Ketika Tenggiri Tak Ada di Pasar: Cerita Kecil dari Meja Makan dan Laut yang Berubah

Malam ini, sambil makan malam, saya melanjutkan menonton episode ketiga serial dokumenter Ekspedisi Indonesia Baru bertajuk Dilema Orang Laut.

Baru sampai menit ke-46, saya sudah kebelet menulis.

I know you know lah, saya memang bukan penulis. Tapi, ya, begitulah. Kalau sudah tergelitik, rasanya tangan ini ingin segera mengetik. Ada sesuatu yang rasanya sayang kalau hanya disimpan di kepala, lalu menguap begitu saja setelah malam berganti pagi.

Biasanya, kegelisahan semacam ini cukup terakomodasi dengan memposting story Instagram. Pendek saja, lalu selesai. Namun, kali ini rasanya terlalu sayang kalau hanya dikenang semalaman. Jadi, mari kita ceritakan di sini.

Ternyata, apa yang sedang saya tonton malam ini membawa ingatan saya kembali ke pasar ikan tadi pagi.

Misi mencari tenggiri yang berakhir dengan baledang

Pagi tadi, saya berangkat ke pasar dengan semangat yang sedikit berbeda dari biasanya. Ada amanah dari anak saya, Zea, yang harus ditunaikan: membeli ikan tenggiri dalam jumlah banyak untuk membuat bakso dan nugget ikan kesukaannya.

Sebagai ibu yang sedang menjalankan misi kuliner demi kebahagiaan anak, saya menyusuri lapak-lapak penjual ikan dengan penuh harapan.

Tenggiri, mana tenggiri?

Ternyata, pencarian itu tidak semudah yang dibayangkan.

Tidak ada tenggiri. Tidak ada cumi. Apalagi udang kipas dan kepiting.

Di lapak langganan, saya akhirnya hanya membeli tiga ekor baledang berukuran agak besar.

Setelah cukup lama berdiri di depan sebuah lapak ikan tongkol, akhirnya saya memutuskan membeli setengah kilogram daging ikan tongkol saja. Sudahlah. Misi membuat bakso ikan tetap harus berjalan, meski bahan bakunya tidak sesuai rencana.

Saya lanjut membeli ayam potong dan udang, lalu pulang.

Sayangnya, patah hati saya tidak berhenti di pasar.

Sore harinya, ketika bakso ikan itu tersaji, Zea dengan jujur mengatakan bahwa rasanya tidak enak. Tidak seperti biasanya.

Begitulah anak-anak. Mereka mungkin belum memahami persoalan rantai pasok pangan, tetapi cukup tahu ketika sesuatu yang biasa mereka nikmati tiba-tiba berubah rasa.

Dan saya? Tentu saja sedikit kecewa. Bukan hanya karena bakso ikannya gagal memenuhi ekspektasi, tetapi juga karena saya jadi bertanya-tanya: sebenarnya, apa yang sedang terjadi dengan laut kita?

Ternyata, ikan di pasar punya cerita yang lebih panjang

Menurut penjual ikan langganan saya, penyebabnya bukan semata-mata terang bulan. Ada badai juga.

"Kalau cuma terang bulan, biasanya nggak terlalu berpengaruh. Ini tambah badai juga," kurang lebih begitu penjelasannya.

Saya tidak punya pengetahuan yang cukup untuk memastikan seluruh penyebab kosongnya lapak ikan pagi itu. Namun, penjelasan sederhana dari penjual ikan tersebut membuat saya berpikir tentang sesuatu yang sering luput dari perhatian kita.

Kita terbiasa melihat ikan sebagai barang yang tersedia di pasar. Ada uang, ada ikan. Mau tenggiri, tongkol, kembung, atau jenis lainnya, tinggal pilih sesuai kebutuhan dan isi dompet.

Padahal, sebelum sampai ke meja penjual, ikan melewati perjalanan yang tidak sederhana. Ada nelayan yang harus memutuskan apakah kondisi laut cukup aman untuk melaut. Ada perahu yang harus menghadapi angin dan gelombang. Ada hasil tangkapan yang bergantung pada banyak faktor, mulai dari kondisi perairan hingga lokasi ikan berada. Setelah itu, masih ada proses pendaratan, pengangkutan, penyimpanan, dan distribusi.

Ketika cuaca buruk membuat nelayan tidak bisa melaut, pasokan ikan yang masuk ke pasar bisa berkurang. Jika kondisi itu berlangsung beberapa hari atau terjadi bersamaan dengan gangguan distribusi, dampaknya bisa terasa sampai ke konsumen.

Artinya, ikan yang tidak tersedia di lapak pagi itu bukan semata-mata persoalan pedagang kehabisan stok. Bisa jadi, ada rangkaian kejadian di laut yang tidak kita saksikan, tetapi dampaknya kita rasakan.

Dan di sinilah saya mulai menghubungkan pengalaman sederhana tadi pagi dengan persoalan perubahan iklim.

Laut juga sedang menghadapi perubahan

Kita sering membicarakan perubahan iklim melalui berita tentang suhu bumi yang meningkat, es yang mencair, kekeringan, banjir, atau kebakaran hutan. Semua itu penting. Namun, ada satu hal yang kadang luput dari percakapan sehari-hari: perubahan iklim juga memengaruhi kehidupan di laut, termasuk ikan dan orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menjelaskan bahwa pemanasan laut dan pengasaman laut telah memberikan dampak negatif terhadap sebagian perikanan dan produksi pangan laut. Perubahan kondisi laut juga dapat memengaruhi persebaran spesies dan produktivitas ekosistem. Dampaknya berbeda-beda menurut wilayah dan jenis organisme. (IPCC, 2022).

Lalu, apa hubungannya dengan ikan yang tidak tersedia di pasar?

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami.

Pertama, cuaca buruk dapat mengurangi kesempatan nelayan untuk melaut.

Angin kencang dan gelombang tinggi bukan sekadar gangguan kenyamanan. Bagi nelayan, terutama yang menggunakan perahu kecil, kondisi tersebut menyangkut keselamatan jiwa.

Ketika laut tidak aman, keputusan untuk tidak melaut bukan berarti nelayan kehilangan semangat mencari nafkah. Justru, keputusan itu bisa menjadi pilihan paling masuk akal agar mereka dapat pulang dengan selamat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menekankan pentingnya pemahaman cuaca maritim bagi nelayan untuk mengantisipasi angin kencang, gelombang tinggi, dan risiko lain di laut.

Kedua, perubahan iklim dapat memengaruhi keberadaan ikan itu sendiri.

Laut yang semakin hangat dapat mengubah kondisi habitat, ketersediaan makanan, dan persebaran sejumlah spesies ikan. Akibatnya, lokasi penangkapan ikan dapat berubah. Nelayan mungkin harus mencari ikan lebih jauh atau menyesuaikan waktu melaut.

Bagi nelayan kecil, perubahan lokasi tangkapan bukan perkara sepele. Jarak yang lebih jauh berarti kebutuhan bahan bakar, waktu, dan biaya operasional yang lebih besar. Sementara itu, hasil tangkapan belum tentu meningkat.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO/ Food and Agriculture Organization of the United Nations) juga menjelaskan bahwa perubahan iklim memengaruhi kelimpahan dan persebaran ikan, serta dapat mengganggu seluruh rantai pasok perikanan, dari sumber tangkapan hingga konsumen.

Ketiga, dampaknya tidak berhenti di laut.

Ketika hasil tangkapan berkurang atau distribusi terganggu, nelayan bisa kehilangan pendapatan, pedagang kesulitan memperoleh stok, dan konsumen menghadapi pilihan ikan yang lebih terbatas atau harga yang lebih tinggi.

Jadi, perubahan di laut tidak selalu terasa dalam bentuk bencana besar yang ditayangkan di televisi. Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk yang sangat biasa: ikan kesukaan anak tidak ada di pasar, menu makan malam berubah, atau harga ikan yang biasanya terjangkau tiba-tiba meningkat.

Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa badai yang terjadi hari ini pasti disebabkan oleh perubahan iklim. Satu kejadian cuaca tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat tersebut. Cuaca harian dan perubahan iklim adalah dua hal yang berbeda, meskipun saling berkaitan.

Namun, perubahan iklim dapat meningkatkan risiko tertentu dan mengubah pola kondisi laut dalam jangka panjang. Karena itu, pengalaman di pasar tadi pagi menjadi pengingat kecil bahwa persoalan iklim bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Dilema orang laut, kenyamanan orang darat

Ketika menonton Dilema Orang Laut, saya semakin menyadari betapa mudahnya kita, orang-orang yang menikmati hasil laut dari daratan, melupakan kerentanan mereka yang bekerja di laut.

Kita bisa memilih untuk tidak pergi ke pasar saat hujan. Kita bisa menunda memasak ikan ketika stok sedang kosong. Kita bahkan bisa mengganti menu makan malam tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.

Namun, bagi nelayan, laut adalah ruang kerja sekaligus sumber penghidupan. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, biaya perahu yang harus dibayar, dan kebutuhan hidup yang terus berjalan, bahkan ketika cuaca tidak bersahabat.

Di sinilah dilema itu terasa nyata. Melaut ketika kondisi berbahaya bisa mengancam keselamatan. Tidak melaut berarti kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan.

Dan persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika perubahan iklim menambah ketidakpastian, sementara kemampuan setiap nelayan untuk beradaptasi tidaklah sama.

Menurut saya, membicarakan perubahan iklim seharusnya tidak hanya berhenti pada ajakan mematikan lampu atau mengurangi penggunaan plastik. Keduanya tetap penting, tetapi kita juga perlu membicarakan bagaimana masyarakat yang paling bergantung pada alam bisa bertahan ketika kondisi alam berubah.

Nelayan membutuhkan informasi cuaca yang akurat, akses terhadap teknologi dan keselamatan melaut, pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan, serta dukungan ekonomi ketika kondisi laut membuat mereka tidak bisa bekerja. Upaya adaptasi juga perlu melibatkan pengalaman dan pengetahuan masyarakat pesisir sendiri, bukan sekadar keputusan yang dibuat dari jauh.

Sebab, mereka bukan hanya pihak yang terdampak. Mereka juga pemilik pengetahuan tentang laut yang telah diwariskan dan dipelajari melalui pengalaman panjang.

Catatan kecil untuk kita yang tinggal di daratan

Ada satu hal yang ingin saya bawa pulang dari tontonan malam ini: ketahanan pangan bukan hanya soal seberapa banyak makanan tersedia, tetapi juga seberapa tangguh sistem yang membuat makanan itu sampai kepada kita.

Ikan yang tersedia di pasar bergantung pada banyak hal, mulai dari kondisi ekosistem laut, keselamatan nelayan saat melaut, hingga kelancaran distribusi. Karena itu, menjaga laut sebenarnya bukan hanya urusan nelayan atau masyarakat pesisir. Kita yang tinggal di daratan pun punya kepentingan yang sama.

Mungkin kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana. Sesekali, perhatikan informasi cuaca dan kondisi laut, terutama ketika pasokan ikan mulai berkurang. Kita juga bisa lebih fleksibel memilih ikan lokal yang tersedia, tanpa harus memaksakan satu jenis ikan tertentu. Dan ketika nelayan memutuskan tidak melaut karena cuaca buruk, kita perlu memahami bahwa keselamatan mereka jauh lebih penting daripada tuntutan agar ikan selalu tersedia di pasar.

Lebih dari itu, menjaga laut dari pencemaran dan mendukung praktik perikanan yang bertanggung jawab merupakan bagian dari upaya menjaga sumber pangan kita sendiri. Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar pemandangan atau tempat mencari ikan. Laut adalah ruang hidup yang menopang ekonomi, pangan, dan masa depan keluarga mereka.

Kita memang tidak bisa mengendalikan badai atau memastikan tenggiri selalu tersedia setiap pagi. Namun, kita bisa mulai memahami bahwa apa yang terjadi di laut tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan kita di daratan. Sebab, pada akhirnya, laut yang sehat bukan hanya penting bagi mereka yang melaut, tetapi juga bagi kita yang menunggu hasilnya di meja makan.

Malam ini, saya memikirkan laut sedikit lebih lama

Pada akhirnya, saya memang hanya seorang ibu yang tadi pagi gagal membeli tenggiri dan sore harinya gagal membuat bakso ikan yang memuaskan anaknya.

Kedengarannya sederhana, bahkan mungkin tidak penting bagi orang lain.

Namun, malam ini saya belajar bahwa pengalaman sehari-hari kadang-kadang bisa menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang lebih besar. Dari lapak ikan yang sepi, saya mulai memikirkan nelayan yang mungkin tidak bisa melaut. Dari bakso ikan yang rasanya berbeda, saya memikirkan perjalanan panjang bahan pangan sebelum tiba di meja makan. Dari sebuah dokumenter, saya kembali menyadari bahwa kehidupan manusia dan kondisi alam tidak pernah benar-benar terpisah.

Besok pagi, mungkin saya akan kembali ke pasar. Barangkali tenggiri sudah tersedia. Barangkali juga belum.

Kalau belum, saya akan mencari alternatif lain. Namanya juga urusan dapur, harus tetap jalan.

Tapi sekarang, saya tahu bahwa di balik ikan yang tidak tersedia di pasar, mungkin ada cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar soal stok barang.

Dan mungkin, sebelum bertanya, "Kenapa ikan hari ini mahal atau tidak ada?", sesekali kita perlu bertanya juga, "Bagaimana kabar laut dan orang-orang yang menggantungkan hidupnya di sana?"

Ketika Tenggiri Tak Ada di Pasar: Cerita Kecil dari Meja Makan dan Laut yang Berubah

Malam ini, sambil makan malam, saya melanjutkan menonton episode ketiga serial dokumenter Ekspedisi Indonesia Baru bertajuk Dilema Orang La...