PULAU CINGKUAK: KISAH DERMAGA REMPAH DI PANTAI BARAT SUMATERA

 

Siapa yang tidak suka makanan enak, perawatan tubuh, dan obat untuk menangkal penyakit? Ribuan tahun lidah masyarakat kita dimanjakan oleh perpaduan bahan dan bumbu temuan nenek moyang, hingga kini meja rias kita penuh dengan rangkaian kosmetik dan produk-produk perawatan tubuh, serta selalu ada “sitawa sidingin” ramuan penangkal semua tulah dan sakit.

Tapi makanan enak, aneka “ingredients” dalam botol-botol segala rupa, juga obat yang kerap kita balur dan telan itu, tak tersedia di meja berkat ayunan tongkat ajaib atau rapalan mantra. Ada serangkaian alur dan jalur yang harus terlewati, hingga semua itu menjadi bagian dari kehidupan bangsa kita saat ini.

Serangkaian jalur yang sekarang kita kenal dengan sebutan, Jalur Rempah.

Alkisah, dahulu kala sebagai penghasil emas hijau terbaik ‘pala’, Pulau Run di Banda diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Melalui perjanjian Breda, Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda. Sebagai imbalannya, Belanda menyerahkan pulau Manhattan di Amerika serikat -yang juga diperebutkan keduanya- kepada Inggris.

Tapi kali ini kita tidak akan berkisah tentang pulau Run yang sudah melegenda itu. Kita akan berkisah tentang sebuah pulau di Pantai Barat Sumatera. Pulau tempat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1666 mendirikan benteng untuk lojinya. Loji pertama mereka di Pantai Barat Sumatera. Pulau Cingkuak namanya. Dalam banyak literatur sejarah Pulau Cingkuak memiliki nama lain yaitu Chinco, Poulo Chinco, Poulo Chinko (dalam bahasa Portugis) Poeloe Tjinko, Poelau Tjingkoek, dan Pulu Tjinkuk (dalam bahasa Belanda).

Suatu pagi mengunjungi Pulau Cingkuak bersama Zea

Menurut data sejarah, Pulau Cingkuak dipilih karena bisa sekaligus menjadi  pelabuhan bagi kapal-kapal besar VOC, karena pada saat itu, kapal-kapal besar milik VOC tersebut tidak bisa merapat ke teluk Painan yang masih penuh dengan lumpur dan rawa yang dangkal.

Pulau dengan luas lebih kurang lima hektar itu berada tepat di ujung bibir teluk Painan. Jika kita memandanginya dari puncak Bukit Langkisau, pulau itu akan tampak serupa kapal layar. Samudera Indonesia di depannya bagai halaman lapang terbentang. Secara administratif pulau Cingkuak terletak di Kenagarian Painan Selatan Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat.

Hanya butuh 10 menit menaiki Speedboat dari Pantai Carocok kita akan berjumpa dengan Pulau Cingkuak. Selain memiliki pasir putih dan beragam keindahan pantai lainnya, pulau Cingkuak juga menyimpan berbagai bukti peninggalan sejarah berupa benteng Portugis, Prasasti Madam Van Kempen dan situs dermasa lama. 

Bercerita tentang Pulau Cingkuak yang masuk ke dalam wilayah Painan, tidak bisa dilepaskan dari kisah panjang Banda Sapuluah di Pesisir Barat Sumatera. Wilayah Banda Sapuluah merupakan suatu wilayah konfederasi bandar atau pelabuhan yang berada di sepuluh nagari. Pada masa dahulunya, Banda Sapuluah ini bagian dari wilayah rantau Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu di dataran tinggi Minangkabau bagian selatan. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu sendiri adalah sebuah kerajaan yang berdiri pada abad 16 di daerah Solok Selatan Sumatera Barat sekarang.

Wilayah Banda Sapuluah ini dimulai dari Bungo Pasang, lalu langsung ke Batang Kapeh, terus ke selatan ada Surantiah, Ampiang Parak, kemudian Kambang, Lakitan, Palangai, Sungai Tunu, Punggasan, dan terakhir Aie Haji. Bandar-bandar itu hadir menjadi jalur perdagangan penting terutama di Pantai Barat Sumatera. Maka tidak heran, kemudian Kesultanan Aceh menguasai konfederasi sepuluh bandar perdagangan ini, hingga ke Inderapura di selatannya pada abad ke-15 masehi.

Pada masanya, Banda Sapuluah penting bagi jalur perdagangan rempah di Pantai Barat Sumatera. Pelabuhan-pelabuhan di Banda Sapuluah menjadi penyalur komoditi dagang dari dataran tinggi Minangkabau yang kemudian diangkut kapal-kapal dagang yang merapat di bandar-bandar mereka. Komoditi dagang yang biasa ditampung di bandar-bandar itu, di antaranya rempah seperti lada dan cengkeh, damar, rotan, hingga emas.

Pulau Cingkuak pada masa itu merupakan pusat pelabuhan terbesar di Pantai Barat Sumatera. Kedatangan Portugis ke Pulau Cingkuak, hampir bersamaan dengan ke datangan Portugis ke Pulau Banda, Maluku.

Dari Pulau Cingkuak, Portugis berusaha menguasai jalur perdagangan rempah di Pesisir Barat Sumatera. Sisa Benteng Portugis yang ditemukan di pulau Cingkuak menjadi bukti pertahanan Portugis menghadapi Kerajaaan Inderapura di bagian selatan, dan kedatangan Belanda. Awalnya benteng itu terbuat dari kayu, lalu pada tahun 1679 benteng batu dibangun sepanjang 5 meter denga ketebalan 75 cm. Benteng yang ada di Pulau Cingkuak sebenarnya merupakan benteng Portugis, namun benteng tersebut menemui puncak kejayaannya sebagai gudang lada pada masa VOC.

Kisah panjang tentang sejarah kejayaan VOC di pulau Cingkuak tidak terlepas dari Perjanjian Painan/ Het Painans Tractaat. Yaitu perjanjian yang dibuat oleh penghulu atau penguasa beberapa kota pantai di Pesisir Barat Minangkabau dengan wakil VOC. Pada tahun 1662, perjanjian ini ditandatangani di sebuah pulau tidak berpenghuni dekat Batang Kapeh. Tahun 1663, perjanjian itu dikukuhkan lagi di Batavia. Penghulu pesisir yang ikut menanda tangani perjanjian ini adalah Sultan Mansyur Syah (putra Raja Indrapura) yang merupakan perwakilan dari para penguasa dibagian selatan pantai barat Minangkabau dan Orang Kayo Kaciak yang merupakan perwakilan dari Khalifah Bandar (penguasa Tiku) dan juga mewakili para penghulu dari Padang. Isi perjanjian ini adalah VOC akan membantu penguasa daerah pantai mengusir musuh-musuh mereka, termasuk Aceh bila musuh-musuh tersebut menyerang dari laut. Sebagai imbalan dari bantuan itu, maka para penghulu kawasan pesisir akan memberikan hak berdagang kepada VOC di daerah yang berada dalam kekuasaannya (Indrapura, Padang, Tiku, dan daerah lainnya) tanpa membayar bea.

Rencananya kantor perwakilan dagang VOC akan didirikan di Padang, selain Tiku dan Pariaman. Akan tetapi, rencana itu mendapat penolakan dari masyarakat Minang. Karena kelicikan VOC, dengan alasan keamanan, loji VOC dipindahkan ke Pulau Cingkuak. Sejak saat itu Pulau Cingkuak mengalami masa kejayaaannya sebagai pelabuhan kapal Internasional yang sangat ramai.

Di pulau Cingkuak ini Thomas Van Kempen, pernah tinggal. Thomas Van Kempen adalah kepala dagang VOC untuk Pantai Barat Sumatera yang bertugas mengendalikan Pantai Barat Sumatera dalam perdagangan lada. Lada kemudian diekspor langsung dari Pulau Cinkuak ke India oleh VOC. Saat menetap di pulau Cingkuak Thomas van kempen membawa serta keluarganya bahkan saking nyamannya tinggal di pulau indah tersebut, ia bahkan membuat perkebunan anggur di dalam bentengnya.

Seratus tahun kemudian, serangan dadakan dari pasukan Inggris menghancurkan ketangguhan benteng pertahanan VOC di pulau Cingkuak dan serangan ini kemudian berlanjut untuk menguasai benteng di Padang. Kapal Inggris yang mengangkut lebih dari 400 orang tentara berhasil mengelabui pasukan keamanan di perairan pesisir barat Sumatera dengan siasat memasang bendera Belanda dan Perancis, sehingga VOC menyangka mereka adalah sekutunya.

Saat ini benteng portugis yang berupa sisa-sisa benteng yang tidak utuh -hanya berupa tembok pagar sebelah timur dan pintu utama di bagian barat- dan sebuah prasasti yang dituliskan dalam bahasa Perancis di atas makam Madam Van Kempen (Susanna Geertruij Haije, istri dari Thomas van Kempen yang wafat pada tahun 1767) masih bisa disaksikan di pulau Cingkuak. Disebelah timur Pulau Cingkuak juga masih terdapat sisa-sisa dermaga lama. Dermaga ini berupa susunan dari batu andesit. Kondisinya sudah rusak parah karena terkikis oleh air laut. Sisa-sisa dermaga yang masih dapat disaksikan saat ini berukuran panjang ±20 meter dengan lebar 3 meter.

Berkisah tentang rempah, akan membuat kita menyadari bahwa rempah bukanlah sekedar komoditi dagang. Tidak sekedar tanaman kering berwarna coklat berbau harum yang harus tersedia di dapur rumah kita. Tapi lebih dari itu, kisah rempah penuh dengan sejarah, pertukaran banyak budaya, silang siur jalur dagang, sampai menjadi identitas bangsa kita hari ini.

Secara global, Jalur Rempah mencakup berbagai lintasan jalur budaya dari timur Asia hingga barat Eropa terhubung dengan Benua Amerika, Afrika dan Australia. Di Nusantara sendiri sejak abad ke 14 (atau mungkin bahkan sebelumnya), saudagar dari berbagai Negara datang ke Maluku untuk membeli rempah. Daerah-daerah yang mereka lalui ini mengalami perubahan budaya. Persentuhan budaya dengan orang asing membuat pertukaran budaya- termasuk kuliner- terjadi. Di Ranah Minang sendiri, di ranah yang terkenal dengan masakan yang penuh rempahnya, tentu tak terlepas pula dari persentuhan budaya. Bahkan makanan Minang sebenarnya banyak terpengaruh oleh budaya India. Ini terjadi karena kontak antara pedagang Minangkabau, India dan Afrika dahulunya. Arus dan angin yang arahnya bolak balik membawa kapal pedagang berkeliling ke pelabuhan di ketiga tempat tersebut.

Hari ini, meski kejayaan rempah yang sangat berharga melebihi emas itu sudah berada dimasa lalu, tapi peninggalan-peninggalan yang tersisa masih bisa kita nikmati dan lestarikan. Pokok-pokok pala dan lada masih tersisa di pulau Cingkuak. Halaman rumah pengepul rempah di sekitar Nagari Painan masih penuh dengan jemuran berbagai tanaman yang berbau harum itu. Rumah-rumah penduduk dan rumah makan, masih mengepulkan asap mengolah setiap rempah menjadi makanan yang nikmat di lidah. Suatu karunia Tuhan atas negeri ini, atas emas hijau yang kita miliki dimasa lalu hingga hari ini.

Upaya revitalisasi peninggalan-peninggalan sejarah ini sebaiknya terus dilakukan. Meski Pulau Cingkuak sudah resmi menjadi situs cagar budaya, akan lebih baik juga jika setiap tahunnya di Pulau Cingkuak juga diadakan pekan sejarah. Bisa berupa expo rempah, lomba memotret, melukis pulau, membuat animasi dan sebagainya. Dengan kegiatan ini, upaya mendekatkan dan mengenalkan sejarah pulau Cingkuak kepada masyarakat dan khalayak luas akan lebih mudah terealisasi. Sehingga kita semua akan semakin mengenal sejarah, asal-usul, dan menjadikannya identitas kebanggaan kita. Bukankah bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai sejarah?. Dengan diadakannya acara seperti pekan sejarah ini, diharapkan kunjungan wisatawan juga akan semakin meningkat, sehingga perekonomian masyarakat sekitar menjadi semakin baik.

Kisah ini dengan berbagai bukti peninggalan sejarahnya yang masih bisa kita temui, juga menjadi bukti pasti bahwa Pulau Cingkuak di masa lalu adalah dermaga internasional penting dan menjadi salah satu titik jalur rempah Nusantara di Pantai Barat Sumatera.

Salam Nusa dan Rara ! eh..! ☺











Foto : Yuka Fainka Putra


HOMETOWN CHA CHA CHA: DRAMA HEALING TENTANG “RUMAH” UNTUK “PULANG”

           

           Berakhir dengan rating 12,7% tadi malam, rekor tertinggi sejak penayangannya, drama korea romantis ini sukses bikin sebungkus tissue di meja berkurang setengahnya. Cry..cry..cry. But, thank you tvN, thank you writer-nim, PD-nim, thank you para cast, thank you para kru, atas tayangan yang hangat, menyentuh dan mempotekkan hati ini. Beuh, ini bukan sambutan pemenang nominasi ya, hanya segelintir ucapan “pemirsa” yang bahkan tak akan pernah sampai pada mereka yang terlibat langsung dalam produksi drama luar biasa ini.

Tak hanya pasangan ShikHye yang bikin baper, satu persatu warga Gongjin, memberikan pelajaran yang sangat bermakna dalam setiap scenenya. Drama sederhana yang sepertinya akan singgah lama dalam ingatan.

Drama ini bercerita dengan “bahasa” yang sederhana tentang “rumah dan orang-orang tersayang yang berada di bawah atapnya”. Hometown, kampung halaman, selalu punya tempat yang hangat disetiap sudut hati kita. “Rumah” tempat pulang, “rumah” tempat menyembuhkan goresan-goresan luka yang kau dapat dari bertarung dengan hidup. Bahkan meski orang-orang di “rumah” itupun punya luka mereka masing-masing. Di sudut “rumah” itu, kau selalu punya tempat untuk menangis dan tersedu.

Drama ini juga mengingatkan banyak hal yang sering terlupakan oleh kita yang selalu sibuk menakar diri dengan timbangan orang lain. “hidup itu tak seperti matematika. Tak ada jawaban dan cara menghitung paling benar. Kita hanya diberi soal, lalu penyelesaiannya terserah kita”, ucap Du sik suatu hari di sebuah kedai makan pada Hye jin.

Scene demi scene drama ini menghangatkan hati. Belajar, bahwa hidup selalu tak sama bagi setiap orang. “Ada yang jalannya penuhnya lubang dan ada pula yang berlari sekuat tenaga, tepi tetap menemui jurang di ujung jalan”. Setiap orang punya pertarungannya masing-masing, dan kita tidak punya hak menghakimi atau merasa diri lebih hebat dari mereka.

Lewat quote-quote nya, Hometown cha cha cha menelanjangi kita sebagai manusia yang kerap lupa hakikat dirinya. Meski bukan kalimat filosofis yang terdengar elegan, quote sederhana dengan bahasa yang spontan pun sukses bikin jleb hati kita. “aku memang tak sempurna, tapi kau pun sama”. Tuh kan, ngena banget.

Pada episode kedua drama ini, kita disuguhkan potret-potret luka setiap orang. Hye jin menarasikannya dengan “setiap orang pasti punya penyesalan dalam hidupnya”. Perceraian Chang yeong guk dan Yeo hwa jeong, Jo nam sook yang sempat “gila” karena kehilangan putri kecilnya, Oh yoon, pemilik kedai kopi yang tak bahkan bisa menyeduh kopi, masih tenggelam dengan masa lalunya sebagai penyanyi. Dan Du sik sendiri yang masih menyimpan setelan hitam dengan mimpi-mimpi mengerikan yang membuatnya mengunjungi psikiater beberapa kali.

Drama ini juga mengingatkan kita dengan hakikat manusiawi kita, bahwa setiap kita, pernah melakukan kesalahan, tapi semua akan baik-baik saja. Hye Jin pernah melakukan kesalahan yang membuat semua warga Gongjin membencinya.

Saat baru pertama membuka praktek dokter giginya di Gongjin, Hye Jin adalah gadis Seol yang perfeksionis dan blak-blakan dengan pandangannya tentang orang lain. Merasa diri lulusan kedokteran gigi yang cukup bergengsi, Hye Jin sempat memandang rendah orang lain. Dia terang-terangan membeberkan “luka” Oh yoon pada sahabatnya Mi seon lewat telepon yang sialnya terekam mikrofon acara yang masih menyala. Semua warga Gongjin mendengarnya. Du sik menghampirinya, dan mengatakan setiap orang wajar melakukan kesalahan, tapi juga harus diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. “Setelah kupikir-pikir, setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Lagipula, waktu itu kau tak tahu mikrofonnya menyala. Setiap orang pasti pernah membicarakan orang lain. Tak apa-apa, jangan kawatir. Sekarangpun semua orang di sini pasti sedang membicarakan keburukanmu. Jadi, anggap aja impas. Mulai kini, kau hanya perlu bersikap baik”.

Adegan kepindahan Hye Jin ke Gongjin mengajarkan kita banyak hal tentang beradaptasi dan berbaur. Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Gongjin bukan Seol. Dan Hye Jin harus menyadari hal itu jika ingin menetap di sana. “Menyebalkan “, ungkap Hye Jin kesal. “Kau sendiri yang memilih tinggal di tempat menyebalkan ini. Jadi, mulailah untuk belajar beradaptasi”, balas Du sik.

Di episode kelima sepulang memberi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut di sebuah sekolah SD, Du sik mengajak Hye Jin makan dan hujan-hujanan. Hye jin sebenarnya sangat membenci basah dan lepek, dia selalu punya payung dalam tasnya. Tapi Du sik berkata padanya “kau akan tetap basah walaupun memakai payung. Tak perlu banyak berpikir dan terjang saja hujannya”. Du sik mengingatkan Hye jin bahwa saat ada masalah yang menghampiri, kita hanya perlu menghadapinya dengan berani. Jangan kabur dan tetap hadapi.

Saat memastikan Du sik yang tenyata Lulusan Seoul National University, Hye Jin bertanya kenapa Du sik tidak berkarir sesuai gelarnya. “Sudut pandangmu terlalu sempit. Banyak hal yang lebih penting daripada uang dan kesuksesan di dunia ini”. Maksud Du sik, ada begitu banyak hal yang bisa menjadi sumber kebahagiaan seseorang, tidak selalu harta dan kesuksesan.

Episode kelima juga menghadirkan second lade Ji Seong Hyun (Ji PD). Produser acara ragam yang kurang pandai membaca peta dan selalu tersesat. Namun kecerobohannya itu sering kali membawanya ke tempat tak terduga yang malah membuatnya bahagia. Kali ini dia tersesat ke Gongjin, bertemu Du sik, Hye Jin cinta pertamanya dan memutuskan syuting variety show garapannya di sana.

Lalu, meski pada akhirnya Pyo Mi seon, sahabatnya Hye Jin bikin gemes penonton di episode terakhir karena memacari Misteri ke 3 Gongjin (hehe..kalian bisa tonton detailya di episode terakhir), Mi soen adalah gambaran teman yang baik. Persahabatan keduanya hangat dan menggemaskan.

Sebagai seorang Ibu, scene parenting Yeo Hwa Jeong terhadap anaknya Jang Yi Joon, sangat mempotekkan hati. “Tapi, I joon-a, Ibu mengizinkan memelihara landak, bukan karena kau mendapat penghargaan, Ibu izinkan karena kau mau memeliharanya. Pesta ini pun bukan karena kau mendapat peghargaan. I jun, mendapatkan penghargaan adalah hal yang bagus. Tapi walaupun kau tak menjadi juara, kita tetap akan berpesta. Pesta ini untuk merayakan usaha kerasmu. Menurut ibu, usaha keras lebih penting daripada hasil akhirnya”. “itu benar, I jun. Tak masalah walaupun nilaimu jelek. Ayah hanya berharap kau tumbuh menjadi anak yang bahagia”. Timpal ayahnya.

Drama ini juga bercerita tentang si gadis remaja Oh Ju Ri. Anak dari mantan penyanyi Oh Yoon. Yang dia besarkan sendiri karena ibu Ju Ri meninggal saat dia kecil. Layaknya remaja-remaja pada umumnya, Ju Ri tergila-gila dengan Kpop idol. Ju Ri adalah penggemar DOS dengan June sebagai biasnya dan bercita-cita kelak menjadi Stylis mereka. Karena disibukan dengan grup idolanya, Ju Ri jadi malas belajar. Saat dimarahi ayahnya, Ju Ri meminta pembelaan Hye Jin, tapi Hye Jin malah membenarkan ayah Ju Ri. “Nilai juga penting bagi seorang siswa. Punya impian itu bagus. Kecuali untuk kasus yang sangat istimewa, kita harus kuliah untuk mewujudkan impian itu”. Bagi Hye Jin yang relistis, seorang anak memang sangat bagus memiliki hobi atau cita-cita. Namun usaha keras juga diperlukan. Salah satunya mendapat nilai bagus agar bisa melanjutkan pendidikan.

Karena sering dimarahi ayahnya, Ju Ri mencoba kabur dari rumah. Ju Ri tahu, bahwa ayahnya sangat peduli padanya. Ayahnya berusaha menjadi sosok ayah plus ibu untuk Ju Ri. Tapi karena itu, ayahnya menjadi lebih protektif. Sebagai orang tua, scene ini memuat pembelajaran untuk saya. Anak juga membutuhkan ruang pribadi dan waktu untuk “bernafas”. Setiap anak bertumbuh. Maka sebagai orang tua, kita perlu menerima perubahan mereka dan mencoba memberi kesempatan pada anak untuk mandiri dan menjadi dirinya sendiri.

Sebagai seorang anak, episode terakhir adegan kematian nenek Gamri, menggores hati kita. Betapa waktu adalah suatu hal yang tidak bisa kita prediksi dan kendalikan. Penyesalan anaknya nenek Gamri, saat kematian ibunya menyesakkan dada kita. Saat ibunya masih ada, ia jarang menghubungi ibunya karena sibuk dengan keluarga dan pekerjaan di Seol. Saat ibunya mengabarinya akan memasang implan gigi, dia mengatakan sedang tidak punya uang, karena anaknya sekolah di luar negeri. Sebagai putra satu-satunya dia juga tidak ada di dekat ibunya saat dia akan meninggal. Dan sekarang, saat ibunya meninggal dunia, bahkan untuk menangis pun dia merasa malu. “Awalnya aku pikir, dia akan tetap dihidupku untuk waktu yang lama, karena itu aku terus menunda menemuinya. Ku pikir aku masih punya banyak waktu. Tapi ternyata sudah habis. Saat orang tua meninggal, anaklah yang paling menyesal dan paling tersedu-sedu. Tapi aku terlalu malu untuk menangis”. Kita tak bisa memprediksi waktu. Adegan ini seolah berpesan pada kita, “buat yang jauh dari orang tua, segera ambil handphone, video call dengan orang tua. Bagi yang orang tuanya sudah berpulang, segera layangkan do’a”.

Terima kasih, Gongjin. Desa tepi laut dengan nama fiktif yang hangat. Terima kasih Hometown Cha Cha Cha, atas tanyangan yang menyembuhkan luka, atas pelajaran hidup, atas pemandangan yang indah, atas soundtrack-sountrack yang bagus, atas quote-qoute yang berharga. Akhir pekan beberapa bulan ini tidak sia-sia.

Tentang Pernikahan

 

Hari ini ulang tahun keenam pernikahan kami. Sebuah kehidupan yang kami pilih dan tentunya harus kami pertanggungjawabkan sendiri. Faktanya, menikah bukanlah sebuah akhir kisah bahagia seperti dongeng dan drama Korea. Bukan akhiiir, tapi awal. Awal dari semua hal tentang hidup dan pilihan demi pilihan bermula.

Menulis tentang pernikahan, aku sempat malas dan ragu. Apa sih yang perlu dituliiis? Apa pentingnya? Mau ceritain apa? Semua pertanyaan ini, lalu lalang dipikiran aku. Ya, tentu saja, karena bagi aku, menikah ya menikah. Sepertiii, hidup ya hidup. Dengan semua tetek bengeknya yang semua orang udah paham. Tapi kembali lagi, ini bukan perihal membuat orang paham tentang makna sebuah pernikahan. Ini juga bukan sebuah artikel ilmiah untuk jurnal Scopus. Ini hanya semata tulisan pada laman blog ceritamita yang bisa dibaca siapa saja, dan diinterpretasikan dengan apa saja. Hehe.

Seperti kebanyakan pasangan pada umumnya, kami memutuskan hidup bersama karena merasa saling “cocok”. Kami menganggap diri sendiri adalah versi lain dari pasangan. Aku adalah Yuka versi perempuan, dan Yuka adalah Mita versi laki-laki, dengan semua sifat-sifat “unik” lainnya yang kami miliki. Bisa dibilang, kami sangat mirip dalam beberapa hal, tapi bertolak belakang dalam beberapa hal juga. Ah, kok jadi rumit ya.

Yap, tentu saja menikah bukanlah perihal memirip-miripkan satu sama lain. Hakikatnya, menikah adalah membuat dua individu yang serba berbeda berbaur menjadi satu, ya nggak bisaaa, hehe, bukan begitu maksud saya. Maksudnya membuat dua individu berbeda berada dalam satu rumah kali ya, hehe. Latar belakang, isi kepala, sifat dan semua hal-hal yang serba berbeda itu, dalam pernikahan kemudian harus “dijinakkan”. Saling berbaur, saling menyelaraskan, dan saling menghargai.

Menikah menurut aku, bukanlah menjadikan dia seperti aku, atau mejadikan aku seperti dia. Sama sekali bukan. Meski kadang bagi kita kebanyakan, memutuskan menikah dengan seseorang disebabkan karena beberapa kesamaan yang kita miliki dengan orang tersebut. Mugkin sama-sama hobi makan, sama-sama suka nonton film, sama-sama suka membaca, dan sama-sama lainnya. Tapi sama-sama bukan berarti murni sama. Ah, apa sih, filosofis sekali. Sudahlah.

Intinya, menurut aku menikah bukanlah tentang siapa yang melengkapi siapa. Aku bukan pelengkap Yuka, dan Yuka bukanlah pelengkap aku, meski kami mungkin punya beberapa kesamaan pada satu atau beberapa hal. Meski menikah, aku ya tetap diriku sendiri dan yuka adalah dirinya juga. Kami saling menjadi diri sendiri, mencintai diri sendiri apa adanya dan merasa nyaman dengan diri sendiri dan tentu saja saling menghargai satu sama lainnya. Ini yang kadang kami sebut bahwa kami bukan kesatuan, tapi dua kesatuan. Nah loh, filosofis sekali pernikahan ini ya..haha.

Cerita-cerita nggak jelas ini, tiba-tiba aja udah enam paragraph loh ya.hehe.  Ya begitulah menikah penuh hal-hal tak jelas. Kadang sebel, kesel, tapi sayang. Kadang pengen pergi, ngambek, tapi kembali lagi. Tentang apa lagi iniiii.

Enam tahun ini, adalah rentang masa yang luar biasa. Merayakannya, adalah seperti membawa teman lama membuka album foto lama yang akan ditingkahi komentar, kenangan, ingatan tentang foto-foto tersebut. Kadang penuh kesyukuran, penuh kebahagiaan, penuh tawa, terkadang penuh kesialan pula. Dan kita tetap saja tersenyum, saat menutup album tersebut dan meletakkannya kembali ke lemari.

“Kebahagiaan tidak runut, sayang. Tapi jika bisa merayakan setiap pagi bersamamu, itu sudah lebih dari cukup”. Ungkap Yuka satu ketika.

Baiklah, semoga kita semua selalu dalam lindungNya yaa. Yang sudah menikah, sakinah hingga jannah. Yang belum menikah dan punya niat menikah, semoga dimudahkan hingga tujuan. Yang belum menikah dan memutuskan tidak menikah, semoga menikmatinya dalam kebahagiaan dan kesyukuran. Yang sakit disehatkan, yang luka disembuhkan, yang tidur, biarin aja tidur dulu, mungkin tadi malam begadang nonton Netflix. Hehe.

Tulisan tidak jelas ini, I present to my beloved husband, Yuka. Terima kasih telah ada. Sampai kita tua, sampai jadi debu (Banda Neira). Oke.

SKINCARE? PENTING NGGAK SIH? : REVIEW SKIN1004 MADAGASCAR CENTELLA AMPOULE

 

Cerita perihal skin care diusia aku yang udah kepala tiga ini sebenarnya sama aja dengan cerita tentang makanan apa yang aku masak dan konsumsi hari ini. Yap, bener. Emang segitu pentingnya cairan dalam botol yang berbentuk liquid dan krim ini buat aku.

Sebagai seorang perempuan, secara naluriah kita tentu pengen dong punya kulit wajah yang bersih, sehat, halus, glowing dan terbebas dari masalah-masalah kulit. Tapi bukankah semua impian itu harus diperjuangkan dan diusahakan?

Butuh usaha dan investasi untuk mewujudkan impian kita dalam memiliki kulit yang didambakan. Dan salah satu usaha itu ya dengan menggunakan skincare.

“Semua masalah kulit wajah kan bisa ditutupi pake makeup”. Ada yang berpendapat begitu juga?

Sebagai seorang brand partner pada salah satu perusahan kosmetik asal Swedia, saya paham banget bahwa makeup emang fungsinya untuk mempercantik kita, dan emang ada produk yang full coverage ‘mampu menutupi atau meratakan warna kulit asli’. Buut, pemakaian make up tanpa merawat kebersihan wajah, sebenarnya sama aja boong. Makeup malah bisa menambah permasalahan kulit seperti kerutan, komedo dan pori-pori tersumbat loh. Dan disinilah sebenarnya fungsi skincare buat kulit kita.

Kulit wajah yang sehat dan terawat sebenarnya sama seperti sebuah fondasi rumah. Di Minangkabau, ada istilah “parumahan data”, artinya kira-kira seperti membangun rumah di tanah yang datar. Rumah tersebut, bakal bagus letaknya, biasanya juga kokoh dan aman. Berbeda dengan rumah yang didirikan di lahan miring yang biasanya butuh beberapa timbunan material untuk meratakan lahannya. Kira-kira seperti itu yaaa.

Begitu juga dengan kulit wajah kita. Saat kulit wajah bersih dan sehat, mengaplikasikan make up jadi lebih optimal. Makeup lebih mudah menempel sempurna karena basic kulit kita yang udah bersih dan mulus.

So, masih penasaran kenapa skincare itu penting? Yuk simak beberapa alasan berikut ini:

1.    Kulit wajah adalah aset penting

Kulit wajah yang sehat terawat akan kita rasain manfaatnya beberapa tahun kemudian. Saat usia terus bertambah, tapi kulit kita masih seperti 10 tahun lebih muda dari usia kita. Kalau dari sekarang kita merawat kulit wajah, beberapa tahun nanti kita akan mendapati kulit kita bikin kita amazed sendiri. Wajah tetep kencang dan glowing, impian kita banget ya kaaan.

2.    Skincare dapat “menyelesaikan masalah” kulit kita.

Skincare dirancang oleh para ahli untuk menyembuhkan beberapa permasalahan kulit kita, seperti kerutan, flek hitam, kusam, komedoan, jerawatan, bruntusan dan sebagainya. Apalagi saat teknologi makin berkembang sekarang, riset tentang permasalahan kulit banyak dilakukan dan menghasilkan produk-produk berkualitas baik yang mudah ditemukan.

3.    Kulit wajah lebih cerah dan sehat.

Titik balik dari selesainya permasalahan kulit, kita akan mendapati kulit impian kita. Kulit wajah lebih sehat, lebih cerah, dan lebih glowing.

Satu hal yang juga penting, sebelum kita menggunakan skincare, kita musti tau dulu permasalahan kulit kita. Kita kudu mempetakan dulu, kulit kita ini seperti apa sih sebenarnya. Misal seperti ini:

Jenis kulit : berminyak

Masalah : kusam, jerawatan, flek hitam

 

Atau

Jenis kulit : Kering

Masalah : Kerutan, kulit kasar dan bersisik, dehidrasi dan sebagainya. 

Lalu setelah itu baru kita bisa menelusuri skincare apa yang cocok untuk menyembuhkan permasalahan kulit kita.

REVIEW SKIN1004 MADAGASCAR CENTELLA AMPOULE

Ini dia salah satu bagian dari skincare routine yang udah nyelamatin aku. Hari ini, aku membuka kemasan keduanya, setelah repurchase beberapa hari lalu. Ini adalah sebuah produk dari brand Korea yang udah nggak asing lagi buat kita, SKIN1004. Skin Angel.

Kulit aku tuh tipenya, kombinasi. Dan biasanya permasalahannya nggak jauh-jauh dari bruntusan, kusam dan ada sedikit flek di tulang pipi agak dibawah mata. Terus sesekali berjerawat.

Serum ini tuh sebenarnya udah lama banget aku pantau, hehe. Iya, bener. Browsing tentang dia, nonton review youtubenya dll. Cumaaaa, karena aku masih punya stok rangkaian skincare routine dari sebuah brand asal Swedia, yang pemakaiannya juga hemat banget, aku baru nyobain serum ini 4 bulan lalu. Aku menggunakannya bersama-sama dengan Foam Cleansernya juga.

Identitas produk

Nama               : Skin1004 Madagascar Centella Ampoule

Kemasan         : 55 ml

Buatan             : Korea

Price                : IDR 240.000

Packaging

Botolnya terbuat dari kaca tebal dengan desain stiker produk yang minimalis. Di bawah kemasan ada keterangan produk dengan tulisan hangul dan tanggal kadaluarsa produk. Tutup kemasan menggunakan dropper seperti ini : 

Tekstur

Skin1004 Madagascar Centella Ampoule ini teksturnya cair banget. Mudah meresap ke kulit dan terasa ringan. Dan tidak ada aroma apapun.

Formula

Produk ini diklaim hanya Centella asiatica extract 100%. 100% sodara-sodara. Eh, tapi kalian ada yang tau Centella asiatica itu apa nggak? Hewan atau tumbuhan..hehe..ya tumbuhan lah yaa.

Di Indonesia, Centella asiatica dikenal dengan nama daun pegagan. Ada yang udah pernah bikin lalap daun pegagan? Dalam daun pegagan, terkandung saponin, flavonoid, phenolic acid, dan terpenoid. Zat-zat inilah yang disinyalir bermanfaat bagi kulit. Lengkapnya bisa kalian baca disini.

Klaim dari SKIN1004

Skin1004 Madagascar Centella Ampoule is 100% made of Centella Asiatica Extract, Fresh from the untouched nature of Madagascar that clams and purifies the skin. Kenapa harus Pegagan dari Madagascar? Kok nggak dari Indonesia aja? Karena katanya alam Madagascar lebih alami, lebih bebas polusi, sehingga Centella Asiatica lebih terjaga kemurniannya dan lebih sehat. Gituuu..!

Cara pemakaian

Aku memakai serum ini setelah cuci muka dengan foam cleansernya. Lalu dilanjutkan dengan menggunakan krim siang atau malam.

Kesimpulan

8/10

Super recommended and repurchase.

Sangat cocok buat kalian yang punya kulit sensitive juga, dan permasalahan kulit seperti aku.

Selamat mencoba ya!

Skin1004 Madagascar Centella Ampoule


RESENSI Gadis Kretek (novel)

 


Biodata Buku

Judul buku   : Gadis Kretek (novel)

Penulis          : Ratih Kumala

Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2012

Tebal buku    : 275 halaman

Perempuan dan Rokok. Dua hal yang terdengar masih janggal di telinga masyarakat awam kita. Perempuan dengan sebatang rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah terkesan “liar” dan “berani”. Seolah-olah rokok –juga bisnis rokok- yang selama ini hadir ditengah kita dengan iklan “macho”-nya hanyalah milik para lelaki, dan perempuan-perempuan yang bersentuhan dengan benda itu hanyalah mereka yang berani dan “memberontak” dari garis tangannya sebagai perempuan.

Tapi, novel ini menyajikan sesuatu diluar ekspektasi kita tentang perempuan dan rokok. Sebuah kajian budaya yang dibuat hidup oleh karakter-karakter yang “berani". Sangat mengejutkan, hingga ditutup dengan ending yang sempurna tentang sejarah, revolusi, politik dan kondisi sosial paling kontroversial yang tengah hangat dibicarakan saat ini serta tentang sebuah kejujuran yang harus ditebus pada akhirnya. Secara garis besar tak ada kelemahan dalam novel ini, kecuali kita harus menyiapkan diri pada kejutan-kejutan dalam alur ceritanya.

Jeng Yah, tokoh utama perempuan dalam cerita ini digambarkan benar-benar “hidup”. Sebagai putri sulung dari sebuah perusahaan kretek dan kemampuannya tentang semua hal yang berkaitan dengan kretek, hingga kisah cintanya yang tak jauh-jauh dari aroma cengkeh dan tembakau, membuat kita terpukau, bahwa ternyata perempuan dan rokok, punya sisi tersendiri untuk dinikmati.

 

INI DIA!!! REKOMENDASI KEGIATAN DAN FILM YANG SERU UNTUK DITONTON BERSAMA ANAK-ANAK SELAMA PPKM

Kabarnya, kebijakan PPKM resmi diperpanjang hingga tanggal 2 Agustus ini. Masih banyak sekolah yang belum bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Gimana, mak? Emosi masih aman? Kuota sabar masih cukup? Ide-ide kegiatan kreatif bersama anak masih banyak? Hehehe. 

Iyaaaa…tau koook..paham banget, maaak. Makanya nih, aku mau rekomendasiin beberapa kegiatan yang mungkin bisa mengurangi stress dan lelahmu, mak.

Perihal anak, pasti banget kita mau berikan semuaaa yang terbaik. Pendidikan yang terbaik, makanan yang terbaik, pakaian yang terbaik, dan pengasuhan yang terbaik.  Tapiii, nggak semua hal-hal sempurna seperti yang terbesit dipikiran kita bakal terjadi. Istilahnya nih, mak. Ekspektasi bertolak belakang ama realita. Perih kan mak, hehehe.

Ah, udah deh, cerita-cerita perihal pengasuhan anak saat pandemi berjilid-jilid begini, nggak akan ada habisnya ya mak. Nggak pandemi aja, bukan hal yang mudah jadi orang tua, apalagi saat pandemi gini, saat anak-anak 24 jam “di bawah ketek” kita.

Berikut beberapa rekomendasi kegiatan yang udah aku coba lakukan bersama Zea, anakku, yang bakal menghabiskan cukup banyak waktu, tapi meminimalisir dampak kelelahan pada ibunya. Hehe

1.       Main air.

Kalau kegiatan yang satu ini, nggak ada matinya deh. Semua anak biasanya emang suka air. Caranya tergantung kondisi masing-masing yaaaa..kalau aku, biasanya bawa Zea ke samping rumah deket kran air, lalu bawa mainan “HULK” – sebutan Zea untuk sekantong mainannya yang berisi boneka seri frozen, seri avenger dan kawan-kawannya”. Biasanya aku akan bilang begini, “Ze, ajak mainan hulk ke kolam renang yuk, kayaknya ini musim panas yang panjang, pasti mereka senang bermain di kolam renang”. Dan, sebaskom besar air akan menjadi arena water park yang akan menyita beberapa jam dengan si Ibu bisa sesekali ngelirik Instagram..haha

2.      Mandi busa.

Sebenarnya ini masih satu “species” sih dengan main air tadi. Tapi bedanya ini bisa sekalian bersihin badan anak. Sambil mandi busa, bisa mandi bareng mainannya juga, dan meski mereka biasanya betah lama-lama, tapi pandai-pandai mamak aja, biar anak nggak sampai masuk angina yaa..!

3.      Menyortir mainan.

Bahasa kerennya mah Decluttering. Mainan Zea yang sekeranjang ukuran XXXXXL –saking besarnya- itu, isinya beragam mainan dia yang bercampur aduk nggak beraturan. Saat mau main masak-masakan, bingung, nyari ini itu nggak ketemu dan musti bongkar-bongkar dulu. Saat temannya dateng mau main es krim-es kriman, temennya ampe bosan nungguin itu kumpulan mainan ada dimana, Cuma ada gerobaknya aja. Aku udah sering decluttering sih sebenarnya, ya tapi kembali kesana lagi, nggak nyampe beberapa hari, semua kembali ke kehampaan, eh nggk deh, ke “keberantakannya” lagi. Mamak pasti paham kaaan, maksud akuuu?

So, ini bisa jadi ide ngabisin waktu juga, biar anak dan ibu nggak bosen di rumah.

Aku biasanya nyiapin beberapa kantong plastik transparan biar mainan mudah terlihat, dan memilah-milah mainan yang sejenis dalam satu kantong yang sama baru disusun dalam keranjang mainannya.

4.      Mencuci mainan.

Ini sebenarnya kelanjutan dari kegiatan decluttering. Masih main air sih, tapi sekarang mandiin mainan yang dipilah-pilah kemaren, mainan bersih, anak dan ibu senang.

5.      Main eksperimen.

Kalau ini sih, harus siap mental dan berisiko nambah kerjaan mamak kalau dilakukan “tidak pada tempatnya”. Jadi, karena Zea suka eksperimen-eksperimenan, aku biasanya nyiapin satu meja yang dialas taplak beserta bahan-bahan “eksperimen”nya. Ada tepung, pewarna makanan, mangkok, sendok, gelas, lotion dll. Dia akan berimajinasi dengan eksperimennya beberapa waktu di atas meja. Dan mamak tinggal angkat taplak ke kamar mandi saat anak selesai. Beres.

6.      Nonton film.

Naaaaah, ini mah pilihan yang paling ibunya demen. Saat anak nonton, ibu juga bisa nonton film yang sama, atau bisa nonton drakor juga. Eiiiits, tapi usahain film yang ditonton anak sesuai dengan usianya dan berisi pesan-pesan moral yang baik ya mak. Mak pasti udah paham alasannya.

Kali ini, aku mau rekomendasiin film anak yang bisa jadi referensi mamak di rumah.

A.     Raya.

Film ini pemenang nominasi film favorit Zea. Ditonton udah ratusan kali, mungkin. Hehe. Film ini bercerita tentang persahabatan manusia dan naga yang tinggal bersama di Kumandra. Hingga satu waktu, wabah druun mengancam tanah kumandra, dan membuat panduduknya menjadi batu dan memecahbelah mereka. Raya mencari naga terakhir yang menjadi harapan untuk menghentikan kekuatan jahat dan mengembalikan semua hal. Film ini bagus banget, karena bercerita tentang ketulusan, kepercayaan, dan persahabatan. Anak kita akan belajar banyak dari film ini.

B.     Luca

Film ini bercerita tentang petualangan musim panas tak terlupakan bagi Luca bersama sahabat barunya Alberto. Namun, semua kesenangan mereka terancam oleh rahasia besar, ternyata keduanya merupakan monster laut. Film ini juga bercerita tentang persahabatan, pertualangan, dan kebaikan. Seperti yang sering Zea katakana, “kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan, kan Bun.”

C.     Coco

Fil ini bercerita tentang seorang anak yang bercita-cita menjadi musikus hebat. Tapi dia dihadapkan dengan larangan keluarga dan leluhurnya untuk bermusik. Dia kemudian pergi memasuki Tanah Orang Mati untuk menemui leluhurnya dan memperjuangkan impiannya. Sebuah film yang membuat anak paham, bahwa setiap impian baiknya harus dia perjuangkan bagaimanapun rintangannya.

D.    Ponyo

Film ini berkisah tentang persahabatan putri ikan mas setengah manusia bernama Ponyo dengan bocah kecil bernama Sosuke di Jepang. Keinginan Ponyo menjadi manusia membawa bencana yang mengancam desa Sosuke.

Film ini juga bercerita tentang persahabatan, dan sebuah keinginan besar yang diperjuangkan. Film-film dari Studio Ghibli tak pernah mengecewakan.

E.     Pertualangan Sherina

Siapa yang tidak tau dengan film ini. Masa kecil kita dimabukkan oleh kisah sherina, saddam dan teman-teman. Sarat dengan nilai, meski tahun sudah berjalan dengan cepat, film ini aku pikir masih relevan untuk tontonan buah hati kita.

5  film rekomendasi ini, semoga bisa menemani buah hati di rumah ya mak. Semoga satu jam lebih anak-anak menonton, bisa memberikan mamak waktu untuk bernafas, menjadi waras, dan mengembalikan energi lagi.

Peluk hangat buat para mamak-mamak hebat, terima kasih karena telah bertahan, telah kuat, telah sabar, ditengah mengasuh anak dan tumpukan pekerjaan lainnya. Terima kasih telah berjuang sejauh ini.

Semangat terus, ya mak!

Itu dulu rekomendasi kegiatan dan film yang bisa anak-anak kita lakukan dan tonton bersama di rumah. Kalau mamak punya tips dan rekomendasi yang lain, sharing di kolom komentar ya, siapa tau menjadi inspirasi dan bermanfaat untuk mamak lainnya.

Motherhood is about Collaboration Not a Competition. Semangat!!

Resensi Kambing dan Hujan (Sebuah Roman)

Biodata Buku

Judul buku       Kambing dan Hujan (Sebuah Roman)

Penulis             Mahfud Ikhwan

Penerbit           PT. Bentang Pustaka

Tahun terbit     : 2015

Tebal buku      380 halaman

Tumbuh dalam tradisi Islam, khususnya dunia pesantren Salafiyah, membuat saya sedikit banyaknya familiar alur cerita buku ini. Saya tiba-tiba seperti dibawa kembali ke meja belajar di ruang kelas lokal kereta api –begitu kami menyebut ruang kelas yang berjejer panjang yang menampung kelas VII pondok pesantren kami hingga belasan lokal-, membahas dan mendengar ayahanda guru membeberkan perbedaan-perbedaan  yang akan kami hadapi kelak setelah kembali ke masyarakat dan bagaimana kami akan menjawab dan menghadapi perbedaan tersebut.

Satu hal yang saya ingat, saat itu saya berpikir bahwa apa yang saya pelajari saat itu hanyalah sia-sia belaka, karena bagi saya sah-sah saja perbedaan-perbedaan itu ada dan pasti ada alasan-alasan jelas pula bagi mereka yang berbeda dengan kita. Waktu itu saya berpikir, kenapa harus meladeni dengan serius perbedaan-perbedaan tersebut? Toh pada akhirnya akan membuat kita yang berbeda semakin terpisah jarak. Bukankah kita harus saling menghargai meskipun kita saling berbeda? Tapi saat itu ayah guru hanya menjawab dengan sepatah kata, “kelak kau akan mengerti kenapa kita harus mempelajari kitab ini, inang (read : anakku”).

Dan hingga hari ini kita masih saja diributkan dengan masalah-masalah khilafiyah yang tak ada habisnya. Seagama, tapi berbeda. Kenapa disana sholat subuh pakai do’a qunut sedang disini tidak? Kenapa disana sholat taraweh dua-dua rakaat, sedang disini empat-empat raka’at? Siapa yang paling benar, menggunakan metode hisab atau ru’yat?  Kita sibuk dengan hal-hal tersebut. Meski tak “separah” cerita tentang persaingan antara kubu utara dan selatan yang diceritakan buku ini, saya yakin kita pernah mengalami dan terseret dalam perbedaan-perbedaan tersebut. 

Latar belakang perbedaan antara Islam modern dan tradisional ini juga yang kemudian melatari hubungan Mif dan Zia dalam buku ini. Seagama tak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan cara ibadah, cara menetapkan waktu dimulainya awal Ramadhan dan hari raya serupa jembatan putus yang memisahkan keduanya. Hubungan mereka menjelma tegangan antara hasrat dan norma agama. Yang menariknya adalah ketika mereka memperjuangkan cinta yang melintasi jarak kultural tersebut, mereka justru menemukan sekelumit rahasia yang selama ini dikubur oleh ribuan prasangka. Tentang persahabatan masa kecil Bapak-nya Mif dan Abah-nya Zia, dan konflik-konflik lainnya yang membuat kita tak sanggup untuk melepaskan buku ini hingga akhir halamannya terbaca.

“Ah, seandainya…,” desah mif. Dalam benaknya berkelebat kisah teman- temannya yang pacaran dengan longgar dan kemudian menikah dengan lancer, tanpa halangan. Enak sekali mereka, pikir Mif. Mereka tak harus dipusingkan tentang hubungan kedua keluarga, tak dibebani tentang beda meski dan beda paham agama, dan tak harus membaca surat-surat tua berisi kisah cinta segitiga. Dan, tentu saja, mereka tak harus menggelisahkan -dengan secara berlebihan- adanya dua hari raya.

Menurut saya, gaya bercerita penulis dalam buku ini sangat menarik. Dari bagaimana penulis membangun cerita romansa antara Mif dan Zia yang terhalang perbedaan hingga menyingkap rahasia-rahasia antara ayah mereka dengan apik. Bagaimana semua ini kemudian menjadi jalinan-jalinan yang berhubungan satu sama lain. Dan berakhir dengan happy ending. Roman yang mendokumentasikan sejarah, hubungan sosial dan persaingan paham agama dengan apik dan cerdas. Sebuah buku yang akan memperkaya sudut pandang kita dan sangat berharga untuk dimiliki dan dibaca. Recommended, begitu iklan-iklan menuliskannya.

Ruang yang Diam-Diam Mengajar: Catatan dari Kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD

Siang ini, seperti biasa, saya berdiri di depan kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD, mendengarkan dua mahasiswa saya, Risa dan Nadia, mempres...