TALK ABOUT AI

 

Tulisan terburu-buru ini saya tulis karena tiba-tiba terbersit saat saya sedang mengerjakan sebuah pekerjaan dengan dibantu sebuah sistem AI.

Belakangan ini, AI alias Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan sudah tak asing lagi buat masyarakat awam seperti saya. Kecerdasan buatan yang ditambahkan kepada suatu sistem itu sudah begitu lekat mengitari lini-lini kehidupan kita. Bahkan saat saya break makan siang setelah mengerjakan pekerjaan yang dibantu AI, AI juga mengambil alih tontonan podcast saya dengan menggunakan algoritmanya, menuntun saya menonton hal-hal yang saya sukai. ‘Mencuri’ Kotak Hitam Silicon Valley, AI vs AGI & Akhir dari Homo Sapiens, Anak Indonesia Pencipta AI Untuk Pendidikan dan lain sebagainya. Judul-judul tontonan itu muncul seketika langsung setelah saya meng-klik ikon kotak merah dan segitiga putih dilayar komputer jinjing saya. Betapa luarbiasanya AI merayap ke celah-celah personal kita. Bahkan tulisan ini pun muncul setelah menggunakan dan menonton perihal AI juga.

Tentu saja akan selalu ada pro dan kontra atas suatu inovasi, atas suatu hal yang baru. Kita membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan teknologi yang sangat cepat itu. Membuat kita seolah berkejaran dengan waktu.

Sebagai seorang yang tak akan pernah bisa membendung perkembangan ini, saya dan juga teman-teman semua hanya diberi pilihan untuk mengikuti dan mengambil hal-hal yang positif dari teknologi ini.

Tak bisa dipungkiri, ada banyak hal positif yang akan dibawa oleh AI, khususnya dalam dunia pendidikan. Saya mencoba mengetikan kalimat pernyataan itu di sebuat chat AI, dan lihat jawabnya :

---------------------------------------------

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan memiliki berbagai dampak positif yang dapat meningkatkan proses belajar-mengajar dan pengalaman siswa. Beberapa di antaranya adalah:

1.      Personalisasi Pembelajaran: AI dapat menganalisis data dan informasi mengenai kemampuan dan preferensi belajar siswa secara individu. Dengan demikian, AI dapat menyajikan konten pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa, memungkinkan mereka untuk belajar dengan kecepatan dan gaya yang sesuai.

2.     Efisiensi dan Produktivitas: AI dapat mengotomatisasi beberapa tugas administratif dan mengelola data dengan cepat dan akurat, membebaskan waktu guru untuk lebih fokus pada kegiatan pembelajaran dan interaksi dengan siswa.

3.     Pendeteksian Dini dan Peningkatan Kinerja Siswa: AI dapat membantu mengidentifikasi dini kemungkinan kesulitan belajar atau masalah dalam pemahaman siswa. Dengan demikian, tindakan perbaikan dapat dilakukan lebih cepat untuk membantu siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik.

4.     Ketersediaan Sumber Belajar: Melalui AI, akses ke berbagai sumber belajar dalam bentuk digital dapat ditingkatkan dan dikustomisasi untuk mengakomodasi gaya belajar berbeda dari siswa.

5.     Penyediaan Umpan Balik: AI dapat memberikan umpan balik secara real-time pada tugas atau ujian yang telah diselesaikan oleh siswa, membantu mereka memahami kesalahan dan mengidentifikasi area untuk perbaikan.

6.     Pengembangan Kurikulum: AI dapat menganalisis data dan tren dalam kurikulum untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan dan kesenjangan dalam program pembelajaran.

7.     Pengembangan Konten Edukasi: AI dapat membantu menciptakan dan mengoptimalkan konten edukasi, seperti video pembelajaran interaktif, yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa.

8.    Evaluasi Guru: AI dapat membantu mengukur kinerja guru melalui analisis data, termasuk efektivitas metode pengajaran dan tingkat partisipasi siswa.

9.     Mendukung Keterampilan 21 Abad: Dengan integrasi AI, siswa dapat belajar tentang teknologi dan keterampilan terkini yang relevan untuk menghadapi tantangan di abad ke-21, seperti pemrograman, data analytics, dan kecerdasan buatan itu sendiri.

10.  Pengenalan dan Penghapusan Bias: Dengan pendekatan yang benar, AI dapat membantu mengenali dan mengurangi bias dalam pembelajaran, termasuk bias gender, etnis, dan lainnya.

 

Penggunaan AI dalam pendidikan memberikan potensi besar untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kualitas sistem pendidikan. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan AI juga harus diimbangi dengan tanggung jawab etika dan privasi untuk memastikan perlindungan data siswa dan integritas pembelajaran yang adil dan aman.

 

-------------------------------------------------

Look, saya bisa langsung membuat sebuah artikel jurnal hanya dengan mengetikan sebuah kalimat pernyataan. Luar biasa bukan? Dan cukup ”mengerikan”. :D

Ini hanya secuil sedebu contoh betapa luar biasa dan ”berbahaya”nya kecerdasan buatan ini. Dan tentu saja menjadi tantangan besar bagi saya sebagai orang tua dan pendidik kedepannya.

Membuat makalah bukan hal yang sulit lagi bagi mahasiswa, mereka tak perlu lagi meminjam beberapa buku ke perpustakaan dengan resiko tabrakan dengan teman saat membawa buku atau ketiduran saat membacanya. Cukup mengetikkan sebuah topik silabus dan AI akan menyiapkan makalah dan slide presentasi untuk mereka.

 

Meski bukan berlatar belakang pendidikan teknologi, mau tak mau kita harus mulai untuk beradaptasi dengan kecerdasan buatan ini. Tapi, meskipun beradaptasi dengan kecerdasan buatan memiliki manfaat yang besar, juga penting untuk menangani tantangan dan masalah etika yang mungkin muncul. Penggunaan AI harus diimbangi dengan tanggung jawab dan privasi untuk memastikan bahwa teknologi ini digunakan secara etis dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

Apakah kalian sadar, paragraf terakhir adalah kalimat yang dirangkai AI?


1Q84 JILID 1

 

Menamatkan jilid 1 novel trilogy yang lebih dari 500 halaman dalam waktu seminggu bagi saya adalah sebuah prestasi. Meski secara "resmi" saya hanya bekerja empat hari dalam seminggu, tapi sebagai seorang ibu rumahtangga, semua waktu dalam 24/7 sudah terisi penuh.

Namun seperti ada semacam tangan tak kasat mata yang bersikeras menarik saya untuk menuntaskan membaca jilid pertama ini secepatnya. Secepat pergantian alur antara dua tokoh dalam chapter berbeda yang diceritakan secara bergantian. Buku ini seperti candu yang mampu membuat saya menomorsekiankan drama dan podcast favorit bahkan saat menyantap sarapan dan makan siang.

1Q84, dengan huruf Q dan angka 9 yang tumpang tindih berwarna biru dan merah disampulnya. Sihir Murakami sepertinya mulai meresap tanpa bunyi.

Kami membeli buku ini tahun 2015, delapan tahun lalu. Delapan tahun buku ini terpajang dirak buku dan sudah ikut berpindah saat aku juga berpindah rumah untuk melanjutkan sekolah. Lalu ”mereka” juga bersemedi bertahun-tahun dalam kardus yang berisi tumpukan buku dibawah tempat tidur. ”Banjir” tiba-tiba pada suatu malam, minggu lalu, akhirnya berhasil membawanya naik ke meja kerjaku.  Dan seolah-olah memberitahu dengan kesal campur gemas ”sudah cukup pengabaian delapan tahun ini, Mita”. :D

Saya justru sempat bertanya-tanya sendiri, bagaimana bisa melewatkan 2 jilid yang tebal ini tanpa membacanya sama sekali? Sesibuk dan setidakpunyawaktu itukah saya? Seajaib itukan waktu menyembunyikannya?

Tapi satu hal yang pasti, saya akhirnya ikut menemani perjalanan Aomame memasuki dunia yang terlihat berbeda dari dunia dia sebelumnya. Murakami membuat saya ikut memutar sinfonietta Janacek dan Lachrimae-nya John Dowland saat ”menemani” Aomame menuruni tangga darurat di Jalan Tol Metropolitan menyusuri lorong bawah tanah menyeberangi Jalan Tol yang seolah membawanya ke dunia yang berbeda, dunia yang seperti sama tapi tak sama. Dunia yang kemudian membingungkan Aomame, karena memiliki dua buah bulan dan seragam polisi yang berbeda dari beberapa jam sebelumnya, dunia yang kemudian disebutnya dengan dunia ditahun 1Q84, bukan 1984.

Saya juga diajak berkenalan dengan Tengo, guru bimbel Matematika yang jago menulis dan bercita-cita menjadi novelis. Tentang kelebat-kelebat ingatannya yang membuatnya pusing dan kadang pingsan tiba-tiba. Perjalanan kesehariannya yang berulang yang juga membawanya bertemu dengan sosok gadis SMA yang cantik tapi ”aneh” bernama Fuka Eri, nama pena dari Fukada Eriko, gadis disleksia dengan novelnya yang dikemudian hari memenangkan penghargaan pengarang muda setelah ”direnovasi” oleh Tengo. Novel itu berjudul Kepompong Udara. Novel yang mengisahkan tentang Orang Kecil, entah kiasan atau sebenarnya. Hingga menghilangnya Fuka Eri secara misterius entah disebabkan apa.

Secara keseluruhan jilid pertama ini berhasil membuat saya mulai membuka lembaran jilid kedua dan akhirnya memesan jilid ketiga. Haruki Murakami membawa saya menelusuri novel genre fantasi dengan ringan dan lugas. Seperti menonton film-film Gibli, awalnya membingungkan namun kemudian kita terhanyut menikmati. Meski novel terjemahan, tapi Ribeka Ota sebagai penerjemah tidak ingin membuat kita kesulitan saat menikmati ”pertualangan” ini. Beliau menerjemahkan dengan ”halus” sekali. Keterampilannya ini sangat saya apresiasi. Terima kasih telah membuat saya bisa membaca novel ini dengan bahasa sendiri, Ota. Arigatou Gozaimasu.

THEY WILL ALWAYS BE OUR BABIES

 

Hari ini status para orang tua di sosial media hampir terlihat seragam. Hari pertama anak masuk sekolah. Yap, ada yang hari pertama di sekolah baru, ada juga yang hari pertama di kelas baru. Tapi vibes-nya sama, di-behind the scene anak-anak yang mulai sekolah, ada orang tua yang terharu biru. Kaki-kaki kecil yang selama ini kita ciumi dengan gemas itu, sekarang sudah mengenakan sepatu sekolah, membawa mereka melangkah memasuki dunia yang lebih luas dari sekedar rumah.

Anak-anak selalu menempati tempat paling spesial dalam kehidupan kita. Sosok yang mau kita ajari, tapi terkadang malah mengajari kita banyak hal. Meski selalu didekat kita, anak-anak seolah tumbuh tanpa kita sadari. Baru kemarin rasanya mereka lahir ke dunia ini, eh hari ini ternyata sudah mulai sekolah saja. Perihal anak, kita selalu berkejaran dengan waktu.

Pagi ini saya teringat sebuah teori John Locke tentang tabula rasa. Filosofi yang mengatakan anak terlahir sebagai kertas kosong. Tabula rasa secara etimologi berasal dari bahasa Latin tabula dan rasa. Tabula berarti map atau atlas, sedangkan rasa berarti batu tulis, yang berarti "batu tulis bersih”. Sedangkan dalam bahasa inggris "blank slate", blank berarti kosong tanpa ada tulisan, sedangkan slate berarti batu tulis, dengan demikian bisa bermakna batu tulis kosong yang belum ada tulisan, John Locke menyebutnya sebagai kertas putih atau kertas kosong.

Lalu ada sebuah penelitian dilakukan dengan melibatkan bayi berusia 3 bulan menggunakan 3 boneka, anggap saja berwarna kuning, biru dan coklat. Boneka yang kuning, dijadikan sebagai antagonis yang selalu ”menjahati” boneka biru. Sedangkan boneka coklat dijadikan sebagai protagonis yang selalu melindungi boneka biru, memeluk dan mengelus boneka biru. Beberapa waktu kemudian bayi-bayi itu diberikan ketiga boneka, dan mereka semua memilih boneka coklat setelah memandang lama boneka kuning.

Penelitian ini menjadi pembanding atau pembantah teori Jonh Locke tentang tabula rasa. Ternyata anak-anak kita tidak terlahir sebagai kertas kosong, tapi mereka lahir dengan fitrah bawaan.  Al-Ghazali memaknai fitrah anak sebagai makhluk yang telah dibekali potensi kebaikan dan potensi untuk beriman kepada Allah. Ada benih-benih kebaikan dalam sosok-sosok mungil itu.

Benih-benih kebaikan itulah yang akan dipupuk dengan pendidikan. Berharap sekolah dan guru akan menjadi fasilitator dalam menumbuhkembangkan benih itu menjadi ”pohon” yang berakar kuat, berdaun lebat dan berbuah manis, yang bermanfaat untuk umat manusia lainnya.

Semoga jalan yang akan ditempuh anak-anak kita kedepannya adalah jalan yang penuh dengan hal-hal baik, bertemu dengan guru yang baik, teman yang baik, dan pelajaran-pelajaran yang berharga.

Meski terus bertumbuh besar dan kelak dewasa, satu hal yang akan terus kita rasa sebagai orang tua, that no matter how big they grow, there are no if's or but's or maybe's, they will always be our babies.

Selamat hari pertama sekolah, untuk anak-anak hebat dan orang tua-orang tua yang hebat pula. Hwaiting !!

TANPA JUDUL

Gambar by Pinterest

Bagai seabad tak bersua. Aih niat sekali ya saya menulis kalimat pembuka seperti ini. Saya sendiri juga sedikit merinding membacanya, overwhelm sekali. Tapi ya gimana lagi, emang seperti itu feel yang saya rasa saat membuka kembali beranda blog ini. 

Basically saya ingin menulis banyak hal sebenarnya. Tapi Ramadhan dan lebaran tahun ini entah kenapa saya merasa hectic sendiri. Saya melewatkan menulis banyak hal. Yang pada akhirnya tentu saja banyak hal pula yang saya sesali. Meski sudah memperkirakan perasaan ini akan saya alami, saya tetap saja absen dari waktu ke waktu untuk menulis. Dan tentu saja sekarang saatnya saya menuai sesal itu. 

Mungkin saya memang punya satu atau dua atau tiga alasan untuk sekedar membela diri pada diri saya sendiri, tapi tetap saja saya telah melewatkan banyak hal yang ikutan hanyut bersama alasan-alasan itu. 

Saya absen dalam mengabadikan beberapa hal penting dalam hidup saya sendiri. Seolah semua yang terjadi tak ada apa-apanya dan tak apa-apa jika tak saya apa-apakan. Lalu saya mau apa lagi, selain kemudian mendapati diri saya mengetiki kata demi kata dengan kalimat pembuka yang membuat mual beberapa pembaca. 

Tapi dalam jeda itu, saya jadi punya waktu untuk mempertanyakan diri saya sendiri. Sebenarnya apa sih yang saya mau dengan blog ini. Apa yang benar-benar mau saya ekspose di sini. Hal apa saja yang saya izinkan untuk dibaca pembaca dalam blog ini. Apakah saya bener-bener harus fokus pada satu dua hal saja agar blog ini bisa dinikmati pembaca yang butuh informasi sama. Atau saya bisa menulisi semua hal yang saya mau bahkan tentang hal-hal random sekalipun dalam hidup saya. Pertanyaan-pertanyaan dan dialog-dialog itu riuh dalam pikiran saya. Kadang kita jadi menyadari betapa bisingnya sebuah pikiran bahkan saat mulut kita diam. 

Lalu dalam lalu lintas pikiran itu saya menyimpulkan bahwa saya akan menulis apapun yang sama mau. Tulisan-tulisan bermanfaat maupun hal-hal random unfaedah sekalipun. Saya akan menulis yang mau saya bagikan dan menyerahkan pada pembaca apa yang mau mereka dapatkan dari tulisan-tulisan itu. 

Apapun yang sudah terposting silahkan ambil baik-baiknya. Dan saya akan membiarkan blog ini menjadi "dirinya sendiri" selamanya. 


REKOMENDASI MENU SAHUR DAN BERBUKA AGAR SI KECIL MAKIN SEMANGAT BERPUASA

 

Udah hari keempat Ramadhan. Gimana Bun, apa udah mulai bingung menentuin menu sahur/berbuka puasa si kesayangan? Emang sih nentuin menu apa yang akan dimasak setiap hari itu suka bikin pusing. Kadang kalo udah mentok, ya udahlah, bikin telor orak-arik aja. Sering gitu nggak Bun? Kalau saya sih sering…hehe.

Buuut, kali ini aku mau rekomendasiin nih menu sahur dan berbuka untuk si buah hati tercinta. Siapa tau bermanfaat ya Bun.

 

1.   Sop Bakso Tuna

Selain segar, bakso tuna juga tergolong sehat untuk dikomsumsi sehari-hari dengan kandungan gizi yang tinggi. Bunda bisa beli yang frozen di toko organic terdekat atau bikin sendiri dirumah sekalian buat stok juga. Untuk kuah sopnya cukup tumis bamer dan baput, tambahkan garam, sedikit lada bubuk, saos tiram, kecap dan saos pedas manis. Masukkan bakso, daun bawang dan seledri. Koreksi rasa. Dan siap untuk disantap dengan nasi putih hangat.

Bahan-bahan Bakso Tuna

400 gr fillet tuna tanpa kulit

5 siung bawang putih

2 siung bawang merah

1 sdt bawang putih bubuk

1 sdt bawang merah bubuk

1/2 sdt lada

1 sdt garam

200 ml air es

1 sdm tepung terigu

5 sdm tepung sagu pak tani

1 butir telur

2 sdm minyak

 

Cara Membuat

1.    Cuci bersih fillet ikan tuna. Boleh membalurnya dengan air jeruk nipis jika ingin kurangi amisnya.

2.   Masukkan bawang putih dan bawang merah ke dalam food processor atau blender.

3.   Masukkan fillet ikan garam, lada, bawang putih bubuk, bawang merah bubuk, air es, telur atau egg replacer dan minyak. Haluskan hingga 10 menit. Stop food processornya tiga kali dalam sepuluh menit itu untuk mengaduk dan cek tekstur dengan spatula.

4.   Pindahkan adonan ke wadah. Tambahkan terigu dan tepung sagu pak tani.

5.    Siapkan air untuk merebus bakso.

6.   Bulatkan adonan sesuai selera untuk besar kecilnya. Tips supaya tidak terlalu lengket, gunakan minyak makan ditangan saat membulatkan bakso.

7.    Rebus bulatan bakso dalam air mendidih hingga mengapung.

8.   Tiriskan dan simpan hingga digunakan.

 

2.  Sop Ayam kampung

Kalau ini sih simple ya Bun. Cuci bersih ayam dan rebus dengan api sedang. Masukkan bumbu sop (lada, bunga lawang, kapulaga, cengkeh, pala, kayu manis) dan garam. Masak sampai ayam empuk. Lalu masukkan daun bawang, potongan wortel dan kentang. Masak sampai semua empuk. Lalu tambahkan seledri dan bawang goreng. Sup pun siap disajikan.

 

3.  Ayam/ikan Crispy

Potong tipis ayam/ikan. Marinasi dengan lada bubuk, bawang putih bubuk, jahe bubuk dan kaldu bubuk. Setelah itu goreng ayam/ikan dengan tepung bumbu serbaguna. Celupkan ke tepung basah, lalu tepung kering dan goreng dengan api sedang. Ayam/ikan crispy siap disantap dengan nasi hangat.

 

4.  Stik ayam

Untuk stik ayam saya biasanya menggunakan paha atas bawah. Potong dua dan buang tulangnya. Marinasi dengan kecap, saos pedas manis, saos tiram, minyak wijen, bawang putih bubuk dan kaldu bubuk. Diamkan minimal 2 jam atau bisa dimarinasi malam, simpan dikulkas untuk dimasak saat sahur. Cara masaknya : goreng ayam sebentar saja dengan margarin. Lalu tambahkan segelas air putih. Masukkan kecap, saos pedas manis, saos tiram, lada bubuk, dan baput bubuk. Tutup dan masak sampai air mengental menjadi saos. Angkat dan sajikan.

 

5.  Ayam bakar/ayam goreng

Kalau ini bisa sekaligus dua masakan dengan satu kali persiapan aja. Haluskan bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas dan kemiri yang udah disangrai. Tumis dengan minyak, masukkan sereh yang udah digeprek, daun kunyit, daun salam dan daun jeruk. Masukkan ayam yang udah dicuci bersih. Aduk. Masukkan air dan ungkep sampai empuk. Hasilnya bisa disimpan difreezer untuk kemudian di goreng atau dibakar di microwave atau air fryer.

Nah, itu beberapa rekomendasinya ya Bun. Tulis dikolom komentar juga kalau Bunda punya rekomendasi menu lainnya yaa…Selamat Berpuasaaa.


MELATIH SI KECIL BERPUASA : APA YANG HARUS AYAH BUNDA LAKUKAN?

 


Selamat menunaikan puasa Ramadhan hari pertama ya Aybun. Gimana siang ini? Apa si kecil yang lagi belajar puasa udah mulai rewel? Atau malah udah “berbuka” sedari tadi? :D. Bagaimanapun, namanya juga latihan ya bun, selangkah demi selangkah. Melatih si kecil berpuasa emang banyak dramanya. Tapi sebagai orang tua kita tentu sudah menyiapkan diri untuk menghadapi si King/Queen of drama ini.

Sebagai orang tua dengan seorang putri yang juga sedang berlatih puasa, berikut tips yang saya coba lakukan. Siapa tau Aybun bisa mencobanya juga, atau kalau punya tips lainnya, bisa berbagi di kolom komentar yaa..:D


1.   Mengenalkan anak tentang arti Puasa

“Puasa itu apa sih Bun?”, “kenapa sih kita harus berpuasa?”, “emang kalau kita puasa, kita dapat apa?”. Mungkin ini beberapa pertanyaan yang muncul dibenak anak-anak kita saat pertama kali kita meminta mereka untuk ikut berpuasa. Yap, mereka pasti bingung karena ini pertama kalinya bagi mereka.

Sebagai orang tua penting juga bagi kita untuk memberi pemahaman dasar tentang syariat puasa. Mungkin bisa dilakukan sambil pillow talk, atau sambil makan camilan kesukaan mereka. “Queen tau kaaan, kalau dalam Islam ada yang namanya rukun Islam? Nah rukun Islam itu adalah kewajiban kita sebagai umat Islam. Coooba Queen sebutkan dulu rukun Islam-nya? Naah, itu kan yang keempat ada puasa Ramadhan ya kaaan?Jadi Puasa itu kewajiban kita sebagai orang Islam. Puasa Ramadhan kita lakukan di Bulan Ramadhan selam sebulan penuh. Setiap hari mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

 

2.  Memberitahu keutamaan berpuasa

Sejalan dengan poin diatas, kita juga bisa memberitahukan keutamaan berpuasa agar anak lebih termotivasi. “Queen tau nggak, saat ini tuh ya, liat Queen lagi belajar puasa gini, Allah tu pasti senang banget dan jadi makin sayang ama Queen. Karena orang yang berpuasa itu, sedang dipandangin Allah dengan pandangan rahmat. Pandangan kasih sayang. Terus kalau Allah udah sayang ya, beuuuh..hidup ini jadi enak. Apa yang kita cita-citakan mudah terwujud, rezeki kita dibanyakin dan diberkahi, hati jadi tenang, pokoknya jadi bahagia deh. Udah gituu, puasa juga bikin kita lebih sehat”.

 

3.  Melatih berpuasa secara bertahap

Namanya juga latihan ya Aybun. Hari ini ampe jam 10 pagi dulu, besok naik lagi ampe jam 11, dan seterusnya. Dengan tetap memberikan semangat dan senyum bangga karena mereka sudah mencoba.

 

4.  Masakin menu favorit

Naah, penting nih, agar si kecil nggak bersungut-sungut saat diajak sahur, Aybun bisa masakin makanan favorit mereka. Misal sukanya nugget, ya masakin nugget dulu. Sukanya ayam bakar, ya usahain dulu. Sukanya bakso kuah, ya cemplung-cemplungin dulu :D

Gitu juga saat berbuka. “Bunda/Ayah masak ini loh buat buka puasa nanti (sambil kasih tau menu favorit mereka)”. Insya Allah si kecil makin termotivasi ya Aybun.

 

5.  Ciptakan suasana Ramadhan yang seru dan menyenangkan.

Mungkin kita bisa ajak si kecil nonton film bareng di Netflix atau maen game bareng atau bikin craft/kerajinan dengan tema Ramadhan dan sorenya diajak ngabuburit sambil hunting takjil.

 

6.  Memberikan apresiasi

Siapa sih yang nggak suka dipuji yakan Aybuun. Kita aja yang udah dewasa seneng banget kalau diapresiasi, begitu juga anak kita. Tak harus berupa uang atau materi, pujian dan peluk cium yang hangat pun sangat berarti buat mereka. “Kamu hebat Queen, udah mencoba belajar berpuasa, ayah bunda banggaaa banget sama kamu, kamu hebat. Sini ayah bunda peluk”.

Semoga tips-tips ini bermanfaat ya Aybun, dalam perjalanan kita mendidik dan membersamai buah hati tercinta. Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Sehat-sehat selalu dan semoga puasa Ramadhan kita lancar dan berkah.

RAMADHAN 4D : ANTARA AQIDAH, SYARI’AH, AKHLAK DAN SOSIAL


H-2 menuju Ramadhan, hawa-hawa bulan puasa mulai tercium aromanya. Tak hanya mesjid-mesjid yang sudah mengadakan gotong royong bersama, pojok-pojok kotapun sudah dikapling oleh para calon penjual kelapa muda. Makam-makam sudah bersih dan beraroma bunga. Iklan sirup dan sarung sudah lalu lalang setiap membuka TV dan social media. 

Berbagai label fashion tanah air pun sudah mulai memborbardir costumer dengan koleksi-koleksi signature hari raya. Private view, fashion show, digelar dengan mengundang para pesohor sebagai muse dan pembicara. Open order dimulai, war koleksi raya sudah mulai naik temperaturnya. Kue-kue lebaran sudah mulai open pre order dengan beragam variasi bentuk dan rasa. Meski Ramadhan baru di depan mata. 

Puasa Ramadhan hakikatnya adalah perintah. Meski untuk kebaikan sendiri, sepertinya kita manusia ini harus diperintah dulu agar mau melaksanakannya.  Padahal inti dari ibadah ini buat kebaikan kita juga, untuk menjadi manusia yang bertaqwa dengan ganjaran yang tak terkira. 

Dengan puasa Ramadhan, diharapkan kita menjadi manusia bertaqwa. Dan siapapun yang bertaqwa maka Allah berjanji akan selalu mudahkan langkahnya, memberinya jalan keluar atas semua persoalan hidup, pelik maupun ringan. Mencukupkan dan memberi surprise rezeki dari pintu yang tak disangka dan diduga. 

Dalam dimensi aqidah, puasa Ramadhan adalah bentuk kepercayaan kita dalam mengimani sang Khaliq. Yang dalam sebuah hadist qudsi Allah sendiri yang mengatakan, “puasa itu untukKu, dan Aku sendirilah yang akan membalasnya”. Tuhan langsung loh yang balas, banyangin betapa besar balasannya. Nggak mungkin kaleng-kaleng dan mustahil abal-abal. 

Kepercayaan harus termanifestasi dalam perbuatan, dan syari’ahpun menyuguhkan peran disini. Puasa Ramadhan haruslah mengikuti tuntunan syari’ah dengan berbagai syarat, rukun dan ketentuannya. 

Orang yang berpuasa adalah orang yang sedang melatih dan mengendali dirinya. Bagai ulat yang membentuk diri dalam kepompong untuk kemudian menjadi kupu-kupu yang indah, Ramadhan juga diharapkan menjadi media untuk melatih diri menjadi manusia yang berakhlak mulia. 

Akhlak mulia, tercermin dalam interaksi kita dengan sesama. Disinilah dimensi sosial Ramadhan berada. Dengan mengerti bagaimana rasanya menahan lapar, Ramadhan melatih rasa empati kita pada sesama. Melatih sisi “manusia”-nya kita. 

Betapa sempurnanya Tuhan merunut semua itu untuk kita. 

Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan tuan dan puan, teman, sahabat, karib kerabat, handai taulan, sanak sodara. 

Semoga apa yang disemogakan terwujud hendaknya. Penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari sengitnya neraka. Apa yang kita tabur, dengan izinNya akan kita tuai pula. Happy Ramadhan Mubarak, Everyone.  


Ruang yang Diam-Diam Mengajar: Catatan dari Kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD

Siang ini, seperti biasa, saya berdiri di depan kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD, mendengarkan dua mahasiswa saya, Risa dan Nadia, mempres...