Idol I resmi menayangkan episode terakhirnya malam ini. Meski hanya berada di posisi 8 Top 10 TV Shows di Indonesia, drama ini diam-diam mengambil ruang di waktuku, membuat drama lain yang tayang bersamaan tak lagi jadi prioritas. Bukan karena ia menawarkan cerita yang gemerlap atau kejutan besar, tapi karena ia meninggalkan sesuatu yang tak segera usai, sesuatu yang menyusup pelan-pelan.
Mungkin bagi sebagian penonton, Idol I terasa biasa saja. Tapi bagi
seorang fangirl sepertiku ceritanya terasa dekat. Terlalu dekat, bahkan.
Sebagai Army, drama ini seperti memotret banyak hal yang selama ini hanya kami
rasakan dalam diam.
Sebagai fangirl, ada banyak scene yang terasa sangat relate. Mulai
dari mengoleksi photocard, datang ke fan meeting, war tiket konser, teriakan
fanchant, sampai kebiasaan membaca teori-teori dan pesan-pesan tersembunyi
dalam album. Semua itu membuatku mudah terseret ke emosi Se na. Apalagi alurnya
tak sepenuhnya mudah ditebak, bahkan misteri tentang siapa sebenarnya pelaku
pembunuhan Woo seong pun tidak disajikan secara instan.
Di episode 12, percakapan antara manajer, Jae hee dan Young bin, seperti
gambaran keadaan Army saat ini. Saat manajer mereka kawatir La ik akan dikritik
para reporter soal kisah cintanya dengan Se na, Jae hee dan Young bin bilang :
“Tenang saja. Jika
mereka (reporter) melewati batas, para penggemar akan tangani di komentar”.
“Astaga, Goldy
sekarang luar biasa”.
“Bahkan ada regu perlindungan privasi, jika bukan jadwal resmi, mereka tidak akan datang, kalau bertemu dia, mereka pura-pura tak kenal”.
Dan sebagai Army yang ”dewasa”, d e w a s a, bukan tua, karena “foreveeeer
we are yooooung…”..hehehe, (keukeuh banget nggak mau dibilang tua😆), kebahagiaan
kami sebenarnya sederhana. Cukup tahu bahwa mereka baik-baik saja. Bahagia. Hidup
sebagai manusia, bukan semata idol. Kami tak merasa perlu memiliki hidup
mereka. Siapa yang mereka cintai, bagaimana mereka menjalani hari-harinya, itu
bukan hak kami. Selama mereka bahagia, rasanya itu sudah lebih dari cukup. Army
yang pernah diselamatkan oleh lagu dan cerita Bangtan, yang diajari bertahan
dan mencintai diri sendiri, hari ini tak meminta apa-apa selain melihat Bangtan
pun hidup dalam bahagia mereka sendiri.
Drama yang ditulis Kim Da rin dan disutradarai Lee Kwang young ini,
dengan Choi Sooyoung sebagai Maeng Se na, memang tak berusaha menampilkan dunia
idol sebagai sesuatu yang manis dan glamor. Justru sebaliknya. Ia menghadirkan
sisi yang sering luput, idol sebagai manusia yang tumbuh dalam sistem yang
sejak awal lebih peduli pada performa ketimbang perawatan jiwa.
Awalnya aku mengira Idol I akan masuk ke genre dark seperti
beberapa drakor belakangan ini (jujur, aku masih trauma dengan Dear X, The
Manipulated, The Price of Confession, dkk). Tapi ternyata drama ini tidak
sepenuhnya gelap, meski juga jelas bukan drama yang “nyaman”. Ia nagih secara
emosional. Drama ini kuat mengangkat isu identitas, luka masa lalu, dan tekanan
publik. Bukan hanya tentang gemerlap panggung, tapi tentang eksploitasi yang
halus, kesepian yang senyap, dan manusia yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Vibes-nya lebih ke psikologis-realistis, bukan drama manis juga sih. Meskipun akhirnya happy ending juga.
Di titik ini, aku juga merasa Idol I paling jujur saat membicarakan
satu hal. Kesuksesan sebagai bentuk lain dari kehilangan. Popularitas yang
menanjak berarti privasi yang menyusut. Nama yang berubah menjadi brand. Suara
yang tak lagi sepenuhnya milik diri sendiri. Tubuh yang diatur, berat badan,
ekspresi, gestur, bahkan emosi. Sistem yang membekap itu pelan-pelan membentuk
idol menjadi sangat keras pada diri mereka sendiri. Diet ekstrem, kecemasan
berlebihan, rasa bersalah, luka mental bahkan depresi yang sering kali dianggap
“harga wajar” dari sebuah mimpi besar.
Mungkin karena itulah, saat menonton drama ini, ingatanku dipenuhi
kilasan foto dan video BTS yang saling berkejaran di kepala. Semua ingin keluar
bersamaan. Cuplikan-cuplikan dalam Idol I terasa relate karena harga itu juga
pernah dibayar Bangtan dalam perjalanan mereka menuju puncak.
Idol I tidak membuatku ingin menghakimi dunia idol, juga tidak
mengajak menuntut apa pun. Ia hanya mengingatkanku bahwa di balik panggung, ada
manusia yang berhak lelah, rapuh, dan bahagia dengan caranya sendiri. Dan
mungkin, sebagai penggemar, bentuk cinta paling dewasa adalah berhenti
menuntut, lalu mendoakan dari jauh, agar mereka tetap bisa hidup sebagai
manusia, bukan sekadar fantasi orang lain.






