TERIMA KASIH TELAH ADA

Di usia saya sekarang ini, salah satu hal yang sangat saya syukuri adalah punya seorang Bestie mini yang bikin saya merasa “hidup” setiap harinya. Gadis tujuh tahun yang sangat sempurna, tentu saja sempurna versi saya. Suka bereksperimen tepung dan slime, suka pake kerudung berlapis-lapis dan melenggok-lenggok bak model, yang kalau dia bercerita tentang kejadian di sekolah bikin saya memandangnya dengan takjub dengan gaya bercerita dan kalimat-kalimat yang dia gunakan.

Yang setiap mau pergi sekolah, ngaca dulu di kamar ngerapiin kerudung dan ngaca lagi di kaca spion pas nyampe pagar sekolah. Si ketua dan juara kelas yang suka menggambar karakter-karakter random. Terakhir kemaren dia menggambar karakter kelinci dengan nama Lala si kelinci. Yang suka menamai kucing dengan nama-nama unik; sontoka, alampah, jepitbelitu dan lain-lain. Doi juga mulai jago ngegame, cerita skin inilah, skin itulah, dan juga sering banget kesel karena nggak bisa jawab game ngasah otak kayak Brain out.

Yang so sweet nomor 1, yang selalu memeluk dan minta dipeluk setiap bangun pagi, pulang sekolah, setelah makan siang, setelah Bunda sholat ashar dan malam sebelum tidur. Yang selalu bilang, “ciuman Bunda itu krim wajah buat Ea”. Yang nggak peduli waktu untuk selalu bilang “Ea sayang Bundaaaa..”, “Bunda alam semesta Ea..”.

Putri cantik yang selalu bikin meleleh.

            Padahal sebenarnya dialah Semesta saya. Poros yang membuat saya dapat “berputar” dengan stabil.  Alasan atas semua hal baik yang selalu ingin saya lakukan setiap hari. Jawaban atas segala pertanyaan saya tentang kenapa saya harus melakukan ini dan berbuat itu.

            Anak adalah anugerah dan titipan terbaik dari Tuhan. Kalau bawa-bawa Tuhan nih ya, beuuh, abis perkara. Nggak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Anak adalah titipan Tuhan, dan Tuhan nggak bakal nitipin yang nggak baik buat kita. Si jari kecil yang kita gandeng kemana aja saat ini, akan menjadi anak sholeh dan sholehah yang do’a-do’anya kelak akan menjadi penolong kita saat meninggal dunia nanti.

Bikin stress? Iya bener, kadang emang bikin stress, tapi kadang juga bikin ketawa kayak orang-orang “stress”. Apa imbalannya ngurus dan ngedidik anak? S U R G A. Tujuan akhir dari perjalanan singkat kita di dunia.

Karena itu, setiap memeluknya, saya akan selalu membisikkan do’a-do’a dan berterima kasih padanya. “Terima kasih telah ada, Zea. Terima kasih telah menjadi anak Bunda”.

Teman-teman yang belum memiliki buah hati, semoga Allah SWT segerakan dapat menimang mereka ya. Dan yang udah punya, semoga Allah SWT memudahkan kita dalam merawat, mendidik dan membersamai mereka hingga kita tua dan berkeriput.


           Anak bukan beban, mereka adalah teman seperjalanan.




FILOSOFI TERAS: Sebuah “Obat” Untuk Tetap “Waras”

 

Saat mulai mengetik untuk membahas buku ini, jantung saya berdebar-debar. Darimana saya harus memulainya? Apa tulisan ini akan berbentuk review formal seperti tugas mereview buku saat saya kuliah dulu, atau menulisnya dalam bentuk cerita atau storytelling saja?

Dibilang ringan, nggak, buku ini nggak seringan bacaan buku puisi yang saya baca tempo hari atau kumpulan cerpen yang bikin saya tersenyum puas saat menyelesaikan bacaan saya beberapa waktu saja. Dibilang berat, nggak juga. Meski ini buku yang membahas filsafat, tapi nggak serumit imej yang kita bayangin tentang filsafat loh. Buku ini lugas, dengan bahasa yang mudah dipahami kaum milenial, dengan bahasa yang “dekat” dengan kita.

Jadi, yuk mari. Kita bercerita tentang buku keren ini.

Satu hal yang paling saya syukuri tahun lalu, adalah bertemu dengan buku ini. Bahkan saya sempat mikir, kenapa baru sekarang sih ketemu buku yang kayak gini. Yaa..tapi balik lagi, mungkin jalannya emang begitu, scenario tuhan-nya ya begitu.

Setiap membaca buku, saya selalu mengawalinya dengan membaca pengantar pengarangnya. Alasannya sederhana, saya ingin tahu dan melihat dulu sudut pandang atau latar belakang penulisnya kenapa dia bikin buku ini dan kenapa dengan berani menyebarluaskan “isi kepalanya”. :D

Buku ini berawal dari kondisi medis penulis yang mendapati dirinya didiagnosis “Major Depressive Disorder”. Bahasa kerennya “Depresi”.

Sebelum menemui psikiater, ternyata penulis sudah mendapati dirinya adalah seorang pribadi yang penuh negative thinking dan overthinker parah. Kalau kalian adalah tipe orang yang sama, kalian tau pasti bahwa orang tipe ini nggak mudah atau nggak cocok dengan sekedar ajakan, “ayo doong positive thingking aja, pikirin yang bagus-bagusnya aja”. Nggak, nggak bisa. Nggak bisa merubah pikiran negatif menjadi pikiran positif kayak nyalain saklar lampu. Tik tak tik tak. Nggak.

Lanjut ya, ceritanya. Nah, sesudah mendapat diagnosis tadi, si penulis kemudian diberi terapi obat-obatan. Dan terbukti efektif. Karena masalah kesehatan mental memang bisa dipengaruhi oleh gangguan kimia di otak. Artinya, saat depresi, obat-obatan modern bisa membantu. Namuuuun, penulis ingin dirinya terlepas dari pengobatan itu. Tanpa disangka, ketemulah dia dengan filosofi teras. Dia menemukan buku How to be a stoic karya Massimo pigliucci di sebuah toko buku.

Dia pun menemukan “terapi obatnya” sendiri. Terapi obat dari psikiater otomatis berhenti lebih awal. Dan karena buku tentang filosofi teras ini belum banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia, sehingga penulis merasa bahwa dia harus membagikan “obat” ini juga kepada sesama anak bangsa. Berharap buku ini bisa bisa membantu pembaca menemukan hidup yang lebih tenang, lebih bahagia, bebas dari kekawatiran dan kecemasan tentang hidup.

Yuk lanjuuut!


Khawatir

Hidup dan khawatir, bagai dua sisi mata uang yang saling nempel satu sama lain. Ya karena kita tau, bahwa hidup kita penuh dengan ketidakpastian, makanya kita hidup dengan mengkawatirkan banyak hal.

Siapa sih yang nggak pernah kawatir di dunia ini. Semua kita mengalaminya. Sejak kecil, khawatir mengintil sejauh manapun kita “berjalan”. Saat memecahkan gelas, khawatir ibu marah, mau ujian khawatir nilai jelek, nggak mau ikut ajakan teman, khawatir si teman nggak mau temanan lagi. Mau kuliah, khawatir nggak lulus dijurusan idaman, udah kuliah khawatir dosen galak, biaya kuliah dan sebagainya, udah jadi orang tua, khawatir perihal anak, finansial dan bejibun kekhawatiran lainnya. Nggak bakal habis ampe kita jadi debu.

Nah, si khawatir yang nggak mau pisah dengan kita ini, -yang bikin galau, susah move on, bikin kita baperan- harus kita kasih pagar pembatas, biar nggak melewati batas yang bakal bikin mental kita jadi nggak sehat.

Caranya gimana? Caranya kita musti punya mental yang tangguh dalam menghadapinya.

Trus cara punya mental yang tangguh gimana? Salah satunya punya fondasi filosofis yang kuat.


Mahluk Filsafat

Sebagai makhluk yang dibekali akal pikiran, perasaan dan kesadaran, pencarian manusia akan hakikat dirinya tak ada habisnya.  Bejibun penelitian sains tentang fisik dan psikis dilakukan untuk mengetahui semua hal tentang “apa, siapa dan bagaimana” manusia itu sendiri.

Kegiatan berpikir, merasa dan menyadari dapat dilakukan oleh semua orang dalam rangka menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu proses berpikir atas pencarian manusia akan dirinya dilakukan melalui metode filsafat.

Banyak dari kita berasumsi bahwa filsafat identik dengan renungan mendalam dan terkesan rumit. Kita diajari bahwa berpikir filsafat berarti berpikir secara radikal, konseptual, koheren dan konsisten, sistematik, serta integratif. Terkesan rumit sekali.

Padahal pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berfilsafat. Karena dengan berpikir filsafat membuat manusia memiliki pengetahuan yang mendalam dan bermakna. Saat berhadapan dengan kenyataan kehidupan, entah itu baik atau buruk, menyenangkan atau menyedihkan, individu yang berfilsafat dapat menemukan sebuah “kenyataan” lain dibalik fenomena yang dilihat dan dialaminya.

Prasangka kita akan rumitnya filsafat, bisa jadi disebabkan kitanya yang salah dalam mempelajari filsafat, atau salah mendapatkan guru filsafat. Sehingga kesannya kita alergi dengan kata filsafat itu. Apaan sih, berfilsafat segala, sok filosofis deh lo! Hehe.

Namun buku yang akan saya review kali ini akan membuka kembali pikiran kita dalam memaknai filsafat dan “menemukan” diri kita lewat filsafat itu sendiri.


Filosofi teras

Kali pertama saya mendengar nama filsafat ini, saya bingung. Teras? Pikiran saya mentok pada teras rumah tempat kita menghabiskan waktu sore hari menikmati teh atau bergurau dengan teman sambil mengomentari orang lewat. :D. Sebatas itu pemahaman saya tentang teras. Lalu apa hubungannya filsafat dengan teras? Bukannya filsafat itu mengacu pada aliran-aliran pemikiran seperti perenialisme, esensialisme, progresivisme, rekonstruksionime dan isme-isme lainnya? Lah teras? Saya belum pernah dengar filsafat terasisme nih. Sekali lagi, hehe.

Ternyata kata teras ini diterjemahkan dari bahasa yunani, stoa. Stoa berarti sebuah teras yang berpilar. Seorang filsuf mengajarkan filosofinya di sebuah teras berpilar yang terletak di sisi Utara dari agora (tempat publik yang digunakan untuk berdagang dan berkumpul). Semacam nongkrong, ngobrol-ngobrol di alun-alun Kota Athena. Sejak itu pengikutnya dinamakan kaum stoa dan ajarannya disebut stoisisme. Dan untuk memudahkan penyebutan, penulis buku ini memutuskan menerjemahkan stoa sebagai teras. Dan jadilah Filosofi teras seperti judul buku ini. Gituuuu…!

--------------------------

            Buku ini diawali dengan sebuah hasil survey online dengan 3.634 responden, tentang tingkat kekhawatiran mereka pada beberapa aspek hidup yang dirasa relevan seperti sekolah/studi, relationship, pekerjaan/bisnis, sampai topik kondisi sosial politik di Indonesia. Karena pikiran dan kesehatan tubuh memiliki hubungan dua arah yang saling memengaruhi, maka bab ini juga memuat wawancara dengan seorang spesialis kesehatan jiwa yang tergabung dalam Academy of Psychosomatic Medicine (USA), Dr.Andri, Sp.KJ, FAPM.

Buku ini memuat 13 bab. Mulai dari Survei Khawatir Nasional hingga Mempraktikkan Filosofi Teras.

Filosofi teras bermula dari kejadian naas yang menimpa seorang pedagang kaya dari Siprus bernama Zeno, 300 tahun sebelum masehi. Ya kira-kira 2.300 tahun yang lalu. Kapal yang membawa si pedagang beserta barang-barang berharganya ini karam. Si Zeno kehilangan kekayaannya plus terdampar pula di Athena. Sehingga ia luntang-lantung di kota yang bukan rumahnya.

Jadi suatu hari, dia pergi ke toko buku dan ketemu sebuah buku filsafat. Terus dia nanya ke pemilik toko buku dimana kira-kira dia bisa ketemu para filsuf yang nulis buku filsafat itu. Kebetulan, lewat Crates, seorang filsuf dan Zeno pun belajar filsafat darinya. Singkat cerita, pak Zeno ini belajar filsafat pada banyak filsuf. Sampai disuatu waktu dia ngajar filosofinya sendiri. Ngajarnya di teras berpilar yang terletak di sisi Utara Agora (tempat publik yang digunakan untuk berdagang dan berkumpul). Nah, dulu pengikutnya pak Zeno ini, disebut Zenonian. Kemudia seiring waktu mereka menjadi orang-orang stoa.

Inti ajaran stoisisme ini adalah ajakan untuk selaras dengan alam dan manusia. Eits, tapi perlu diingat, bahwa alam yang dimaksud disini bukan hanya alam lingkungan “jangan pakai sedotan plastik”, “daur ulang”, atau perihal “jangan buang sampah sembarangan”. Tapiii, alam secara keseluruhan. Totalitas, Cosmos dan seluruh kehidupan yang ada. Bagi kaum stoa, selaras dengan alam berarti selaras dengan Tuhan, juga selaras dengan manusia yang artinya harmonis dengan orang lain. Stoa mengajarkan selaras dengan alam itu harus menggunakan nalar.

Pemikiran punya posisi “kunci” dalam filsafat ini. Cara untuk selaras dengan alam, adalah “pakailah nalarmu”. Banyak masalah dalam hidup manusia, baik itu pertengkaran, kekhawatiran, kecemasan, julid di medsos, baper, cepat panik, marah-marah liat postingan, atau apapun itu, akarnya adalah dari tidak menggunakan nalar.

Jadi tujuan utama kita untuk belajar tentang filosofi teras ini, ya supaya kita bisa hidup bebas dari emosi negative. Hidup yang cuma sekali ini bisa lebih tentram, kita jadi mampu mengambil keputusan terbaik dalam situasi apapun, kita jadi lebih adil dan jujur memperlakukan orang lain, kita jadi lebih berani dan mampu menahan diri. Intinya, jadi lebih BAHAGIA.


Dikotomi Kendali

Stoisisme percaya dalam hidup ini, ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak. Tindakan dan opini orang lain misalnya. Tidak bisa kita kendalikan, sebaliknya respon dan sikap kita atas tindakan dan opini orang tersebut, bisa kita kendalikan.

Intinya, kita tidak bisa memilih situasi kita, tetapi kita selalu bisa menentukan sikap (attitude) kita atas situasi yang sedang kita alami. Karena sikap dan persepsi kita “ada sepenuhnya di bawah kendali kita”.

Lalu nanti dari dikotomi kendali menjadi trikotomi kendali. Ada hal-hal yang bisa kita kendalikan, ada yang sebagian bisa kita kendalikan dan ada yang nggak bisa kita kendalikan.

Menurut filosofi ini, KEBAHAGIAAN sejati kita, hanya bisa datang dari “things we can control”, hal-hal yang di bawah kendali kita. Sebaliknya, kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian sejati kita pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Terus kita harus pasrah aja gitu? BIG NO.

Analoginya gini, ada seekor anjing yang lehernya terikat ke sebuah gerobak. Saat gerobak ini bergerak, si anjing punya dua pilihan. Ngotot pergi berlawanan arah, dengan resiko bakal ngos-ngosan sampai tercekik, atau memilih ikut arah dan kecepatan gerobak, menikmati pemandangan, menggoda anjing-anjing lain, dan tetap merasa bahagia. Memang analoginya agak kasar ya, bukan maksud menyamakan manusia dengan si guguk.

Saya membawakan analogi ini pada diri saya sendiri. Memutuskan menjadi Ibu rumah tangga, yang kesehariannya di rumah, terkesan membatasi aktifitas saya diluar pekerjaan mengurus anak dan rumah tangga. Tapi saya punya pilihan. Mau bosan, kesel, sedih terkurung di rumah, merasa insecure dan berbagai perasaan negatif lainnya, atau memilih untuk menikmati “perjalanan” ini. Membersamai tumbuh kembang anak yang menakjubkan setiap harinya, memiliki waktu yang banyak untuk keluarga, memasakkan mereka makanan yang enak dan sehat, menjadi “guru plus assessor” dalam pendidikan anak, punya waktu lebih buat meningkatkan ibadah, juga bisa punya waktu nonton drakor favorit dan marathon Netflix. Bahkan bisa punya waktu juga untuk membaca dan mereview buku ini. Saya punya kendali dan pilihan atas situasi saya, dan tentu saja saya memilih yang kedua. BERBAHAGIA.

Dikotomi atau trikotomi kendali ini, juga bisa dipraktekkan dalam banyak situasi lainnya. Saat kita belajar keras untuk ujian, berlatih sebaik-baiknya untuk pertandingan dan sebagainya. Kita bisa memfokuskan energi dan kebahagian kita pada hal-hal yang ada dibawah kendali kita, dan tidak stress atau pusing dengan hasil yang diluar kendali kita. Saat hasil ternyata nggak sesuai dengan harapan kita, secara mental kita tidak terlalu terpuruk.

Hal ini juga memupuk sikap rendah hati kita. Mengakui bahwa outcome tidak ada di bawah kendali kita sepenuhnya juga penting saat kita menikmati keberhasilan. Saat sedang sukses, kita tidak terlena bahwa semua ini hasil “upaya saya sendiri”. Kesuksesan juga dipengaruhi oleh banyak faktor di luar kendali kita, jadi kita nggak sombong. Nggak terpuruk saat gagal dan nggak tepuk dada saat sukses. Gituuuu..!

Filosofi teras juga mengajarkan kita mengambil jeda untuk berdialog dengan diri sendiri. Ya nggak harus sampai semedi atau meditasi juga. Saat kita mendapati suatu hal yang nggak kita sukai atau yang bikin kita kesal atau marah, pertama sekali kita boleh kok punya emosi itu. Kita boleh kesel, merasa marah, merasa jengkel, boleh. Kita kesel sama komen-komen jahat haters misalnya, nggak apa-apa kita kesel. Itu manusiawi, itu nature kita sebagai manusia.

Tapi yang perlu kita lakukan saat kesel atau sebel itu adalah ngasih waktu ke diri kita untuk berpikir. Berdialog dengan diri kita sendiri. Hal ini bikin kita nggak reaktif, nggak jadi orang emosian. Filosofi teras akan ngomong sama kita “kalem, tenang”, kita nggak bisa ngendaliin mulut atau jempol orang lain. Tapi kita bisa ngendaliin reaksi, respon kita. Mau terus bales-balesan kata-kata menyakitkan, marah-marah tanpa ujung, atau kalem, senyumin aja.

Mental health banget kaaan..!

Itu baru sebagian “cuplikan” dari buku setebal 298 halaman ini. Masih ada pembahasan tentang mengendalikan interpretasi dan persepsi, memperkuat mental, hidup diantara orang yang menyebalkan, menghadapi kesusahan dan musibah, menjadi orang tua, citizen of the world, tentang kematian, dan mempraktikkan filosofi teras.

Pokoknya, buku ini must have item dan layak sekali untuk teman-teman baca. Karena emang sebagus itu untuk kesehatan mental kita. Meski berasal dari 2300 tahun yang lalu, tapi masih sangat relevan hingga tahun 2023 ini,  filosofi teras ini tuh timeless banget. Melintasi zaman dan sekat-sekat negara.

Yuk baca. :D

Rekomendasi Playlist Song dan Audiobook Akhir Pekan

 


Hollaaa….Pagiii…Apa kabar weekend ini bun?

Bisa nyantai istirahat atau malah pekerjaan rumah makin numpuk? πŸ˜…πŸ˜

Kadang ironi juga ya bun, weekend yang harusnya jadi waktu buat istirahat, malah makin banyak kerjaan. Cucian yang numpuk, setrikaan yang udah menggunung seminggu penuh, piring kotor yang memenuhi sink, lantai yang belepotan remah makanan, dan masiiiih banyak lagi kalau dipretelin satu persatu ya bun.

Yang kuat ya buuuun..

Tapi Alhamdulillaaaah..πŸ˜‡

Cucian dan setrikaan menumpuk, artinya kita punya banyak pakaian untuk dikenakan.

Masih bisa masak dan banyaknya piring kotor, artinya kita serumah punya cukup makanan untuk dinikmati.

Lantai belepotan remah makanan, artinya kita juga punya rezeki lebih bisa beli camilan.

Rumah bising, artinya semua sehat dan masih bisa kumpul rame-rame.

Tul nggak Bun?☺

Kalau Ibun ngerasa lelah, istirahat dulu ya. Main hape nonton k-pop, drakor, drachin atau maraton Netflix dulu juga nggak apa-apa. Atau rebahan sambil denger audiobook dan lagu-lagu bagus. Kalau malas masak, pesan makanan. Cucian yang menumpuk itu, udah bawa ke laundry aja.

Semua tergantung pilihan ibun ya. Pokoknya kita musti pilih yang bikin kita sehat dan bahagia.

Yang namanya kerjaan mah nggak bakal ada habisnya dan semua udah ada dan dialami manusia sejak ribuan tahun lalu, -sejak manusia pertama kali menghuni planet indah ini-, dan masih akan terus ada sampai seterusnya.  So, nggak usah dibuat stress ya bun. Kesehatan fisik dan mental kita lebih utama.

Butuh rekomendasi lagu bagus?

Humm..coooba kita pikir dulu, saya punya playlist rekomendasi nih Bun. Siapa tau selera musik kita sama. Hehe.πŸ˜‚πŸ˜…


1.         My Old Story – IU

2.        Melting - Kali Uchis

3.        Abcdefu – Gayle

4.        Angel Baby – Troye sivan

5.        Ghost – Justin Bieber

6.        You Are My Sunshine - Christina Perri

7.        4 O'Clock – RM & V

8.       Sit Still, Look Pretty – Daya

9.        Team – Lorde

10.    Traitor – Olivia Rodrigo

11.     Easy in Me – Adele

12.    Every Summertime – Niki

13.    Hurt so good – astrid s

14.    Its ok if you forget me – Astrid s

15.     Dan semua lagu dalam Album BTS and all members. Hahahahaa..Peace, Yes I’m ARMY. πŸ’œπŸ’œ

 

Kadang saya juga suka dengerin playlist Cello-nya Hauser sambil baca buku atau sambil nyetrika juga. Ya walau agak mellow-melow dikit laaah. :D

Oiya, saya juga mau rekomendasiin beberapa aplikasi audiobook yang bisa ibun dengerin sambil istirahat atau nyambi kerjaan rumah juga.

1.   Listeno

So far, dari beberapa aplikasi audiobook yang saya coba, Listeno ini yang paling user friendly dan dapat dinikmati dengan gratis plus berbahasa Indonesia. Suka banget sama audiobook yang satu ini. Salah satunya ya karena berbahasa Indonesia. (Mamak belum expert English-nya). Kebanyakan audiobook Listeno berupa novel, sastra, dan kumpulan cerita. Kita bisa memilih kategori buku apa yang kita suka dengan mengunduh aplikasinya.


2.  Audiobooks by Audiobook.com

Audiobook ini berisi banyak buku bagus. Hanya saja kebanyakan berbahasa Inggris dan hanya beberapa buku saja yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Audiobook ini bisa dipercepat dan bisa diulangi juga bisa di pause. Keren deh pokoknya. Kualitasnya juga udah hight definition.

 

3.  Audiobukucom

Audio Buku menyediakan sumber informasi dan belajar berupa audiobook dan podcast untuk pelajar, guru dan orang tua. Konten Audio Buku termasuk audiobook ensiklopedia populer, pembelajaran audio, dan cerita rakyat juga.

Itu dia tiga audiobook yang udah saya coba sendiri. Kalau Ibun punya rekomendasi lain, share di kolom komentar juga ya bun. Sharing is Cariiiing. :D

Selamat berakhir pekan Bunda. Tetap mencintai diri sendiri, bahagia dan bergembira yaaa. Sending virtual and warm hugs to all mothers in this world. Hope it makes you feel much better, Bunda-bunda hebat. Love you! πŸ€— πŸ’œ

PAINAN NIGHT CULINARY: GELIAT EKONOMI KULINER PASCA PANDEMI

 


Pandemi, kata horor yang tak hanya memakan korban jiwa, tapi juga mengguncang semua sendi kehidupan kita. Kondisi darurat yang membuat deyut nadi dunia terhenti, mati suri. Pandemi telah melompati jauh dari apa yang kita pikirkan tentangnya, yang secara signifikan merubah prilaku dan hidup kita. Pandemi pada akhirnya menuntut kita untuk beradaptasi dengan dunia yang penuh guncangan dan resiko ketidakpastian. Jutaan pekerja terkena gelombang pemutusan hubungan kerja diberbagai bidang usaha. Dan butuh kreatifitas dan inovasi agar mereka bisa bangkit kembali. 

Pandemi menuntut kompotensi-kompetensi kita agar bisa bertahan. Menuntut Critical thinking, Problem solving, Creativity, Innovation, Collaboration dan juga Communication. Pandemi menuntut kita menyadari seutuhnya apa yang tengah terjadi, menemukan solusi dengan berbagai opsi untuk menyelesaikan masalah yang tengah kita hadapi. Mengembangkan gagasan baru, bersinergi dan bekerja sama dengan orang lain. Juga mengkomunikasikan agar ide-ide baru ini dapat terwujud dan diterima orang banyak.

Painan yang terkenal dengan Pantai Carocok dan Pulau Cingkuaknya, tercatat sebagai salah satu destinasi wisata andalan Sumatera Barat yang sangat merasakan imbas dari pandemi kemarin. Saat pandemi terjadi jumlah mobilisasi wisatawan yang semakin berkurang, juga sangat berdampak pada bisnis makanan dan minuman di kota ini. Mengakibatkan imbas yang buruk pada pengelola unit usaha makanan.

Kabar baiknya, ulah pandemi ini, sebuah event kuliner tercipta yang diberi nama Painan Night Cullinary. Painan Night Cullinary adalah salah satu event kuliner yang tercipta pasca gelombang pandemi tersebut. Saat pemerintah memberlakukan pola kehidupan baru, bisnis kuliner yang awalnya mati suri, kemudian berubah menjadi bisnis online rumahan, akhirnya dapat membuka stand mereka di event ini. Sebuah event kuliner mingguan yang diadakan setiap Rabu malam di Taman Kota. Event ini adalah kerja sama antara pemerintah daerah dan komunitas kuliner di Painan. Painan Night Culinary adalah upaya bersama untuk membangkitkan kembali geliat ekomoni dan pariwisata dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam pengelolaannya.

Painan Night Culinary dapat menjadi ajang hunting streetfood lokal saat berkunjung ke Painan. Juga menjadi ajang silaturrahim bagi anak Nagari. 

Makanan dan minuman yang dijual di event ini, selain beragam dan menarik juga dapat dibeli dengan harga terjangkau. Kita bisa membeli takoyaki dengan harga lima ribu rupiah, dimsum sepuluh ribu rupiah, seafood lima belas ribu rupiah dan banyak lagi makanan dan minuman enak dan terjangkau lainnya. Area cuci tangan dan handsanitizer juga disediakan di pintu masuk event.

Yang menarik dari Night Culinary ini juga ada beberapa stand makanan yang hanya dapat ditemukan sekali seminggu saja. Mungkin penjual memiliki pekerjaan ganda di hari lain yang membuatnya hanya bisa berjualan sekali seminggu di Painan Night Culinary. Hal ini membuat Painan Night Culinary menjadi event yang ditunggu-tunggu setiap minggunya.

Painan Night Culinary juga menyajikan pertunjukan kesenian yang memeriahkan event mingguan ini. Seniman lokal dapat berpartisipasi menghibur pengunjung saban malam. Ulah Painan Night Culinary, geliat kota ini menjadi terasa lagi.

Saat ini, meski pandemi sudah terbilang usai, Painan Night Culinary tumbuh menjadi event ekonomi baru yang berkelanjutan. Event ini masih terus diadakan setiap minggunya. Menjadi alternatif untuk berwisata makanan bersama keluarga, teman dan handai taulan.

Sesudah kesulitan akan ada kemudahan. Kita optimis dan percaya, geliat ini akan benar-benar membangunkan ekonomi kecil menengah di sudut kota kecil ini. Dari Painan, Sumatera Barat, kabar baik ini semoga menginspirasi kita untuk terus berjuang dan optimis menapaki tahun baru dan tahun-tahun selanjutnya. 

(tulisan ini dimuat di GNFI)

TAHUN YANG DIBERIKAN TUHAN

 

Dua hari lagi tahun ini usai. Tak selambat kesadaran saya, tahun berlalu dengan cepatnya. Lalu apa yang tertinggal? Video-video mentah berbagai momen yang jangankan diupload, dieditpun belum? Foto-foto yang tak pernah dicetak? Diary yang telah tergantikan Netflix? Huruf-huruf Hangeul yang menempel di bulletin board tanpa progress apa-apa? Atau kotak celengan kosong tanpa ceklis di sudut meja?

Aaa..molla..molla.

            Sebagai Ibu rumah tangga, tentu saja tahun ini tak berlalu begitu saja. Banyak hal-hal sederhana yang kadang luput disadari menemani saya disepanjang perjalanan tahun ini. Membersamai anak masuk sekolah dasar, sibuk jadi guru les dan guru ngajinya, pusing mikirin masak apa buat sarapan anak, beberes yang tak ada habisnya –walau tetap berantakan-, cucian dan strikaan yang sambung menyambung –bertasalsul- dan lain sebagainya. Dan dari pengulangan demi pengulangan itulah, akhirnya tahunpun mempercepat lajunya untuk saya.

Sepanjang tahun ini, saya merasa sangat dekat dengan diri saya sendiri. Mengenal lebih dalam seorang Mita. Acap kali saya melakukan deep talk dengan diri saya seusai sholat atau sebelum tidur, melakukan hal-hal yang saya suka, yoga, membaca, menulis, nonton drakor, membaca horoscope, dengerin lagu bagus, makan enak, juga tidur siang. Saya berusaha mengesampingkan kekawatiran-kekawatiran tentang apa yang telah luput dari saya. Impian yang belum terwujud, rencana yang tak terlaksana, dan sebagainya.

Saya berusaha mengeluarkan dari pikiran saya apa yang tidak bisa saya kendalikan. Sebagai manusia, kita punya kekuatan mengubah pikiran dan persepsi kita tentang semua hal. Saya tak mau lagi terganggu dengan perkataan-perkataan orang lain yang tak bisa saya kendalikan. “S2 kok jadi Ibu rumah tangga aja”, “kok punya anak satu doang, nambah kek, biar lengkap”, “kok gemukan sekarang?”, “kok gini, kok gitu”. Pun postingan di sosial media, lihat si anu udah begini, udah jadi ini, udah beli ini. Saya melihatnya dengan senyum saja. Kalau hal baik, saya ikut senang dan mendo’akan keberkahan untuknya dan itu sudah tak “mengganggu” saya lagi.

Saya tak ingin kebahagian saya “di dalam” terganggu oleh hal-hal “di luar”. Tahun ini saya fokus pada diri sendiri, anak dan suami. Pada apa yang saya punya. Melakukan yang terbaik buat mereka. Menyayangi dan mencintai dengan sepenuh hati, dan mensyukuri kebersamaan kami.

Buku-buku yang saya baca tahun ini, sedikit banyaknya mempengaruhi cara saya berpikir. Filosofi teras contohnya, buku yang membuat saya menemukan diri saya kembali, menampar-nampar kesadaran saya, “Mit, bangun, ini loh kamu yang sebenarnya, ini loh yang sedang terjadi, dan ini yang harus kamu lakukan untuk dirimu. Kejadian dan masalah-masalah yang terjadi padamu? Itu bukan hal baru di dunia ini. Semua udah pernah dialami oleh umat manusia sejak ribuan tahun lalu, dan masih akan terus terjadi. Lalu apakah hal-hal sepele dalam hidup ini akan mempengaruhimu, mendapat respon berlebihan darimu dan merusak kebahagianmu?. Tidak. Jangan lakukan itu”.

Karena itu, tahun ini saya berfokus pada mencintai diri sendiri, meremajakan jiwa kembali, fokus berbahagia dengan apa yang saya miliki dan bersyukur pada Tuhan atas semua yang Dia beri. Kedepannya, saya akan berjalan melenggang dengan bahagia, menjadi versi terbaik diri saya. Terimakasih pada Tuhan, atas tahun yang diberikan.

Menjelang HARI IBU


Usai sholat zhuhur, aku menyalakan saklar lampu kamar yang sengaja kumatikan karena panas dan bergegas ke meja kerja membuka laptop. Apa yang membuatku terburu-buru hingga mengetuk-ngetuk jemariku ke meja sambil menunggu laman dokumen microsoft word terbuka? Tidak ada. Hanya saja rasanya aku ingin menulis. Mengetikkan sesuatu di laman putih itu. Atau mungkin saja karena lamunan panjangku beberapa saat usai sholat zhuhur tadi?

Ya, terkadang aku memang suka tercenung sendiri. Biasanya usai sholat atau malam setelah Zea tidur. Kadang ada yang sedang kupikirkan, tapi terkadang hanya pikiran kosong saja. Tentu saja aku menikmatinya. Bagiku ini adalah bentuk dari healing versi beku..hehe.😁

Kadang aku bicara dengan diri sendiri, bercerita tentang hari itu, bertanya tentang apa yang kurasa, dan kadang memeluk diriku dan berterimakasih atas semua yang telah dia lakukan. Bukan sebuah kesepian. Mungkin lebih pada kebiasaan untuk mengenal, menghargai dan mencintai diri sendiri. Atau kerennya, Me time versi Mita lah ya.πŸ˜…

Selepas zhuhur tadi, aku bertanya pada diri sendiri. “gimana hari ini mit?, apa kau bahagia? Apa semua berjalan lancar? Apa kau puas dengan hidupmu?”, dan lainnya.

Aku juga menyusun-nyusun ingatan apa yang sudah kulakukan hingga sore ini.

Hari ini aku bangun lebih siang dari biasanya. Bukan gara-gara nonton final piala dunia kok. Hanya tak bisa tidur saja, karena udara sudah mulai lumayan panas dan suara abak dan kakek Zea masih terdengar di ruang tivi. Mungkin hampir setengah dua malam, aku baru mulai tidur.

Usai sholat subuh, masak nasi, nyeduh teh dan sarapan roti, cuci sisa gelas di wastafel, marinasi udang buat Zea, nemanin Zea bangun (peluk-cium), nyuci pakaian, nyapu rumah, siapin sarapan suami, goreng udang krispi Zea, nyetrika segunung pakaian yang diselingi dengan masak sayur, makan brunch, memeluk Zea lagi, nemani Zea masak gulali ampe jari telunjukku terbakar, lanjut nyetrika lagi, ungkep dan goreng ayam buat makan siang, nyuci piring kesekian kalinya, nyuapin Zea yang sedang makan dengan ogah-ogahan, lanjut makan siang, mandi, sholat zhuhur, baru deh duduk depan laptop.  

Beginilah seninku hari ini. Terima kasih untuk diriku sendiri. Aku sudah melakukan yang terbaik yang kubisa. Menjalani hari Seninku dengan bahagia. Aku tau, tentu rutinitas ini tak bisa diukur atau dibandingkan dengan rutinitas siapapun di dunia ini. Setiap kita punya alur dan ritme yang berbeda.

Sebagai ibu rumah tangga yang katanya “tidak bekerja”, aku telah melewatkan dua pertiga hari ini dengan melakukan banyak hal. Ya walau mungkin masih banyak yang belum sempat dikerjakan. Lantai belum dipel, bak mandi belum dikuras, drakor episode terakhir belum ditonton, but it’s oke. Ibu tak bekerja ini akan mengerjakannya setelah ini, wkwkwkwkwkwk.🀣

Menjelang Hari Ibu, izinkan aku mengirim pelukan terhangat untuk semua Ibu hebat di dunia ini. Ibu yang meski tak sempurna, tapi telah berupaya. Terima kasih telah menjadi hebat, Bu. Kalian semua luar biasa. Kalian makhluk paling keren di jagat raya ini. Mari mencintai diri sendiri dan berbagi cinta dengan yang mencintai kita.

Selamat Hari Ibu. πŸ’


 

BERLIBUR BARENG SI KECIL, SIAPIN APA AJA YA?

Libur tlah tibaa, libur tlah tibaa….🎢🎢🎢

Mulai terngiang-ngiang yah lirik lagu fenomenal ini. Yap, akhir Desember emang identik dengan liburan. Aah, Desember yang menyenangkan. πŸ₯°

Ayah dan Bunda semua gimana?Udah ada planning liburan bareng si buah hati? Kemana? Pake apa?Bawa apa aja? (jangan bilang “Kamu nanyea, kamu bertanyea-tanyea” yaaaa πŸ˜…), hehehe.

Berlibur bawa si kecil emang nggak mudah ya buuun. Banyaaak yang mesti dipersiapkan. Kita nggak bisa asal pergi aja, kayak zaman kita masih single dulu, yang kalau mau kemanapun, tinggal chaw.

Jalan-jalan bareng si kecil harus atur strategi dulu. Iya, strategi. Hehehe.

Pertama, Siapkan Fisik dan Mental. Ayah, Bunda dan Anak harus mastiin dulu fisik fit dan sehat. Wajib dan paling utama banget nih. Bakal nggak bisa kemana-mana kan yah, kalau salah satunya nggak sehat, kan judulnya mau liburan keluarga. Mental juga harus siap, karena diperjalanan dan ditempat liburan bakal banyak hal-hal yang terjadi diluar dugaan kita. Jadi jangan mudah terbawa emosi dan tetap berfikiran jernih  ya AyBun. Libatkan juga anak dalam proses persiapan, biar moodnya bagus dan dia bersemangat untuk liburan.

Kedua, Siapkan Budged. Ayah Bunda harus ngintip dulu nih saldo tabungan dan setelah itu baru nyari destinasi wisata yang sesuai budget kita.

Ketiga, tentukan destinasi wisata. Kalau bawa anak-anak, pengennya tuh destinasi wisata ramah anak yang menyediakan tempat bermain atau tempat wisata edukatif untuk anak-anak. Biar anak hepi dan ayah bunda bahagia.

Keempat, cari akomodasi yang nyaman. Pilih kamar yang luas atau family room. Pastikan juga akses hotel bisa menggunakan stroller. Kalau bisa juga memiliki kolam renang dan dekat dengan destinasi wisata.

Nah, kalau empat poin ini udah deal, baru deh mikirin printilan-printilan lainnya.

Pertama, B-A-W-A-A-N. Gimana bun? Bikin senyum-senyum sendiri ya, kalau mikirin bawaan ini. Hehe. Ya gimana enggak, bakalan butuh effort luar biasa nih, nyiapinnya. Kalau anak masih bayi, kita perlu bawa popok, baju ganti, perlengkapan mandi, tisu basah, tisu kering, telon, minyak kayu putih, krim ini itu, alat makan, alat pumping daaan masih banyaaak yang lainnya.

Kalau anak udah mulai gede, bawa mainan biar dia anteng diperjalanan, bawa buku bacaan, camilan, kalau pake kendaraan pribadi harus siapin playlist lagu favoritnya juga. Ya kaan.


Kedua, pilih alat transportasi yang tepat. Pastikan alat transportasi yang digunakan membuat anak-anak kita nyaman dan mereka bisa beristirahat tanpa kepanasan.

Ketiga, pikirin trik biar si kecil betah diperjalanan. Butuh strategi biar mereka anteng diperjalanan. Ayah bunda harus mutar otak mikirin agar mereka nggak rewel, eits..belum lagi jaga-jaga kalau si kecil mabuk perjalanan ya bun.

Trus tips apa aja nih, yang kita butuhkan?

1.    Pilih jam perjalanan yang berbarengan dengan jam tidur si kecil. Nah trik ini mempan banget kalau saya bawa Zea bepergian. Mungkin beberapa saat dia akan rewel karena mulai bosan, tapi dia bakal tidur lebih awal, karena udah jam tidurnya dia.

2.   Bawa camilan favorit si kecil. Camilan ini bisa mengalihkan perhatian anak kalau udah mulai bosan. “Nih nguyah aja naaak” hehehe.

3.   Bawa perlengkapan portable. Sekarang kan udah banyak tuh bun, perlengkapan portable yang travel friendly. Stroller, sterilizer, cooler bag, termos dan lainnya.

4.   Siapin playlist lagu favorit si kecil. Nggak apa-apa kalau memberi mereka gadget juga untuk memainkan game kesukaan mereka.

5.    Bawa mainan favorit si kecil. Nggak usah bawa banyak sih Bun, cukup satu atau dua aja yang ringkas, biar nggak repot dibawa. Boleh juga membawa kamera si kecil untuk membantunya mengeksplorasi hal-hal baru di tempat wisata nanti.

6.   Pisahkan pakaian si kecil dengan anggota keluarga lain. Nah, biasanya nih, kalau bepergian, aku selalu siapin satu tas buat selimut, jaket dan pakaian ganti anak, selain pakaian yang akan digunakan di destinasi wisata nanti. Jadi pas anak mabuk perjalanan, atau makanannya tumpah ke baju, nggak harus bongkar-bongkar koper dulu.

7.    Bawa pakaian yang simple dan nyaman. si kecil biasanya aktif kan yah, karena itu bawa pakaian yang nyaman, menyerap keringat dan sesuai tempat wisata.

8.   Gunakan diaper bag. Nah, kalau kita bawa bayi, diaper bag adalah barang penting. Tapi tenang aja bun, sekarang banyak banget diaper bag yang desainnya stylish dan kompatemennya gede.

9.   Bawa printilan kebersihan. Kantong Ziplock, handsanitizer, Masker, tisu basah, tisu kering dan Laundry bag.

10.    Bawa obat-obatan. Sedia payung sebelum hujan ya kan buuun. Kayak obat turun panas, diare, antimemar, anti septik dan obat-obat lain yang dibutuhkan.

Keempat, jika berlibur ke luar negeri. Pastikan paspor dan semua keperluan administrasi udah lengkap dan difotokopi ya Bun. Pastikan juga pakaian sesuai dengan musim di negara yang akan AyBun tuju.

Keenam, stock makanan instant. Meski terkesan nggak sehat, tapi banyak kok makanan instant sehat yang dijual di toko-toko makanan organik. Jaga-jaga siapa tau AyBun tidak menemukan minimarket sedangkan si kecil sudah lapar.

 

Gimana AyBun? Mau tetap jalan atau bongkar koper lagi nih? hehehe. Ya jalan dong yaaa..

Selamat berlibur bersama buah hati tercinta. Have a wonderful holidayyyy! πŸ€—

The Early Spring: Ketika Jatuh Cinta saja Tidak Cukup

Ada masa ketika aku bisa betah menonton drama hanya karena dua orang yang bahkan belum saling suka sudah kelihatan punya chemistry. Seka...