SEBUAH KADO PERJALANAN (PART 1 : Kami menyebutnya "Perjalanan Bermakna")

“Apa yang bisa kita ingat dari sebuah perjalanan dan seberapa lama kita bisa mengingat sebuah kenangan?”
......................................................................................
Tanda tanya ini terus menggelitik saya untuk bersegera menuliskan apa yang masih saya ingat agar kelak saya tak menyesal ketika sudah mulai lupa, meski tak bermaksud melupakan.
Ini perjalanan penting, setidaknya saya harus menyebutnya begitu. Perjalanan yang kami lakukan, “kami” ya kami. Saya dan Uda sudah sah untuk bersama memulai pelayaran kami. Komitmen dan janji bersama untuk menantang badai. Ah, setidaknya hingga tulisan ini dibuat, kami masih di sekitaran pantai, angin masih sepoi-sepoi. Kami memulainya dari Bandara Internasional Minangkabau. Bandara kebanggaan Ranah Minang itu menjadi sebuah saksi perjalanan awal.  Citilink dengan kode penerbangan QG 973, jam 09:25, Padang-Jakarta, seat 23 C dan 23 D. Yap, kami bersebelahan setidaknya begitu yang bisa saya gambarkan. Uda bisa memotret saya dan saya memotretnya pula.  Burung besi itu mengucapkan selamat berpisah pada kami di Bandara Soekarno-Hatta. Nama yang waktu awal SD saya kira hanya nama satu orang saja.
Di Soeta, kami mencari travel ke Bandung, ya kami harus “mancigok” dulu kontrakan saya yang sudah satu semester terabaikan, sekaligus menaruh barang-barang bawaan kami. Backpack Uda, koper, tas kamera, tas hp, kardus oleh-oleh dan tas tangan saya. Di Bandung kami tiba sore. Dari travel Cipaganti kami turun di Pasteur, naik taksi Gemah ripah menuju kontrakan, begitulah hingga kami bisa merebahkan badan pada akhirnya di Bumi Pasundan ini lagi.
Esoknya setelah sarapan kami membeli tiket kereta api di sebuah Mini market.  Kereta api Lodaya Malam No. 82 kelas Bisnis, kursi 14 A-14B. Sabtu, 22 Agustus 2015 pukul 18:55 WIB. Ini pengalaman pertama kami naik kereta di tanah jawa. Uda bahkan menjadikan ini sebagai pengalaman pertamanya naik kereta. Kami tiba di Jogja Minggu  pukul 3. Pagi, tentu saja. Menunggu sebentar di stasiun untuk kemudian disambut double Roland di parkiran. Ya, ada adik sekampung uda yang kuliah disana, Roland namanya. Dia membawa temannya asal Bengkulu bernama Roland pula. Ah suatu kebetulan yang sangat keterlaluan. J
Sebuah hotel yang kami tanyai di dekat stasiun mengaku full booked, harus menunggu jam 12 siang nanti untuk bisa kami booking kembali. Ya, kami bukan turis manca negara di sini. Ada teman, ada abang, ada adik dan tentu saja ada internet di sini. Apa yang patut kami risaukan? Tak beroleh hotel tak jadi masalah, kami dengan menenteng koper besar berboncengan menuju kosan Roland di sekitaran UNY. Kami istirahat dan double Roland menawarkan diri mencarikan hotel untuk siang nanti. Hotel Pules dengan kamar balkon di Jl. Mataram di balik Jl. Malioboro, kami akhirnya menghirup lega udara Jogja.
Apa yang terpikir oleh kalian tentang Jogja? Ah, ini bukanlah suatu pertanyaan konyol pada sebuah kaus dagadu gadungan. Tapi ini adalah apa yang Jogja tanyakan pada kami saat menyeruput Mie Sedap Cup di balkon kamar. Jauh-jauh ke Jogja, kita hanya makan mie instan, saya dan uda menertawakan awan? Kok awan? Ya siapa lagi? Kami tak mau menertawakan diri kami,,hahaha.
Agak sore, ada telpon dari resepsionis, ada tamu untuk Uda. Namanya Doni, teman Uda. Laki-laki dengan rambut ikal gondrong sepunggung -dihari berikutnya menanyakan pada saya sampo apa yang membuat rambut tidak rontok-, kaos putih oblong, celana jeans, sepatu converse dan tas punggung dengan syal batik yang sudah 4 tahun tak dicuci-begitu ceritanya pada kami.
Doni memandu kami jalan-jalan. Kita kemana, tanyanya. Tentu saja ke Malioboro. Tempat wisata dengan pencarian teratas tentang Jogja. 

Sebuah jalan dengan lalu lalang orang dan kendaraan, pedagang kaki lima di sepanjang jalan. Tulisan Malioboro dengan huruf sansakerta, tukang becak yang menawarkan jasa, toko batik di sebelah kanan jalan, pustaka Jogja, pedagang kaos oblong dan turis manca negara. 
Jl. Sepanjang 300 meter itu mengarah lurus hingga ke titik nol, alun-alun dan keraton Jogja. Garis imaginer ke arah utara hingga gunung merapi diujung sana. Tentang garis imaginer ini dimulai dari pantai parang kusumo, panggung Krapyak, Tugu, keraton hingga merapi. Jika garis lurus ini bertemu maka ada sebuah makna yang terkandung di dalamnya, yaitu berawal dari Merapi sebagai gunung api, dan berakhir di Parangkusumo sebagai laut. Air dan Api, sebuah makna filosofis yang tak hanya sebuah garis khayal, namun juga simbolisasi keharmonisan elemen alam, Air dan Api, Yin dan Yang yang terwujud dalam kearifan lokal masyarakat Jogja.
Lalu, Apa yang kami lakukan di Malioboro? Pertanyaan itu sepertinya hanya butuh jawaban dua kata saja. Makan dan Memotret. 

Kami memulai langkah dengan makan di sebuah warung pinggir jalan dengan menu nasi goreng, burung dara bakar dan goreng plus es teh. Meski cukup aneh melihat sajian burung dara lengkap dengan kepalanya di atas piring, tapi hidangan itu sukses kami habiskan.  

Lalu memotret, ya kami memotret jalan, memotret diri sendiri, memotret pejalan kaki, memotret tukang becak, memotret ibu-ibu pedagang  bakso bakar, memotret museum yang sudah tutup, bahkan memotret patung Scrat (tupai) dalam film serial Ice Age dengan buah pohon ek kesayangannya. Saya tidak bisa menyingkronkan apa hubungan Ice Age dengan Jogja. Doni juga menggelengkan kepala.
 Hampir senja, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Mempersiapkan diri untuk tour selanjutnya. FKY, festival kesenian Yogyakarta di Taman Kuliner Condongcatur. FKY adalah bonus, bonus riuh dan riangnya sebuah perjalanan, dan bonus selanjutnya buat saya adalah bertemu mak Indah Harwanti, Director saya di Oriflame Indonesia. 

Kami janjian ketemu di Waroeng Ayam Kampung (Warung Akam) di seberang jembatan dekat gerbang FKY. Ada orderan yang saya titip pada mak Indah dan kami juga belum pernah bertatap muka langsung, maka kemudian selepas dari hotel, Doni mengantar saya duluan ke Condongcatur, saya menunggu mak Indah dengan segelas jus, namun sampai Uda dan Doni ikut bergabung, mak Indah belum juga datang, hingga beberapa waktu kemudian, saya melihat gadis kecil Nayla (anak Mak Indah) celigukan mencari saya. Haaaa,,saya histeris akhirnya bertemu ibu peri kami, director yang baik hati. Kami memesan makanan dan ngobrol apa saja, seperti melepas rindu, padahal kami tak pernah bertemu.
Sudah 20:30 WIB, kami harus menuju panggung sastra di utara komplek FKY. Ada pembacaan cerpen dari Indrian Koto, Naomi Srikandi dan beberapa seniman di sana.
 Ngomong-ngomong tentang Bang Koto, beliau adalah Bos Toko buku online Jual Buku Sastra (JBS) di sana. Owner JBS sekaligus abang kandungnya Doni. Apa yang paling membahagiakan selain bertemu handai taulan di rantau orang? Ya, begitulah, kami disambut dengan hangat oleh Bang Koto, Mbak Sukma dan Nak Gadih Rinai yang sudah terlelap di pangkuan mamanya. Malam melarut, selesai menyaksikan penampilan terbaik putri sastrawan W.S Rendra tersebut, kami merapat ke dekat stan JBS di belakang tempat lesehan penonton. Dan Uda pun kemudian menyadarkan saya, ada Joko Pinurbo di samping kami. Tentu saja saya harus berfoto dengannya, Uda juga. “Kau menanamku pada sungaimu dan aku tumbuh menjadi arus yang menyimpan mimpimu”, siapa yang tak kenal sajaknya itu.

Tepat pukul 22.00 acara selesai. Benar-benar acara yang tepat waktu. Saya dan Uda bahkan takjub, sampai-sampai kami bertanya, di Indonesiakah kita? Hehe. Kami kembali diantar ke penginapan oleh Doni dan mba’ Ira, kali ini dengan bekal sebuah motor matic yang bisa kami gunakan untuk “malala” esok harinya.
Prambanan, menjadi destinasi utama kami di hari kedua. Dipandu GPS, kami akhirnya sampai di parkiran Candi. Berjalan ke loket tiket kami ditawarkan paket wisata Prambanan-Ratu Boko HTM 50K  dengan fasilitas obyek Candi Prambanan, Obyek Candi Ratu Boko plus gratis transportasi. Kami setuju, dan sebelum menginjakkan kaki di Prambanan, kami dibawa sebuah mini bus elf menuju kaki tangga candi Ratu Boko, sekitar 3 kilometer sebelah selatan Prambanan.

Konon katanya, tempat tersebut bukanlah candi, tapi sebuah Istana kerajaan Medang (Mataram Hindu). Diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran). Nama "Ratu Boko" berasal dari legenda masyarakat setempat. Bahasa Jawa yang arti harafiahnya "Raja bangau". Ayah dari Roro Jonggrang.
Menurut situs Wikipedia Luas keseluruhan kompleks adalah sekitar 25 ha. Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton (istana raja). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini. Tapi kenapa sekarang disebut Candi? Sudah buramkah pengkajian sejarah di negeri ini?

Usai mengitari Istana Ratu Boko, kami kembali ke Candi Prambanan. Disebuah spot yang disediakan untuk berfoto, kami bertemu bule yang minta tolong untuk difoto dengan pasangannya. Dan merekapun menawarkan diri untuk memotret saya dan Uda. Foto resmi pertama kami di Candi Prambanan ini.
Matahari sedang menyeringai di atas kepala. Candi yang konon katanya didirikan dengan siasat licik seorang wanita bernama Roro Jonggrang ini berada kurang lebih 30 kilo meter sebelah timur laut kota Jojga. Ketinggiannya mencapai 47 meter. Ditetapkan sebagai cagar budaya abad ke-9 oleh UNESCO. Kami berkeliling, mengabadikan dan kemudian melarikan diri ke sebuah rumah makan Padang. Perut harus segera bersua nasi. Berdamai dengan jam biologis kami.
Usai makan, kami langsung pulang ke penginapan. Lelah menghantam kami. Dan kami harus kembali mempersiapkan diri untuk menonton FKY lagi malam nanti. Uda harus bertemu Puthut EA katanya. J  Malamnya kami melawat ke Tugu. Icon kota Jogja ini akan lebih indah untuk dikunjungi malam hari. 
Photografy menantang maut, ungkapan itu sangat tepat untuk menggambarkan tempat ini. Mengambil foto sambil memperhatikan Traffic light. Lengah sedikit maka bersiaplah ditabrak mobil atau motor dengan pengendara yang tak mengerti apa arti kata ngebut. Bagi mereka kecepatan 80 km/jam adalah hal yang biasa saja. Sungguh kota yang tergesa-gesa.
Saya tak bisa menyembungikan perut yang berontak. Suara kruk-kruknya sangat tak tau malu untuk menggiring saya ke sebuah angkringan di kiri Tugu.  Angkringan Lik Man namanya. Uda memotret sendiri, saya makan sambil menunggu Zakky, adik junior Uda di klub basket dan panitia buku tahunan SMA yang dikelola Uda. Zakky baru semester satu di jurusan komunikasi UGM, baru beberapa bulan di Jogja. Pas Zakky datang, kami mengajaknya ke House of  Raminten
Sebuah restoran dengan atmosfer Jawa yang sangat kental. Alunan musik gending Jawa berpadu dengan bau mawar dan dupa menjadi ciri khas tempat makan yang cukup unik di tengah Kota Jogja ini. Memasuki bagian depan restoran yang terletak di Jalan FM Noto No. 7, Kota Baru ini, kami tidak langsung berhadapan dengan ruangan yang dipadati meja makan. Tapi justru ruang tunggu dengan deretan kursi , dua buah kereta kuno ala Kesultanan Mataram dan beberapa foto sang pemilik restoran. Aksi tak biasa rumah makan ini juga terlihat dari beberapa tulisan di area ruang tunggu. Papan peringatan untuk para tamu misalnya. Tertulis: Mohon perhatian! “Barang” anda (handphone, dompet, sisir, kaca mata, jaket, tas, topi, gergaji, setrika, dll) supaya jangan sampai ketinggalan.
Raminten tampaknya tak ingin para tamunya antri menunggu dengan perasaan bosan. Pelayan restoran juga tak kalah unik. Para pelayan perempuan dengan pakaian kemben dan jarit batik. Pelayan laki-laki mengenakan kaos putih, rompi hitam dan kain batik. Mereka juga saling berkomunikasi menggunakan walkie talkie.
Kami harus antri di bangku yang sudah disediakan, menuggu giliran dengan nomor antrian delapan. Rata-rata menu yang disediakan oleh House of Raminten adalah menu-menu masakan Jawa. Saya memesan nasi liwet, es teh dan ayam koteka. Ayam Koteka, namanya memang nyentrik, mengingatkan kita dengan pakaian adat khas suku di Papua. Menu ini berbahan dasar cacahan ayam yang dicampur dengan telur, kemudian dimasak dan disajikan pada sebilah bambu, sekilas bentuknya mirip-mirip seperti koteka. Menu ayam koteka ini memiliki rasa yang cukup gurih sehingga pas dijadikan sebagai lauk tambahan untuk menemani menu nasi yang telah dipesan. Sangat elegan,,hehehe. Uda dengan Nasi liwet juga plus sate ayam dan lemon tea hangat, Zakki dengan kupat tahu dan es dawet. Serta es krim bakar yang disajikan kemudian membuat kami siap untuk mengitari Jogja kembali.
Usai makan, kami langsung ke lokasi FKY di Condongcatur. Saya bertemu adik, junior di HMI asal Maluku di sana, Dilo namanya. Sengaja ketemu karena ini kali pertama saya ke Jogja. Usai FKY, kami kembali ke hotel, janjian dengan Doni untuk ke Borobudur esok hari.
Dan bangunlah kami pagi-pagi. Saat Jogja mulai mengeliat. Deretan toko sepatu di seberang hotel belum dibuka satupun. Mereka mungkin sedang pulas, berdamai dengan kantuk, agar tak datang dipenghujung sore hingga pertengahan malam. Kami sengaja tak memesan menu breakfas hotel, agar bisa berjalan menyusuri trotoar dan memesan semangkuk soto serta sepiring nasi rames pada ibu-ibu pedagang kaki lima diujung sana. Sangat sederhana dan sangat Jogja, tapi setidaknya kami mencicipi kepingan kota ini disini, hangat dan ramah.
Kami mengemas semua pakaian dan menitipkannya di resepsionis ketika check out. Saat  itu Doni dan Teguh sudah tiba di depan hotel dengan secangkir kopi di samping mereka. Masih hangat dan sangat “mengganggu” Uda dengan aromanya. Sama-sama pecinta kopi membuat kami tahu betapa melegakannya secangkir genangan hitam itu dikala pagi. Hangat dan menggembirakan.
Tujuan hari ini adalah Keraton dan alun-alun.
Dan perjalanan pun dimulai kembali setelah menyerahkan gelas kopi pada Bapak penjualnya. Kami menuju Istana sang Sultan.
Sudah siang dan matahari sudah semakin tinggi saat kami berkeliling dan menikmati udara istana. Tak banyak yang kami lakukan di sana, selain menikmati suasana, memotret beberapa sudur keraton, berfoto dengan abdi dalem dan menikmati gamelan di pendopo. Saya mencuri dengar dari tour guide rombongan wisatawan di sebelah saya, bahwa sebuah pohon besar di depan saya usianya sekitar 300 tahun.

Kami juga mengunjungi museum kereta kencana kerajaan dan galeri tempat dipajangnya foto-foto para sultan. Istana yang damai dan rindang, membuat kami betah berlama-lama di sana. Kami juga sempat “mancigok” ke pabrik batik hingga ke toko penjualannya. 

Menjelang sore kami menghabiskan waktu di Taman sari. Istana Air Tempat Permaisuri dan Putri Raja Mandi. Bangunan kuno ini memiliki arsitektur yang indah perpaduan budaya Eropa, Hindu, Jawa, dan Cina lengkap dengan ruangan dan lorong-lorong rahasia yang menyimpan banyak kisah.
Istana Air Taman Sari terletak di kompleks Njeron Beteng, tak jauh dari Keraton Yogyakarta. Dari Malioboro tempat ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik becak. Lokasinya yang tersebunyi di kompleks perkampungan warga, sehingga sering menjadikan wisatawan sedikit bingung saat ingin mengunjungi Taman Sari. Padahal tempat ini sangat mudah dicapai. Kami dan uda juga sempat kebingungan,  dan melototin GPS yang membuat kami berputar-putar beberapa kali.

Ada dua cara untuk sampai ke tempat ini. Yang pertama adalah melewati Pasar dan Plaza Ngasem. Silahkan masuk dan temukan gang KP III. Dari gang tersebut belok kiri dan jalan kaki sekitar 200 m. Pulo Kenongo sudah menyambut. Sedangkan jika ingin masuk memalui gerbang utama, dari Pasar Ngasem naik becak ke arah Alun-alun Selatan. Kurang lebih 0,5 km akan bertemu dengan Jl. Tamansari.
Hampir menjelang magrib, kami sampai di Rumah Bang Koto. Saya beristirahat, sementara uda dan doni kemudiaan balik ke Hotel mengambil barang yang kami titipkan.
Malamnya, kami ditraktir makan bakmi oleh mbak Sukma, istri bang koto. Jogja adalah negeri asal bakmi, dan saya ingin mencicipi kuliner ini di tempat asalnya. Dan lidah padang saya, ternyata sangat menikmatinya. Usai makan, kami rame-rame pergi nonton teater. Meski agak telat, tapi kami, khususnya saya pulang dengan dada yang sesak. Saya terpukau, saya tersihir, dan saya seperti menemukan apa yang saya cari dikerumunan kota ini.

Kami kembali ke JBS untuk menyiapkan energy untuk keesokan harinya. Esok kami akan mengunjungi sebuah Keajaiban, Borobudur.
Jarak kurang lebih satu jam perjalanan kami tempuh dengan kecepatan yang tak biasa. Uda tak pernah mengendarai motor seperti itu kalau di Padang. Tapi di sini, kami harus mengikuti alur laju kendaraan, tak ada yang tahu angka 40 atau 60 di sini, mereka hanya hafal, bahwa speedometer motor mereka hanya punya angka 80 hingga 200, batas kecepatan minimal dan maksimal menurut mereka. Kamipun was-was kalau sudah begini. Hanya berhenti disebuah SPBU dan kemudian melanjutkan perjalanan, kami akhirnya berlabuh disebuah resto sarapan. Perut harus diisi kembali :D
Bertiga mereka sepakat memesan nasi goreng, dan saya yang sudah makan nasi sebelumnya memesan bakmi jawa plus sambal dan ayam goreng tentunya. Doni dan Uda dengan kopi lagi, saya dan Teguh dengan teh hangat kami. Sarapanpun kami sudahi dan lanjut membelok pada sebuah persimpangan menuju kebun tembakau, tempat yang sangat ingin Uda datangi. 
Kami “memergoki” ibu-ibu sedang mematahkan tangkai-tangkai daun tembakau di sebuah area kebun. “hanya satu atau dua helai daun yang bisa dipetik setiap harinya dari sebatang pohon tembakau dan harus melakukannya denga hati-hati agar tak merusak pohon”, ibu-ibu itu menjelaskan pada kami sambil mempraktekkan cara melepas daun itu dari batangnya. Kalian darimana? Ibu yang lain bertanya. Padang, jawab kami bersamaan. Wah, sangat jauh dari sini. Apa yang kalian cari di sebuah kebun tembakau yang jauhnya  beribu kilometer jaraknya dari rumah kalian. Mungkin itu maksud dari anggukan ibu-ibu tersebut setelah menanyai kami.

Uda menekan tombol shutter kameranya sesering mungkin, seolah tak ada jalan lagi buat kami kembali ke sini. Dia kalap melihat hamparan hijau kebun tembakau yang sangat luas dan kuningnya tembakau yang sedang dijemur warga. Sebagian terlihat sudah ada yang coklat. Los-los wadah penjemuran tembakau tersebut berjejer sepanjang jalan, mengawal kami hingga kembali berbelok menuju Candi. Sampai bertemu lagi. Raja komoditi.
Kami memarkir kendaraan tidak jauh dari gerbang C. Disambut para penjaja souvenir, rental payung dan puluhan penjual topi yang menawarkan kami membeli salah satunya. Tentu saja hanya satu, sebagai satu-satunya perempuan dalam rombongan kecil ini, hanya saya yang mengenakan topi seperti putri, yang lainnya menyiapkan syal sekedar menutupi kepala di tengah teriknya matahari di atas sana. Atas??anggap saja begitu.
 Ada gerbang tempat memesan karcis masuk dengan card yang lucu tapi tak boleh kami bawa pulang. Dan ada penyewaan angkutan taman, sebuah kereta mini  dipojok sana yang siap mengangkut kami ke mulut candi dengan merogok kantong RP. 7.500/orang.
Tiba digerbang candi, kami diminta memakai batik khas Borobudur yang berwarna ungu tua dan putih, sangat indah dan kita akan dibantu petugasnya kalau kesulitan mengenakannya. Welcome to Borobudur.

Kami berjalan menanjak menuju candi, memasang beberapa pose selfie dan wefie. Ini pertama kali kami –saya dan Uda- disini, mengagumi sebuah keajaiban. Mengitari lekuknya dan mengabadikan beberapa sudut yang dipenuhi lalu lalang para wisatawan domestik maupun mancanegara. 
Meski telah dikeluarkan dari tujuh keajaiban dunia, Borobudur masih menjadi sebuah keajaiban dalam hidup kami. sampai di sinipun adalah suatu keajaiban bagi saya pribadi. Menapaki tanah jawa dan menatap salah satu kebanggaannya, sebuah keajaiban atas terwujudkan impian yang selalu saya tanamkan. Ya, sebuah keajaiban.

Setelah puas dan capek berkeliling ke beberapa sudut candi, kami akhirnya menyerah pada panas dan kaki yang pegal. Meski mengenakan sepatu kets, tetap saja kami harus berdamai dengan kaki yang tak sanggup lagi diajak kompromi. Istirahat dibawah pohon usai pintu keluar candi, dan kemudian berjalan kaki menuju jalan masuk kami tadi. Ternyata salah gerbang dan motor kami diparkir nuuun diujung sana, hingga sampai ditempat parkiran, tak satupun dari kami yang mau membuka suara, bicara akan menguras energi kami untuk berjalan menuju pelataran parkir yang jauh. Lebih baik diam, jika tidak, akan diam selama-lamanya,,hehehehe :D
Capek, haus dan lapar membuat kami memacu kendaraan dengan lebih kencang lagi, Rumah Makan Duta Minang melambai-lambaikan tangannya pada kami jauh di Jogja sana. Tak apalah, yang penting lapar ini bisa dituntaskan dengan sepiring nasi Padang berikut lauk khasnya. Jauh-jauh ke Jogja, restoran inilah yang pada akhirnya melunaskan hutang kami pada perut yang sering dicekoki dengan masakan “antahbarantah”. Lapar dan capekpun dibayar lunas. Usai makan, saya tepar di Markas JBS (Jual Buku Sastra).
Sore itu juga kami kembali ke Malioboro, menerobos kios pedagang batik di pasar Beringharjo. Belanja beberapa batik, kaos bejo dan berlabuh di Mirota batik, disambut batu dupa, karena pemiliknya sama dengan House of Raminten, maka suasananyapun tak jauh beda. Mirota Batik ada tiga lantai, katanya lantai tiga adalah kafe, tapi kami tak mampir di sana, saya membeli baju terusan warna toska dilantai dasar dan Uda kembali dengan souvenir topeng di tangannya dari lantai dua. Pasar Beringharjo dan Malioboro adalah surga belanja para pecinta batik dan souvenir. Usai sudah sesi belanja kami. Kami harus kembali ke JBS memilah buku dan merapikan barang-barang. Bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Menuju Bromo. 

PAINAN DAN MIE

Ya, siapapun akan tahu, kalau dua kata di atas tak punya keterkaitan sama sekali. Painan, sebuah kota kecil yang menjadi ibu kota dari kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kota kecil yang juga terkenal dengan pantai Carocok dan Bukit Langkisau-nya. Sebuah tempat yang membuat kita tak perlu kawatir untuk menghabiskan hari libur, karena ada banyak tempat yang bisa kita disinggahi di sekeliling kota ini. Banyak pantai dan pulau-pulau kecil serta banyak makanan yang bisa dicicipi. Salah satunya mie.

Mie, makanan kesukaan saya dan miliyaran orang di muka bumi. Mie, yang diperkirakan telah ada sejak 4.000 tahun yang lalu. Konon katanya, mie pertama dibuat di daratan Cina saat zaman Dinasti Han pada tahun 25-200 AD. Mie kemudian berkembang ke negara-negara Asia seperti Jepang, Korea dan Taiwan. Tak berhenti sampai di situ, setelah Marco Polo berkunjung ke Cina, ia membawa serta mie pulang ke Eropa sebagai oleh-oleh. Pada perkembangannya, mie yang dibawa Marco Polo ke Eropa berubah menjadi pasta seperti yang kita tahu saat ini. 

Bagi bangsa Cina, mie adalah simbol kehidupan yang panjang. Bentuknya yang panjang dan tidak mudah putus adalah gambaran harapan umur panjang. Karenanya mie sering dijadikan sajian wajib pada acara ulang tahun atau tahun baru, sebagai lambang umur panjang. 

Lain lagi dengan China, Jepang menjadikan mie sebagai teman minum teh. Tradisi minum teh di Jepang telah menjadi seni tersendiri bagi bangsa tersebut. Mie bahkan menjadi hal penting di Jepang setelah Perang Dunia II berakhir. Pasokan makanan yang sedikit membuat mie jadi primadona sebagai pengganjal perut masyarakat Jepang saat itu.

Begitulah sejarah mencatat perihal mie.

Lalu, apa hubungannya antara Painan dan Mie?

Di Malala kali ini, saya mau berbagi info tentang kedai atau penjual mie favorit saya di Painan. Jika kebetulan Sanak malala sedang berkunjung ke Painan, bisa mampir untuk mencicipi makanan olahan mie di sana ☺. Mau tau rekomendasi tempat makan mie di Painan. Yuk ikuti saya!

1. Mie Ayam Mas Tardik

Ini rekomendasi pertama dari saya. Lokasinya di Jl. Prof. Hamka, Painan.  Jika tidak tau dimana Jl. Prof. Hamka berada, sanak malala bisa menepikan kendaraan dan numpang tanya pada sesiapa yang ditemui dan dirasa pantas untuk ditanyai. Mereka pada adatnya, akan menunjukkan sanak malala dimana persis kedai mie ayam itu berada. ☺

Disana sanak malala akan disuguhi beberapa menu mie ayam pilihan. Seperti mie ayam brokoli dan mie ayam wortel. Yap, bener. Menurut ownernya, mie yang mereka produksi diklaim sebagai mie sehat yang mengandung sayuran segar dan tanpa pengawet dan pewarna buatan.
Mie Ayam Brokoli Bakso
Mie ayam ini bisa menjadi pilihan menu sehat juga jika sedang membawa buah hati “malala”. Anak-anak biasanya sangat doyan makan mie. Dan dengan makan di tempat ini, kita sebagai orang tua tidak perlu khawatir dengan asupan bahan-bahan yang akan dikonsumsi oleh anak kita. Zea, putri semata wayang sayapun sangat doyan makan mie ayam brokoli dari kedai ini. Tentang Zea, saya akan cerita lain kali yaaa… ☺
Mie Brokoli favorit Zea
Oiya, selain ownernya yang baik, kedai mie ayam ini juga menyediakan pilihan menu lain, seperti bakso dan siomay. Makan rame-rame juga jadi lebih seru dengan menu yang beragam kaaaan. Tapi bagi yang baru pertama nyoba, sanak malala bisa memulainya dari mencoba mie ayamnya dulu. Begituuu.. ☺

2. Mie Akhirat Carocok

Akhir-akhir ini, kan lagi booming tuh, makan mie yang pake level-level pedes gituuu. Para youtuber juga banyak banget yang bikin konten mukbang mie dengan tingkat kepedasan yang beragam. Malah di sebuah channel Youtube milik seorang youtuber asal Padang, saya pernah nonton dia makan mie yang dia klaim 28x lebih pedes dari mie Samyang biasa. Kebayang kaaan, mie Samyang biasa aja pedeeees kalau menurut saya, itu dia malah makan mie Samyang Mala Super Pedas masih ditambahin abon cabe level 30 sama dia. Edan itu si Tan.

Naaaah,,ngomong-ngomong soal mie dengan level-level pedas, di Painan sanak malala bisa nyobain mie dengan level pedas satu hingga lima di kedai mie ini. Atau kalian juga bisa pesen mie dengan level kepedasan lebih hingga bener-bener berakhir di akhirat,,wkwkwkw,,,peace, jangan sampai yaaaa,,sanak malalaaa,, ☺
Mie Akhirat


Mie di sini sih emang beda dari kedai mie rekomendasi pertama. Mie di kedai mie ini, memakai mie instan sebagai mie andalannya. Dengan varian rasa yang beragam dari mie instan yang beredar saat ini, tentu Sanak malala bisa banyangin rasanya bumbu-bumbu Indonesia yang dikemas dalam mie instan yang dikombinasikan dengan sambal cabe level yang kalian inginkan. Huuuumm…saya yang menulis saat ini saja, tiba-tiba jadi kepengen buruan beli. ☺

3. Spaghetti Bolognese ala Opi

Kalau di dua kedai mie di atas Sanak malala musti nyemperin ke kedainya, nah, di yang satu ini, sanak malala bisa delivery order. Sanak malala bisa pesen langsung ke Instagram ownernya @ophie_syafdha. Jadi kalau sanak malala sedang malas keluar rumah atau penginapan, bisa nunggu pesanan datang aja sambil tiduran. ❤
Spaghetti Bolognese ala Opi

Namanya emang Spaghetti Bolognese, tapi tenang aja, menurut saya rasa dan aromanya sudah disesuiakan dengan lidah Indonesia kita, lidah minang, khususnya. ☺ 

Oke, itu yaaa,,,,tiga rekomendasi kedai atau penjual mie rekomended kalau Sanak malala berkunjung ke Painan. Jika Sanak malala punya tempat rekomendasi yang lain, silahkan tambahin di kolom komentar yaaaa…


Selamat makan mieeee,,,selamat berbahagia dan panjang umuuuur…☺

PULANG


Setelah sholat zhuhur tadi, saya berdo’a sama Tuhan, minta ditunjuki jalan untuk memulai sesuatu yang baik yang bermanfaat untuk karir atau impian saya ke depannya. Ternyata Tuhan tak butuh waktu lama untuk menjawab do’a saya yang sepele dibanding ke-Maha-anNya yang cuma butuh satu kalimat KUN FAYAKUN.

Setelah anak tidur, saya membuka laptop dan email. Ada beberapa artikel jurnal terkait keilmuan saya yang dikirim oleh pembimbing tesis saya dulu. Saya mendownload artikel-artikel tersebut dan menyimpannya disebuah folder dengan nama KOSONGKAN GELAS. Ya, saya berencana mengosongkan gelas saya kembali. Berencana untuk menerjemahkan dan membaca-bacanya lagi. Setidaknya menjaga ingatan saya tentang sesuatu yang sangat saya perjuangkan dulunya.

Tiba-tiba, di bawah email professor tersebut, ada email no replay yang mengingatkan saya betapa sudah lamanya saya absen dari “menyapu rumah” saya. Malalame.blogspot.com. Blog yang saya kelola 5 tahun silam. Saya login, dan menengok-nengok keadaan “rumah” tersebut. Seperti kembali ke kampung halaman, tapi tak ada lagi sesiapa di sana. Tak ada lagi ayah dan ibu atau saudara yang akan menyambut. Hanya beberapa saudara jauh yang sekedar menyapa dan sebuah rumah sunyi yang beberapa sudutnya seolah mengatakan, pernah ada yang berbahagia di sini.

Saya tentu saja miris dan tertegun beberapa saat menatap kalender di depan meja saya. Sudah berapa puluh purnama yang terlewati tanpa ada jejak yang tertinggal. Sudah berapa momen berharga yang menguap begitu saja. Saya menatap putri saya yang tertidur dan tiba-tiba saya berkaca-kaca.

Saya pulang dan ingin kembali pulang.

ADA “MALALA”, ADA MAKANAN


      Ya, banyak hal di dunia manusia ini yang terjadi bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Sederhananya,  seperti ada siang, ada malam. Ada susah, ada senang. Ada sehat, ada sakit. Ada ....., ada..... Banyak lagi deh pokoknya yang semua orang pasti bisa ngisi titik-titik itu sendiri dengan yang mereka inginkan. Intinya ada banyak pasangan yang meskipun memiliki perbedaan, tapi tetep aja mereka  pacaran. Aaaih,,,apa hubungannya? Hahaha.. Tauk ah, pokoknya  yang saya maksud adalah dua hal yang  perlu ada untuk menjaga keseimbangan semesta..cihaaa..haha..salah satunya adalah : ada “malala”, ada “makanan”. Dua hal ini bagai dua sisi mata uang (dan pasti membutuhkan uang) yang tak terpisahkan. 
       Yap, “malala” yang defenisi mudahnya “jalan-jalan”, tak terpisahkan dari yang namanya makanan. Di “Malala” kali ini saya mau share tentang makanan rekomended untuk temen-temen icip-icip jika kelak “malala” ke Padang.
    Kemaren, setelah pulang nonton film Filosofi kopi-nya Dee, hujan mengguyur Kota Padang. Berhubung saya dan Uda belom punya si arvi, (**yang member Oriflame, pasti tau maksud saya,,hahaha), kita terpaksa menepi ke sebuah warung pinggir jalan untuk berteduh. Punya mantel sih, tapi Uda yang bawa istri keduanya, **baca : kamera- nggak mau nerobos gitu aja, karna dampaknya akan sangat signifikan bagi kelangsungan hidup kita berdua,,hehe. Redaan, baru kita memberanikan diri untuk melarikan perut keroncongan pada sebuah resto ramen di Jl. Ulak Karang – Padang. Noki Ramen & Resto, namanya. 
Ramennya menurut kami porsinya cukup besar. Ayam pada Ramen katsunya cukuplah untuk bikin susah berdiri, saking kenyangnya..hehe. Ramen seafoodnya juga enak banget, cuminya mateng sempurna, nggak terlalu keras dan nggak lembut banget.
Sebelum ramennya disajiiin, yuk seruput lemontea panas dulu, penyogok kepala yang tiba-tiba sakit. Aah..segeeeer..badan langsung berasa hangat ngat ngat. Eeh, ada buku puisinya Aan Mansyur juga. Lemontea dan Puisi. Bissalaaaah.. :)


Malala” dilanjutkan siang tadi, ceritanya sih pingin liat pameran photo di Taman Budaya Sumatera Barat, tapi kudu isi “amunisi” dulu. Meluncurlah kita ke Jl. HOS cokroaminoto, arah Pecinan, Kota Padang. Ikan Bakar Pak Tris.
Beeeeh, pilih-pilih ikannya, tunggu mereka bakar, daaaan,,taraaa,,,,menu kece badai ini terhidang di meja. Lengkap ama Kangkung dan sambal terasinya yang aaah,,,jika saya bahasakan, saya kawatir manteman langsung pesen tiket dan ileran sampai Padang..hehe

Bumbu yang dipaduin ama ikan segernya, bener-bener bikin nggak nyadar kalau sudah nambah nasi sekali. “tambuah ciek , ni”. Manteman akan terbiasa dengan “pameo” itu disana. Putihnya daging ikan segar, celupin ke sambalnya ya super lezat, aaah..kata orang minang mah, "Ndak nampak mintuo lalu"..hehe


Ikan bakarnya juga disajikan bareng ama kecap dan sambal. Tapi kerennya, ini bukan sambal siap saji lho, tapi kayaknya diramu langsung ama kokinya, jadi enak pake banget.

Ikan bakar , sayur kangkung dan sambal terasi. Sempurna.  Dadaaaaaa.... :)


                                                                                                                      Padang, 23-24 April 2015

Pasar Seni ITB 2014

(Tulisan ini saya tulis November lalu setelah acara pasar seni ITB, tapi baru sempat posting sekarang, yaaa,,seperti postingan lainnya di blog ini, saya menulisnya beberapa waktu lalu, saat amnesia, kalau saya ternyata punya blog)

Hujan mulai merintik saat saya mengunci pintu kosan menuju jalanan komplek perumahan yang langsung menikung untuk berakhir pada sebuah gang kecil dekat Universitas Pasundan.”Track” ini sengaja kami –saya dan Fou- sepakati untuk mepersingkat waktu menuju jalan raya menunggu angkot Cicaheum-Ledeng. Baru beberapa langkah berjalan, hujan mengguyur deras seolah air yang terbendung diatas terpal plastik yang tiba-tiba dihembus angin kencang dan akhirnya tumpah ruah ke jalanan. Memaksa saya buru-buru mengembangkan payung hijau yang tentu saja agak lamban terbuka karna beberapa jahitan kasaunya lepas dan belum sempat saya jahit ulang. Payung ini sudah banyak berjasa menemani hari-hari saya sejak awal kuliah s1, hujan atau pun panas, Padang butuh payung untuk melewati jalanannya.

Sedikit lagi menuju ujung gang, hujan masih saja beradu deras dengan langkah panjang kami. Tak mau “dandanan”nya berantakan, Fou mengembangkan payungnya juga. Jadilahlah kami dua sahabat dengan payungnya masing-masing. Saya dengan payung hijau tua, Fou dengan payung hitam Boyish-nya. Kaki yang sudah berlumpur kita lupakan saja, karena ujung gang sudah di depan mata. Tiba dijalan raya, belum ada angkot yang mau kami tumpangi. Tentu saja harus pilih-pilih angkot, semua orang tau itu, beda tujuan pasti beda angkotnya. Tapi bukan berarti beda warnanya. Angkot Kalapa-Ledeng dan Cicaheum-Ledeng sama-sama berwarna hijau, maka pastikan baik-baik untuk membaca tulisan dikaca angkot meskipun hujan sedang deras.
Kami menyeberang untuk menunggu angkot ke arah bawah,beberapa angkot Cicaheum-Ledeng penuh penumpang, tapi tak begitu lama akhirnya ada angkot yang menyisakan bangku basahnya untuk kami. Tentu saja harus melewati “tragedi” terhuyung beberapa waktu saat saya berusaha mengeringkan bangku dengan tissu. Hujan masih belum mau berhenti. Biarkan saja, itu berkah namanya.
Jalanan sekitas Jl.Ganesa macet, mungkin efek dari pengunjung pasar seni juga, saya tak bisa memastikannya. Kami memutuskan turun dari angkot untuk berjalan di trotoar hingga ke lokasi pesta seni. Tak begitu jauh, dibandingkan harus terus kegerahan ditengah kemacetan.
Tiba di kampus ITB, tentu saja saya merasa “berbeda”. Bukan, bukan karena saya termasuk golongan pendikotomi ilmu pengetahuan, kampus A lebih bagus dari kampus B, jurusan A lebih baik dari jurusan B, sekali lagi bukan. Tapi semata-mata perasaan sesak ini muncul karena nilai sejarah yang telah diukir oleh kampus tua ini. Berapa banyak ilmuwan yang dihasilkannya, berapa banyak riset yang bermanfaat buat banyak orang. Semata-mata hanya karena sejarah yang panjang itu. Sejarah yang juga melibatkan Soekarno turut andil di kampus ini. Sejarah, yang mengukirnya sebagai kampus vokasi pertama di Indonesia. Sejarah memang menempati tempat tersendiri dihati saya.
Namanya juga pasar, penuh sesak, kami berusaha menembus kerumunan untuk bisa melihat-lihat sekitar. Berpose diantara lalu-lalang orang. Lalu menengadah mempelajari peta raksasa yang terpajang di sudut dekat kolam yang tidak saya tau namanya. Kami memutuskan untuk langsung ke stan pameran produk. Tentu saja bukan hanya sekedar dipamerkan, barang-barang kerajinan handmade tersebut juga dijual dengan kisaran harga yang membuat saya harus beranjak dari stan satu ke stan lain tanpa membeli apa-apa. Kantong mahasiswa saya benar-benar miris teriris. **sakitnya itu dimana-mana. :P
Hanya mengumpulkan photo dan kartu nama, itu yang kami lakukan sepanjang mengitari stan dari utara ke selatan kemudian menyebrang mulai lagi dari selatan ke utara. Aih,,apalah namanya jika kami hanya mengitarinya dengan gigit jari saja,,hahhaha. Hingga akhirnya lelah, kami beranjak ke stan makanan, lalu tiba-tiba tercengang dengan harga kebab yang bikin kesal dan blingsatan. Hahahaha. Sungguh suatu ujian keikhlasan ditengah kecapek-an dan hujan. Sempurna.
Lalu kembali ke denah raksasa lagi, memikirkan kemana kami akan melangkah selanjutnya. Diputuskan kami akan ke stan seniman dan lanjut ke stan komunitas. Kabarnya di pasar seni ini ada 370 stan yang dipamerkan. Melibatkan  lebih dari 50 seniman dan 5 galeri serta berbagai wahana. Cerita tentang wahana, kami melewatkan Museum satu dan Semestarium ketika melihat antrian yang mengular dan ularnya sedang kekenyangan. Panjang dan bergerak lamban.
Di stan seniman tersebut, karya seniman-seniman besar terpampang disana. Maestro-maestro lukisan memamerkan keahlian mereka. Sungguh sebuah adikarya yang melampaui batas imajinasi dangkal saya. Membuat saya bergumam,saya tak ada apa-apanya, kawan.
Saya melakukan hal ceroboh dengan bersandar pada lukisan ketika berphoto pada salah satu lukisan seharga $250.000. tentu saja saya langsung dihadang sama sang penjaga lukisan. Saya pasti sedang kerasukan waktu itu, mohon maafkan dan maklumkan kebodohan saya. Ayo kita lupakan saja tragedi memalukan itu. :p
Hujan lagi-lagi turun, seolah sedang memberkati dan “malimaukan” karya-karya seni ini. Kami berlari kesamping gedung tua, hitam, kokoh, mistis, dan sudah pasti saya tak tahu namanya. Yang penting bisa berteduh sambil selonjoran di lantainya. Memotret Fou dengan beberapa pose kerennya. Lalu kami melanjutkan menyisiri stan komunitas. Terpaku sejenak pada stan wayangart mahasiswa UPI, memotret sambil ngakak di stan film-film jadul yang tayang sebelum saya lahir, bernostalgia pada kartu pos disebuah stan unik, dilanjutkan sok jadi reporter ketika mewawancarai seorang seniman robot dan anime yang membuat berbagai tokoh tersebut dari kertas. Sungguh hasil karya yang menakjubkan. Bla bla bra..aih..akhirnya “malala” ini pun selesai. Waktunya pulang dan mengenang. Sampai ketemu di pasar seni berikutnya. Empat tahun mendatang. Bye....bye... :)

Ruang yang Diam-Diam Mengajar: Catatan dari Kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD

Siang ini, seperti biasa, saya berdiri di depan kelas Pengembangan Kurikulum PIAUD, mendengarkan dua mahasiswa saya, Risa dan Nadia, mempres...