Deep Learning: Langkah Baru Pendidikan Menuju Indonesia Emas

 

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, kerap menyebut pendekatan Deep Learning. Dalam berita di Tempo, 31 Desember 2024, beliau menyampaikan bahwa Deep Learning akan diintegrasikan ke dalam Kurikulum Nasional. Pertanyaan yang muncul: Apa itu Deep Learning? Apakah ini kurikulum baru? Atau malah tanda akan adanya perubahan kebijakan lagi? Sebelum kita melompat pada kesimpulan, mari kita ulas lebih mendalam. 

Pada 10 Desember 2024 lalu, Prof. Dr. Din Wahyudin, MA, salah satu mentor saya di Universitas Pendidikan Indonesia, membagikan catatannya dari FGD "Deep Learning" di BSKAP Kemdikdasmen (28-30 November 2024). Diskusi ini ditindaklanjuti dengan webinar oleh HIPKIN dan Prodi Pengembangan Kurikulum UPI pada 30 Desember 2024. Setelah itu, saya sempat berdiskusi dengan Dr. Laksmi Dewi, M.Pd, Kepala Puskurjar, yang menjelaskan bahwa Deep Learning bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan untuk memperkuat implementasi kurikulum, dan naskah akademik Deep Learning sedang dalam tahap editing.

Memahami Deep Learning

Dalam file final paparan Deep Learning yang dibagikan oleh Purkurjar, dijelaskan bahwa Pendekatan Deep Learning berfokus pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Tiga elemen ful ini terintegrasi dalam empat aspek pembelajaran: olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik). Hasil akhirnya adalah profil lulusan dengan delapan dimensi esensial, memperkaya 6C dari keterampilan abad 21: Pertama, Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME. Lulusan adalah individu yang memiliki keyakinan yang kuat akan keberadaan Tuhan dan berpegang pada nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, Kewargaan. Lulusan adalah individu yang memilki rasa cinta tanah air, mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki kepedulian, tanggung jawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan. Ketiga, Penalaran Kritis. Profil individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah. Keempat, Kreativitas. Menjadi individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat. Kelima, Kolaborasi. Individu yang mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab. Keenam, Kemandirian. Individu yang mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain. Ketujuh, Kesehatan Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, sehat, dan mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (well-being). Kedelapan, Komunikasi. Individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi.

Kedelapan profil lulusan ini, dihasilkan dari suasana belajar dan proses pembelajaran yang mindful, meaningful dan joyful (3 Ful). Mindful (Berkesadaran), peserta didik menyadari tujuan belajar, memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri dan aktif mengelola proses belajarnya. Meaningful (Bermakna), pengetahuan dapat diaplikasikan dalam konteks nyata. Joyful (Menggembirakan), suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.

Ada Tiga Tahap Pengalaman Belajar yang didapatkan peserta didik melalui pendekatan ini : Pertama, Memahami. Tahap awal peserta didik pengalaman belajar yang dilalui peserta didik adalah aktif mengkonstruksi pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks. Pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan esensial (foundational knowledge), pengetahuan aplikatif (applied knowledge), dan pengetahuan nilai dan karakter (humanistic knowledge).. Kedua, Mengaplikasi. Menghubungkan teori dengan praktik nyata. Pengalaman belajar yang menunjukan aktivitas peserta didik mengaplikasi pengetahuan dalam kehidupan secara kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh oleh peserta didik melalui pendalaman pengetahuan (extending knowledge). Ketiga, Merefleksi. Proses di mana peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. Tahap refleksi melibatkan regulasi diri (self regulation) sebagai kemampuan individu untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap cara belajar mereka.

Kerangka Sistem dalam Deep Learning Pendekatan ini dibangun atas empat pilar: Pertama, Praktik Pedagogis, strategi pengajaran yang fokus pada pengalaman autentik. Kedua, Lingkungan Pembelajaran, integrasi ruang fisik, virtual, dan budaya belajar. Ketiga, Pemanfaatan Teknologi Digital, memaksimalkan interaksi dan kolaborasi. Keempat, Kemitraan Pembelajaran, kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan komunitas.

Mewujudkan Ekosistem yang Mendukung

Untuk mencapai hasil optimal, dibutuhkan ekosistem pembelajaran yang kolaboratif, melibatkan semua pemangku kepentingan: pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, serta dunia usaha. Guru pun bertransformasi menjadi Activator, Collaborator, dan Culture Builder. Dengan pendekatan ini, kita dapat menciptakan pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.

Implementasi pendekatan deep learning pada pembelajaran tentunya butuh banyak tahapan. Sosialisasi kepada semua stakeholder, identifikasi dan pemenuhan kebutuhan sumber daya, uji coba dalam lingkup terbatas, evaluasi hasil dan perbaikan sistem, baru kemudian penerapan Deep Learning secara luas. Dan terakhir perlu dilakukan refleksi dan tindak lanjut untuk perbaikan selanjutnya.

Untuk memastikan keberhasilan implementasi, guru sebagai ujung tombak pembelajaran mustilah ditingkatan kompetensinya. Bagaimana caranya? Pertama, dengan malaksanakan program pelatihan terintegrasi, pendampingan, atau pembimbingan tentang pendekatan deep learning. Kedua, dengan penyelenggaraan program pendidikan profesi guru (PPG) untuk memberikan bekal pendidikan dan pelatihan Deep Learning. Ketiga, menambahkan bimbingan konseling, pendidikan nilai, dan pola pikir bertumbuh (growth mindset) dalam muatan kurikulum PPG dan pelatihan guru lainnya.

Bagi perguruan tinggi yang mencetak para pendidik, juga perlu perlu dibuat tes seleksi yang terstandar untuk mengukur kemampuan akademik, minat dan bakat calon mahasiswa yang akan menjadi guru. Mahasiswa calon guru diseleksi secara ketat dengan kriteria minat dan kecintaannya serta kemampuan akademik yang dilakukan secara nasional oleh LPTK yang menyelenggarakan PPG. Kementerian juga perlu menggandeng komunitas-komunitas belajar, dan dewan pendidikan.

Deep Learning dalam Perspektif Global

Secara konsep, pendekatan Deep Learning sangat baik dan telah terbukti secara empiris di beberapa negara. Salah satunya adalah Finlandia, yang dikenal dengan sistem pendidikan unggulnya. Finlandia berhasil menerapkan prinsip pembelajaran mendalam melalui integrasi pendekatan lintas disiplin, penekanan pada kolaborasi, serta penggunaan teknologi digital secara optimal. Hasilnya, peserta didik tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan berinovasi yang mumpuni. Hal serupa juga diterapkan di Singapura, di mana Deep Learning membantu siswa membangun koneksi antara teori dan praktik melalui proyek-proyek berbasis masalah.

Sebagai seorang pendidik, saya melihat Deep Learning sebagai pendekatan yang mampu menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21. Merujuk pada skor PISA 2018, menunjukkan Kemampuan HOTS siswa Indonesia masih rendah. Rendahnya tingkat keterampilan berpikir HOTS (higher order thinking skills) di kalangan siswa mencerminkan rendahnya kualitas pembelajaran yang dijalankan di sekolah-sekolah. Data PISA mencatat bahwa skor perolehan dalam membaca hanya 371, Matematika 379 dan Sains 396. Masih berada di bawah ambang batas 400, setara dengan level 2-3. Siswa Indonesia hanya bisa menjawab materi Level 1-3 saja (lower order thinking skills = LOTS), sementara siswa negara lain sudah sampai Level 4-6 (higher order thinking skills = HOTS). Dan Pendekatan Deep Learning secara konsep berfokus pada higher-order thinking skills (HOTS). Hal ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan kita yang masih membutuhkan perjalanan panjang dapat kita jalani dengan “mengendarai” deep learning ini.

Filosofi Deep Learning

Pendekatan Deep Learning sejatinya sejalan dengan filosofi pendidikan Indonesia, khususnya filosofi K.H. Ahmad Dahlan dan filosofi Ki Hajar Dewantara. Pendidikan mustilah berlandaskan tujuan hidup, membentuk manusia yang tidak sombong, gigih belajar, dan tuntas berkarya. Membentuk anak bangsa yang dapat mengoptimalkan akal untuk kebenaran sejati, berani menegakkan kebenaran, berbuat untuk kemanusiaan, mengamalkan ilmu agama dengan kualitas tinggi dan menjadikan pendidikan sebagai alat perubahan sosial menuju masyarakat berkemajuan. Filosofi ini juga menggemakan prinsip pendidikan holistik, di mana pembelajaran tidak hanya mengembangkan intelektual, tetapi juga etika, estetika, dan fisik secara terpadu. Dengan demikian, pendekatan ini dapat menghidupkan kembali semangat "sistem among" yang mengutamakan asah, asih, dan asuh dalam proses pendidikan.

Konsep ini menekankan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada hasil akademik, tetapi juga membebaskan peserta didik untuk mengeksplorasi potensi diri mereka secara maksimal. Dalam pendekatan Deep Learning, peserta didik diajak untuk tidak sekadar memahami materi, tetapi juga memaknainya dalam konteks nyata dan relevan dengan kehidupan mereka.

Mendukung Indonesia Emas 2045

Dalam konteks Indonesia, implementasi Deep Learning sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia unggul. Dengan memanfaatkan pendekatan ini, Indonesia dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Profil lulusan berbasis delapan dimensi esensial dari Deep Learning akan memperkuat daya saing bangsa di tengah perubahan global yang cepat. Dengan ekosistem pembelajaran yang didukung teknologi dan kolaborasi lintas sektor, kita optimis visi Indonesia Emas dapat terwujud.

Pendekatan Deep Learning ibarat jembatan menuju impian besar kita: menciptakan generasi yang tidak hanya unggul di atas kertas, tapi juga tangguh menghadapi dunia nyata. Dengan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful, kita tidak hanya mencetak lulusan, tetapi manusia seutuhnya, -mereka yang berpikir kritis, kreatif, penuh empati, dan siap menghadapi tantangan global.

Pendidikan adalah "labor" mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Di tangan generasi mendatang, tersimpan harapan kita untuk melihat Indonesia menjadi bangsa yang tak hanya maju, tetapi juga bermartabat di panggung dunia. Dan Dengan Deep Learning, Indonesia dapat melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045 dengan optimisme dan percaya diri.

DESEMBER

 

Bagi saya, Desember adalah bulan yang selalu terasa istimewa -lebih seperti sebuah hari raya. Setiap kali Desember tiba, perasaan saya bercampur aduk. Ada kegembiraan, harapan, sekaligus keheningan yang mengajak saya merenung. Lahir di akhir bulan, di penghujung tahun, membuat saya terbiasa melakukan “itung-itungan” tentang apa saja yang telah terjadi selama setahun ini. Membuat saya merefleksi dan mengkaleidoskop perjalanan saya kembali.

Rasanya seperti baru kemarin tahun 2024 menyapa, dan sekarang, hanya menghitung hari hingga tahun berganti lagi. Tentu saja, saya tidak berani berkata bahwa "tahun ini berlalu begitu saja." Tidak. Bagaimana mungkin saya mengatakan itu, ketika setiap dari 356 hari ini terisi dengan begitu banyak cerita, pengalaman, dan pelajaran? Hari-hari itu tidak sekadar berlalu, mereka adalah perjalanan yang saya tempuh dengan keberanian, meskipun tidak selalu mudah. Dan Desember bagi saya bukan sekadar penutup tahun, tetapi sebuah panggung refleksi untuk melihat kembali bagaimana saya bertahan, tumbuh, dan berbahagia.

Kalianpun akan merasa begitu juga bukan? Siapa bilang tahun berlalu begitu saja, saat hari-hari kita penuh dengan drama. Bagi ibu rumah tangga seperti saya, hari-hari itu berlalu dengan padat. Bagun sebelum seisi rumah terjaga. Nyuci piring yang tak terhitung kalinya. Mabok dengan cucian, jemuran dan sterikaan. Belanja, foodprep, masak, agar anak bisa makan enak dan bergizi tiga kali sehari. Nyapu, ngepel, nguras bak mandi, daaaaaaan ”pekerjaan sebanyak bulu kucing” -seperti yang ibu saya dulu katakan- menunggu penyelesaian dari kita hari demi hari. Status Ibu rumah tangga yang sering kali dicap ”Tidak Bekerja” itu, aiiiih, kalian lanjutkan saja narasinya!

Ulang tahun saya hanya selisih satu hari dengan hari ibu. Karena itu refleksi atas usia dan status saya sebagai ibu, membuat air mata saya merebak sepanjang mengetik tulisan ini.

Sebagai Mita, yang hari ini genap berusia tiga puluh lima tahun, saya ingin menatap cermin kehidupan dengan penuh syukur. Saya yang berdiri di depannya hari ini adalah versi terbaik dari diri saya -bukan karena tanpa cacat atau sempurna, tetapi karena saya terus berusaha menjadi lebih baik. Bagi saya, ulang tahun artinya membuka bab selanjutnya dalam buku kumpulan cerita hidup saya. Esok akan ada hal-hal dan tantangan baru, dan saya tentu saja akan terus mengusahakan untuk menjadikan Mita di masa depan sebagai versi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih bahagia.

Tahun ini telah menjadi guru terbaik bagi saya, mengajarkan banyak hal berharga tentang hidup dan kebahagiaan sederhana. Saya belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil yang sering terlewat dalam hiruk-pikuk rutinitas menjalani peran saya -seperti kehangatan secangkir teh di pagi hari, atau momen-momen sederhana saat hati saya berbunga dan bahagia ngefansgirl sebagai Army -Oiya, V bias saya di BTS juga berulangtahun selang seminggu setelah ini. Ada juga kebahagiaan sederhana dari menonton drama Korea atau drama Cina favorit saya, hingga tawa lepas anak dan suami saya saat mereka asyik bermain game bersama.

Hal-hal kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi mereka adalah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang besar. Kebahagiaan justru sering hadir di sela detik-detik kehidupan yang biasa dan sederhana. Tahun ini, saya belajar bahwa merayakan momen-momen seperti itu adalah cara terbaik untuk mencintai hidup dan diri sendiri. Enjoy the little things, seperti tulisan dihelm saya 😅

Saya juga belajar merayakan setiap pencapaian, besar ataupun kecil, karena bagi saya, setiap langkah yang saya tapaki layak untuk dihargai dan dirayakan. Saat gagal, tentu saja saya harus berdamai. Sebab meskipun gagal, artinya saya sedang berproses.

Berusaha menjadi Mita yang bahagia, bukan karena segalanya selalu berjalan mulus, tetapi karena saya memilih untuk fokus pada hal-hal yang bisa saya kendalikan. Hidup, seperti air yang mengalir, tak selalu jernih atau tenang. Namun, jika masih bisa "baminyak aia” tentu saya hanya akan menampilkan yang baik-baiknya saja.

Pun tidak semua hari dipenuhi pelangi. Ada saat-saat di mana hujan deras membasahi hati saya. Sepanjang tahun ini, saya telah bekerja keras, untuk keluarga, untuk impian, dan untuk diri saya sendiri. Jadi, di usia ini, saya akan berterima kasih pada diri sendiri: Sugohaesseo, Mita. Kamu telah melakukannya dengan baik. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah percaya bahwa hidup ini, meskipun tidak sempurna, tetap indah untuk dijalani.

Sebagai seorang “ibu”, sering kali saya bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana sebenarnya saya bisa mengukur peran ini?" Apakah ada alat atau metode yang cukup valid untuk mengevaluasi perjalanan saya sebagai seorang ibu? Atau, lebih jauh lagi, apakah layak seorang ibu dihakimi dengan label "berhasil" atau "gagal"? Lalu, apa indikator keberhasilan itu? Apakah ketika anak makan tiga kali sehari dengan lahap, saya bisa berbangga hati sebagai ibu yang sukses? Atau mungkin ketika rapor sekolah menunjukkan anak saya jadi sang juara kelas, saya bisa menyematkan medali tak kasatmata untuk diri saya sendiri?

Refleksi ini sering kali terasa seperti labirin -berliku dan penuh keraguan. Menjadi ibu bukanlah soal mencapai standar tertentu, melainkan sebuah perjalanan yang penuh dengan cinta, dan pembelajaran. Ada saat-saat di mana saya merasa puas karena telah memberi yang terbaik, tetapi di lain waktu, bayangan keraguan itu muncul, mempertanyakan apakah yang saya lakukan sudah cukup.

Namun, semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa menjadi ibu adalah tentang kehadiran, bukan kesempurnaan. Anak saya mungkin tidak akan mengingat apa saja yang sudah saya belikan untuknya, tetapi ia akan mengingat kecupan dan pelukan hangat setiap harinya. Ia mungkin tidak mencatat seberapa sehat menu makannya, tetapi saya yakin ia akan selalu mengingat kebahagiaan saat saya menyajikan makanan kesukaannya bahkan kadang menyuapinya.

Mungkin, menjadi ibu tidak perlu dinilai seperti itu. Tidak ada satu pun anak yang lahir dengan buku manual, dan tidak ada ibu yang dilengkapi dengan sertifikat kompetensi. Keibuan adalah perjalanan yang tak memiliki akhir, sebuah hubungan yang terus berkembang, penuh dengan ketidaksempurnaan yang justru membuatnya menjadi sempurna.

Di penghujung tahun ini, saya juga ingin menyematkan harapan sederhana untuk diri saya sendiri. Tidak perlu yang muluk-muluk, hanya ingin terus menjadi Mita yang tidak takut mencoba. Mita yang lebih baik, lebih hadir, dan lebih tulus dalam menjalani setiap peran. Kalau bisa, Mita yang lebih rajin olahraga, lebih sering menabung, dan lebih kaya sehingga nggak perlu numpuk wishlist tanpa check out di keranjang belanja online. Tapi, yah, kita lihat nanti, ya! Yang penting, setiap langkah di tahun depan, saya ingin menjalaninya dengan keberanian yang sama seperti tahun ini.

Desember selalu punya tempat istimewa di hati saya. Ada sesuatu yang berbeda dengan bulan ini, suasana akhir tahun yang tak mampu saya bahasakan dengan baik, seperti teman lama yang datang membawa cerita-cerita hangat. Meski tidak ada salju di sini, hawa Desember selalu punya caranya sendiri untuk membuat hati saya penuh. Mungkin karena di bulan ini, saya selalu diingatkan akan waktu, akan bagaimana saya bertumbuh, dan bagaimana hidup ini terus berjalan.

Dan, bicara tentang waktu, saya juga ingin mengangkat topi untuk semua ibu di luar sana. Peran kita memang sering kali tidak terlihat, bahkan dianggap remeh. Tapi siapa pun yang pernah menjalani hari-hari penuh pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dan tetap mencoba waras dan menjadi versi terbaik dirinya pasti tahu, tidak ada pekerjaan yang lebih berat daripada ini. Jadi, untuk kita semua, ibu-ibu hebat, mari bertepuk tangan untuk diri kita sendiri. Kita pantas untuk itu!

Anak saya, tanpa dia sadari, sering kali menjadi guru kehidupan saya. Dari senyum polosnya, saya belajar bahwa kebahagiaan itu sederhana. Dari pertanyaannya yang kadang tak terduga, saya diingatkan untuk melihat dunia dengan penuh rasa ingin tahu. Dan dari celotehan dan argumen-argumennya saat menjawab perkataan saya, saya belajar bahwa saya harus melembutkan suara, harus masuk akal memberi jawaban, karena saya sedang berhadapan dengan fotokopi diri saya sendiri. Ia tidak hanya mengisi hari-hari saya, tetapi juga menguatkan alasan saya untuk terus maju, belajar dan bertumbuh.

Oh, dan kalau ada yang berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga itu monoton, percayalah, drama rumah tangga kami cukup untuk membuat serial Netflix. Ya, hidup ini tidak pernah membosankan!

Dengan semua itu, saya tahu, tahun ini bukan hanya tentang apa yang telah saya capai, tetapi juga tentang bagaimana saya bertahan, tertawa, dan belajar. Sugohaesseo, Mita. Kamu sudah melakukannya dengan baik. ❤️

MICROLEARNING DALAM PENDIDIKAN: SOLUSI UNTUK GENERASI DENGAN DAYA PERHATIAN PENDEK

 

Makin kesini, sebagai dosen saya makin menyadari mahasiswa sekarang a.k.a GenZ memiliki rentang fokus yang semakin singkat. Awalnya, jadwal kelas saya selalu setelah zhuhur. Jadi saya memaklumi banyak diantara mereka yang fokusnya mulai terbagi dengan kantuk dan energi yang sudah terkuras sejak pagi. Namun kemudian, saat jadwal saya pindahkan ke jam pagi sekitar pukul 09.00-12.00 WIB, masih banyak diantara mereka yang menguap disela-sela penjelasan saya yang “sedikit bersemangat”. Hal ini membuat saya merefleksi kembali cara saya mengajar. Slide-slide yang panjang –karena memang butuh penjelasan detail- saya persingkat dan diselingi dengan kuis atau “maota”, ngobrol ngalor ngidul diluar tema sekalipun. Saat mengajar di mata kuliah Desain Pembelajaran Berbasis IT, alih-alih saya sendiri yang “berbusa-busa” mengajari sebuah tutorial, saya merasa lebih efektif menampilkan video tutorial 5-9 menit yang dapat diulang putar lagi. Awalnya saya bertanya-tanya, mengapa rentang fokus atau perhatian mereka makin singkat? Toh mereka bukan anak-anak usia 6-8 tahun yang rentang fokusnya hanya 10-15 menit. Mereka adalah mahasiswa dengan rentang umur 16 tahun ke atas yang menurut brainbalancecenters.com harusnya punya rentang fokus 32 hingga 48 menit.

Setelah “membaca” -maksudnya juga mendengar pendapat para ahli via beberapa diskusi podcast- saya mulai dapat kesimpulannya. Generasi yang sedang ada di depan saya adalah generasi yang terbiasa dengan informasi instan. Generasi Youtube short, generasi reel Intagram, generasi konten yang sering kali dibatasi hanya beberapa menit. Saya kemudian juga mendapati data bahwa rentang perhatian dalam konteks media sosial atau konten digital, GenZ  hanya memiliki rentang perhatian rata-rata 8 detik, mirip dengan ikan mas. Sedangkan dalam konteks pembelajaran atau pembicaraan yang lebih mendalam atau presentasi yang lebih panjang, usia 16 tahun ke atas mungkin bisa bertahan lebih lama (30-40 menit) dengan fokus penuh, meskipun tetap ada penurunan perhatian setelah beberapa saat.

Artinya apa? Artinya sebagai dosen, saya harus memutar otak bagaimana caranya memanfaatkan durasi yang lebih pendek (5-10 menit) agar pembelajaran tetap menarik dan sesuai dengan rentang perhatian yang lebih singkat yang dimiliki generasi muda, tanpa kehilangan kualitas materi. Salah satu metode yang lagi populer adalah microlearning, atau pembelajaran singkat.

Apa Itu Microlearning?

Microlearning adalah teknik pembelajaran yang memecah materi besar menjadi potongan-potongan kecil, yang mudah dicerna dalam waktu singkat. Biasanya materi microlearning disajikan dalam video singkat, infografis, atau modul interaktif yang dapat diakses kapan saja.

Contoh sederhananya, jika kita mengajar tentang perkembangan kurikulum, daripada langsung membahas semua teori dalam satu jam, kita bisa memecahnya jadi beberapa bagian pendek, seperti “Teori Kurikulum Tradisional” dan “Teori Kurikulum Modern”.

Terus untungnya apa kalau gaya ngajar kita pakai teknik Microlearning?

Yang Pertama, Fokus Lebih Terarah.

Dengan durasi pendek, mahasiswa lebih mudah fokus pada satu topik spesifik. Ini mengurangi kemungkinan mereka merasa kewalahan dengan informasi yang berlebihan.

Kedua, Mudah Diakses dan Diulang

Jika menggunakan video singkat misalnya, memungkinkan mahasiswa untuk mengulang materi kapan saja. Jika ada konsep yang belum mereka pahami, mereka bisa dengan mudah menonton lagi.

Lalu teknis/implementasi Microlearning itu seperti apa?

Untuk mengintegrasikan teknik microlearning dalam proses pengajaran, saya biasanya seperti ini :

1.   Pecah Materi Menjadi Modul Kecil

Memecah materi besar menjadi bagian kecil dan interaktif, sambil memanfaatkan berbagai media pembelajaran berbasis IT.

2.   Gunakan Slide dan Infografis Ringkas

Saya menggunakan slide presentasi yang padat dan infografis untuk mengilustrasikan konsep-konsep yang lebih kompleks dalam pengembangan kurikulum. Setiap slide bisa menyoroti satu poin penting, dengan visual yang menarik.

3.   Kuis Interaktif

Setelah setiap modul, buat kuis singkat (misalnya 3-5 pertanyaan) menggunakan platform seperti Google Form, Kahoot, Quizizz atau Baamboozle. Kuis ini akan mengukur pemahaman mahasiswa dan membuat mereka lebih terlibat dalam pembelajaran.

4.   Video Tutorial tentang Desain Pembelajaran Digital

Saat mengajar Mata Kuliah Desain pembelajaran berbasis IT, saya biasanya menayangkan  video tutorial pendek (5-10 menit) yang menunjukkan cara mendesain pembelajaran berbasis teknologi. Misalnya, bagaimana menggunakan LMS (Learning Management System) atau tools seperti Google Classroom, Moodle, atau Edmodo dalam desain pembelajaran. Juga memperkenalkan berbagai tools pembelajaran yang bisa digunakan, seperti padlet, canva, kahoot, atau aplikasi untuk membuat kuis. Video-video ini tidak lebih dari 5-10 menit, memberikan penjelasan praktis tentang bagaimana cara menggunakannya di kelas.

5.   Sesi Interaktif dengan Mind Mapping

Saat mengajar Mata kuliah Strategi Pendidikan Anak Usia Dini misalnya, saya sering membuat peta konsep strategi pembelajaran. Misalnya : Strategi pembelajaran metakognitif, Strategi Jigsaw, Strategi pembelajaran diferensiasi, dan lain sebagainya. Lalu melakukan Pembahasan Studi Kasus karena banyak diantara mereka yang juga sudah menjadi guru di PAUD.

6.   Video contoh cara mendongeng.

Dibandingkan ”berceramah” cara mendongeng yang baik untuk anak usia dini, saya biasanya menampilkan video youtube dongeng anak-anak singkat, seperti Video Kak Ojan. Dan membahas tekniknya bersama mahasiswa.

7.   Menggunakan AI secara Real-time.

Contohnya saat mata kuliah Kewirausahaan. Alih-alih menampilkan slide yang panjang pada sub materi Studi kasus kewirausahaan, saya biasanya langsung membukan ”Scribd”, mendowload artikel studi kasus dan pemasalahannya, dan langsung membahasnya bersama dengan ChatGPT atau perplexity atau Claude dan meminta mahasiswa menanyakan apa saja untuk langsung dijawab oleh AI tersebut. Memang tidak ada yang sempurna, tapi cukup membantu agar mereka tetap melek dan fokus.

Masa Depan Microlearning dalam Pendidikan

Microlearning tampaknya akan terus mengalami perkembangan, terutama dengan preferensi generasi digital saat ini yang lebih menyukai konten singkat, padat, dan mudah dipahami. Teknologi seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan Kecerdasan Buatan (AI) diperkirakan akan memperluas cakupan microlearning secara signifikan. Dengan adanya teknologi ini, bukan hanya memungkinkan pembelajaran menjadi lebih interaktif, tetapi juga dapat memberikan pengalaman yang seolah-olah "membawa" peserta didik ke dalam materi. Misalnya, siswa dapat menjelajahi lingkungan virtual yang relevan dengan topik yang mereka pelajari atau bahkan menggunakan simulasi AI yang berfungsi sebagai asisten pembelajaran pribadi, memberikan panduan atau kuis sesuai kebutuhan mereka. Dengan perkembangan ini, microlearning bisa menawarkan pengalaman yang jauh lebih menarik dan personal, menjadikan pembelajaran tidak hanya efektif tetapi juga lebih immersif bagi siswa.

Setiap teknik pembelajaran punya kelebihan dan kekurangannya. Begitu pula Teknik Microlearning ini. Namun, upaya ini semoga bisa menjadi salah satu solusi efektif di tengah tantangan pendidikan modern. Harapannya, ini bisa membuka pintu bagi banyak peserta didik untuk belajar dengan cara yang lebih relevan dan “nyambung” dengan gaya hidup mereka.

Hari Santri 2024 : Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan

Assalamu’alaikum! Udah pada tau belum kalau tanggal 22 Oktober itu Hari Santri Nasional? Yup, hari spesial buat para santri di seluruh Indonesia. Kali ini, kita bakal ngobrol santai tapi serius tentang peran penting santri dalam membangun negeri kita tercinta. Tema tahun ini keren banget nih: "Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan". Jadi, yuk kita cerita bareng-bareng!

Sejarah Singkat Hari Santri

Sebelum kita nyemplung lebih jauh, ada baiknya kita flashback dikit ke sejarah Hari Santri. Tanggal 22 Oktober dipilih bukan tanpa alasan lho, guys. Tanggal ini punya makna historis yang kuat banget.

Pada 22 Oktober 1945, atau sekitar dua bulan setelah Indonesia merdeka, para ulama dan santri se-Indonesia yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan resolusi yang dikenal sebagai "Resolusi Jihad". Resolusi ini mengajak seluruh umat Islam untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Keren kan?

Nah, berdasarkan sejarah heroik ini, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Ini sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan peran para santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peran Besar Pesantren dalam Membangun Bangsa

Bicara soal santri, nggak bakal bisa lepas dari pesantren. Pesantren udah jadi bagian penting dari sejarah pendidikan di Indonesia sejak lama banget. Menurut data dari Kementerian Agama tahun 2022, ada lebih dari 27.000 pesantren di Indonesia dengan jumlah santri mencapai 4,8 juta. Wow, banyak banget ya!

Pesantren tentu saja bukan cuma tempat belajar agama. Pesantren punya peran besar dalam membentuk karakter dan kepribadian santri. Di pesantren, para santri nggak cuma belajar ilmu agama, tapi juga nilai-nilai kehidupan yang penting banget, kayak kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan dan kebersamaan dalam keberagaman.

Nah, yang bikin pesantren makin keren, mereka juga berkontribusi dalam menjaga keutuhan NKRI dan mempromosikan nilai-nilai toleransi. Pesantren mengajarkan Islam yang moderat dan sesuai dengan konteks keindonesiaan. Ini penting banget buat menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Kurikulum Pesantren: Antara Tradisi dan Modernitas

Ngomongin pesantren, pasti kepikiran dong soal kurikulumnya. Sebagai mantan santri dan dosen kurikulum, saya semangat banget nih membicarakan sub tema ini. Nah, yang bikin pesantren makin menarik, kurikulum pesantren tuh kombinasi antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Keren kan?

Menurut data dari Kementerian Agama, sekitar 70% pesantren di Indonesia udah mengadopsi kurikulum yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum. Ini artinya, selain belajar kitab-kitab kuning dan ilmu-ilmu keislaman, para santri juga belajar matematika, sains, bahasa asing, dan pelajaran umum lainnya. Jika berkunjung ke pesantren, kalian akan kagum ngeliat effort lebih yang dilakukan santri dalam mmpelajari kombinasi ilmu-ilmu tersebut.

Beberapa pesantren modern bahkan udah mulai mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran mereka. Ada yang pake e-learning, ada juga yang mulai ngajarin coding dan keterampilan digital lainnya. Ini buat memastikan para santri siap menghadapi tantangan di era digital.

Tapi jangan khawatir, meskipun ada sentuhan modernitas, pesantren tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang jadi ciri khas mereka. Pesantren Musthafawiyah tempat saya nyantri dulu contohnya, masih ngaji Kitab I'anatut Tholibin dengan metode pembelajaran bandongan -Ayahanda Guru membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan kitab, sedangkan santri mendengarkan dan mencatat- dan bahtsul masail. Bahtsul masail adalah metode pembelajaran yang melibatkan diskusi dan argumentasi untuk memahami hukum Islam. Dalam metode ini, para santri bebas mengajukan pertanyaan dan pendapatnya, dan kyai atau ustadz melakukan penilaian selama kegiatan berlangsung.

Tantangan Santri di Era Digital

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang seru nih. Di era yang serba digital kayak sekarang, tantangan yang dihadapi santri juga makin kompleks. Yuk, kita bahas beberapa di antaranya:

1.   Adaptasi Teknologi: Santri dituntut untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang super cepat. Mereka harus bisa memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran dan dakwah, tapi tetap menjaga nilai-nilai keislaman.

2.   Hoax dan Informasi Menyesatkan: Di era informasi yang super cepat ini, santri harus punya kemampuan untuk memfilter informasi. Mereka harus cerdas dalam literasi digital agar bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hoax atau menyesatkan.

3.   Radikalisme Online: Internet bisa jadi sarana penyebaran paham radikal. Santri harus punya pemahaman agama yang kuat dan moderasi beragama yang baik untuk menangkal paham-paham ekstrem.

4.   Persaingan di Dunia Kerja: Santri harus siap bersaing di dunia kerja yang makin kompetitif. Mereka perlu punya skill yang relevan dengan kebutuhan industri.

5.   Menjaga Identitas: Di tengah arus globalisasi, santri punya tantangan untuk tetap menjaga identitas mereka sebagai muslim Indonesia yang moderat.

Peluang Emas buat Santri

Tapi jangan pesimis dulu, guys! Di balik tantangan-tantangan tadi, ada banyak peluang emas yang bisa dimanfaatin sama para santri. Nih, beberapa di antaranya:

1.   Start-up Berbasis Syariah: Perkembangan ekonomi syariah buka peluang besar buat santri untuk terjun ke dunia start-up berbasis syariah. Misalnya, bikin aplikasi fintech syariah atau e-commerce produk halal.

2.   Content Creator Islami: Era digital buka peluang buat santri jadi content creator yang menyebarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang kekinian. Bisa lewat YouTube, Instagram, atau platform lainnya.

3.   Diplomasi Budaya: Santri bisa jadi duta budaya Indonesia di kancah internasional. Mereka bisa memperkenalkan Islam moderat ala Indonesia ke dunia.

4.   Industri Halal: Perkembangan industri halal di dunia buka peluang besar buat santri. Mereka bisa terlibat dalam pengembangan produk halal, dari makanan sampai kosmetik.

5.   Edutech Islami: Ada peluang buat santri untuk mengembangkan platform pendidikan Islam berbasis teknologi. Ini bisa jadi solusi buat pemerataan pendidikan Islam di Indonesia.

Menyambung Juang: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Nah, setelah kita bahas semua tadi, pertanyaannya sekarang: terus kita bisa ngapain nih buat dukung para santri? Yuk, simak beberapa ide berikut:

1.   Dukung Produk Santri: Kalo ada produk atau jasa yang dihasilkan santri, yuk kita dukung! Beli produknya, pake jasanya. Ini bisa jadi bentuk dukungan konkret kita.

2.   Berbagi Ilmu: Buat yang punya keahlian khusus, misalnya di bidang teknologi atau bisnis, bisa sharing ilmu ke pesantren-pesantren. Bikin workshop atau pelatihan gitu.

3.   Kolaborasi: Buat yang punya bisnis atau proyek, coba deh kolaborasi sama santri atau pesantren. Ini bisa jadi win-win solution.

4.   Beasiswa: Kalo mampu, kenapa nggak bikin program beasiswa buat santri? Bisa dalam bentuk beasiswa pendidikan atau pelatihan skill tertentu.

5.   Spread Awareness: Share informasi positif tentang santri dan pesantren di media sosial. Ini bisa membantu mengubah persepsi masyarakat tentang santri.

Merengkuh Masa Depan: Visi Santri Indonesia

Kita udah bahas banyak hal nih, dari sejarah sampai peluang di masa depan. Nah, sekarang saatnya kita bayangin, seperti apa sih visi santri Indonesia di masa depan?

Santri Indonesia di masa depan adalah sosok yang:

1.   Berilmu dan Beriman: Punya pemahaman agama yang dalam, tapi juga menguasai ilmu-ilmu modern.

2.   Teknologi Savvy: Melek teknologi dan bisa memanfaatkannya untuk kebaikan.

3.   Entrepreneur Sejati: Punya jiwa wirausaha yang kuat, menciptakan lapangan kerja bukan cuma cari kerja.

4.   Diplomat Budaya: Jadi duta Indonesia di kancah internasional, memperkenalkan Islam moderat ala Nusantara.

5.   Agen Perubahan: Aktif berkontribusi dalam pembangunan bangsa, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun budaya.

6.   Penjaga Toleransi: Menjadi garda depan dalam menjaga kerukunan dan toleransi di tengah keberagaman Indonesia.

Nah manteman, kita udah ngobrol panjang lebar nih tentang Hari Santri dan peran penting santri dalam membangun bangsa. Dari sejarah heroik di masa lalu, tantangan di masa kini, sampai peluang di masa depan.

Intinya, santri punya potensi besar untuk jadi motor penggerak perubahan di Indonesia. Dengan ilmu agama yang kuat, ditambah penguasaan ilmu modern dan teknologi, santri bisa jadi sosok yang "nyambung juang" para pendahulu sekaligus "merengkuh masa depan" dengan optimis.

Yuk, kita sama-sama dukung para santri untuk terus berkarya dan berkontribusi buat bangsa. Karena kemajuan Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama. Santri maju, Indonesia jaya!

Gimana menurut kalian? Ada pengalaman atau pendapat tentang peran santri yang mau dibagikan? Yuk, share di kolom komentar!

 

Referensi:

1. Kementerian Agama RI. (2022). Statistik Pesantren Indonesia 2022.

2. Azra, A. (2020). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.

3. Dhofier, Z. (2019). Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta: LP3ES.

4. Lukens-Bull, R. (2018). Islamic Higher Education in Indonesia: Continuity and Conflict. New York: Palgrave Macmillan.

5. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional. 

A Year in Reflection: Setahun Genosida Israel di Gaza

 

Tepat setahun yang lalu, pada 7 Oktober 2023, konflik Israel-Palestina kembali memanas setelah serangan Hamas ke wilayah Israel. Sejak saat itu, Israel melancarkan serangan balasan yang brutal ke Jalur Gaza, menimbulkan korban jiwa dan kehancuran masif hingga genosida. Menjelang 100 hari serangan, IDF terekam telah menjatuhkan lebih dari 45 ribu bom di Gaza dengan berat lebih dari 65 ribu ton. Jumlah itu telah melampaui kekuatan bom nuklir yang dijatuhkan Amerika Serikat ke Hiroshima pada 1945. Kantor media Palestina mendokumentasikan penggunaan sekitar sembilan bom dan rudal yang dilarang secara internasional oleh Israel terhadap warga sipil, anak-anak dan wanita. Bom-bom yang diidentifikasi oleh kantor tersebut termasuk “bom penghancur bunker (BLU-113), (BLU-109), (SDBS), tipe Amerika (GBU-28), dipandu oleh sistem GPS untuk menghancurkan infrastruktur, fosfor putih, bom pintar, dan rudal Halberd Gudum.”

Setahun berlalu, Per Oktober 2024, setidaknya 41.825 warga Palestina tewas dan 96.910 lainnya terluka. Dari total korban tewas, hampir 70% adalah perempuan dan anak-anak. Lebih dari 10.000 orang dilaporkan hilang, diduga terkubur di bawah puing-puing.

Penghancuran pendidikan

Per 27 Agustus 2024, Kementerian Pendidikan setempat melaporkan lebih dari 10.888 pelajar tewas, bersama dengan 529 guru dan staf administrasi. Total, 17.224 anak dan 3.686 guru terluka di Gaza. Lebih dari 718.000 siswa di Gaza telah mengalami gangguan dalam pendidikan mereka akibat perang, dengan total 456 sekolah, universitas, dan gedung universitas yang telah rusak atau hancur.

Kehancuran Infrastruktur

Serangan Israel telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur vital Gaza:

  • Lebih dari 163.000 bangunan (2/3 dari total bangunan di Gaza) rusak atau hancur total.
  • 611 masjid dan 3 gereja hancur, 214 masjid lainnya rusak sebagian.
  • 206 situs arkeologi dan warisan budaya musnah.
  • 67% fasilitas air dan sanitasi hancur atau rusak menyebabkan penurunan 94 persen dalam jumlah air yang tersedia bagi penduduk Gaza.
  • Perkiraan biaya kerusakan pada infrastruktur penting di Gaza sekitar 18,5 miliar dolar AS (sekitar Rp288,6 triliun).

Krisis Kemanusiaan

Serangan dan blokade Israel juga telah menciptakan krisis kemanusiaan akut di Gaza:

  • 1,9 juta warga Gaza (85% populasi) terpaksa mengungsi.
  • Persediaan air menurun hingga 10-20% dari level sebelum perang.
  • 1 dari 5 warga Gaza menghadapi "tingkat kelaparan yang sangat parah".
  • Lebih dari 50.000 anak di Gaza sangat membutuhkan perawatan karena kekurangan gizi akut.
  • Setidaknya 36 anak meninggal akibat kekurangan gizi.
  • Lebih dari 1,73 juta orang terjangkit penyakit menular

Layanan kesehatan

Serangan terhadap layanan kesehatan mengakibatkan 765 orang tewas, mempengaruhi 110 fasilitas, serta 32 rumah sakit yang rusak dan 115 ambulans, termasuk 63 yang mengalami kerusakan.

Di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, terdapat 25 kematian dan 111 cedera, dengan 444 ambulans dan 56 fasilitas kesehatan yang terkena dampak serangan terhadap layanan kesehatan.

Dampak Ekonomi

Ekonomi Gaza tentu saja hancur akibat serangan Israel:

  • Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai $33 miliar.
  • Tingkat pengangguran melonjak dari 45% menjadi 80%.
  • Dua pertiga lapangan kerja yang ada sebelum perang lenyap.

Ekosida: Penghancuran Lingkungan

Per Juni, biaya lingkungan untuk membangun kembali Gaza diperkirakan mencapai 60 juta metrik ton emisi karbon, menurut studi yang dilaporkan oleh Euronews dan diterbitkan di Social Science Research Network.

Emisi dari 120 hari pertama konflik telah melampaui emisi tahunan dari 26 negara dan wilayah, dengan Israel menyumbang 90 persen dari total tersebut.

Penilaian PBB menemukan bahwa armada lebih dari seratus truk akan memerlukan waktu 15 tahun untuk menghapus hampir 40 juta metrik ton puing-puing dari Gaza, dengan biaya operasi antara 500 juta dolar AS (sekitar Rp7,8 triliun) dan 600 juta dolar AS (sekitar Rp9,36 triliun), seperti dilaporkan The Guardian pada bulan Juli.

Penilaian itu menemukan bahwa tempat pembuangan besar yang mencakup antara 250 hingga 500 hektar akan diperlukan untuk membuang puing-puing tersebut, tergantung pada jumlah yang dapat didaur ulang.

----------------------------------------

Setahun berlalu sejak Gaza menjadi saksi bisu kehancuran yang begitu dahsyat. Di balik statistik dan angka korban, ada cerita tentang mereka yang setiap harinya berjuang dengan penuh keimanan
dan tetap memiliki harapan di atas reruntuhan.

Di tengah hiruk pikuk dunia yang sering kali abai, suara solidaritas harus terus kita gaungkan. Suara yang memberi tahu mereka di Gaza bahwa mereka tidak sendirian.

Tragedi ini adalah pengingat bagi kita semua: betapa berharga setiap kehidupan dan betapa pentingnya menyuarakan keadilan. Mungkin kita hanya bisa melangitkan do’a atau menyuarakan dukungan dari kejauhan, tapi bersama-sama, yang kita lakukan adalah dukungan-dukungan kecil untuk dunia yang lebih damai, lebih adil, dan lebih manusiawi. Untuk Gaza, untuk Palestina, dan untuk kemanusiaan.

The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Cukup

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry. Seka...