“Harum banget buuun, udah mateng, bun?”
“Icip ya bun..”
“Hmm... kulitnya aja enak, apalagi isian pangsitnya..”
“Udah bisa dimakan bun?”
“Hmmmm.. enak banget buuuun...”
“Makasih ya buuuun...”
Begitulah Zea. Kalau sudah menemukan makanan yang dia suka,
komentarnya bisa panjang sekali. :D
“Rasanya pengen Ea cium pangsit ini, saking dia enak
sekaliii.”
Aku yang mendengar cuma bisa tertawa.
“Kayaknya sekarang makanan favorit Ea pangsit kuah deh
bun..”
“Pilihan tepat bun, bunda mampir beli kulit pangsit ini
kemaren di swalayan.”
“Dipakein bon cabe, enak banget buun..”
“Ayo cobain bun, Ea mau liat First impression bunda saat
coba pangsit buatan bunda ini.”
Sekarang giliran aku yang jadi objek pengamatan.
Dan belum selesai aku menikmati suapan pertama, pertanyaan
berikutnya sudah muncul.
“Sekarang jam setengah lima, kalau jam lima Ea makan lagi
boleh kan buuun?”
Hahaha.
Belum lima menit selesai makan, jadwal makan berikutnya
sudah direncanakan.
Lalu Zea kembali berkata,
“Perasaan Ea makan pangsit ini, seperti perasaan Ea pertama
kali makan Dubai Chewy cookie. Beuuh...”
Sementara dari depan kompor, Abak ikut bersuara.
“Sudah seminggu ini makan Abak nggak “enak” bun, bahkan pas
kemarin makan pecel ayam, Abak bilang, “Ndak lamak salero doh”, Baruuulah ini
yang enak Abak makan bun, makasih ya bun. Abak tambah yaaa...”
Daaaaan.... pujian yang tak habis-habisnya dari Zea dan Abak
membuat semua lelah saya menguap tak tersisa.
-------------------------------
Adalah kemarin sore, selepas pulang dari kampus, aku mampir
di swalayan membeli roti untuk sarapan esok paginya.
Niatnya cuma mau beli roti.
Nggak taunya kakiku malah berjalan menuju freezer dan
taraaa.. ada sekantong besar kulit dimsum di sana.
Bulat, pipih, 50 pcs setiap bungkusnya.
Aku hanya membeli dua bungkus.
Pertimbangannya sederhana, kalau satu, pasti kurang. Kalau
tiga, nanti takut rusak atau membusuk di kulkas.
Sampai di rumah, Zea melihat kantong belanja dan menemukan
kulit dimsum itu di sana. Matanya berbinar, dan dengan excited dia langsung
request besok minta dibikinin pangsit kuah.
Malamnya dia bilang,
“Ea nggak sabar tunggu besok, bun.”
“Kenapa?” kataku.
“Nggak sabar makan pangsit.”
-------------------------------
Sebenarnya kulit pangsit yang persegi sering tersedia di minimarket dekat rumah
kami. Lalu kenapa nunggu kulit dimsum restock dulu, bukan pakai kulit pangsit
yang persegi?
Karnaa, saat pakai kulit pangsit yang persegi, buat kami
kulitnya terlalu lembek, nggak kenyal dan mudah hancur.
Jadi aku kadang suka kesel sendiri. Sudah capek-capek masak,
eh, hasilnya malah nggak sesuai ekspektasi.
Makanya kami lebih suka pakai kulit dimsum yang bundar.
Kulitnya nggak mudah sobek saat terendam di kuah. Lebih
kenyal juga.
Dan mungkin karena hal kecil semacam inilah, kami bisa
berbulan-bulan menunggu kulit dimsum ini restock.
Sampai akhirnya sore itu aku menemukannya lagi di freezer
swalayan.
Dua bungkus langsung masuk keranjang.
Barulah sore ini bisa mengeksekusi makanan favorit Zea dan
Abak ini.
Juga favorit aku. :D
---------------------------------
Ternyata sesimple itu untuk bahagia.
Dengan mereka makan lahap.
Dengan mereka bilang enak.
Dengan mereka minta tambah.
Dan dengan segala komentar random Zea yang dari tadi nggak
berhenti-berhenti.
Begitulah. Kadang-kadang, makanan rumahan yang sederhana
justru jadi cerita kecil yang menyenangkan untuk diingat.
Dan sore itu, ceritanya adalah pangsit kuah.
![]() |
| Sepanci pangsit kuah |


No comments:
Post a Comment