Idol Adalah Waktu Saya

Pagi ini sambil mencuci pakaian,  saya memutar playlist lagu Lee Seunggi. Because You’re My Woman, lalu Return, kemudian Words That Are Hard to Say, Meet Someone Like Me, Im Going to The Military, Please dan White lie. Lagu-lagu yang dulu terasa begitu dekat dengan kehidupan saya. Dan tiba-tiba saja saya sadar, belasan tahun telah lewat, tapi suara diplaylist  itu masih sama. Yang berubah hanya hidup saya.

Mungkin bagi sebagian kita, seorang idol hanyalah bagian dari industri hiburan yang kebetulan melintas dalam jeda-jeda hidup kita. Tapi bagi saya, idol adalah waktu saya. Seseorang yang menemani perjalanan hidup, baik saat jatuh maupun saat bertumbuh.

Mendengar kembali lagu-lagu mereka dari belasan tahun lalu membuat saya seperti menapaki kembali hidup yang pernah saya jalani. Seolah mereka adalah bagian dari “masa muda” saya. Kadang lagu-lagu itu membuat mata saya berkaca-kaca, kadang juga membuat saya kembali bersemangat karena menyadari sudah sejauh ini saya berjalan.

Seperti Lee Seung gi misalnya. Bagi saya, Seunggi bukan sekadar penyanyi, aktor, atau entertainer. Ia adalah bagian dari jatah waktu yang saya habiskan.

Bukan sekadar wajah di layar atau suara di playlist. Ia seperti penanda musim dalam hidup saya. Ada masa ketika lagu-lagunya menemani malam-malam panjang, ada masa ketika senyumnya muncul di layar dan entah kenapa membuat hari terasa sedikit lebih ringan. Waktu berjalan, hidup berubah, saya pun tumbuh dengan cara yang mungkin tidak pernah saya bayangkan dulu. Tapi setiap kali saya kembali mendengar suaranya, rasanya seperti membuka kembali sebuah kotak kenangan yang masih utuh tersimpan.

Mungkin begitulah cara seorang idol bekerja dalam hidup seseorang. Ia tidak benar-benar hadir dalam keseharian kita, tapi anehnya ia selalu ada di latar. Menjadi semacam soundtrack yang diam-diam merekam versi diri kita di masa lalu. Dan ketika kita kembali mendengarnya, yang sebenarnya kita temui bukan hanya mereka, tetapi juga diri kita sendiri, yang pernah hidup di waktu itu.

Barangkali itulah yang membuat seorang idol tidak pernah benar-benar sekadar “idol”. Ia adalah arsip emosi. Penjaga kecil dari waktu-waktu yang pernah kita lewati. Lagu yang dulu kita dengarkan sambil menatap langit-langit kamar, drama yang kita tonton diam-diam sampai larut malam, atau senyum di layar yang tiba-tiba membuat hari yang berat terasa sedikit lebih ringan.

Dan anehnya, meskipun tahun-tahun berlalu, semuanya masih terasa dekat. Hanya dengan satu lagu, satu potongan adegan, atau satu suara yang familiar, kita bisa kembali ke masa ketika hidup terasa berbeda. Bukan karena kita ingin kembali ke masa itu, tapi karena kita menyadari bahwa masa itu pernah benar-benar ada.

Mungkin karena itu pula, bagi saya, menyukai Lee Seunggi bukan hanya tentang mengagumi seorang artis. Ini tentang mengingat siapa saya dulu, dan menyadari siapa saya sekarang. Tentang perjalanan waktu yang diam-diam berjalan, sementara di beberapa sudut kenangan, lagu-lagunya tetap terdengar sama.

Dan mungkin, tanpa pernah ia sadari, Seunggi telah menjadi semacam penanda kecil dalam hidup saya, bahwa waktu memang terus berjalan, tapi tidak semua kenangan harus ikut hilang bersamanya.

Pada akhirnya, mungkin itulah arti seorang idol dalam hidup seseorang. Bukan sekadar sosok yang kita kagumi dari jauh, tetapi seseorang yang tanpa sadar ikut berjalan di sepanjang waktu kita. Mengisi jeda-jeda yang mungkin bahkan tidak ia ketahui pernah ada.

Dan ketika suatu hari kita kembali mendengar lagu-lagu lama itu, yang kita temukan bukan hanya suara yang familiar. Kita juga menemukan kembali potongan diri kita yang dulu, yang pernah bermimpi, pernah ragu, pernah jatuh, lalu perlahan belajar berdiri lagi.

Jadi bagi saya, Lee Seunggi bukan hanya penyanyi, aktor, atau entertainer. Ia adalah penanda waktu.

Penanda bahwa saya pernah hidup di masa itu, pernah menjadi versi diri yang berbeda, dan kini masih terus berjalan, dengan kenangan yang tetap setia tinggal di belakang.

No comments:

Post a Comment

Idol Adalah Waktu Saya

Pagi ini sambil mencuci pakaian,   saya memutar playlist lagu Lee Seunggi. Because You’re My Woman , lalu Return , kemudian Words That Are H...