Aku dan Tahun yang Baru Saja Datang

Pagi ini aku membuka laptop dan mendapati kalender di pojok kanan bawah sudah berganti tahun. 1/1/2026 muncul begitu saja, seperti angka keramat di pagi yang masih sunyi. Perasaanku campur aduk melihat angka tahun yang sudah berubah. 

Karena merayakan ulang tahun disetiap akhir Desember, maka setiap pergantian tahun bagiku bukan sekadar perubahan angka. Ia adalah pertambahan usia.

Mungkin itulah sebabnya, tahun baru sering datang bersama beban kecil di kepala, ruang perenungan yang tiba-tiba terbuka tentang hidup, tentang waktu, dan tentang sejauh apa aku sudah berjalan.

Angka yang diam itu, berbunyi nyaring di kepalaku. Seolah mengingatkanku pada hal-hal yang sudah lewat, waktu yang tak bisa diulang, keputusan yang pernah ragu, dan doa-doa yang sebagian sudah terjawab, sebagian lagi masih menggantung di langit.

Aku menarik napas sejenak, lalu tersenyum kecil. Mungkin bukan karena aku siap menyambut tahun yang baru, tapi karena aku akhirnya sadar, hidup tidak selalu menuntut jawaban cepat. Ada fase-fase di mana kita hanya perlu jujur pada perasaan sendiri, mengakui lelah, dan memberi diri sendiri izin untuk berjalan lebih pelan.

Aku menyambut tahun ini tanpa resolusi besar. Tidak ada daftar target yang ambisius. Tidak ada janji hidup sempurna. Yang ada hanya satu niat sederhana, menjalani hidup itu sendiri dengan sehidup-hidupnya.

Beberapa tahun terakhir mengajarkanku satu hal penting, bertahan saja sudah termasuk sebuah pencapaian. Kita sering lupa merayakan itu. Kita terlalu sibuk merasa kurang, merasa tertinggal, merasa belum jadi apa-apa. Padahal setiap orang punya jalan ninjanya masing-masing.

Aku belajar bahwa hidup tidak selalu butuh percepatan. Kadang justru butuh jeda. Berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan langkah dengan kesadaran. Tidak harus selalu cepat. Tidak harus selalu terlihat “berhasil”. 

Aku juga belajar berdamai dengan versi diriku yang tidak selalu produktif. Ada hari-hari di mana aku hanya ingin diam, membaca, atau sekadar menyesap kopi tanpa merasa bersalah. Dulu, hari-hari seperti itu terasa sia-sia. Sekarang, justru terasa menyembuhkan.

Di tahun baru ini, aku ingin memberi ruang lebih luas untuk hal-hal kecil. Waktu bersama keluarga tanpa distraksi. Pekerjaan yang dikerjakan dengan tenang. Menulis tanpa target viral. Membaca tanpa harus selesai cepat. Hidup tanpa harus selalu tampak hebat.

Niat yang tidak terlalu keras bukan berarti menyerah. Justru sebaliknya. Ini tentang memilih bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi. Tentang memahami batas diri, tanpa berhenti melangkah.

Aku percaya, keberlimpahan tidak selalu datang dalam bentuk angka atau pencapaian besar. Kadang ia hadir sebagai pikiran yang lebih tenang, tubuh yang lebih didengarkan, dan hati yang tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Tahun ini, aku ingin belajar mengatakan “cukup” tanpa rasa bersalah. Cukup bekerja hari ini. Cukup berusaha sejauh tenaga yang ada. Cukup menjadi diri sendiri, tanpa harus memenuhi standar siapa pun.

Kalau ada doa yang kupanjatkan untuk tahun ini, mungkin sesederhana ini, “semoga aku tetap diberi kesadaran untuk hidup pelan-pelan, tapi tidak kehilangan arah. Semoga aku tetap berani bermimpi, tapi tidak lupa menikmati prosesnya. Semoga aku tetap ingin berkembang, tapi tidak lupa berterima kasih pada diri sendiri yang sudah sejauh ini bertahan”.

Untuk siapa pun yang membaca ini, kalau kamu juga masuk tahun baru dengan perasaan campur aduk, itu tidak apa-apa. Kamu tidak sendirian. Kita tidak harus memulai tahun ini dengan lompatan besar. Melangkah kecil pun sah.

Bismillah untuk tahun yang baru. Dengan niat yang sederhana, hati yang lebih lapang, dan kepala yang tidak terlalu berisik. Semoga kita semua sampai, dengan cara masing-masing.

Gelas dari Zea

Kemarin aku genap berusia 36 tahun. Nggak ada pesta, nggak ada perayaan besar. Tapi ada satu kejutan kecil yang pelan-pelan tinggal di hatiku.

Pagi itu, Zea -putriku yang baru 9 tahun- izin jajan ke minimarket bareng Abaknya. Aku mengiyakan saja. Tapi entah kenapa, mereka lama sekali pulangnya. Di rumah, aku mulai bertanya-tanya. Pas mereka akhirnya datang, aku spontan nanya ke Zea,
“Ea, jajannya ke swalayan Salido ya?”
Dalam pikiranku, dia pasti ke sana buat beli jeruk Mandarin kesukaannya.

"Nggak Bun, tadi kami beli lakban dulu"

Malamnya, saat makan-makan kecil, baru aku tahu ke mana sebenarnya mereka pergi. Zea membeli konfeti. Dan kado. Untukku.

Kado sederhana, satu set beauty blender dan sebuah gelas mug cantik. Hatiku menghangat. Aku nggak pernah menyangka Zea memperhatikan hal sedetail itu, bahwa aku nggak punya gelas sendiri.

Selama ini aku pakai gelas apa saja yang ada di rumah. Sementara Abaknya punya gelas “khusus”, gelas toples berwarna biru untuk ngeteh, dan gelas kaca "Raksasa"nya untuk minum protein. Zea juga punya gelas kelinci miliknya. Dan aku? Ya… gelas umum.

Sekarang tidak lagi.

Zea memberiku gelas labu dengan motif bunga Daisy. Manis. Lembut. Cantik.

Tapi yang membuatku benar-benar bahagia bukan gelasnya. Melainkan perhatian itu. Kesadaran kecil seorang anak bahwa ibunya layak dipikirkan, direncanakan, dan diberi kejutan.

Zea kini sudah bisa memikirkan kado. Sudah bisa menyusun surprise. Bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari, perhatiannya sering membuatku terpesona. Tak terbilang berapa kali ucapan "Ea sayang Bunda" keluar dari mulut mungilnya itu. Setiap aku berbuka puasa, meski sedang asyik main game, begitu azan berkumandang, dia akan berlari ke mejaku dan berkata,
“Selamat berbuka puasa, Buun.” 

Kadang, hidup memang tidak memberi kita perayaan besar. Tapi ia menghadirkan cinta dalam bentuk-bentuk kecil, sebuah gelas, sebuah ucapan, sebuah perhatian yang lahir tanpa diminta.

Dan sejak kemarin, setiap kali aku minum dari gelas bermotif Daisy itu, aku tahu:
ini bukan sekadar gelas.
Ini adalah ingatan.
Tentang dicintai.
Dengan cara yang paling sederhana, dan paling tulus.

Aku dan Tahun yang Baru Saja Datang

Pagi ini aku membuka laptop dan mendapati kalender di pojok kanan bawah sudah berganti tahun. 1/1/2026 muncul begitu saja, seperti angka ker...