Ramadhan kembali datang, dan kita juga bergembira menyambutnya. Apa ada yang berbeda dengan Ramadhan tahun ini, manteman?
Bagi sebagian kita, Ramadhan mungkin tidak banyak berubah
dari tahun sebelumnya. Ritmenya kurang lebih masih sama. Tapi bagi sebagian lain,
Ramadhan kali ini sangat berbeda, banyak yang berubah, mungkin ada yang kurang,
ada yang bertambah.
Bagi umat Islam, Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, bukan
hanya sebuah bulan dalam lembaran kalender. Di bulan ini, “dokumen” panduan hidup
seorang muslim diturunkan. Al-Qur’an. Artinya, Ramadhan itu bulan, dimana “kurikulum
langit” diturunkan ke bumi. Ada silabusnya, yaitu puasa, qiyam, sedekah, sabar.
Ada target kompetensinya, takwa. Bahkan ada evaluasinya, perubahan diri setelah
30 hari.
Puasa sendiri bukan hanya soal menahan lapar. Secara
spiritual, ia melatih self-regulation. Secara psikologis, ia membangun
jeda antara dorongan dan tindakan. Dalam ilmu perilaku, kemampuan menunda
kesenangan adalah indikator kematangan emosi. Masih ada yang ingat eksperimen marshmallow
test oleh Walter Mischel di Stanford University? Anak-anak yang bisa
menunggu marshmallow kedua cenderung punya kontrol diri lebih baik dalam jangka
panjang. Dan menariknya, Islam sudah mengajarkan ini sejak 14 abad lalu. Kita
dilatih menunda makan yang halal demi ketaatan. Kalau yang halal saja bisa
ditahan, apalagi yang jelas-jelas haram.
Ramadhan juga membongkar ilusi kontrol. Saat kita lapar,
kita sadar betapa lemahnya manusia. Tubuh yang biasanya kuat bekerja tiba-tiba
melemah hanya karena tidak makan beberapa jam. Di situ kita belajar rendah
hati. Bahwa hidup bukan tentang seberapa mampu kita menguasai dunia, tapi
seberapa mampu kita tunduk pada-Nya.
Ada satu hal yang sering luput, Ramadhan adalah bulan
empati. Ketika perut kosong, kita tidak hanya merasakan lapar fisik, tapi
belajar memahami realitas sosial. Rasa itu membentuk kesadaran kolektif. Maka
wajar jika sedekah di bulan ini terasa lebih “hidup”. Dalam banyak hadis, Rasulullah
ﷺ
digambarkan paling dermawan di bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).
Seolah-olah Ramadhan adalah ruang akselerasi kebaikan.
Kalau mau jujur, Ramadhan juga seperti cermin besar. Ia
memperlihatkan versi asli diri kita. Saat lapar dan lelah, yang keluar adalah
karakter paling jujur. Apakah kita mudah marah, atau justru lebih sabar? Apakah
kita makin lembut, atau makin sensitif? Puasa itu bukan hanya ibadah vertikal,
tapi latihan karakter horizontal.
Yang menarik lagi, Ramadhan melatih kita untuk hidup
berbasis waktu. Sahur, imsak, maghrib, tarawih. Semua terjadwal. Ini bulan
disiplin. Dalam manajemen diri, rutinitas yang konsisten selama 30 hari bisa
membentuk kebiasaan baru. Jadi sebenarnya Ramadhan adalah momentum rekonstruksi
diri. Mau jadi lebih baik? Ya bangun pola itu di bulan ini.
Dan tentu saja, ada malam istimewa, Lailatul Qadar.
Malam yang disebut dalam QS. Al-Qadr lebih baik dari seribu bulan. Kalau
dihitung, itu setara lebih dari 83 tahun. Secara logika dunia, ini “return
of investment” spiritual paling tinggi. Satu malam, pahala seumur hidup.
Tapi ia dirahasiakan waktunya. Supaya kita tidak minimalis dalam beribadah.
Supaya kita konsisten, bukan oportunis.
Aku sering merasa, Ramadhan itu bukan tentang menjadi
sempurna dalam 30 hari. Tapi tentang memulai ulang. Seperti tombol reset.
Kita tahu kita punya banyak celah, banyak kurang, banyak lalai. Tapi Ramadhan
datang tanpa sinis. Ia tidak menghakimi. Ia mengajak.
Dan mungkin yang paling dalam dari semua ini, Ramadhan
mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari konsumsi, tapi dari
pengendalian. Dari berbagi. Dari sujud yang lebih lama. Dari doa yang lebih
khusyuk. Dari tadarus yang pelan tapi meresap.
Di tengah dunia yang bising, Ramadhan adalah ruang sunyi. Di
tengah hidup yang serba cepat, ia adalah jeda yang menyembuhkan.
Maka jika Ramadhan kali ini terasa tidak sama, insya Allah
ada maknanya. Bisa jadi ia tidak sekadar menggeser jam makan dan tidur kita,
tetapi sedang pelan-pelan menggeser cara kita memahami hidup, kehilangan,
syukur, dan arah pulang.
Hello Ramadhan, Marhaban.
Semoga kita tidak hanya melewatinya. Tapi benar-benar bertumbuh di dalamnya.
