauh sebelum guru buka suara.

Ini yang saya sebut kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang bersembunyi di balik cara kita menata rak, memilih warna dinding, meletakkan meja. Dan menurut saya, ini seharusnya menjadi bahan wajib di setiap program studi PAUD di Indonesia, bukan sekadar catatan kaki.

Kekayaan yang Tercecer di Halaman Rumah

Ada satu teori lain yang menurut saya jauh lebih revolusioner dari yang orang kira, Loose Parts Theory, dicetuskan arsitek Inggris Simon Nicholson tahun 1971. Intinya sederhana -semakin banyak "bahan lepasan" yang bisa dipindah, disusun ulang, dan dikombinasikan bebas oleh anak, semakin tinggi kreativitas yang lahir darinya.

Yang membuat saya tersenyum ketika membahas ini di kelas, bahan-bahan itu tidak harus dibeli dari toko APE (Alat Permainan Edukatif) yang harganya bisa membuat kepala pengelola PAUD pusing tujuh keliling. Di Pesisir Selatan tempat saya tinggal dan mengajar, loose parts itu berserakan gratis di sekitar kita -batok kelapa yang menumpuk di halaman, potongan bambu bekas, kerang dan pasir di sepanjang pantai yang jaraknya mungkin hanya sepelemparan batu dari beberapa PAUD di sini.

Ironisnya, justru karena benda-benda ini terlalu dekat dan terlalu biasa, kita sering tidak melihatnya sebagai alat edukatif. Kita sibuk mencari APE mahal buatan pabrik, sementara kekayaan pesisir kita sendiri menunggu untuk disentuh, dipegang, dan dijadikan bahan belajar. Saya kira ini pekerjaan rumah kita bersama sebagai pendidik daerah untuk melatih mata untuk melihat yang sudah ada, bukan selalu menoleh ke yang harus dibeli.

Regulasi Berubah, Buku Kuliah Kita Tertinggal

Ada satu hal yang membuat saya sedikit gelisah ketika membaca ulang makalah mahasiswa saya: mereka menulis "setiap sentra menampung 8-10 anak per kelompok" -angka yang sebetulnya sudah cukup lama beredar di buku-buku teks PAUD.

Padahal, regulasi kita terus bergerak. Permendikbudristek No. 22 Tahun 2023 tentang Standar Sarana dan Prasarana kini menegaskan enam prinsip wajib penataan sarpras PAUD -dan dua di antaranya jarang disebut di buku-buku lama: penggunaan sumber daya lokal yang tersedia, dan keberpihakan pada kelestarian lingkungan. Belakangan, Permendikdasmen No. 26 Tahun 2025 tentang Standar Pengelolaan, yang diperjelas lewat Kepmendikdasmen No. 14 Tahun 2026, mengatur batas rombongan belajar berdasarkan usia: maksimal 10 anak untuk usia 0-2 tahun, 12 anak untuk usia di atas 2 sampai 4 tahun, dan 15 anak untuk usia di atas 4 sampai 6 tahun.

Ini bukan sekadar detail administratif yang membosankan. ini pengingat bahwa dunia pendidikan anak usia dini di Indonesia sedang bergerak, dan kita sebagai pendidik, apalagi sebagai dosen yang mencetak calon-calon guru, punya tanggung jawab untuk terus meng-update diri. Saya sering bilang ke mahasiswa saya, regulasi itu bukan hafalan mati yang sekali dibaca lalu selesai. Ia hidup dan berubah.

Ruang Kelas Kita Bukan Ruang Kelas Jakarta

Saya juga ingin jujur soal satu hal, banyak literatur penataan ruang bermain PAUD yang kita pelajari di bangku kuliah, ditulis dengan asumsi ruang kelas ideal -luas, bersekat sentra, dengan anggaran pengadaan yang memadai. Realitas di banyak PAUD desa di Pesisir Selatan, jauh dari itu. Satu ruangan kecil, dipakai serba guna, dengan anggaran yang jauh dari kata cukup.

Saya kira inilah yang seharusnya menjadi bahan diskusi paling jujur di kelas-kelas kurikulum PAUD kita: bukan bagaimana menata ruang ideal ala buku teks, tapi bagaimana menata ruang yang ada, dengan segala keterbatasannya, tanpa mengorbankan filosofi di baliknya. Rak lipat, sekat dari kain atau karpet, rotasi material main dengan sistem simpan-tukar -solusi-solusi kecil yang justru lahir dari keterbatasan, bukan dari kelimpahan.

Satu Isu yang Belum Selesai Kita Bicarakan

Ada satu hal yang menarik dalam presentasi mahasiswa saya hari ini - dan sejujurnya, dalam kebanyakan makalah PAUD yang saya baca selama ini -isu material main berbasis layar nyaris tidak pernah disinggung. Padahal ini perdebatan besar yang sedang berlangsung di dunia pendidikan anak usia dini, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia tetap merekomendasikan screen time yang sangat terbatas untuk anak di bawah 6 tahun.

Sebagai dosen sekaligus penulis blog ini, saya pribadi termasuk yang percaya, sehebat apa pun sebuah aplikasi belajar, ia tidak pernah bisa menggantikan tekstur pasir di jari-jari anak, aroma tanah liat basah, atau rasa bangga saat menara balok yang ia susun sendiri akhirnya berdiri tegak. Prinsip dasar PAUD -belajar lewat pengalaman langsung dengan benda nyata seharusnya tetap jadi jangkar kita, di tengah godaan solusi digital yang serba instan.

Yang Ingin Saya Tinggalkan di Sini

Kalau ada satu hal yang ingin saya tinggalkan dari tulisan ini, ini dia: ruang bermain anak bukan sekadar dekorasi atau formalitas administrasi lembaga. Ia adalah kurikulum yang berbicara diam-diam, guru yang tidak pernah absen, dan cermin dari seberapa serius kita menghargai cara anak-anak belajar.

Sebagai pendidik di Pesisir Selatan, saya percaya kita punya keuntungan yang jarang disadari, kekayaan alam dan budaya lokal yang, kalau kita mau sedikit lebih peka melihatnya, adalah alat edukatif paling otentik yang bisa kita tawarkan pada anak-anak kita -jauh sebelum kita menoleh ke katalog APE dari kota.

Semoga tulisan ini jadi renungan kecil, bukan hanya untuk mahasiswa saya, tapi juga untuk siapa pun yang membaca blog ini dan sedang menata ruang belajar -di kelas, di rumah, atau di mana pun anak-anak kita bermain dan bertumbuh.

Tabik.

MUSIM PANAS YANG IKUT KUBAWA PULANG : Dazzling & Never Ending Summer

Kipas angin kecil merk Robot berwarna hijau sage masih menyala disamping kiri laptopku. Di kanan gelas labu daisy hadiah ulang tahun dari putriku tahun lalu, masih menyisakan potongan es batu. Terik musim panas kali ini, cukup membuat gerah.

Tapi di sudut kamar yang panas ini, aku merasakan sepoian angin yang menyejukkan. Seolah angin sore di sebuah pantai sedang berpindah arah ke sini. Tentu saja itu bukan dalam arti sebenarnya. Hehe. Kamar ini masih panas, kipas kecil ini masih menyala, tapi perasaanku malah sejuk berkat drama musim panas yang baru selesai kutamatkan.

Lucunya, kedua drama itu sama-sama berlatar musim panas. Mungkin itu sebabnya rasa hangat yang mereka tinggalkan terasa begitu mirip.

Aku baru saja menamatkan sebuah drama china berjudul Never Ending Summer. Sebelumnya, 14 juni lalu, Dazzling resmi berakhir dengan happy ending juga.

Oke, karena Dazzling tayang dulu, aku akan cerita soal Dazzling duluan.

DAZZLING

Drama yang tayang 27 Mei 2026 ini adalah drama romcom yang dibintangi oleh Li Yun Rui dan Guan Xiao Tong. Aku yang biasanya liat Yun Rui di drama-drama kolosal, jadi excited melihat dia di drama modern.

Di awal drama Yun rui tampil ala badboy. Mas-mas blonde yang bertemu dengan “sepupu” sombongnya, seorang gadis cantik yang terpaksa “mengungsi” ke kota kecil pesisir tersebut karena masalah keluarganya. Qing Ye (Guan Xiaotong), harus meninggalkan kehidupan glamornya di Beijing, untuk kemudian beradaptasi dengan lingkungan dan musim panasnya Kota  Zhazhating.

Pekan-pekan pertama di Zhazhating, bukanlah hal yang mudah untuk Qing Ye. Kamar mandi bibinya yang berbagi dengan tetangga, AC yang tidak ada, bahkan keramahan penduduk Zhazhating, menjadi masalah tersendiri buat Qing Ye.

Tapi berkat Xin Wu, kakak sepupu yang baik hati, rajin menabung dan multitalenta itu, Qing Ye, perlahan mendapatkan tempatnya sendiri di Zhazhating.

Xing wu, putus sekolah tiga tahun lalu. Iya bekerja membanting tulang untuk menopang ibu dan neneknya serta melunasi hutang peninggalan ayah tirinya yang penjudi. Semua hal dikerjakan oleh Xin Wu, jadi kuli ikan di TPI, jadi tukang reparasi dari rumah ke rumah, dan di bengkel Shunyi.

Kehidupan kerasnya di Zhazhating, tetap membuat seorang Xin Wu memiliki hati yang lembut. Qing Ye yang hampir putus asa setelah sesaat kembali ke Beijingpun, akhirnya dibawa kembali oleh Xin Wu ke Zhazhating. Saat pak guru mantan wali kelasnya yang merangkap tukang becak bertanya siapa perempuan yang dibawanya pulang, Xin Wu malah mengatakan, ia memungut seorang sepupu di Beijing. 😂

Entah kenapa aku selalu lemah dengan karakter laki-laki dracin seperti Xin Wu. Bukan karena dia tampan, yaaa, kalau itu sih bonus  dan harus, wkwkw. Tapi karena dia bekerja keras tanpa pernah menjadikan hidupnya sebagai alasan untuk bersikap kasar pada orang lain.

Kisah yang panjang ini, silahkan kalian tonton langsung di iQIYI. Tapi yang pasti, Dazzling bukanlah drama yang terburu-buru. Jika kalian menyukai drama korea Hometown Cha-Cha-Cha, besar kemungkinan kalian akan menyukai drama ini juga.

Drama ini, perlahan memberi ruang bagi kita untuk mengenal setiap karakter, memahami alasan mereka mengambil keputusan, lalu perlahan ikut merasakan perubahan yang terjadi.

Aku menikmati bagaimana hubungan antar tokohnya berkembang dengan alami. Menikmati tatapan yang tulus, percakapan yang hangat, dan keberanian untuk bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik. Rasanya seperti membaca novel yang pelan, tetapi sulit ditutup sebelum halaman terakhir.

NEVER ENDING SUMMER

Kalau Dazzling terasa lembut, maka Never Ending Summer terasa seperti angin sore di akhir liburan. Drama ini mengingatkanku bahwa ada masa-masa dalam hidup yang mungkin tidak akan pernah kembali, tetapi kenangannya selalu menemukan jalan untuk tinggal.

Never Ending Summer mempertemukan kita dengan Zhou Wan, seorang siswi cerdas yang sekilas terlihat lembut dan tenang. Namun, di balik penampilannya itu, ia menyimpan tekad yang begitu kuat. Demi menyelamatkan sang nenek yang membutuhkan biaya operasi, Zhou Wan memilih jalan yang sama sekali tidak mudah.

Ia menyusun sebuah rencana yang terkesan nekat. Sasarannya adalah Lu Xixiao, putra dari keluarga kaya yang dikenal berjiwa bebas dan sulit diatur. Bukan tanpa alasan, Lu Xixiao ternyata memiliki hubungan yang rumit dengan keluarga Zhou Wan. Dari sinilah kisah mereka dimulai, berawal dari niat yang penuh perhitungan, lalu perlahan berkembang menjadi cerita yang jauh lebih hangat dan menyentuh daripada yang kubayangkan.

Sementara itu, Lu Xixiao adalah sosok yang seolah memiliki segalanya. Lahir dari keluarga berada, tetapi justru merasa terjebak dalam kehidupan yang tidak pernah benar-benar ia pilih. Di balik sikapnya yang cuek dan sedikit pemberontak, sebenarnya ia hanya ingin hidup dengan caranya sendiri.

Menariknya, meski perlahan menyadari bahwa Zhou Wan mendekatinya dengan sebuah tujuan, Lu Xixiao tidak lantas menjauh. Entah karena penasaran, keras kepala, atau karena hatinya mulai bergerak lebih dulu, ia tetap memilih bertahan di dalam "permainan" yang diciptakan Zhou Wan.

Hubungan yang awalnya dipenuhi kepura-puraan itu perlahan berubah menjadi perasaan yang begitu tulus. Sayangnya, ketika cinta mulai menemukan tempatnya, sebuah kesalahpahaman besar justru memisahkan mereka.

Sepuluh tahun berlalu.

Takdir kembali mempertemukan Zhou Wan dan Lu Xixiao, kali ini bukan lagi sebagai dua remaja yang sama-sama terluka, melainkan sebagai dua orang dewasa yang dipertemukan oleh pekerjaan. Di balik dunia korporat yang mereka masuki, tersimpan sebuah kasus yang perlahan mereka ungkap bersama. Di saat yang sama, mereka juga dipaksa menghadapi luka lama yang ternyata belum benar-benar sembuh.

Entah kenapa, selesai menonton drama ini rasanya aku ingin berjalan sore, mendengarkan lagu yang tenang, menghirup nafas dalam-dalam, lalu membiarkan pikiran beristirahat sebentar.

---------------------------------

Drama yang bisa dirasakan.

Itu kalimat yang cocok untuk dua drama china ini.

Ada drama yang selesai kita tonton, lalu selesai begitu saja. Ada pula drama yang ikut tinggal beberapa hari di kepala kita. Yang membuat kita tiba-tiba tersenyum saat mencuci piring. Atau teringat sebuah adegan ketika sedang menunggu lampu merah.

Buatku, Dazzling dan Never Ending Summer termasuk ke dalam jenis yang kedua.

Mungkin itu alasan mengapa dua drama ini begitu membekas untukku. Bukan karena alurnya paling rumit atau plot twist-nya paling mengejutkan. Justru karena mereka mengingatkanku bahwa hidup tidak selalu tentang sesuatu yang spektakuler. Kadang kebahagiaan hadir dari hubungan yang sehat, keluarga yang saling mendukung, teman-teman yang tulus, dan seseorang yang memilih tetap tinggal ketika keadaan tidak selalu mudah.

Dan bukankah itu yang sebenarnya sering kita cari dari sebuah cerita?

Perasaan tenang. Perasaan bahwa setelah semua perjalanan panjang, selalu ada rumah untuk pulang.

Malam ini, setelah episode terakhir selesai, aku menatap layar laptop dengan senyum kecil.

Kipas Robot hijau sage di sampingku masih berputar seperti tadi. Es di gelas daisy sudah benar-benar mencair. Kamarku masih sama panasnya. Tapi anehnya, malam ini rasanya tetap sejuk. Mungkin musim panas di Zhazhating dan Pingchuan justru menghembuskan angin sejuk ke sudut Painan. 😍

----------------------------

Kalau kamu sedang mencari drama China modern yang ringan, hangat, minim konflik yang melelahkan, dan meninggalkan senyum setelah episode terakhir, menurutku Dazzling dan Never Ending Summer layak masuk daftar tontonanmu.

Karena nggak semua drama harus membuat kita menangis, kan?

Ada juga drama yang tugasnya hanya satu,

“Membuat hati terasa lebih tenang”.

Ruang yang Diam-Diam Mengajar: Catatan dari Kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD

Siang ini, seperti biasa, saya berdiri di depan kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD, mendengarkan dua mahasiswa saya, Risa dan Nadia, mempres...