MELO MOVIE: MENCINTAI, MELEPASKAN, MELANGKAH

 

(instagram.com/netflixid)

Bagi teman-teman yang udah nonton Our Beloved Summer, pasti nggak asing lagi sama aktor “slengek an” satu ini, Choi Woo Shik. 😄

Bagi Army, Woo Shik juga bukan orang asing, ia adalah “keluarga” karena dekat dengan Taehyung BTS di Wooga Squad. Kali ini, Woo Shik jadi tokoh utama dalam serial romcom Melo Movie. Serial 10 episode ini mulai tayang di Netflix 14 februari 2025.

Awalnya saya pikir drama ini ongoing, tapi syukurnya nggak, jadi bisa langsung maraton nonton seharian. Dan apa yang bikin saya betah mantengin drama ini hingga akhir, saya akan cerita sama kalian. Tapi sebelum itu kita bahas dulu pemeran drama ini yaa..

Tokoh utama drama ini Ko Gyeom, manusia yang sangat mencintai film sejak “lahir”. Seorang yang bertekad akan menonton semua film yang dibuat di dunia ini. Suatu hari saat movie time dengan teman-temannya, Gyeom terpikir untuk melakukan sesuatu tentang hobinya itu, yap, dia akan jadi aktor, agar dunia perfilman tak kehilangan sosok berbakat seperti dirinya, namun karirnya mentok menjadi figuran saja. Gyeom ternyata tak seberbakat yang dia kira. Namun Gyeom yang hobi berada di set syuting (karena ada Mubee juga) ternyata punya bakat terpendam lainnya. Kejeliannya menilai dan mengulas film membuatnya menjadi kritikus film yang terkenal. Dia mengelola sebuah blog dan juga menjadi kritikus film sebuah majalah.

Lalu Kim Mubee, ya Mubee, Movie. Nama yang rasanya ingin sekali ia ganti. Saat bertemu Gyeom, Mubee masih kru di lokasi syuting. Namun 5 tahun kemudian, Mubee sudah memproduksi filmnya sendiri, dia sudah jadi sutradara.

(instagram.com/netflixid)

Hong Si Jun. Si pecinta musik yang kabur dari rumah yang “nyaman” demi merawat kecintaannya pada musik. Sosok yang harusnya populer disekolah karena tampan, jago maen musik dan tinggi. Tapi semua item populer yang dia punya itu seketika akan buyar saat dia mulai membuka mulutnya, dia tak bisa mengontrol kata-katanya. 😆. Si jun sebenarnya adalah sosok yang baik dan manis, hanya saja dia tak terbiasa mengungkapkan “kebaikannya”.

Son Ju A, gadis manis tinggi langsing yang selalu membuntuti Si jun sejak dibangku sekolah. Penggemar nomor satu sang pacar. Sosok yang selalu percaya Si Jun akan sukses kelak dengan musiknya.

(instagram.com/netflixid)

Ko Jun, kakak yang tak banyak cakap, yang menempatkan semua keinginan dan ambisinya untuk sang adik. Apa yang membuat adiknya bahagia, maka itulah kebahagiaan Ko Jun. Kakak yang juga berperan sebagai orang tua buat Gyeom.

(instagram.com/netflixid)

Ringan dan realistis

Buat kalian yang suka nonton drakor yang ringan-ringan aja tanpa teori ini teori itu, drama ini bisa jadi pilihan. Mungkin kalau liat judulnya, kita sempat mikir ini drama melow yang akan menguras air mata. Tapi, tidak. Meski nanti akan ada “masanya” kita dibuat termewek-mewek di episode 7 sih. Tapi percayalah, drama ini drama Romcom, Romantic Comedy. Ya Komedi Romantis. Drama ringan yang kadang bikin kita berbunga-bunga, kadang sedih, kadang geli dan kadang kesel, kayak dalam hati itu bilang “duuuh, kok cinta-cintaan bisa seribet ini yaaa...” 😂

(instagram.com/netflixid)

Pokoknya drama ini akan bawa kita naek “roller coaster”. Dibawa merasakan berdebarnya jatuh cinta, sakitnya putus dan rumitnya balikan lagi. Juga ikut merasakan frustasi tentang dua orang yang saling sayang tapi tak mungkin “bersatu” lagi.

Duh, kok saya jadi masuk karakter Ko Gyeom si pengulas film ya..hehe.

Tokoh yang menarik, plot yang kuat dan kru yang hebat

Yap, alasan pertama saya nonton drama ini tentu saja karena diperankan oleh Cho Woo Shik dan Park Bo Young. Tapi setelah nonton drama ini saya jadi lebih tertarik lagi, karena ada second couple gemes Lee Jun Young yang berperan sebagai Hong Si Jun dan Jeon So Nee yang berperan sebagai Son Ju A. Penempatan tokoh ini menarik menurut aku, karena second couplenya nggak kalah keren dari si Lead Couple. Alih-alih sebagai bumbu cerita, mereka berdua ini justru lebih “ngena” kisahnya. Lebih dalam dan rumit. Lalu ada cerita Ko Gyeom dan Abangnya Ko Jun, saya nggak nyangka akan jadi semelow ini kisah mereka berdua.

(instagram.com/netflixid)

Dan cerita menarik ini tentu saja tercipta berkat kolaborasi apik dari sutradara dan penulis naskah yang keren pula. Sutradaranya adalah Oh Choong Hwan yang pernah menggarap drakor populer Start Up (2020) dan Hotel Del Luna (2019). Sementara penulis naskahnya yaitu Lee Na Eun, yang suskes dengan Our Beloved Summer (2021).

Cinta yang “deep”

Meski sekilas terlihat klise, kisah cinta Ko Gyeom dan Kim Mubee sangat dalam dan rentan. Saya jadi teringat kata-kata Ibu Mobee, “kuharap Mubee memacari pria yang lebih simple, tapi dia malah dapat pacar yang persis dia”.

Mubee tumbuh dengan merawat kebencian pada ayah yang tak pernah “hadir” dalam kehidupannya. Ayah yang menurutnya lebih mencintai film ketimbang dirinya. Kebencian yang kadang bersisian dengan rindu dan iba pada sosok laki-laki yang harusnya menjadi cinta pertamanya. Sebuah kebencian pada sosok ayah yang dia rawat sehingga tak menyisakan ruang pada kecintaan ibu yang selalu mengusahakan hadir dalam hidupnya.

Mubee dewasa, bertemu Ko Gyeom yang melapisi kecemasan masa kecil dengan keceriaan. Ko gyeom kecil yang tumbuh tanpa orang tua, selalu bersikap baik dan ceria agar sang Abang tak pernah berpikiran meninggalkannya. Sehingga setelah dewasa, sikap itu tetap terbawa, Gyeom yang punya banyak pikiran tapi punya kesulitan mengungkapkannya.

Cinta antara orang-orang yang inner child-nya terluka ini, kadang bisa saling mengerti dan menguatkan, tapi kadang juga rentan.

(instagram.com/netflixid)

Pun begitu dengan kisah cinta Si Jun dan Ju A. Hubungan yang mereka jalin selama tujuh tahun akhirnya berujung kata putus juga. Ju A yang selalu mendampingi Si Jun akhirnya lelah sendiri. Dan memutuskan untuk fokus pada dirinya dan mengembangkan potensinya sebagai penulis naskah.

Suatu hari sebuah naskah skenario yang dibuat Ju A memaksanya untuk menemui kembali sang mantan. Di sinilah kisah mereka yang ternyata sangat dalam itu diulas dalam bentuk yang sangat manis sekaligus menyakitkan. Meski masih saling mencintai, tapi mereka sangat tahu bahwa mereka tak mungkin bersama lagi.

Yang tak kalah menarik juga, hubungan persahabatan Gyeom dan Si jun. Setelah meninggalnya Ko Jun, kakak Gyeom, Si Jun tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghibur Gyeom. Si Jun tak terbiasa menghibur orang dengan kata-kata. Chat yang berulangkali dihapusnya adalah bukti bahwa ia tak tahu harus bilang apa. Tapi Si Jun tak salah, apa yang harus dikatakan pada orang yang kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya.

Dan Si Jun menemukan caranya sendiri. Diam-diam membawa perlengkapan untuk Gyeom yang tidur di dalam mobil karena tak sanggup tidur dalam rumah yang kosong tanpa abangnya. Setiap pagi membersihkan mobil Gyeom yang penuh dengan kaleng-kaleng bir, membawakannya pelembab udara dan sebagainya. Tentu saja Gyeom menyadari hal itu, dia sudah mengenal sahabatnya itu sejak di bangku sekolah.  

Memeluk inner child dan melangkah ke depan

Drama ini mengajarkan kita tentang menerima dan melepaskan dengan jujur. Berani mengakui luka dan berdamai dengan diri sendiri. Memeluk “si kecil” yang terluka dalam diri kita masing-masing.

Melo Movie bukan sekadar kisah romansa biasa. Ini adalah cerita tentang mereka yang jatuh cinta, berjuang mengejar mimpi, dan berusaha berdamai dengan masa lalu. Dari Ko Gyeom, si kritikus film yang dulu bercita-cita menjadi aktor, hingga Kim Mubee, sutradara berbakat yang tumbuh dengan luka masa kecilnya, drama ini menghadirkan perjalanan emosional yang realistis, hangat, dan penuh makna.

(instagram.com/netflixid)

Sebuah serial drama yang akan membuat kita tertawa, menangis, sekaligus merenung: tentang cinta, kehilangan, dan cara kita memeluk masa lalu untuk melangkah ke depan.

Jadi, apa drama ini layak mendapatkan waktu berharga dan perhatian kita? Sangat layak. Selamat menonton.

10 Tahun Ngeblog: Sebuah Perjalanan, Sebuah Cerita, Sebuah Hidup

 

Meski bukan penulis hebat dan terkenal, saya sebenarnya sudah mulai menulis sejak dibangku sekolah menengah di sebuah Pondok Pesantren terbesar di Sumatera. Transisi dari anak SD yang ”kecil” menjadi anak asrama yang banyak dinamikanya, membuat saya banyak mencurahkan pikiran dan perasaan pada tulisan. Saat tamat dari pesantren, puluhan diary sudah saya tulisi. Saat waktu luang, kadang saya membaca tulisan-tulisan itu kembali, dan mendapati diri saya menangis, tertawa, nelangsa dan kadang geli sendiri membaca tulisan-tulisan itu lagi. Mengingatkan hal-hal kecil dan besar yang telah saya lalui. Melihat kebelakang ternyata sudah sejauh ini perjalanan yang saya tapaki.

Saat internet mulai masuk dalam kehidupan perkuliahan saya, saya mencoba-coba menulis blog. Dan blog ini tentu saja bukan blog pertama saya. Ditulisan pertama saya diblog ini, saya pernah memention bahwa blog ini adalah blog ke empat saya setelah amnesia pada password blog-blog yang lama.

Tak ada yang special saat saya mulai ngeblog. Saya hanya menulis apa yang terasa ingin saya tulis. Saat memulai bikin blog baru lagi di 2015 lalu, saya juga tak punya ekspektasi apa-apa terhadap tulisan saya. Saya hanya ingin menulis agar tak lupa. Tak lupa bahwa saya pernah sendirian ke pameran buku Braga, tak lupa bahwa saya pernah menunggu dengan sepenuh hati agar bertemu dengan travel writer favorit saya dalam satu sesi diskusi, juga agar tak lupa bahwa saya pernah hujan-hujan naek angkot untuk pergi ke pasar seni ITB dengan seorang sahabat yang sekarang telah pergi ke sisi Ilahi. Yap, hanya itu alasan saya ngeblog.

Vakum? Tentu saja pernah. Semangat bercerita yang diawali niat baik itu tak serta merta membuat seorang Mita konsisten menulis. Banyak cerita yang tak terdokumentasikan, banyak kisah-kisah penting yang telah saya lewatkan. Jika kalian melongok ke sisi kanan blog ini, kalian akan melihat jeda panjang tahun-tahun yang tak terisi. Tulisan yang diawali di tahun 2015, baru tersambung lagi pada Hari Anak Nasional tahun 2019, saat saya sudah memiliki seorang putri berusia 3 tahun. Menyesal? Tentu saja! Banyak memori-memori yang sekarang tak saya ingat lagi. Banyak cerita yang sudah menguap begitu saja.

Perjalanan 10 tahun blog ini memang tak banyak prestasi. Hanya sekali saya mengikuti lomba blog dan menang juara 2. Saat itu Komisi Informasi Sumatera Barat menyelenggaran lomba artikel blog tentang keterbukaan informasi publik. Setelahnya? Ya tidak pernah lagi. 😆

Menulis itu bagi saya adalah healing dan eksistensi diri. Dengan menulis, saya merasakan keberadaan saya sebagai seorang “Mita”. Menulis juga punya sisi penyembuhan tersendiri bagi saya. Saya menulis apa saja yang terpikir dengan bahasa yang saya bisa, lalu saat membacanya kembali saya merasa ada yang lapang dan lega di dada saya. Menulis organik tanpa memikirkan SEO atau traffic, hanya tentang berbagi cerita, pengalaman dan sudut pandang dengan jujur membuat ngeblog terasa lebih deep dan bermakna.

Blog ini adalah pantulan dari perjalanan hidup saya. Seperti yang bisa teman-teman lihat di sini, tak ada yang sempurna. Ada celah, ada jeda panjang, ada cerita yang melompat dari satu topik ke topik lain. Begitulah hidup yang saya maknai, penuh warna, tak selalu beraturan, namun tetap layak dan menyenangkan. Setiap tulisan di sini adalah bagian dari proses saya memahami dunia, bertumbuh, dan berbagi dengan kalian.

Dalam perjalanannya, menulis bagi saya bukan hanya sekadar aktivitas pribadi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial. Dunia digital semakin berkembang, dan literasi digital menjadi semakin penting. Di era informasi yang serba cepat ini, menulis di blog bukan hanya tentang bercerita, tetapi juga menjadi bagian dari keberpihakan terhadap literasi digital yang sehat. Blog adalah ruang bebas untuk berbagi pemikiran, merekam sejarah kecil, dan memberikan perspektif yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.

Dukungan terhadap komunitas blogger di Indonesia juga semakin berkembang. Salah satu yang berperan besar adalah dukungan ASUS, yang sejak tahun 2015 aktif mengadakan berbagai event baik online maupun offline untuk mendukung perjalanan para blogger. Dari workshop menulis, diskusi tentang teknologi, hingga acara peluncuran produk yang melibatkan para blogger sebagai media independen. Inisiatif seperti ini sangat berarti, karena membuka ruang belajar dan berbagi bagi para blogger di Indonesia, serta mengakui peran mereka dalam ekosistem digital yang terus tumbuh. Dan untuk saat ini, special thanks untuk laptop kesayangan saya ASUSVivobook Pro 14 OLED yang sudah membersamai perjalanan blogging ini.

Saya percaya bahwa setiap tulisan memiliki kekuatannya sendiri. Mungkin tidak terlihat langsung, mungkin butuh waktu lama untuk disadari, tetapi menulis adalah investasi. Satu tulisan yang kita anggap sederhana bisa saja menjadi penyemangat bagi seseorang di luar sana. Satu refleksi pribadi bisa saja menjadi titik terang bagi pembaca yang sedang mencari jawaban. Dan lebih dari itu, menulis bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri, bahwa kita pernah ada di suatu titik, dengan perasaan dan pengalaman yang pernah begitu nyata.

Saya jadi ingat sebuah dialog dalam drama korea “Study Group” : “apa yang terjadi, saat kamu merebus air? Jawabannya adalah tidak ada yang terjadi. Air mulai menggelembung dan menciptakan peluang ketika mencapai titik didih. Tapi sepertinya tidak ada yang terjadi sampai saat itu. Jadi yang ingin kukatakan adalah sampai kamu mencapai titik didih, kamu mungkin berpikir tidak ada yang berubah sama sekali. Tapi jika kamu memberikan energi pada sesuatu secara konsisten, perubahan besar akan terjadi pada akhirnya. Entah itu air, atau belajar” (atau ngeblog 😁). 

Lalu Apakah saya akan terus ngeblog? Jawabannya, tentu saja iya. Blog ini sudah menjadi bagian dari hidup saya. Selama masih menulis, artinya selama itu saya akan selalu belajar. Selama saya masih belajar, artinya saya masih “hidup”. Saya menulis karena saya ada. Aiiih, plesetannya agak jauh ya :D

Kalau teman-teman masih ragu untuk ngeblog, atau mungkin pernah vakum dan ingin kembali, menulislah. Bukan untuk viral, bukan untuk sempurna, tapi untuk diri teman-teman sendiri. Blogging adalah perjalanan, bukan perlombaan. Kalian nggak harus punya banyak pembaca untuk merasa tulisan kalian berarti. Kadang, satu tulisan bisa mengubah hidup seseorang, termasuk hidup kita sendiri.

Jadi, mari menulis, mari berbagi. Karena setiap cerita layak untuk didengar, dan setiap pengalaman pantas untuk dikenang.



*Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel

PENGALAMAN PERTAMA ANAK BERPUASA NISFU SYA’BAN

 

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang istimewa dalam Islam, karena di dalamnya terdapat malam Nisfu Sya’ban, yaitu malam ke 15 yang diyakini sebagai malam penuh berkah dan ampunan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار)

Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya Allah memperhatikan hamba-Nya (dengan penuh rahmat) pada malam nisfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antara sesama umat Islam) (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daraquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389.

--------------

Sebagai seorang ibu, melihat anak menjalani ibadah pertamanya adalah momen yang istimewa. Nisfu Sya’ban kali ini, putri kecilku, Zea, mencoba berpuasa di hari Nisfu Sya’ban untuk pertama kalinya. Awalnya, saya sempat ragu, dan berulangkali menanyakan apa beneran dia mau dibangunin sahur. Saya mikirnya bangunin sahur saja dulu, ntar kalau mau batalin siang juga nggak apa-apa. Jadilah jam 04.00 itu saya bangunin dia. Zea termasuk anak yang nggak susah dibangunin. Bahkan, selama puasa Ramadhan tahun lalu, ia selalu bangun tanpa drama.

Sekitar jam 10 saya nanya lagi apa dia masih sanggup, jawabannya malah menyentak saya,  “kok Bunda nggak percaya sih sama Ea, Ea kuat bun, Ea sudah gede”. Jleb. Ternyata saya yang meragukannya. Padahal seharusnya saya cukup mendukung dan menunggu sampai ia sendiri yang meminta berbuka.

Karena Zea masuk siang, jam satu abis Abaknya sholat jum’at Zea diantar ke sekolah. Disekolah sampai jam setengah lima. Lanjut pergi les bahasa inggris jam lima. Jadwal les yang harusnya hari sabtu jam setengah dua digeser sama Miss-nya jadi Jum’at jam lima sore karena miss ada keperluan hari Sabtu dan hari ini hanya tes naik tingkat saja.

Kami benar-benar takjub. Pas ditanya lagi saat mau diantar les apakah aman-aman saja, dia jawab, “aman, I’m okay”.

Pulangnya malah makin sumringah. “Kata Miss, nilai Ea yang paling tinggi”. Masya Allah Tabarokallah.

Meja makan kami saat iftar ini berisi goreng ikan, bakso urat, roti bakar, cindua dan melon potong.

Azan berkumandang, dan satu hari yang luar biasa tlah kami lewatkan. Pendidikan ibadah adalah proses bertahap, semoga perjalanan mentarbiyahi ini menjadi titik tolak untuk mempersiapkan Zea menjadi hamba yang taat dan mencintai Tuhannya.

THE TRAUMA CODE: HEROES ON CALL Drama Medis yang Mengetuk Hati dan Memacu Adrenalin

Instagram : netflixid
Minggu ini sedang seru-serunya ngomongin drama korea yang satu ini. Dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan musibah-musibah yang tak terduga, drama yang tayang di Netflix ini menyajikan pandangan yang bermakna dan mendalam tentang hal yang kadang luput dari fokus kita, penanganan trauma. Bagi “alumni” Doldam, drakor Dr. Romantic, yang sudah khatam season 1 sampai season 3, fasilitas trauma center pasti sudah kebayang gambarannya. Pusat layanan trauma itu sendiri adalah fasilitas yang menyediakan perawatan khusus di luar cakupan perawatan IGD bagi pasien dengan trauma fatal.

Ya, meski bukan drakor pertama yang bercerita tentang pusat penanganan trauma, tapi drama ini sukses mengambil hati penonton dengan alur yang memikat, menarik juga menyentuh. Alurnya yang menyajikan beberapa genre seperti komedi dan aksi menjadikan drama ini semakin menghipnotis untuk lanjut menonton episode demi episode.

Tak hanya memacu adrenalin saat menyaksikan adegan-adegan heroik si dokter jenius Baek Kang Hyuk dan bromance-nya dr. Yang Jae Won saat menghadapi kasus-kasus kritis, nurani kita juga disentuh dengan melihat lebih dalam perasaan, pengorbanan, dan keberanian yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa di tengah situasi paling menegangkan.

Yuk kita spoiler dikit, biar kamu punya banyak alasan kenapa drakor The Trauma Code : Heroes On Call ini worth it untuk kamu tonton.

Hadirnya si Dokter ugal-ugalan

Buruknya penanganan pasien trauma fatal di rumah sakit ternama di Seoul, menyebabkan 13 orang meninggal dunia tahun itu karena tidak mendapat penanganan darurat yang memadai dari pusat penanganan trauma. Hal itu menjadi keresahan tersendiri bagi masyarakat Seoul. Kegelisahan tersebut membuat masyarakat meminta langkah yang konkrit dari pemerintah khususnya kementerian kesehatan.

Hal ini memicu kemarahan ibu mentri kesehatan ketika rapat bersama para kepala Rumah Sakit ternama di Seoul. Dana 10 milyar won yang sudah digelontorkan kementerian pada Rumah Sakit Universitas Hankuk hanya berbuah fasilitas yang berupa formalitas saja, tidak berfungsi dan terabaikan.

Instagram : netflixid

Dalam situasi ini, ibu mentri akhirnya memulangkan seorang dokter “trantrum” dari tempat kerja sukarelanya di Sudan. Joo Ji Hoon yang berperan sebagai Baek Kang Hyuk, ahli traumatologi dengan kepribadian keras kepala namun jenius, pulang disambut pasien trauma yang mengharuskannya langsung masuk ruang operasi dan terlambat ke pertemuan penyambutannya. Di episode ini lah ia bertemu dengan si “anus” doktor spesialis kolorektal, Yang Jae Won, yang kemudian menjadi "budak nomor 1" dan kepala perawat cantik, Cheon Jang Mi si “Gangster” yang kemudian hari menjadi "budak nomor 2". Lalu siapa "budak nomor 3?", nanti kamu bakal tau juga..Wkwkkwk. 😂

Kelahiran Murid Pertama

Pertemuan dr. Baek dengan dr. Yang membuat koneksi tersendiri antara mereka. Si cerdas mahasiswa terbaik dan penerima beasiswa penuh Fakultas kedokteran Universitas Hankuk itu dipinang menjadi murid pertama oleh dr. Baek. Tentu saja Jae won galau memilih antara tetap menjadi murid “pak kabag” yang punya banyak sertifikat dan predikat atau beralih menjadi murid dokter trantrum yang punya segudang pengalaman.

Instagram : netflix
Terus Berjuang

Meski sudah menjadi “zombie” saking lelahnya menghandle trauma center berdua sama dokter Baek, Jae won tetap bertekad untuk terus “berlari”. Puncaknya, terjadi kecelakaan beruntun di sebuah terowongan, kakak adik yang sedang dalam perjalanan untuk menemui ayah mereka yang sedang sekarat di Rumah sakit menjadi korbannya. Kakak adik yang terluka parah itu akhirnya menerima tranplantasi organ masing-masih dari ayah mereka.

Instagram : netflixid

Terjadi pada siapa saja

Yap, namanya musibah bisa saja terjadi pada siapa saja.  Qodarullah kali ini menimpa putri kesayangan dr. Han Yoo Rim yang sedang berseteru dengan dr. Baek Kang Hyuk. Dokter Han yang sedang diatas angin pada rapat kepala-kepala bagian Rumah Sakit, mencerca habis-habisan dr. Baek karena defisit anggaran pusat trauma saat dering HPnya berbunyi mengabarkan Han Ji young, putrinya, mengalami kecelakaan fatal dan harus segera ditangani di pusat penanganan trauma. 

Instagram : netflixid

Kode Hitam

Sebuah kecelakaan besar terjadi di sebuah jembatan yang menelan korban ratusan orang di atas maupun di bawah jembatan. dr. Baek Kang Hyuk langsung ke TKP dan nge-triage korban sesuai kode merah, kuning, hijau dan hitam. Di tengah hiruk pikuk inilah Jae won dipercaya untuk melakukan operasi pertamanya. Dalam episode ini juga dijelaskan bahwa tiga pasien dengan cedera parah akhirnya berhasil diselamatkan berkat bantuan cepat si dokter jenius, Baek Kang Hyuk.

Instagram : netflixid

Alasan untuk tidak menyerah

Meski politik kotor Rumah sakit tetap berlanjut, dr. Baek tetap fokus menangani pasien di pusat trauma. Hal ini akhirnya juga menginspirasi dr. Yang Jae Won untuk menemukan alasan untuk tidak menyerah membantu pasien. “itu karena kalian bisa. Karena kalian bisa, jadi kenapa tidak!. Melihatmu, rasanya seperti melihat diriku yang dulu. Dahulu, “kenapa aku harus kerja sekeras ini, toh tak ada yang sadar”, aku sering berpikir begitu. Tetapi, tujuan kita bukan minta pengakuan, bukan juga minta kompensasi. Apa aku menjadi kepala perawat selama lima tahun di pusat trauma karena aku pahlawan super? Karena harus kulakukan. Harus ada yang melakukannya, dan kebetulan aku orangnya. Dan sialnya, kau juga orangnya”, ujar kepala perawat Cheon Jang Mi suatu ketika pada Jae won.

SOS dari Sudan Selatan

Anggota unit Hanbit di Sudan Selatan terjebak baku tembak. Sebelas anggota asosiasi medis yang melakukan kegiatan bantuan dan medis hampir diculik oleh kelompok bersenjata. Namun prajurit uni Hanbit sekaligus anggota militer PBB, yang sedang melakukan rekonstruksi jalan di sana, melakukan operasi penyelamatan. Namun dalam prosesnya, Kapten Lee Hyeon Jong dari uni Hanbit terluka tembak dan dikabarkan kritis. Menteri Kesehatan menelepon dr. Baek untuk membawa timnya menyelamatkan Kapten Lee Hyeon Jong. Dan seperti yang kalian tebak, dr. Baek berangkat bersama 3 “budak”nya :D. Budak Nomor 1, budak nomor dua, dan dr. Park si dokter anestesi.

Pasien: Baek Kang Hyuk

Saat kembali dari Sudan Selatan dengan selamat, sebuah kebakaran besar terjadi. dr. Baek langsung menuju lokasi. Malangnya, di gedung yang kebakaran ada sebuah unit yang menjual gas medis. Ditengah kebakaran terjadi ledakan besar yang membuat dokter spesialis trauma ini harus dilarikan ke tempat kerjanya sebagai pasien. Nyama dr. Baik ada ditangan muridnya. Berhasilkah dokter trantrum ini siuman dan menyumpah “shibal sekiya” kembali?

Secara keseluruhan, drama ini berhasil menggambarkan situasi di pusat trauma dengan realistis. Drama yang diadoptasi dari webtoon Severe Trauma Center: Golden Hour karya Hansaiga ini worth it untuk kamu tonton. Silahkan dilanjut di Netflix ya Yeorobun 😀. Annyeoooong... 

*semua foto dari Instagram : netflixid

RESENSI : VEGETARIAN

Biodata Buku

Judul buku                  : Vegetarian (Novel Pemenang Man Booker International Prize)

Penulis                         : Han Kang

Penerjemah                 : Dwita Rizki

Penerbit terjemahan    : PT. Bentara Aksara Cahaya

Tahun terbit                 : 2021

Tebal buku                  : 221 halaman

Erik “koesang”, ilustrator favorit saya, langsung melintas dibenak saya sepanjang membaca novel 221 halaman ini. Ilustrasi erik sedikit banyaknya membuat saya dapat membayangkan bagaimana Young Hye memandang dirinya dalam keterasingan yang tak kita pahami. Eka kurniawan benar, novel ini bukan perihal vegetarian, tapi kisah tragis yang mencekam yang membuat kita tak mau melepaskan kata demi kata dibuku ini. Saya tidak bisa men-skip bahkan melewati satu dua kata saja dalam buku ini. Meski ”hanya” 221 halaman, percayalah, buku ini seperti spon yang membuatmu ikut meresap kedalamnya.

Adalah Young Hye, seorang wanita muda yang menjalani kehidupan sederhana di tengah hiruk-pikuk Kota Seoul. Namun, kehidupannya yang tampak biasa itu berubah drastis setelah ia dihantui oleh mimpi-mimpi kelam tentang pembantaian hewan. Mimpi-mimpi itu menanamkan kegelisahan mendalam dalam dirinya, hingga ia memutuskan untuk berhenti makan daging, sebuah langkah yang begitu tabu dalam budaya Korea. Keputusannya, yang seolah menjadi bentuk pemberontakan senyap, memicu kegelisahan orang-orang di sekitarnya. Perubahannya yang tiba-tiba ini membuat suami dan keluarganya ikut campur dan memaksanya untuk ”sadar”. Sang ayah yang sangat keras dan sering memukulnya sejak kecilpun juga mengayunkan tangan menamparnya di depan semua keluarga setelah sebelumnya menjejalkan daging ke mulut perempuan yang tak berdaya itu. Alih-alih mendukung, mereka berusaha memaksakan pandangan mereka, hanya untuk membuat Young Hye semakin menarik diri, tenggelam dalam dunianya yang penuh luka dan perlawanan yang tak terucap. Ya, Young membalasnya dengan pemberontakan. Pemberontakan yang berwujud semakin aneh dan menakutkan. Secara perlahan, ia terjerumus jauh dalam ke dalam dunia fantasinya, berharap bisa sepenuhnya melampaui batasan-batasan kedagingannya.

Dan ada kakak ipar Young Hye, suami ”eonni”nya. Seorang seniman yang tergila-gila dengan tanda lahir biru adik iparnya dan membuat Young Hye menjadi model ”karya”nya. Juga sang kakak, In Hye. Sosok yang paling bersimpati pada sang adik. Meski In Hye juga bergelut dengan depresi dan kesehatan mentalnya sendiri.

Alur cerita dalam novel ini cukup membuat saya “terganggu” dan tergagu. Bagaimana bisa dunia tokoh-tokoh ini digambarkan dengan begitu apik sehingga saya sendiri tercenung dan tidak tau akan berkata apa-apa jika diminta menjelaskannya. Suasana dalam kisah ini seolah tenang, namun mencekam, penuh keputusasaan yang menakutkan dan menghipnotis. Kompas memang benar, bagi penggemar Haruki Murakami, siap-siaplah memiliki idola baru, Han Kang.

Deep Learning: Langkah Baru Pendidikan Menuju Indonesia Emas

 

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, kerap menyebut pendekatan Deep Learning. Dalam berita di Tempo, 31 Desember 2024, beliau menyampaikan bahwa Deep Learning akan diintegrasikan ke dalam Kurikulum Nasional. Pertanyaan yang muncul: Apa itu Deep Learning? Apakah ini kurikulum baru? Atau malah tanda akan adanya perubahan kebijakan lagi? Sebelum kita melompat pada kesimpulan, mari kita ulas lebih mendalam. 

Pada 10 Desember 2024 lalu, Prof. Dr. Din Wahyudin, MA, salah satu mentor saya di Universitas Pendidikan Indonesia, membagikan catatannya dari FGD "Deep Learning" di BSKAP Kemdikdasmen (28-30 November 2024). Diskusi ini ditindaklanjuti dengan webinar oleh HIPKIN dan Prodi Pengembangan Kurikulum UPI pada 30 Desember 2024. Setelah itu, saya sempat berdiskusi dengan Dr. Laksmi Dewi, M.Pd, Kepala Puskurjar, yang menjelaskan bahwa Deep Learning bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan untuk memperkuat implementasi kurikulum, dan naskah akademik Deep Learning sedang dalam tahap editing.

Memahami Deep Learning

Dalam file final paparan Deep Learning yang dibagikan oleh Purkurjar, dijelaskan bahwa Pendekatan Deep Learning berfokus pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Tiga elemen ful ini terintegrasi dalam empat aspek pembelajaran: olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik). Hasil akhirnya adalah profil lulusan dengan delapan dimensi esensial, memperkaya 6C dari keterampilan abad 21: Pertama, Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME. Lulusan adalah individu yang memiliki keyakinan yang kuat akan keberadaan Tuhan dan berpegang pada nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, Kewargaan. Lulusan adalah individu yang memilki rasa cinta tanah air, mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki kepedulian, tanggung jawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan. Ketiga, Penalaran Kritis. Profil individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah. Keempat, Kreativitas. Menjadi individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat. Kelima, Kolaborasi. Individu yang mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab. Keenam, Kemandirian. Individu yang mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain. Ketujuh, Kesehatan Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, sehat, dan mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (well-being). Kedelapan, Komunikasi. Individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi.

Kedelapan profil lulusan ini, dihasilkan dari suasana belajar dan proses pembelajaran yang mindful, meaningful dan joyful (3 Ful). Mindful (Berkesadaran), peserta didik menyadari tujuan belajar, memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri dan aktif mengelola proses belajarnya. Meaningful (Bermakna), pengetahuan dapat diaplikasikan dalam konteks nyata. Joyful (Menggembirakan), suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.

Ada Tiga Tahap Pengalaman Belajar yang didapatkan peserta didik melalui pendekatan ini : Pertama, Memahami. Tahap awal peserta didik pengalaman belajar yang dilalui peserta didik adalah aktif mengkonstruksi pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks. Pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan esensial (foundational knowledge), pengetahuan aplikatif (applied knowledge), dan pengetahuan nilai dan karakter (humanistic knowledge).. Kedua, Mengaplikasi. Menghubungkan teori dengan praktik nyata. Pengalaman belajar yang menunjukan aktivitas peserta didik mengaplikasi pengetahuan dalam kehidupan secara kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh oleh peserta didik melalui pendalaman pengetahuan (extending knowledge). Ketiga, Merefleksi. Proses di mana peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. Tahap refleksi melibatkan regulasi diri (self regulation) sebagai kemampuan individu untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap cara belajar mereka.

Kerangka Sistem dalam Deep Learning Pendekatan ini dibangun atas empat pilar: Pertama, Praktik Pedagogis, strategi pengajaran yang fokus pada pengalaman autentik. Kedua, Lingkungan Pembelajaran, integrasi ruang fisik, virtual, dan budaya belajar. Ketiga, Pemanfaatan Teknologi Digital, memaksimalkan interaksi dan kolaborasi. Keempat, Kemitraan Pembelajaran, kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan komunitas.

Mewujudkan Ekosistem yang Mendukung

Untuk mencapai hasil optimal, dibutuhkan ekosistem pembelajaran yang kolaboratif, melibatkan semua pemangku kepentingan: pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, serta dunia usaha. Guru pun bertransformasi menjadi Activator, Collaborator, dan Culture Builder. Dengan pendekatan ini, kita dapat menciptakan pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.

Implementasi pendekatan deep learning pada pembelajaran tentunya butuh banyak tahapan. Sosialisasi kepada semua stakeholder, identifikasi dan pemenuhan kebutuhan sumber daya, uji coba dalam lingkup terbatas, evaluasi hasil dan perbaikan sistem, baru kemudian penerapan Deep Learning secara luas. Dan terakhir perlu dilakukan refleksi dan tindak lanjut untuk perbaikan selanjutnya.

Untuk memastikan keberhasilan implementasi, guru sebagai ujung tombak pembelajaran mustilah ditingkatan kompetensinya. Bagaimana caranya? Pertama, dengan malaksanakan program pelatihan terintegrasi, pendampingan, atau pembimbingan tentang pendekatan deep learning. Kedua, dengan penyelenggaraan program pendidikan profesi guru (PPG) untuk memberikan bekal pendidikan dan pelatihan Deep Learning. Ketiga, menambahkan bimbingan konseling, pendidikan nilai, dan pola pikir bertumbuh (growth mindset) dalam muatan kurikulum PPG dan pelatihan guru lainnya.

Bagi perguruan tinggi yang mencetak para pendidik, juga perlu perlu dibuat tes seleksi yang terstandar untuk mengukur kemampuan akademik, minat dan bakat calon mahasiswa yang akan menjadi guru. Mahasiswa calon guru diseleksi secara ketat dengan kriteria minat dan kecintaannya serta kemampuan akademik yang dilakukan secara nasional oleh LPTK yang menyelenggarakan PPG. Kementerian juga perlu menggandeng komunitas-komunitas belajar, dan dewan pendidikan.

Deep Learning dalam Perspektif Global

Secara konsep, pendekatan Deep Learning sangat baik dan telah terbukti secara empiris di beberapa negara. Salah satunya adalah Finlandia, yang dikenal dengan sistem pendidikan unggulnya. Finlandia berhasil menerapkan prinsip pembelajaran mendalam melalui integrasi pendekatan lintas disiplin, penekanan pada kolaborasi, serta penggunaan teknologi digital secara optimal. Hasilnya, peserta didik tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan berinovasi yang mumpuni. Hal serupa juga diterapkan di Singapura, di mana Deep Learning membantu siswa membangun koneksi antara teori dan praktik melalui proyek-proyek berbasis masalah.

Sebagai seorang pendidik, saya melihat Deep Learning sebagai pendekatan yang mampu menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21. Merujuk pada skor PISA 2018, menunjukkan Kemampuan HOTS siswa Indonesia masih rendah. Rendahnya tingkat keterampilan berpikir HOTS (higher order thinking skills) di kalangan siswa mencerminkan rendahnya kualitas pembelajaran yang dijalankan di sekolah-sekolah. Data PISA mencatat bahwa skor perolehan dalam membaca hanya 371, Matematika 379 dan Sains 396. Masih berada di bawah ambang batas 400, setara dengan level 2-3. Siswa Indonesia hanya bisa menjawab materi Level 1-3 saja (lower order thinking skills = LOTS), sementara siswa negara lain sudah sampai Level 4-6 (higher order thinking skills = HOTS). Dan Pendekatan Deep Learning secara konsep berfokus pada higher-order thinking skills (HOTS). Hal ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan kita yang masih membutuhkan perjalanan panjang dapat kita jalani dengan “mengendarai” deep learning ini.

Filosofi Deep Learning

Pendekatan Deep Learning sejatinya sejalan dengan filosofi pendidikan Indonesia, khususnya filosofi K.H. Ahmad Dahlan dan filosofi Ki Hajar Dewantara. Pendidikan mustilah berlandaskan tujuan hidup, membentuk manusia yang tidak sombong, gigih belajar, dan tuntas berkarya. Membentuk anak bangsa yang dapat mengoptimalkan akal untuk kebenaran sejati, berani menegakkan kebenaran, berbuat untuk kemanusiaan, mengamalkan ilmu agama dengan kualitas tinggi dan menjadikan pendidikan sebagai alat perubahan sosial menuju masyarakat berkemajuan. Filosofi ini juga menggemakan prinsip pendidikan holistik, di mana pembelajaran tidak hanya mengembangkan intelektual, tetapi juga etika, estetika, dan fisik secara terpadu. Dengan demikian, pendekatan ini dapat menghidupkan kembali semangat "sistem among" yang mengutamakan asah, asih, dan asuh dalam proses pendidikan.

Konsep ini menekankan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada hasil akademik, tetapi juga membebaskan peserta didik untuk mengeksplorasi potensi diri mereka secara maksimal. Dalam pendekatan Deep Learning, peserta didik diajak untuk tidak sekadar memahami materi, tetapi juga memaknainya dalam konteks nyata dan relevan dengan kehidupan mereka.

Mendukung Indonesia Emas 2045

Dalam konteks Indonesia, implementasi Deep Learning sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia unggul. Dengan memanfaatkan pendekatan ini, Indonesia dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Profil lulusan berbasis delapan dimensi esensial dari Deep Learning akan memperkuat daya saing bangsa di tengah perubahan global yang cepat. Dengan ekosistem pembelajaran yang didukung teknologi dan kolaborasi lintas sektor, kita optimis visi Indonesia Emas dapat terwujud.

Pendekatan Deep Learning ibarat jembatan menuju impian besar kita: menciptakan generasi yang tidak hanya unggul di atas kertas, tapi juga tangguh menghadapi dunia nyata. Dengan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful, kita tidak hanya mencetak lulusan, tetapi manusia seutuhnya, -mereka yang berpikir kritis, kreatif, penuh empati, dan siap menghadapi tantangan global.

Pendidikan adalah "labor" mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Di tangan generasi mendatang, tersimpan harapan kita untuk melihat Indonesia menjadi bangsa yang tak hanya maju, tetapi juga bermartabat di panggung dunia. Dan Dengan Deep Learning, Indonesia dapat melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045 dengan optimisme dan percaya diri.

DESEMBER

 

Bagi saya, Desember adalah bulan yang selalu terasa istimewa -lebih seperti sebuah hari raya. Setiap kali Desember tiba, perasaan saya bercampur aduk. Ada kegembiraan, harapan, sekaligus keheningan yang mengajak saya merenung. Lahir di akhir bulan, di penghujung tahun, membuat saya terbiasa melakukan “itung-itungan” tentang apa saja yang telah terjadi selama setahun ini. Membuat saya merefleksi dan mengkaleidoskop perjalanan saya kembali.

Rasanya seperti baru kemarin tahun 2024 menyapa, dan sekarang, hanya menghitung hari hingga tahun berganti lagi. Tentu saja, saya tidak berani berkata bahwa "tahun ini berlalu begitu saja." Tidak. Bagaimana mungkin saya mengatakan itu, ketika setiap dari 356 hari ini terisi dengan begitu banyak cerita, pengalaman, dan pelajaran? Hari-hari itu tidak sekadar berlalu, mereka adalah perjalanan yang saya tempuh dengan keberanian, meskipun tidak selalu mudah. Dan Desember bagi saya bukan sekadar penutup tahun, tetapi sebuah panggung refleksi untuk melihat kembali bagaimana saya bertahan, tumbuh, dan berbahagia.

Kalianpun akan merasa begitu juga bukan? Siapa bilang tahun berlalu begitu saja, saat hari-hari kita penuh dengan drama. Bagi ibu rumah tangga seperti saya, hari-hari itu berlalu dengan padat. Bagun sebelum seisi rumah terjaga. Nyuci piring yang tak terhitung kalinya. Mabok dengan cucian, jemuran dan sterikaan. Belanja, foodprep, masak, agar anak bisa makan enak dan bergizi tiga kali sehari. Nyapu, ngepel, nguras bak mandi, daaaaaaan ”pekerjaan sebanyak bulu kucing” -seperti yang ibu saya dulu katakan- menunggu penyelesaian dari kita hari demi hari. Status Ibu rumah tangga yang sering kali dicap ”Tidak Bekerja” itu, aiiiih, kalian lanjutkan saja narasinya!

Ulang tahun saya hanya selisih satu hari dengan hari ibu. Karena itu refleksi atas usia dan status saya sebagai ibu, membuat air mata saya merebak sepanjang mengetik tulisan ini.

Sebagai Mita, yang hari ini genap berusia tiga puluh lima tahun, saya ingin menatap cermin kehidupan dengan penuh syukur. Saya yang berdiri di depannya hari ini adalah versi terbaik dari diri saya -bukan karena tanpa cacat atau sempurna, tetapi karena saya terus berusaha menjadi lebih baik. Bagi saya, ulang tahun artinya membuka bab selanjutnya dalam buku kumpulan cerita hidup saya. Esok akan ada hal-hal dan tantangan baru, dan saya tentu saja akan terus mengusahakan untuk menjadikan Mita di masa depan sebagai versi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih bahagia.

Tahun ini telah menjadi guru terbaik bagi saya, mengajarkan banyak hal berharga tentang hidup dan kebahagiaan sederhana. Saya belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil yang sering terlewat dalam hiruk-pikuk rutinitas menjalani peran saya -seperti kehangatan secangkir teh di pagi hari, atau momen-momen sederhana saat hati saya berbunga dan bahagia ngefansgirl sebagai Army -Oiya, V bias saya di BTS juga berulangtahun selang seminggu setelah ini. Ada juga kebahagiaan sederhana dari menonton drama Korea atau drama Cina favorit saya, hingga tawa lepas anak dan suami saya saat mereka asyik bermain game bersama.

Hal-hal kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi mereka adalah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang besar. Kebahagiaan justru sering hadir di sela detik-detik kehidupan yang biasa dan sederhana. Tahun ini, saya belajar bahwa merayakan momen-momen seperti itu adalah cara terbaik untuk mencintai hidup dan diri sendiri. Enjoy the little things, seperti tulisan dihelm saya 😅

Saya juga belajar merayakan setiap pencapaian, besar ataupun kecil, karena bagi saya, setiap langkah yang saya tapaki layak untuk dihargai dan dirayakan. Saat gagal, tentu saja saya harus berdamai. Sebab meskipun gagal, artinya saya sedang berproses.

Berusaha menjadi Mita yang bahagia, bukan karena segalanya selalu berjalan mulus, tetapi karena saya memilih untuk fokus pada hal-hal yang bisa saya kendalikan. Hidup, seperti air yang mengalir, tak selalu jernih atau tenang. Namun, jika masih bisa "baminyak aia” tentu saya hanya akan menampilkan yang baik-baiknya saja.

Pun tidak semua hari dipenuhi pelangi. Ada saat-saat di mana hujan deras membasahi hati saya. Sepanjang tahun ini, saya telah bekerja keras, untuk keluarga, untuk impian, dan untuk diri saya sendiri. Jadi, di usia ini, saya akan berterima kasih pada diri sendiri: Sugohaesseo, Mita. Kamu telah melakukannya dengan baik. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah percaya bahwa hidup ini, meskipun tidak sempurna, tetap indah untuk dijalani.

Sebagai seorang “ibu”, sering kali saya bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana sebenarnya saya bisa mengukur peran ini?" Apakah ada alat atau metode yang cukup valid untuk mengevaluasi perjalanan saya sebagai seorang ibu? Atau, lebih jauh lagi, apakah layak seorang ibu dihakimi dengan label "berhasil" atau "gagal"? Lalu, apa indikator keberhasilan itu? Apakah ketika anak makan tiga kali sehari dengan lahap, saya bisa berbangga hati sebagai ibu yang sukses? Atau mungkin ketika rapor sekolah menunjukkan anak saya jadi sang juara kelas, saya bisa menyematkan medali tak kasatmata untuk diri saya sendiri?

Refleksi ini sering kali terasa seperti labirin -berliku dan penuh keraguan. Menjadi ibu bukanlah soal mencapai standar tertentu, melainkan sebuah perjalanan yang penuh dengan cinta, dan pembelajaran. Ada saat-saat di mana saya merasa puas karena telah memberi yang terbaik, tetapi di lain waktu, bayangan keraguan itu muncul, mempertanyakan apakah yang saya lakukan sudah cukup.

Namun, semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa menjadi ibu adalah tentang kehadiran, bukan kesempurnaan. Anak saya mungkin tidak akan mengingat apa saja yang sudah saya belikan untuknya, tetapi ia akan mengingat kecupan dan pelukan hangat setiap harinya. Ia mungkin tidak mencatat seberapa sehat menu makannya, tetapi saya yakin ia akan selalu mengingat kebahagiaan saat saya menyajikan makanan kesukaannya bahkan kadang menyuapinya.

Mungkin, menjadi ibu tidak perlu dinilai seperti itu. Tidak ada satu pun anak yang lahir dengan buku manual, dan tidak ada ibu yang dilengkapi dengan sertifikat kompetensi. Keibuan adalah perjalanan yang tak memiliki akhir, sebuah hubungan yang terus berkembang, penuh dengan ketidaksempurnaan yang justru membuatnya menjadi sempurna.

Di penghujung tahun ini, saya juga ingin menyematkan harapan sederhana untuk diri saya sendiri. Tidak perlu yang muluk-muluk, hanya ingin terus menjadi Mita yang tidak takut mencoba. Mita yang lebih baik, lebih hadir, dan lebih tulus dalam menjalani setiap peran. Kalau bisa, Mita yang lebih rajin olahraga, lebih sering menabung, dan lebih kaya sehingga nggak perlu numpuk wishlist tanpa check out di keranjang belanja online. Tapi, yah, kita lihat nanti, ya! Yang penting, setiap langkah di tahun depan, saya ingin menjalaninya dengan keberanian yang sama seperti tahun ini.

Desember selalu punya tempat istimewa di hati saya. Ada sesuatu yang berbeda dengan bulan ini, suasana akhir tahun yang tak mampu saya bahasakan dengan baik, seperti teman lama yang datang membawa cerita-cerita hangat. Meski tidak ada salju di sini, hawa Desember selalu punya caranya sendiri untuk membuat hati saya penuh. Mungkin karena di bulan ini, saya selalu diingatkan akan waktu, akan bagaimana saya bertumbuh, dan bagaimana hidup ini terus berjalan.

Dan, bicara tentang waktu, saya juga ingin mengangkat topi untuk semua ibu di luar sana. Peran kita memang sering kali tidak terlihat, bahkan dianggap remeh. Tapi siapa pun yang pernah menjalani hari-hari penuh pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dan tetap mencoba waras dan menjadi versi terbaik dirinya pasti tahu, tidak ada pekerjaan yang lebih berat daripada ini. Jadi, untuk kita semua, ibu-ibu hebat, mari bertepuk tangan untuk diri kita sendiri. Kita pantas untuk itu!

Anak saya, tanpa dia sadari, sering kali menjadi guru kehidupan saya. Dari senyum polosnya, saya belajar bahwa kebahagiaan itu sederhana. Dari pertanyaannya yang kadang tak terduga, saya diingatkan untuk melihat dunia dengan penuh rasa ingin tahu. Dan dari celotehan dan argumen-argumennya saat menjawab perkataan saya, saya belajar bahwa saya harus melembutkan suara, harus masuk akal memberi jawaban, karena saya sedang berhadapan dengan fotokopi diri saya sendiri. Ia tidak hanya mengisi hari-hari saya, tetapi juga menguatkan alasan saya untuk terus maju, belajar dan bertumbuh.

Oh, dan kalau ada yang berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga itu monoton, percayalah, drama rumah tangga kami cukup untuk membuat serial Netflix. Ya, hidup ini tidak pernah membosankan!

Dengan semua itu, saya tahu, tahun ini bukan hanya tentang apa yang telah saya capai, tetapi juga tentang bagaimana saya bertahan, tertawa, dan belajar. Sugohaesseo, Mita. Kamu sudah melakukannya dengan baik. ❤️

The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Cukup

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry. Seka...